Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam menyiapkan talenta digital. Kementerian Komunikasi dan Digital memproyeksikan kebutuhan mencapai 12 juta talenta digital pada 2030, dengan potensi kekurangan hingga 3–6 juta orang.
Di sisi lain, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat bahwa pada 2025 baru sekitar 19% tenaga kerja Indonesia memiliki keahlian digital—jauh tertinggal dibanding negara maju yang sudah mencapai 58%–64%.
Dalam sektor fintech syariah, tantangan ini menjadi semakin krusial. Pertumbuhan pasar yang pesat tidak diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia yang memadai.
Kesenjangan Talenta dan Tantangan Kampus
Pasar keuangan digital syariah Indonesia diproyeksikan tumbuh 11,3% pada 2029. Namun, kesenjangan tidak hanya soal jumlah tenaga kerja, tetapi juga kualitas dan relevansi keahlian.
Menurut Muhamad Ismail dari Asosiasi Fintech Syariah Indonesia, perguruan tinggi tidak bisa berjalan sendiri dalam mengikuti perkembangan industri.
Kolaborasi antara kampus, industri, dan regulator menjadi kunci agar lulusan benar-benar siap menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Peran AFSI Academic Partner (AAP)
Sejak 2022, program AFSI Academic Partner (AAP) hadir sebagai jembatan antara dunia akademik dan industri. Program ini dirancang untuk meningkatkan kesiapan SDM melalui berbagai inisiatif, seperti:
- Workshop kompetensi bagi dosen dan mahasiswa
- Hibah dan penelitian fintech syariah
- Program magang industri
- Sertifikasi kompetensi
- Pengembangan kurikulum bersama
Tujuan utamanya adalah memastikan lulusan tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap menghadapi tantangan nyata di industri fintech syariah.
Capaian Nyata Selama 4 Tahun
Dalam kurun waktu lebih dari empat tahun, AAP mencatat berbagai pencapaian signifikan:
- 55 perguruan tinggi telah bergabung
- 249 program kolaborasi telah dilaksanakan
- 1.721 peserta mengikuti workshop
- 295 mahasiswa tersertifikasi fintech syariah
- 133 mahasiswa mengikuti program magang
- 516 peserta ikut Olimpiade Fintech Syariah Nasional
- 18 kampus melakukan pengembangan kurikulum
Salah satu kegiatan terbaru adalah Training of Trainers dan Workshop Fintech Syariah batch 9 pada April 2026, yang melibatkan ratusan peserta dari kalangan akademisi dan mahasiswa.
Menurut Erika Takidah, program ini memberikan dampak nyata, bahkan hingga pada level fundamental seperti pembaruan kurikulum dan peningkatan kompetensi dosen.
Investasi Masa Depan Ekonomi Syariah Digital
Capaian ini bukan sekadar angka. Setiap mahasiswa yang tersertifikasi, setiap kurikulum yang diperbarui, dan setiap kolaborasi yang terjalin merupakan investasi bagi masa depan ekonomi digital syariah Indonesia.
Dengan pertumbuhan industri yang terus meningkat, Asosiasi Fintech Syariah Indonesia berkomitmen untuk memperluas jangkauan program AAP. Tujuannya jelas: memastikan perguruan tinggi memiliki akses terhadap pengetahuan, jaringan, dan sumber daya yang dibutuhkan untuk mencetak talenta fintech syariah yang unggul dan siap bersaing di tingkat global.