26.8 C
Jakarta
Sabtu, 2 Juli, 2022

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Naik Turunnya Harga Saham

Terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi harga saham sehingga naik turun yang penting untuk diketahui, khususnya bagi trader pemula yang baru terjun ke dunia mulai investasi saham.

Hal itu karena saham memang berbeda dengan instrumen investasi lainnya. Pasalnya, bisa jadi return yang diberikan tinggi, tetapi harga per lembar saham akan terbilang fluktuatif. Mengingat fluktuasi harganya, tidak menutup kemungkinan Anda dapat menderita kerugian karena jatuhnya harga saham.

Hal itulah yang membuat investor pemula sangat disarankan untuk memahami dengan benar faktor-faktor yang mempengaruhi harga bukti penyertaan modal.

Pasalnya, berinvestasi saham secara asal-asalan dapat menimbulkan kerugian yang boleh jadi besar. Karena itu, di bawah ini akan diulas mengenai mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi harga stock.

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham

  1. Fundamental saham, positif atau negatif?

Cerminan kinerja perusahaan, apakah perusahaan berkinerja baik selama satu kuartal ataukah berkinerja buruk, tampak dari fundamental saham. Kondisi fundamental itu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi harga stock. Adapun investor bisa mengetahui kondisi fundamental dengan cara mengecek laporan keuangan yang dapat diakses secara terbuka. 

Untuk diketahui, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyediakan akses terbuka bagi para investor melalui website resminya. Semua laporan keuangan perusahaan terbuka ini bisa diakses oleh siapa pun melalui website itu.

Laporan keuangan ini pun sangat panjang dan banyak halamannya. Untuk mengeceknya secara singkat, Anda dapat melihat besaran pendapatan (revenue) dan laba (profit) per kuartal yang terbaru. Lalu, Anda mesti membandingkannya dengan pendapatan dan laba kuartal sebelumnya.

  1. Aksi korporasi dan berita-berita seputar perusahaan

Adapun faktor berikutnya adalah aksi korporasi dan berita-berita seputar perusahaan. Pada dasarnya, aksi korporasi adalah aktivitas-aktivitas yang berdampak pada pemangku kepentingan perusahaan, termasuk pemegang saham dan obligasi.

Untuk mengecek aksi korporasi yang dilakukan perusahaan terbuka bisa dipantau di website Bursa Efek Indonesia (BEI). Daftar aksi korporasi yang diinformasikan BEI adalah sebagai berikut:

  • Stock split
  • Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD)
  • Tanpa HMETD
  • Employee Stock Option Program (ESOP)/Management Stock Option Program (MSOP)
  • Saham bonus
  • Initial public offering (IPO)
  • Partial delisting
  • Waran
  • Dividen saham
  • Gabung usaha
  • Reverse stock
  • Kurang modal
  • Konversi saham
  • Company listing
  • Buyback saham
  • Private placement

Harga saham memang tidak selalu terpengaruh oleh faktor-faktor di atas. Di sisi lain, berita-berita soal perusahaan ini juga bisa mempengaruhi naik turunnya harga, misalnya berupa berita pengenalan produk baru atau produk yang ditarik, berita soal perusahaan yang mendapatkan kontrak atau proyek besar, efisiensi (employee layoffs), akuisisi atau merger, perubahan manajemen, kesalahan akuntansi, hingga skandal.

  1. Perkembangan kegiatan industri yang dijalankan perusahaan

Sektor yang dijalankan perusahaan ikut mempengaruhi performa saham. Karena itu, perkembangan sektor menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi harga saham. Di dunia ekonomi, terdapat 3 sektor yang dijalankan berdasarkan kegiatannya, yakni sektor primer, sektor sekunder, dan sektor tersier. Ketiganya pun saling terkait.

Adapun sektor primer meliputi kegiatan ekstraksi dan pengumpulan sumber daya alam, seperti pertanian, kehutanan, pertambangan, dan perikanan. Sementara itu, sektor sekunder mencakup industri manufaktur yang kegiatannya menghasilkan produk jadi. Di sisi lain, sektor tersier meliputi kegiatan di industri jasa.

Pada umumnya, jika ada salah satu kegiatan di sektor tertentu sedang bagus, saham-saham perusahaan yang menjalankan kegiatan ini akan terdongkrak naik. Pasalnya, kondisi pasar mempengaruhi perusahaan dalam industri yang sama. Akan tetapi, adakalanya kabar buruk soal perusahaan di salah satu industri dapat memengaruhi harga saham perusahaan lainnya di industri yang sama. Hal ini pun menjadi faktor yang mempengaruhi naik turunnya harga saham.

  1. Sentimen investor sebagai bentuk reaksi terhadap pasar

Faktor yang mempengaruhi harga saham selanjutnya adalah sentimen atau reaksi investor terhadap saham atau harga suatu saham. Sentimen ini biasanya efeknya berjamaah, dalam arti jika banyak investor yang beli, investor-investor lainnya ikutan beli sehingga akan membuat harga naik, demikian juga sebaliknya.

Adapun sentimen investor ini disimpulkan dalam dua istilah pasar saham, yakni bullish dan bearish:

  • Bullish adalah kondisi di mana pasar saham sedang bergairah yang ditandai dengan naiknya harga saham dan tumbuhnya kepercayaan investor. Bullish juga menjadi indikator dari ekonomi yang bagus dan optimisme para investor.
  • Bearish adalah kondisi di mana pasar saham sedang lesu yang ditandai dengan turunnya harga saham dan ragunya para investor. Bearish pun bisa menjadi indikator dari ekonomi yang alami resesi dan pesimisnya para investor.
  1. Faktor ekonomi ikut mempengaruhi harga saham

Faktor lainnya yang mempengaruhi harga stock adalah faktor ekonomi. Kondisi ekonomi, baik domestik maupun global, bukan hanya berdampak terhadap kegiatan usaha ataupun bisnis, melainkan juga berefek ke pasar modal. Sejumlah indikator ekonomi yang membuat harga saham naik ataupun turun adalah sebagai berikut.

Suku bunga acuan 

Adapun naik ataupun turunnya suku bunga acuan adalah kebijakan moneter masing-masing negara. Tujuan dinaikkan ataupun diturunkannya suku bunga acuan ini dalam rangka merangsang perekonomian. 

Untuk diketahui, naiknya suku bunga acuan memberikan efek negatif terhadap perusahaan yang memiliki utang perbankan. Pasalnya, laba (profit) berkurang lantaran menyusutnya perolehan laba dan dividen yang dibagikan justru boleh jadi akan ditangguhkan. Dampaknya tentu saja berujung pada menurunnya harga saham.

Prospek ekonomi (economic outlook)

Prospek ekonomi yang bagus akan mendorong kepercayaan para investor untuk berinvestasi. Dalam hal ini, para investor yakin bahwa prospek ekonomi yang bagus akan membuat harga saham yang mereka beli akan naik ke depannya, demikian pula sebaliknya.

Inflasi

Pendorong naiknya inflasi adalah kenaikan harga yang tercermin dalam Indeks Harga Konsumen (IHK). Kenaikan inflasi akan membuat bank sentral mengambil keputusan menaikkan suku bunga acuan buat memperlambat laju inflasi.

Adapun kenaikan suku bunga acuan akan membuat bunga kredit naik, dalam arti kalau perusahaan terbuka mengambil pinjaman perbankan, pendapatan perusahaan terbebani bunga pinjaman yang berujung pada tergerusnya laba.

Deflasi

Untuk dipahami, kenaikan IHK yang terlalu tinggi tidaklah bagus, demikian halnya dengan turunnya IHK yang terlampau dalam. Penurunan yang terjadi pada IHK akan mengakibatkan terjadinya deflasi. Deflasi pun menjadi cerminan daya beli yang menurun, yang berarti adanya penurunan daya jual juga.

Sementara itu, daya jual menurun berarti pendapatan (revenue) perusahaan juga menurun.  Para investor yang melihat pendapatan yang turun pada umumnya tidak tertarik untuk membeli saham perusahaan ini, bahkan jika bisa mereka akan menjualnya secepat mungkin.

Gejolak ekonomi dan politik

Pasar modal akan terdampak negatif oleh gejolak ekonomi dan politik. Misalnya, naiknya harga batu bara yang membuat harga listrik naik dan membuat ongkos produksi ikut naik. Kenaikan ongkos produksi ini membuat harga jual produk akan naik.

Pada akhirnya, harga jual produk yang naik ini menyebabkan penurunan daya beli sehingga pendapatan (revenue) perusahaan pun menurun.

Perubahaan kebijakan ekonomi

Pada dasarnya, pergantian presiden atau pemimpin negara akan membawa perubahan baru yang tereflesikan pada kebijakan-kebijakan ekonomi yang dikeluarkan. Adapun tiap kebijakan berefek positif ataupun negatif. Jika berefek positif terhadap ekonomi, khususnya pasar modal, tentu saja akan mendorong investor percaya diri buat berinvestasi, demikian pula sebaliknya.

Ekspor impor dalam suatu negara

Adapun ekspor yang tinggi sejalan dengan tingginya penjualan produk-produk perusahaan di suatu negara. Jika perusahaan itu perusahaan terbuka, akan sangat menarik untuk membeli sahamnya.

Di sisi lain, impor yang tinggi dalam suatu negara membuat posisi perusahaan terlihat lemah di mata investor, terlebih lagi jika perusahaan itu mengandalkan bahan baku impor. Jika mata uang dalam negeri melemah, perusahaan akan menanggung modal lebih besar untuk membeli bahan baku.

Demikianlah ulasan mengenai beberapa faktor yang mempengaruhi harga saham sehingga naik turun. Agar Anda dapat meminimalkan kerugian dalam berinvestasi saham, pahamilah faktor-faktor di atas serta giatlah untuk memantaunya.

 

Penulis: Kontributor

Editor: Anju Mahendra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Cara Mengajukan Pinjaman UMKM Cepat Cair, Catat Ya!

JAKARTA, duniafintech.com - Cara mengajukan pinjaman UMKM menjadi topik tim Duniafintech.com kali ini. Cara mengajukan pinjaman UMKM cepat cair adalah solusi dalam berwirausaha yang...

Perusahaan Asuransi Indonesia Terdaftar BEI, Ini Daftarnya

JAKARTA, duniafintech.com – Perusahaan asuransi Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tentunya dapat menjadi pilihan untuk investasi. Di samping memiliki produknya, kamu pun...

Cara Bayar Kredivo Lewat Alfamart, Ini Panduan Mudahnya

JAKARTA, duniafintech.com – Cara bayar Kredivo lewat Alfamart sebenarnya sangat mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Kredivo sendiri menjadi salah satu layanan kredit online...

Daftar Fintech Berizin OJK Jadi 102, Ini Rinciannya

JAKARTA, duniafintech.com – Daftar fintech berizin kembali dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 22 April 2022 lalu. Dalam catatan OJK, total jumlah penyelenggara fintech...

Cara Investasi Emas untuk Pemula, Gampang Banget!

JAKARTA, duniafintech.com – Cara investasi emas untuk pemula, apakah susah? Tentu saja tidak. Bahkan, caranya gampang sekali. Seperti diketahui, emas memang bukan hanya populer sebagai...
LANGUAGE