Dunia Fintech

Harga Bitcoin Beri Sinyal Bullish Tersembunyi, tetapi Pembelian Holder Anjlok 96%

Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan sinyal menarik di tengah tekanan pasar kripto pada Oktober 2026. Meskipun Bitcoin mengalami koreksi dalam beberapa hari terakhir, sejumlah indikator teknikal memperlihatkan bahwa tren kenaikan jangka menengah berpotensi belum berakhir.

Berdasarkan analisis terbaru, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$82.300 pada 9 Oktober 2026, setelah mengalami tekanan jual sepanjang pekan.

Namun, secara keseluruhan, Bitcoin masih mencatat kenaikan sekitar 28% dalam tiga bulan terakhir.

Menariknya, grafik harian Bitcoin menunjukkan pola hidden bullish divergence, yang sering dikaitkan dengan potensi kelanjutan tren naik.

Meski demikian, terdapat persoalan yang perlu diperhatikan investor. Pembelian Bitcoin oleh holder jangka panjang merosot hingga 96%, sementara ETF Bitcoin spot juga mengalami arus keluar dalam jumlah besar.

Bitcoin Menunjukkan Hidden Bullish Divergence

Salah satu indikator teknikal yang menarik perhatian adalah terbentuknya pola hidden bullish divergence pada grafik harian Bitcoin.

Pola ini terjadi ketika harga aset membentuk titik terendah yang lebih tinggi (higher low), sementara indikator momentum justru membentuk titik terendah yang lebih rendah (lower low).

Dalam kasus Bitcoin, pola tersebut terlihat pada periode 2 September hingga 8 Oktober 2026.

Selama periode itu, harga Bitcoin membentuk higher low, sedangkan indikator Relative Strength Index (RSI) turun dari sekitar 65 menjadi 47.

RSI merupakan indikator teknikal yang digunakan untuk mengukur kekuatan momentum harga dalam rentang 0 hingga 100.

Perbedaan arah antara harga dan RSI tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap momentum Bitcoin lebih besar dibandingkan penurunan harga sebenarnya.

Secara teknikal, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa tren naik masih bertahan meskipun pasar mengalami koreksi.

Namun, pola divergence bukan jaminan bahwa Bitcoin akan langsung mengalami kenaikan.

harga bitcoin 9 Oktober

Volume Penjualan Bitcoin Mulai Melemah

Selain RSI, volume perdagangan juga memberikan petunjuk mengenai kondisi pasar.

Tekanan jual Bitcoin meningkat sejak 6 Oktober. Namun, volume penjualan pada 8 Oktober tercatat sekitar 18% lebih rendah dibandingkan puncak volume jual pada 2 Oktober.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penjual masih aktif, tetapi kekuatan penjualannya mulai berkurang.

Dalam analisis teknikal, penurunan volume jual dapat menjadi salah satu tanda bahwa tekanan bearish mulai kehilangan momentum.

Namun, berkurangnya aktivitas penjualan tidak otomatis berarti pembeli telah kembali menguasai pasar.

Untuk mengonfirmasi perubahan arah harga, Bitcoin tetap membutuhkan peningkatan permintaan dan volume pembelian.

Pembelian Holder Bitcoin Anjlok 96%

Di tengah munculnya sinyal bullish, data on-chain justru menunjukkan perkembangan yang perlu diwaspadai.

Menurut data Glassnode, indikator Hodler Net Position Change mengalami penurunan sangat tajam.

Indikator tersebut mengukur perubahan bersih jumlah Bitcoin yang disimpan oleh holder jangka panjang.

Pada 20 September 2026, indikator ini mencapai sekitar 25.734 BTC.

Namun, pada 8 Oktober, angkanya turun menjadi hanya 1.051 BTC.

Artinya, aktivitas akumulasi bersih holder merosot sekitar 96% dalam waktu kurang dari tiga minggu.

Angka tersebut juga menjadi pembacaan positif terlemah dalam tiga bulan terakhir.

Meskipun holder jangka panjang masih melakukan akumulasi bersih, jumlah Bitcoin yang ditambahkan jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi Bitcoin karena holder jangka panjang merupakan salah satu kelompok investor yang dapat membantu menyerap pasokan di pasar.

Mengapa Holder Bitcoin Mulai Mengurangi Pembelian?

Penurunan pembelian holder dapat disebabkan oleh berbagai faktor.

Sebagian investor mungkin memilih menunggu kepastian arah pasar setelah volatilitas meningkat pada awal Oktober.

Sebagian lainnya dapat menahan pembelian karena mempertimbangkan kondisi makroekonomi, arus dana institusional, atau risiko penurunan harga lebih lanjut.

Namun, data Hodler Net Position Change sendiri tidak dapat memastikan alasan setiap investor mengurangi akumulasi.

Yang dapat disimpulkan adalah bahwa pertambahan kepemilikan bersih kelompok holder telah melambat secara signifikan.

Menariknya, situasi serupa pernah terjadi pada Agustus 2026.

Bitcoin Pernah Naik 24% Meski Holder Menjual

Penurunan akumulasi holder sebenarnya bukan fenomena baru.

Pada periode 2–30 Agustus 2026, indikator Hodler Net Position Change berada di wilayah negatif.

Artinya, kelompok holder jangka panjang secara bersih mengurangi kepemilikan Bitcoin mereka.

Namun, harga Bitcoin justru berhasil mencatat kenaikan sekitar 24% sepanjang Agustus.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Salah satu penjelasannya berasal dari permintaan institusional melalui ETF Bitcoin spot.

Pada 17–27 Agustus, ETF Bitcoin spot mencatat arus masuk selama sembilan hari perdagangan berturut-turut dengan nilai mencapai US$3,04 miliar.

Permintaan tersebut berpotensi membantu menyerap Bitcoin yang dilepas oleh holder jangka panjang.

Dengan kata lain, pelemahan akumulasi holder tidak selalu menyebabkan penurunan harga apabila terdapat kelompok pembeli lain yang mampu menyerap pasokan.

Namun, kondisi Oktober 2026 memperlihatkan perbedaan penting.

ETF Bitcoin Justru Catat Arus Keluar US$731 Juta

Jika pada Agustus permintaan ETF mampu membantu menopang harga Bitcoin, situasinya berbeda pada awal Oktober.

Berdasarkan data SoSoValue, ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar gabungan sekitar US$731 juta pada 7–8 Oktober 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor melalui ETF sedang mengurangi eksposur bersih terhadap Bitcoin.

Di saat yang sama, akumulasi holder jangka panjang juga mengalami perlambatan signifikan.

Kombinasi kedua faktor tersebut menciptakan tantangan bagi pasar.

Ketika holder mengurangi pembelian dan ETF mencatat arus keluar, Bitcoin membutuhkan sumber permintaan baru untuk mempertahankan tren kenaikannya.

Tanpa peningkatan permintaan, sinyal bullish dari grafik teknikal berisiko gagal menghasilkan kelanjutan reli.

Harga Bitcoin Masih Mempertahankan Higher Low

Meskipun permintaan melemah, struktur harga Bitcoin masih memperlihatkan satu perkembangan positif.

Pada 15 September, Bitcoin sempat menyentuh sekitar US$75.041 sebelum kembali mengalami kenaikan.

Kemudian, ketika pasar terkoreksi pada 8 Oktober, BTC menemukan support di sekitar US$80.383.

Titik terendah terbaru tersebut masih berada di atas titik terendah September.

Inilah yang membentuk pola higher low pada grafik Bitcoin.

Selama struktur tersebut bertahan, peluang kelanjutan tren naik masih terbuka.

Namun, apabila Bitcoin turun menembus US$80.383, struktur teknikal tersebut dapat berubah dan sinyal hidden bullish divergence menjadi tidak valid.

Bitcoin Harus Menembus US$83.325

Dalam jangka pendek, level pertama yang perlu diperhatikan berada di sekitar US$83.325.

Penutupan perdagangan harian di atas level tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat momentum pemulihan.

Namun, level ini belum menjadi konfirmasi akhir bahwa Bitcoin telah kembali memasuki tren bullish yang kuat.

Investor masih perlu melihat apakah kenaikan harga didukung volume pembelian dan permintaan institusional.

Jika BTC berhasil mempertahankan pergerakan di atas US$83.325, perhatian pasar berikutnya akan tertuju pada resistance yang lebih tinggi.

Resistance US$88.086 Jadi Penentu Uptrend Bitcoin

Level paling penting dalam analisis ini berada di sekitar US$88.086.

Angka tersebut merupakan area Fibonacci retracement 0,618 yang sering digunakan trader untuk mengidentifikasi resistance.

Level tersebut berada tidak jauh dari zona US$86.616, tempat akumulasi holder sempat mencapai tingkat tinggi pada September.

Dari harga Bitcoin sekitar US$82.300 ketika analisis diterbitkan, BTC membutuhkan kenaikan kurang lebih 7% untuk mencapai US$88.086.

Apabila Bitcoin mampu menembus dan menutup perdagangan harian di atas level tersebut, peluang kembalinya permintaan holder dan institusional dapat meningkat.

Namun, kondisi tersebut tetap memerlukan konfirmasi dari data pasar.

Kenaikan harga tanpa dukungan permintaan yang memadai dapat menghasilkan breakout yang tidak bertahan lama.

Jika Bitcoin Turun di Bawah US$80.383, Apa Risikonya?

Di sisi lain, investor perlu memperhatikan skenario bearish.

Level US$80.383 merupakan support penting karena menjadi titik terendah terbaru yang mempertahankan struktur higher low Bitcoin.

Jika harga turun di bawah level tersebut, pola hidden bullish divergence dapat kehilangan validitasnya.

Dalam skenario tersebut, area US$75.041 kembali menjadi support berikutnya yang perlu diperhatikan.

Level ini merupakan titik terendah Bitcoin pada 15 September.

Dengan demikian, pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek memiliki dua skenario utama.

Skenario bullish membutuhkan pemulihan harga menuju US$83.325 dan breakout di atas US$88.086.

Sebaliknya, skenario bearish semakin kuat apabila BTC gagal mempertahankan US$80.383.

Apakah Bitcoin Akan Kembali Bullish?

Sinyal hidden bullish divergence memberikan alasan bagi investor untuk tetap memperhatikan peluang pemulihan Bitcoin.

Namun, indikator teknikal tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa tren kenaikan akan berlanjut.

Terdapat dua faktor fundamental pasar yang masih perlu diperhatikan.

Pertama, akumulasi holder jangka panjang turun 96%, menunjukkan pembelian bersih kelompok tersebut jauh lebih rendah dibandingkan September.

Kedua, ETF Bitcoin spot mengalami arus keluar US$731 juta selama dua hari, yang menunjukkan pelemahan permintaan melalui produk investasi tersebut.

Apabila kedua kelompok pembeli tersebut kembali aktif, peluang Bitcoin untuk menembus resistance dapat meningkat.

Sebaliknya, apabila permintaan tetap lemah, Bitcoin berpotensi kembali menguji support meskipun grafik teknikal memperlihatkan sinyal bullish.

Kesimpulan

Harga Bitcoin memperlihatkan sinyal hidden bullish divergence pada grafik harian meskipun pasar mengalami tekanan sepanjang awal Oktober 2026.

Pola tersebut muncul ketika harga Bitcoin membentuk higher low, sementara indikator RSI turun dari sekitar 65 menjadi 47.

Namun, data on-chain menunjukkan bahwa akumulasi bersih holder jangka panjang merosot 96%, dari 25.734 BTC pada 20 September menjadi 1.051 BTC pada 8 Oktober.

Pada saat yang sama, ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar gabungan sekitar US$731 juta pada 7–8 Oktober.

Kondisi tersebut membuat peluang kenaikan Bitcoin masih membutuhkan dukungan permintaan baru.

Dalam jangka pendek, US$83.325 menjadi level pemulihan awal, sedangkan US$88.086 merupakan resistance penting yang perlu ditembus untuk memperkuat sinyal bullish.

Sebaliknya, apabila Bitcoin turun di bawah US$80.383, struktur higher low dapat rusak dan risiko koreksi menuju US$75.041 meningkat.

Dengan demikian, prospek Bitcoin saat ini bergantung pada kemampuan harga mempertahankan support sekaligus menarik kembali permintaan dari holder dan investor institusional.

BACA SELENGKAPNYA ARTIKEL BERITA KRIPTO TERBARU DI SINI>>

Exit mobile version