34 C
Jakarta
Kamis, 22 Februari, 2024

Fintech Disebut Berkah Sekaligus Kutukan, Begini Penjelasan Ketua OJK

JAKARTA, duniafintech.com – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, menyebut bahwa financial technology (fintech) adalah berkah, tetapi sekaligus menjadi kutukan.

Menurutnya, hal ini adalah bagian dari kelebihan dan kekurangan transformasi digital di sektor keuangan. Petinggi OJK itu membeberkan, fintech bisa menjadi hal yang menguntungkan maupun berkah apabila dimanfaatkan oleh orang yang terbuka terhadap kemajuan dan pengembangan perbankan digital (digital banking).

Namun, di lain sisi, fintech pun bisa menimbulkan malapetaka maupun mengakibatkan kerugian untuk orang-orang yang terjerat atau menjadi korban dari perusahaan-perusahaan keuangan ilegal, termasuk fintech atau pinjaman online (pinjol) ilegal. 

Baca juga: Pinjol Cepat Cair Terbaik Idaman saat Perlu Dana Cepat, Ini Rekomendasinya

“Jadi, it is a blessed or cursed transformasi digital,” kata Mahendra, di Jakarta, Kamis (30/11/2023), dikutip dari iNews.id, Jumat (1/12/2023).

Mahendra berpandangan bahwa transformasi digital di sektor jasa keuangan mesti sejalan dengan penerapan tata kelola yang baik, pemahaman risiko dan governansi, dan mengutamakan aspek perlindungan konsumen supaya bisa bermanfaat sekaligus memitigasi serta meminimalisasi dampak negatif. 

Dikatakan mantan Wakil Menteri Luar Negeri itu, semakin banyak aspek teknologi digital berada di dalam sektor industri itu, risiko pun menjadi ter-multiplikasi. Kemudian, pada gilirannya, malah membutuhkan aspek pemahaman yang jelas mengenai governance and risk jika ingin sustainable.

Ia pun menyampaikan, pada 2023 ini, OJK telah meluncurkan empat peta jalan atau roadmap untuk industri jasa keuangan, termasuk fintech, dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat serta integritas sektor jasa keuangan. 

“Saya lihat dalam seluruh roadmap tadi itu, benang merahnya adalah tiga kata kunci yang kemudian ingin menuju kepada satu objective, yaitu governance, integritas, dan etik menuju sustainability,” tutur Mahendra. 

Di lain sisi, Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas Pasti) OJK dilaporkan telah memblokir sebanyak 7.502 entitas keuangan ilegal terhitung sejak 2017 hingga 31 Oktober 2023 lalu.

Adapun secara rinci, terdapat sebanyak 1.196 entitas investasi ilegal, 6.055 entitas pinjaman online ilegal atau pinpri, dan 251 entitas gadai ilegal.

Singgung Perubahan Nasib Chengpeng Zao

Di lain sisi, Mahendra juga menyoroti perubahan nasib Chengpeng Zao (CZ) yang merupakan pendiri Binance. Sebagai informasi, nasib Changpeng Zhao saat ini berubah total, bahkan statusnya saat ini sedang menanti hukuman penjara. Terbaru, CZ juga dipaksa untuk melepaskan jabatan CEO di Binance. 

Bukan itu saja, Zhao pun mengaku bersalah telah melakukan tindakan kriminal yang melanggar hukum anti-pencucian uang Amerika Serikat. Peristiwa itu kemudian disoroti oleh Mahendra sebagai salah satu contoh perubahan drastis di industri keuangan, khususnya fintech.

Mundur ke belakang, CZ saat itu menjadi bintang tamu yang dipuja oleh industri fintech Indonesia pada 2022 Fintech Summit yang diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) tahun lalu digelar megah di Bali. Changpeng Zhao saat itu diundang sebagai salah satu pembicara utama.

Baca juga: Dampak Negatif Pinjaman Online yang Perlu Dihindari sebelum Terlambat

Fintech OJK

“Tahun lalu di Bali, bintang tamunya, ingat kan, namanya adalah Changpeng Zhao, atau CZ, hadir secara fisik di Pantai Legian Bali sebagai tamu yang luar biasa saat itu. Dia adalah CEO dan Founder Binance Global. Dielu-elukan. Tahun ini, silakan Google bagaimana nasibnya,” ucap Mahendra.

Di samping itu, Mahendra pun meminta agar pelaku industri beradaptasi dengan perubahan pasar global. Adapun sebelum 2023, modal murah yang melimpah karena suku bunga rendah mengucur ke seluruh dunia.

“Istilahnya, uang untuk dibakar atau bakar-bakar duit, berlebih-lebihan tahun lalu. Itu perbedaannya dengan sekarang; suku bunga tinggi, ketersediaan modal ketat, likuiditas juga tidak makin mudah, kalaupun tidak dianggap sulit,” tuturnya.

Teknologi digital, imbuhnya, bukan hanya membawa potensi baru bagi pelaku industri keuangan, melainkan juga menimbulkan risiko yang dihadapi berlipat ganda.

“Tidak terbayangkan, dalam waktu satu tahun, kondisi yang begitu besar berubah, menciptakan risiko yang luar biasa, tidak terbayangkan, dan pada akhirnya, industri, perusahaan yang sebegitu kuatnya pun, berhadapan dengan isu sustainability,” tandasnya.

Baca juga: Berita Fintech Indonesia: Respons Kemajuan Fintech, OJK Terapkan Aturan yang Seimbang

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Iklan

ARTIKEL TERBARU

LANGUAGE