Dunia Fintech

Arthur Hayes Sarankan Beli Bitcoin Saat Perang Timur Tengah

Konflik Timur Tengah Bisa Jadi Peluang Bagus untuk Beli Bitcoin

Perang Timur tengah membuat harga Bitcoin dalam zona yang baik. Artus Hayes sarankan beli Bitcoin.

Konflik geopolitik yang memanas, termasuk potensi perang antara Amerika Serikat dan Iran, dinilai dapat menjadi faktor penting bagi pasar keuangan global. Dalam kondisi seperti ini, sebagian analis bahkan melihat peluang bagi investor untuk mulai mempertimbangkan beli Bitcoin.

Salah satu pendiri BitMEX sekaligus CIO Maelstrom, Arthur Hayes, membagikan analisis yang memprediksi bahwa konflik Amerika Serikat yang melibatkan Iran berpotensi memaksa Federal Reserve memangkas suku bunga dan menyuntikkan likuiditas ke pasar.

Menurutnya, perubahan kebijakan seperti ini dalam sejarah sering memicu reli besar pada Bitcoin dan aset kripto lainnya.

Dampak Geopolitik terhadap Pasar

beli bitcoin

 

Dalam esai terbarunya yang berjudul “iOS Warfare”, Hayes menulis bahwa hingga saat ini belum jelas berapa lama Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akan bersedia menggelontorkan dana besar untuk memengaruhi arah politik Iran.

“Saat ini kita tidak tahu berapa lama Trump akan tetap tertarik menghabiskan miliaran, bahkan triliunan dolar untuk membentuk ulang politik Iran sesuai keinginannya, atau seberapa besar tekanan geopolitik dan pasar keuangan yang bisa ia toleransi secara politik sebelum akhirnya mundur,” tulis Hayes, dikutip dari laman News.bitcoin.com, Senin (9/3/2026).

Komentar tersebut menempatkan belanja militer dan guncangan geopolitik sebagai katalis yang dapat melemahkan kepercayaan ekonomi global. Kondisi seperti ini, menurut Hayes, sering meningkatkan kemungkinan bank sentral mengambil kebijakan moneter yang lebih longgar untuk menstabilkan pasar.

Pola Historis Kebijakan Moneter

Dalam esainya, Hayes juga menyoroti pola historis yang mengaitkan keterlibatan militer Amerika Serikat di Timur Tengah dengan kebijakan akomodatif dari The Fed.

Ia menyebut beberapa contoh, termasuk Perang Teluk 1990 dan periode setelah Serangan 11 September 2001, ketika bank sentral menurunkan biaya pinjaman untuk menopang ekonomi dan pasar keuangan.

Menurut analisisnya, perang meningkatkan tekanan fiskal sekaligus memperbesar ketidakpastian ekonomi. Kombinasi tersebut sering mendorong terciptanya uang yang lebih murah serta likuiditas yang lebih besar—kondisi yang menurut Hayes kerap menjadi pemicu kenaikan tajam harga Bitcoin.

Saat Tepat Investor Beli Bitcoin

Bagi investor kripto, Hayes menilai sinyal utama bukanlah konflik itu sendiri, melainkan respons kebijakan moneteryang muncul setelahnya.

Menurutnya, investor sebaiknya menunggu hingga bank sentral benar-benar melonggarkan kebijakan sebelum memutuskan untuk beli Bitcoin.

“Langkah yang bijak adalah menunggu dan melihat. Waktu yang tepat untuk benar-benar membeli bitcoin dan altcoin berkualitas seperti $HYPE adalah segera setelah The Fed memangkas suku bunga dan/atau mencetak uang untuk mendukung tujuan pemerintah di Iran,” tulis Hayes.

Dalam pandangan pasar lain yang ia sampaikan awal tahun ini, Hayes menilai penurunan tajam Bitcoin dari sekitar US$126.000 menjadi sekitar US$60.000 sebagai titik balik makro besar yang berkaitan dengan kondisi likuiditas global.

Ia menggambarkan dua kemungkinan skenario bagi pasar kripto:

  1. Penurunan dari US$126.000 ke US$60.000 merupakan fase koreksi terakhir sebelum pasar kembali naik.
  2. Bitcoin berpotensi turun lebih jauh jika pasar saham global ikut mengalami koreksi besar.

Trader Harus Tetap Berhati-hati

Meski melihat potensi reli besar di masa depan, Hayes mengingatkan para trader untuk tetap berhati-hati hingga kondisi moneter benar-benar berubah.

Baca juga :

Turun! Sudah Saatnya kah Beli Bitcoin?

Ia menyarankan penggunaan leverage yang terbatas sambil menunggu sinyal jelas dari The Fed bahwa saatnya keluar dari aset fiat dan masuk ke aset berisiko seperti kripto.

Dalam analisis lain mengenai dinamika likuiditas global, Hayes berpendapat bahwa ekspansi neraca bank sentral merupakan pendorong utama dari pasar bullish Bitcoin.

“Bitcoin akan melonjak seiring dengan membesarnya neraca The Fed (dan emas),” ujar Hayes.

Ia bahkan menggambarkan Bitcoin sebagai “alarm kebakaran likuiditas fiat”, yang berarti ketika pencetakan uang kembali meningkat, harga Bitcoin berpotensi melampaui puncak sebelumnya di sekitar US$126.000 dengan cepat seiring banjir likuiditas di pasar keuangan global.

Bagi sebagian investor, kondisi seperti ini bisa menjadi sinyal awal untuk mulai mempersiapkan strategi beli Bitcoinsebelum siklus bullish berikutnya dimulai.

Exit mobile version