30.9 C
Jakarta
Minggu, 25 Februari, 2024

Apa Itu Relative Strength Index, Ini Aturan Penggunaannya

JAKARTA, duniafintech.com – Apa itu Relative Strength Index adalah sebuah indikator teknikal yang digunakan dalam analisis pasar keuangan untuk mengukur kecepatan dan perubahan harga suatu aset.

RSI umumnya digunakan dalam analisis saham, forex, komoditas, dan instrumen keuangan lainnya. Indikator ini dikembangkan oleh J. Welles Wilder, Jr., dan pertama kali diperkenalkan dalam bukunya “New Concepts in Technical Trading Systems” pada tahun 1978. Berikut ulasannya:

Fungsi Relative Strength Index

Indeks Kekuatan Relatif (RSI) adalah indikator teknis yang mengukur kekuatan dan kelemahan pergerakan harga aset berdasarkan kenaikan dan penurunan harga terakhirnya. RSI biasanya dihitung selama jangka waktu 14 periode, namun ini dapat disesuaikan tergantung pada preferensi trader.

Baca juga: Cara Menggunakan RSI saat Investasi Saham dan Cara Menghitungnya

RSI juga mengukur kekuatan pergerakan harga suatu aset dalam suatu periode waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran apakah suatu aset dianggap “overbought” (terlalu banyak dibeli) atau “oversold” (terlalu banyak dijual), yang dapat memberikan petunjuk potensial terhadap pembalikan tren atau koreksi harga.

Rumus Relative Strength Index

RSI = 100 – (100/(1 + (AvgGain/AvgLoss)))

  • AvgGain = Rata-rata persentase kenaikan harga selama periode tertentu
  • AvgLoss = Rata-rata persentase penurunan harga selama periode tertentu

Nilai RSI berkisar antara 0 dan 100. Nilai RSI di bawah 30 menunjukkan bahwa harga aset sedang oversold, sedangkan nilai RSI di atas 70 menunjukkan bahwa harga aset sedang overbought.

Trader dapat menggunakan RSI untuk mengkonfirmasi tren, mengidentifikasi pembalikan tren, dan menentukan titik masuk dan keluar pasar.

Proses Perhitungan Relative Strength Index

  1. Hitung Perubahan Harga:
    • Dapatkan selisih harga (price change) antara harga penutupan saat ini dan harga penutupan periode sebelumnya.
  2. Klasifikasikan Perubahan Harga:
    • Pisahkan perubahan harga menjadi dua kategori, yaitu kenaikan (gain) dan penurunan (loss). Jika perubahan harga positif, itu dianggap sebagai kenaikan, dan jika negatif, dianggap sebagai penurunan.
  3. Hitung Rata-rata Harga Kenaikan dan Penurunan:
    • Hitung rata-rata harga kenaikan (average gain) dan rata-rata harga penurunan (average loss) selama periode yang ditentukan (biasanya 14 periode).
  4. Hitung Nilai RS:
    • Gunakan rata-rata harga kenaikan dan penurunan untuk menghitung nilai Relative Strength (RS).
  5. Hitung Nilai RSI:
    • Gunakan nilai RS untuk menghitung nilai RSI dengan menggunakan rumus di atas.

Baca juga: Apa Itu Analisis Teknikal: Definisi, Keuntungan, hingga Strategi Memanfaatkannya

Interpretasi Relative Strength Index

  • RSI di atas 70: Aset dianggap overbought, yang mungkin mengindikasikan bahwa harga dapat segera mengalami koreksi ke bawah.
  • RSI di bawah 30: Aset dianggap oversold, yang mungkin mengindikasikan bahwa harga dapat segera mengalami koreksi ke atas.

Aturan Penggunaan Relative Strength Index

  • RSI di bawah 30 menunjukkan bahwa harga aset sedang oversold dan mungkin akan naik.
  • RSI di atas 70 menunjukkan bahwa harga aset sedang overbought dan mungkin akan turun.
  • RSI yang bergerak naik dari wilayah oversold menunjukkan bahwa tren bearish mungkin akan berakhir.
  • RSI yang bergerak turun dari wilayah overbought menunjukkan bahwa tren bullish mungkin akan berakhir.

Trader dapat menggunakan aturan-aturan ini untuk mengkonfirmasi tren, mengidentifikasi pembalikan tren, dan menentukan titik masuk dan keluar pasar. Namun, penting untuk diingat bahwa RSI hanyalah satu indikator teknis dan tidak boleh digunakan sebagai dasar untuk membuat keputusan investasi. Trader harus menggunakan indikator teknis lainnya bersama dengan analisis fundamental untuk membuat keputusan investasi yang tepat.

Baca juga: Cara Membeli Crypto di INDODAX, Trader Wajib Tahu Keuntungannya!

Berikut adalah beberapa contoh bagaimana RSI dapat digunakan untuk perdagangan:

  • Misalnya, jika harga aset sedang bergerak dalam tren bullish, dan RSI mulai bergerak ke wilayah overbought, maka trader dapat mulai mencari sinyal jual.
  • Sebaliknya, jika harga aset sedang bergerak dalam tren bearish, dan RSI mulai bergerak ke wilayah oversold, maka trader dapat mulai mencari sinyal beli.

Trader juga dapat menggunakan RSI untuk menentukan titik masuk dan keluar pasar. Misalnya, trader dapat membeli aset ketika RSI bergerak di atas 30 dan menjual aset ketika RSI bergerak di bawah 70.

Namun, penting untuk diingat bahwa RSI bukanlah indikator yang sempurna. RSI dapat memberikan sinyal palsu, jadi penting untuk menggunakan indikator teknis lainnya bersama dengan analisis fundamental untuk membuat keputusan investasi yang tepat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Iklan

ARTIKEL TERBARU

LANGUAGE