Dunia Fintech

Inilah 7 Faktor yang Mempengaruhi Harga Crypto, Investor Wajib Tahu!

Faktor yang mempengaruhi harga crypto apa saja? Sama seperti aset keuangan lainnya, pergerakan harga kripto dipengaruhi oleh posisi permintaan dan penawaran. Berikut adalah tujuh  faktor yang mempengaruhi harga crypto atau fluktuasi harga aset kripto.

Faktor yang Mempengaruhi Harga Crypto

Dari perspektif penawaran, faktor yang mempengaruhi harga crypto adalah sebagai berikut.

Baca juga: Apa itu Jupiter Coin? Cryptocurrency Ramah Lingkungan dan Menguntungkan!

Faktor yang Mempengaruhi Harga Crypto

1. Kebijakan Moneter dan Tokenomics

Salah satu faktor yang mempengaruhi harga crypto adalah jumlah persediaan aset kripto tersebut. Tata kelola terkait dengan persediaan aset kripto di pasar dikenal sebagai kebijakan moneter, sementara dampaknya terhadap investor kripto disebut sebagai tokenomics.

Berbagai protokol dan koin memiliki mekanisme sendiri untuk menentukan jumlah aset kripto yang beredar. Keputusan ini dapat diambil melalui proses demokratis, seperti pemungutan suara berdasarkan kepemilikan aset kripto, atau melalui metode yang lebih terpusat, dengan keberadaan dewan khusus yang mengontrol tata kelola persediaan aset kripto.

Beberapa organisasi memilih untuk melakukan “pembakaran” koin mereka sebagai strategi untuk mengurangi jumlah koin yang beredar, contohnya adalah Binance dengan Binance Coin. Pada setiap kuartal, Binance melakukan pembelian kembali (buyback) BNB menggunakan laba yang telah terkumpul, kemudian menghancurkan atau “membakar” BNB tersebut. Proses ini dikenal sebagai coin burn.

Akibatnya, jumlah BNB yang beredar mengalami penurunan. Binance memiliki rencana untuk melanjutkan kebijakan pembakaran koin ini hingga mencapai 100 juta BNB yang “terbakar”. Dampak dari pembakaran koin tersebut tercermin dalam pergerakan harga BNB.

2. Ongkos Produksi

Seperti dalam kegiatan pertambangan logam, proses crypto mining juga mengharuskan pengeluaran biaya yang disebut sebagai “penambangan”.

Dalam bitcoin mining, sebagai contoh, para penambang memerlukan investasi besar untuk membeli komputer dengan daya pemrosesan yang tinggi. Mereka menggunakan perangkat keras dengan spesifikasi kompleks karena harus menyelesaikan teka-teki algoritma yang rumit agar dapat menerima pembayaran dalam bentuk Bitcoin.

Namun, kegiatan ini juga membutuhkan konsumsi daya listrik yang signifikan. Berdasarkan penelitian dari Universitas Cambridge pada awal tahun 2021, penambangan Bitcoin secara global mengkonsumsi energi hingga 121,36 Terawatt-Jam (TWh) per tahun, melebihi konsumsi listrik Argentina dalam periode yang sama.

Semua komponen biaya tersebut secara langsung mempengaruhi penentuan harga Bitcoin dan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi harga crypto.

3. Permintaan terhadap Teknologi Blockchain

Permintaan terhadap suatu aset kripto dapat meningkat jika komunitas kripto secara luas mengadopsi teknologi blockchain yang menjadi dasar dari kripto tersebut serta menjadi faktor yang mempengaruhi harga crypto. Hal ini dikarenakan biaya penggunaan blockchain umumnya dibayar dengan menggunakan cryptocurrency yang terkait dengan blockchain tersebut. Dengan demikian, meningkatnya penggunaan blockchain akan sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap cryptocurrency.

Terdapat berbagai alasan mengapa komunitas kripto cenderung mengadopsi suatu teknologi blockchain tertentu. Umumnya, tiga alasan utamanya melibatkan skalabilitas transaksi yang lebih baik dibandingkan dengan teknologi blockchain lainnya, kemunculan fitur-fitur inovatif, serta biaya transaksi yang rendah saat memanfaatkan teknologi tersebut.

4. Adopsi Massal dari Investor Ritel dan Institusi

Peningkatan penggunaan cryptocurrency secara besar-besaran dapat memicu lonjakan harga dan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi harga crypto. Hal ini disebabkan sebagian besar cryptocurrency memiliki persediaan terbatas, sehingga kenaikan permintaan akan berdampak positif pada harganya.

Namun, untuk mencapai adopsi massal, cryptocurrency perlu memberikan manfaat yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti dapat digunakan sebagai alat pembayaran rutin. Sebagai contoh, Bitcoin telah diadopsi oleh investor institusi sebagai instrumen penyimpan nilai, terlihat dari lonjakan harganya yang mencapai lebih dari US$60.000 per unit pada awal 2021. Selain itu, El Salvador juga berencana untuk mengakui Bitcoin sebagai alat pembayaran resmi di negara tersebut.

Pola adopsi cryptocurrency oleh investor ritel membentuk kurva berbentuk lonceng, seperti yang terlihat pada grafik. Hanya sekitar 150 juta individu di dunia yang memiliki aset kripto, sebuah jumlah yang masih kecil bila dibandingkan dengan populasi global yang melebihi 6 miliar orang. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa adopsi cryptocurrency masih berada dalam tahap awal.

Baik investor ritel maupun institusi mulai melihat nilai jangka panjang dari cryptocurrency. Lonjakan harga beberapa aset kripto pada tahun 2021 menjadi bukti bahwa permintaan yang pesat dari kedua kelompok tersebut terus meningkatkan harga cryptocurrency. Selain faktor penawaran dan permintaan, kondisi makroekonomi global juga memiliki peran penting dalam mempengaruhi pergerakan harga aset kripto atau faktor yang mempengaruhi harga crypto.

5. Inflasi Mata Uang atau Penurunan Nilai Mata Uang Fiat

Harga aset kripto, terutama koin yang memiliki kegunaan yang jelas, dapat diharapkan meningkat seiring langkah bank sentral global yang terus mencetak uang dan menerapkan rezim suku bunga rendah.

Hal ini terjadi karena karakteristik pasokan uang fiat berlawanan dengan cryptocurrency. Persediaan aset kripto terbatas, mendorong masyarakat untuk beralih ke instrumen ini ketika jumlah uang fiat yang beredar semakin melonjak.

Penting untuk diingat bahwa Bitcoin diciptakan sebagai respons terhadap pencetakan uang fiat yang masif, yang dilakukan oleh bank sentral di seluruh dunia untuk mengatasi krisis keuangan global. Langkah ini kemungkinan akan terus berulang dalam setiap resesi ekonomi, di mana pemangku kebijakan memiliki keterbatasan dalam merangsang pertumbuhan ekonomi selain dengan memangkas suku bunga acuan atau mencetak lebih banyak uang. Pada tahun 2020, sekitar 25% dari Dolar AS yang beredar dicetak.

Selain itu, pemilik aset kripto kini memiliki peluang untuk mendapatkan keuntungan dari menyimpan aset kripto dengan mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi daripada menabung di bank konvensional. Fenomena ini semakin mungkin dengan meningkatnya penggunaan aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi). Imbal hasil yang tinggi dan persediaan yang terbatas menjadikan aset kripto sebagai alat perlindungan nilai kekayaan dari dampak inflasi yang disebabkan oleh pencetakan uang. Hal ini juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi harga crypto.

6. Regulasi Pemerintah

Serangkaian peraturan pemerintah dapat mempengaruhi dinamika permintaan dan penawaran aset kripto sebagai faktor yang mempengaruhi harga crypto. Kondisi ini muncul karena pemerintah memiliki kewenangan untuk mengatur, memberlakukan pajak, atau bahkan melarang kegiatan kripto, yang pada umumnya berdampak pada pergerakan harga aset kripto.

Para investor kripto di Indonesia perlu memiliki pemahaman tidak hanya tentang regulasi kripto di dalam negeri, tetapi juga harus memantau bagaimana dua kekuatan ekonomi utama, yaitu China dan Amerika Serikat, mengelola aktivitas kripto di wilayah masing-masing.

Cina

Pada bulan Mei 2021, otoritas Cina mengeluarkan peringatan terkait perdagangan dan pertambangan aset kripto. Pasca peringatan tersebut, otoritas Cina dilaporkan mengadakan pertemuan dengan bank-bank besar, dengan tegas menyatakan bahwa institusi perbankan di Cina dilarang terlibat dalam transaksi cryptocurrency.

Langkah otoritas Cina ini, sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi harga crypto, menyebabkan harga Bitcoin merosot dari puncaknya di sekitar US$65.000 menjadi di bawah US$30.000 per unit. Sikap tersebut juga berdampak pada kapasitas pertambangan kripto di Cina, mengingat negara tersebut menyumbang sekitar 50% dari hash rate Bitcoin global.

Amerika Serikat

Amerika Serikat mengizinkan kegiatan pertukaran aset kripto di platform pertukaran kripto, meskipun belum diakui sebagai alat pembayaran resmi. Hal itu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi harga crypto. Pihak legislatif AS secara konsisten berupaya mengatur aset kripto, khawatir bahwa kehadiran mata uang tersebut dapat mengganggu dominasi Dolar AS dalam ekonomi global dan dapat memiliki dampak signifikan jika dipegang dalam jumlah besar oleh individu dan institusi.

Pemerintahan AS di bawah kepemimpinan Joe Biden sedang mempertimbangkan penerapan pajak terhadap kegiatan kripto untuk mendukung proyek-proyek infrastruktur di AS, sesuai dengan rencana yang tercantum dalam RUU Pendanaan Infrastruktur.

Indonesia

Terkait faktor yang mempengaruhi harga crypto, Indonesia melegitimasi perdagangan aset kripto pada bulan September 2018, ketika Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa Bitcoin dan aset kripto lainnya dianggap sebagai komoditas. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), lembaga di bawah Kementerian Perdagangan yang bertanggung jawab atas regulasi perdagangan komoditas di dalam negeri, telah mempersiapkan serangkaian peraturan untuk mengawasi kegiatan blockchain dan aset kripto di Indonesia.

7. Momentum

Terakhir, sebagaimana terjadi dalam pasar keuangan lainnya, faktor yang mempengaruhi harga crypto adalah faktor spekulatif. Pendapat yang berbeda dari setiap trader ritel, investor institusi, dan lembaga pengelola investasi global (hedge fund) mengenai kondisi pasar dapat memainkan peran penting dalam menentukan harga aset kripto.

Pergerakan harga di pasar aset kripto, terkait faktor yang mempengaruhi harga crypto, dapat terjadi dengan cepat dan signifikan. Ini dikarenakan banyak trader yang menggunakan algoritma dalam proses pertukaran aset kripto. Jika harga kripto mencapai suatu titik tertentu, sistem algoritma akan secara otomatis mengeksekusi tindakan jual atau beli. Tindakan ini kemudian menjadi pemicu bagi partisipasi trader lain, yang akan mempengaruhi pergerakan pasar secara lebih lanjut.

Karena sulitnya bagi pelaku pasar untuk menilai harga aset kripto berdasarkan aspek fundamental, perhatian sering kali tertuju pada isu dan berita yang mencuat, serta seruan pembelian atau penjualan yang dilakukan oleh pendukung aset kripto dan menjadi faktor yang mempengaruhi harga crypto. Sebagai contoh, harga aset kripto dapat mengalami fluktuasi besar ketika tokoh berpengaruh di dunia kripto, seperti Elon Musk dari Tesla, memberikan komentar atau membuat meme terkait cryptocurrency di akun Twitter-nya.

Penyebab Harga Aset Kripto Sangat Bergejolak

Di luar faktor yang mempengaruhi harga crypto, perlu diketahui bahwa pasar cryptocurrency sangat dipengaruhi oleh narasi dan berbeda dengan instrumen ekuitas yang menghasilkan imbal hasil melalui data pendapatan dan laba. Penilaian nilai aset kripto tidak dapat dihitung melalui metode pasar modal tradisional, seperti menganalisis kinerja keuangan perusahaan atau menggunakan indikator fundamental konvensional seperti rasio harga saham terhadap pendapatan (price to earning ratio). Adapun faktor yang mempengaruhi harga crypto atau harga aset kripto lebih cenderung dipengaruhi oleh cerita atau berita tertentu. Sebagai contoh, lonjakan harga cryptocurrency pada tahun 2020 dipicu oleh cuitan Elon Musk di Twitter serta pandangannya terhadap aset kripto yang juga menjadi faktor yang mempengaruhi harga crypto.

Baca juga: Menurut Cathie Wood Crypto Ini Melonjak 3000% Harus Dibeli

Volume perdagangan di bursa aset kripto tidak dapat diukur dengan akurat, dan data ukuran on-chain tidak mampu memberikan gambaran lengkap mengenai kondisi pasar kripto. Pasar kripto terbentuk dari jaringan platform bursa dan penyedia yang beragam, tidak terpusat pada satu bursa tunggal. Oleh karena itu, setiap platform bursa aset kripto memiliki harga aset kripto yang bervariasi satu sama lain. Dengan kata lain, cryptocurrency tidak memiliki satu harga tunggal. Ini berbeda dengan pasar modal konvensional di mana data harga dan volume perdagangan sekuritas dapat dengan jelas dicatat sesuai dengan aktivitas di bursa saham.

Investor juga menghadapi kesulitan dalam mengukur volume perdagangan aset kripto karena data volume on-chain dari suatu cryptocurrency tidak mencerminkan secara menyeluruh volume perdagangan yang terjadi di seluruh platform bursa aset kripto.

Momentum dan volatilitas muncul ketika pasar merespons algoritma trading. Meskipun secara teori, harga cryptocurrency antar platform trading kripto seharusnya tidak terlalu berbeda karena adanya perdagangan berbasis algoritma, namun pada kenyataannya, penggunaan algoritma untuk trading dapat menyebabkan pergerakan harga yang drastis. Sebagai contoh, penurunan harga aset kripto dapat memicu aksi “jual” jika trader memasang pesanan jual otomatis pada tingkat harga tertentu. Sayangnya, tindakan ini juga dapat dianggap oleh pelaku pasar lain sebagai sinyal penjualan, sehingga trader lain dapat mengikuti dengan menjual aset kripto mereka.

Cara Menghadapi Volatilitas Harga di Pasar Kripto

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, volatilitas tinggi atau perubahan harga yang cepat adalah hal yang alami dalam pasar kripto. Harga aset kripto dapat berfluktuasi secara signifikan dalam waktu singkat, sehingga perlu adanya kesiapan mental bagi para pelaku pasar yang ingin terlibat dalam dunia kripto.

Berikut adalah empat strategi yang dapat diterapkan untuk menghadapi fluktuasi harga aset kripto:

1. Tentukan Toleransi Kerugian

Menentukan batas toleransi kerugian adalah langkah yang penting. Sebagai contoh, mungkin Anda masih dapat mengatasi kerugian jika harga Bitcoin turun 50%. Dengan demikian, Anda mungkin tetap memegang Bitcoin jika harganya turun, misalnya, 40% dari US$30.000 menjadi US$18.000. Namun, Anda dapat memutuskan untuk menjual Bitcoin jika persentase penurunan harga melebihi 50%.

2. Diversifikasi Portofolio Aset Kripto

Untuk mendapatkan hasil yang optimal dari investasi kripto, penting untuk mendiversifikasi portofolio dengan berbagai jenis cryptocurrency. Salah satu strategi yang sederhana adalah menempatkan 33,3% dari portofolio aset kripto pada Bitcoin, 33,3% pada Ethereum, dan sisanya pada altcoin lainnya. Dengan cara ini, sekitar 66,7% dari portofolio akan terdiri dari aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar dan likuiditas tinggi dalam kelas aset cryptocurrency.

3. Ambil Keuntungan dan Diversifikasi ke Kelas Aset Lain

Mengambil keuntungan saat harga aset kripto tinggi dan menggunakan keuntungan tersebut untuk diversifikasi ke kelas aset lain, seperti emas, reksa dana pendapatan tetap, atau saham, dapat menjadi strategi yang bijak. Meskipun aset-aset ini mungkin tidak menarik ketika harga aset kripto sedang turun, namun diversifikasi ke kelas aset lain dapat membantu melindungi keuntungan dan mengurangi risiko.

4. Terapkan Strategi Dollar Cost Averaging

Mengingat fluktuasi harga yang tinggi, strategi Dollar Cost Averaging dapat membantu mengurangi risiko akibat penentuan waktu dalam berinvestasi. Dengan strategi ini, Anda menginvestasikan jumlah yang sama secara rutin, yang dapat membantu memperoleh lebih banyak unit cryptocurrency saat harga turun. Strategi ini dapat diimplementasikan dengan mengalokasikan persentase tertentu dari pendapatan bulanan, misalnya 30%, untuk berinvestasi secara teratur dalam aset kripto.

Demikianlah ulasan terkait faktor yang mempengaruhi harga crypto yang penting untuk diketahui. Semoga informasi di atas bermanfaat.

Baca juga: Investasi Crypto Adalah: Keuntungan, Risiko, dan Pertimbangan Jangka Panjang

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

Exit mobile version