JAKARTA, duniafintech.com – Berita startup hari ini terkait PT Bank OCBC NISP Tbk dalam memberikan dukungan terhadap startup.
Managing Director OCBC NISP Ventura Darryl Ratulangi mengaku telah mengantongi daftar perusahaan yang akan dibidik pada paruh kedua tahun 2023 ini.
“Tidak hanya fintech, kami melakukan investasi di semua sektor di Indonesia. Cuma memang karena kami anak usaha dari perusahaan perbankan, investasi kami tidak jauh dari finance,” tutur Darryl.
Dia menjelaskan alasan perusahaan memberikan modal kepada perusahaan startup di tengah badai PHK karena kondisi tersebut adalah hal yang lumrah karena terjadinya perubahan iklim bisnis. Dalam kasus PHK di industri startup, beberapa perusahaan mungkin tidak memiliki pilihan lain saat keuangan perusahaan start up negatif.
Baca juga: Miliki 2.400 Perusahaan Startup, Airlangga Optimistis Indonesia Kuasai Ekonomi Digital di ASEAN
“Masih rugi, di mana cash dalam perusahaan mereka sudah mau habis, jadi kalau mereka tidak melakukan PHK atau pengurangan karyawan sudah pasti mereka akan tutup,” ujar Daryl.
Darryl menilai semua perusahaan akan kembali ke fokus perusahaan pada awalnya atau tidak mengembangkan bisnis di luar keahliannya. Nah, inilah momentum yang tepat jika hendak berinvestasi di start up.
Meski demikian, Darryl mengaku berpegang teguh pada prinsip kehati-hatian dalam menginvestasikan dananya. Dia memastikan, startup yang didanai memiliki keunggulan dan keunikan untuk dapat menggarap market Indonesia. Setidaknya ada tujuh kriteria yang ditetapkan OCBC NISP Ventura dalam menyuntikkan dana terhadap startup.
“Saat ini, OCBC NISP Ventura berinvestasi pada startup dengan tahapan Seed Funding (pendanaan tahap awal yang berbasis ekuitas), dan pendanaan Series A (tahapan awal dari funding startup yang sudah memasuki venture capital,” jelasnya.
Baca juga: Pemerintah Targetkan Penciptaan 500 Perusahaan Startup di Tahun 2024
Alasan OCBC NISP Ventura Danai Perusahaan Start Up
Daryl mengungkapkan ejumlah faktor yang menjadi pertimbangan OCBC NISP dalam menyalurkan pendanaan. Salah satunya ialah startup teknologi di Indonesia untuk menciptakan proposisi ekosistem beyond banking.
“Berinvestasi di perusahaan yang dapat menghasilkan return investasi yang tinggi, biasanya melalui initial public offering (IPO) atau akuisisi oleh perusahaan yang lebih besar,” kata Darryl
Selain itu, pihaknya juga membuka potensi untuk bermitra dengan perusahaan startup dapat membawa manfaat potensial seperti akses ke teknologi dan inovasi baru, peningkatan efisiensi dan penghematan biaya, serta ekspansi ke pasar baru.
Baca juga: Penyebab Startup Kena Badai PHK, Begini Pandangan Ekonom
Terdapat 15 perusahaan yang telah mendapatkan suntikan dana. Beberapa diantaranya, 99Group, Dekoruma, Rukita, AwanTunai, GajiGesa, IDN Media, USS Networks, EdenFarm dan Sirclo. Bahkan, pada semester kedua tahun ini, OCBC NISP Ventura masih akan menyuntikkan modal.
Perusahaan Fintech Alami Tech Winter
Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh AFTECH, sebanyak 84% perusahaan Fintech tercatat telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau layoff, dan 76% juga tidak berencana untuk menambah atau merekrut tenaga kerja baru dalam waktu dekat.
Meskipun dilanda fenomena tech winter, investasi sektor Fintech di Indonesia masih menunjukkan performa yang cukup baik didukung oleh cara pandang positif pelaku Fintech. Melalui in-depth interview, beberapa pelaku Fintech menyatakan bahwa fenomena tech winter justru dilihat sebagai momentum untuk terus berinovasi.
Namun, tech winter mengakibatkan kondisi keuangan sejumlah startup memburuk. Dampaknya, para founder startup mengambil beberapa langkah efisiensi, termasuk layoff.
Baca juga: Perusahaan Startup PHK Karyawan Makin Marak, Bekali Diri Kalian dengan Tips ini Ya!
Adapun terkait pengurangan tenaga kerja, tercatat 201.860 karyawan industri teknologi di seluruh dunia terkena layoff atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada lima bulan pertama 202314.
Beberapa perusahaan teknologi global juga melakukan layoff, seperti Google sebanyak 12 ribu tenaga kerja (Januari 2023), Meta sebanyak 11 ribu tenaga kerja (November 2022), dan Microsoft 10 ribu tenaga kerja (Januari 2023)15. Di Indonesia, DSInnovate mencatat 20 startup melakukan layoff sepanjang 202216.

