Harga Bitcoin dan sejumlah aset kripto kembali mengalami penguatan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Kongres untuk segera mengesahkan rancangan undang-undang yang dinilai dapat memberikan kepastian sekaligus mendorong pertumbuhan industri aset digital.
Dorongan dari Trump menjadi katalis positif bagi pasar kripto di tengah turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kombinasi antara perkembangan kebijakan dan kondisi makroekonomi tersebut membuat minat terhadap aset berisiko kembali meningkat.
Bitcoin sebelumnya bergerak dalam rentang yang relatif sempit selama beberapa pekan. Namun, sentimen terbaru mulai mendorong pasar keluar dari fase konsolidasi tersebut.
Di sisi lain, Ether juga mencatat penguatan signifikan. Dalam tujuh hari terakhir, Ether naik sekitar 19 persen menjadi US$2.251, sekaligus mencapai level tertinggi dalam tiga bulan.
Trump Minta Kongres Segera Sahkan RUU Kripto

Presiden Donald Trump kembali menunjukkan dukungannya terhadap industri aset digital dengan mendorong Kongres AS untuk mengesahkan rancangan undang-undang terkait kripto.
Regulasi tersebut dipandang dapat menciptakan kerangka hukum yang lebih jelas bagi industri aset digital di Amerika Serikat.
Kepastian regulasi menjadi salah satu isu penting bagi pasar kripto karena selama ini pelaku industri menghadapi ketidakjelasan mengenai aturan dan kewenangan regulator terhadap berbagai jenis aset digital.
Dorongan Trump memberikan sinyal bahwa pemerintah AS masih berupaya mempertahankan pendekatan yang relatif pro terhadap perkembangan industri kripto.
Sentimen tersebut kemudian ikut mendorong kenaikan harga Bitcoin, Ether, dan sejumlah aset digital lainnya.
Hyperliquid Ikut Jadi Perhatian
Selain mendorong pengesahan RUU kripto, Trump juga memberikan sinyal mengenai kemungkinan adanya regulasi terhadap Hyperliquid.
Hyperliquid merupakan bursa terdesentralisasi yang semakin populer di kalangan trader, khususnya untuk perdagangan perpetual futures.
Kabar tersebut langsung mendapat respons dari pasar. Token Hyperliquid tercatat mengalami kenaikan sekitar 20 persen dalam 24 jam, berdasarkan data CoinGecko.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan regulasi tidak hanya memberikan dampak terhadap Bitcoin dan Ether, tetapi juga dapat memengaruhi aset kripto yang memiliki keterkaitan langsung dengan sektor perdagangan aset digital.
Yield Treasury AS Turun, Bitcoin Semakin Menarik
Selain faktor kebijakan, pasar juga mendapatkan dukungan dari penurunan imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat.
Departemen Keuangan AS mengumumkan peningkatan signifikan dalam pembelian kembali obligasi pemerintah dengan tenor 20 tahun dan 30 tahun.
Kebijakan tersebut membuat imbal hasil obligasi jangka panjang turun tajam. Penurunan yield kemudian meningkatkan daya tarik aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Ketika imbal hasil instrumen pendapatan tetap menurun, sebagian investor dapat kembali mencari peluang pada aset yang menawarkan potensi keuntungan lebih tinggi meskipun memiliki risiko lebih besar.
Kondisi inilah yang menjadi salah satu katalis bagi penguatan Bitcoin dalam perdagangan terbaru.
Aktivitas ETF Bitcoin Meningkat Tajam
Penurunan yield juga terlihat berdampak pada aktivitas perdagangan produk ETF Bitcoin.
iShares Bitcoin Trust ETF (IBIT) mencatat volume perdagangan lebih dari 4,5 kali rata-rata 30 hari, bahkan sebelum kabar mengenai Hyperliquid menjadi perhatian pasar.
Lonjakan volume menunjukkan meningkatnya aktivitas investor pada produk investasi berbasis Bitcoin tersebut.
ETF Bitcoin menjadi salah satu instrumen penting dalam ekosistem aset digital karena memungkinkan investor mendapatkan eksposur terhadap Bitcoin melalui pasar keuangan tradisional.
Jika peningkatan aktivitas ETF berlanjut dan diikuti arus dana masuk, kondisi tersebut berpotensi memberikan dukungan tambahan bagi harga BTC.
Volatilitas Bitcoin Mulai Meningkat
Penguatan harga juga disertai peningkatan volatilitas Bitcoin.
BVIV Index yang mengukur volatilitas Bitcoin melalui Volmex Labs naik di atas 43,5. Sebelumnya, indeks tersebut sempat berada di level terendah tahun ini, yaitu sekitar 35,5 pada Jumat sebelumnya.
Kenaikan volatilitas menunjukkan bahwa pasar mulai bergerak lebih agresif setelah Bitcoin cukup lama berada dalam rentang perdagangan yang terbatas.
Bagi trader, meningkatnya volatilitas dapat membuka peluang keuntungan lebih besar. Namun, kondisi yang sama juga berarti risiko pergerakan harga secara tajam semakin tinggi.
Analis Melihat Peluang Bitcoin Menuju US$100.000
Salah satu pandangan paling bullish datang dari Geoffrey Kendrick, Global Head of Digital Assets Research di Standard Chartered.
Menurut Kendrick, langkah Departemen Keuangan AS dalam meningkatkan dukungan terhadap pasar obligasi jangka panjang merupakan perkembangan yang sangat positif bagi Bitcoin.
Ia bahkan menilai investor seharusnya mulai mempersiapkan kemungkinan Bitcoin bergerak menuju US$100.000 pada akhir 2026.
Target tersebut tentu masih berupa proyeksi, bukan kepastian harga. Bitcoin tetap menghadapi berbagai risiko, terutama perubahan kebijakan moneter, kondisi likuiditas, serta sentimen investor global.
Namun, pandangan tersebut menunjukkan bahwa sebagian analis masih melihat ruang kenaikan yang cukup besar bagi Bitcoin setelah periode konsolidasi panjang.
Likuidasi Short Capai Salah Satu yang Terbesar
Pergerakan besar di pasar kripto juga menyebabkan terjadinya likuidasi dalam jumlah signifikan.
Thomas Lee, salah satu pendiri sekaligus kepala riset Fundstrat, menyebut pergerakan dalam beberapa hari terakhir telah memicu likuidasi posisi short terbesar kedua dalam sejarah.
Likuidasi short terjadi ketika trader yang bertaruh harga akan turun terpaksa menutup posisinya karena harga justru bergerak naik.
Fenomena tersebut dapat memperkuat kenaikan harga melalui mekanisme short squeeze. Ketika posisi short ditutup, trader perlu membeli aset untuk mengembalikan posisi, sehingga tekanan beli semakin meningkat.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat menjelaskan mengapa kenaikan Bitcoin dan aset kripto lainnya berlangsung cukup cepat.
Ether Naik 19 Persen dalam Sepekan
Tidak hanya Bitcoin, Ether juga mengalami penguatan yang cukup signifikan.
Data CoinGecko menunjukkan harga Ether telah naik sekitar 19 persen dalam tujuh hari terakhir menjadi US$2.251.
Kenaikan tersebut membawa Ether ke level tertinggi dalam tiga bulan.
Performa Ether yang lebih agresif dibandingkan Bitcoin menunjukkan bahwa sentimen positif mulai menyebar ke pasar altcoin.
Jika momentum Bitcoin terus bertahan, aset kripto berkapitalisasi besar lainnya berpotensi ikut mendapatkan manfaat dari meningkatnya minat investor terhadap sektor digital asset.
Bitcoin Masih Menghadapi Resistance US$66.000
Meskipun sentimen pasar membaik, Bitcoin masih menghadapi tantangan teknikal.
Selama sekitar enam minggu, BTC sebelumnya bergerak di antara area support US$62.000 dan resistance US$66.000.
Rentang tersebut menjadi zona konsolidasi yang cukup panjang bagi Bitcoin.
Jika BTC mampu menembus US$66.000 dengan volume dan momentum yang kuat, breakout tersebut dapat menjadi sinyal bahwa fase sideways mulai berakhir.
Sebaliknya, kegagalan menembus resistance dapat membuat Bitcoin kembali bergerak dalam rentang yang sama atau bahkan menguji support US$62.000.
Volatilitas Rendah Sempat Membuat Trader Frustrasi
Sebelum kenaikan terbaru, Bitcoin mengalami periode volatilitas yang relatif rendah.
David Morrison, analis pasar senior di Trade Nation, menilai kondisi tersebut cukup membuat trader kripto frustrasi.
Pasalnya, Bitcoin sebelumnya telah kehilangan sekitar separuh nilainya dari rekor tertinggi yang dicapai pada Oktober tahun sebelumnya, tetapi volatilitas tetap rendah dan harga bergerak dalam rentang yang terbatas.
Situasi tersebut membuat pasar membutuhkan katalis baru untuk menentukan arah berikutnya.
Dorongan Trump terhadap regulasi kripto, penurunan yield Treasury, serta meningkatnya likuidasi posisi short kemudian menjadi kombinasi katalis yang mendorong pergerakan harga lebih agresif.
Apa Artinya bagi Pasar Kripto?
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa pasar kripto kembali mendapatkan dukungan dari kombinasi katalis kebijakan dan faktor makroekonomi.
Dari sisi kebijakan, dorongan Trump terhadap RUU kripto memberikan harapan terhadap kepastian regulasi di Amerika Serikat.
Sementara dari sisi makroekonomi, turunnya yield Treasury membuat aset berisiko kembali menarik perhatian investor.
Jika kedua faktor tersebut bertahan, Bitcoin berpotensi mencoba menembus resistance US$66.000.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan risiko volatilitas. Kenaikan yang berlangsung cepat setelah periode konsolidasi panjang dapat diikuti aksi ambil untung maupun koreksi.
Kesimpulan
Bitcoin dan Ether kembali menguat setelah Donald Trump mendesak Kongres AS untuk mengesahkan RUU kriptoyang dinilai dapat mendukung pertumbuhan industri aset digital.
Sentimen positif tersebut semakin kuat setelah imbal hasil Treasury AS turun menyusul peningkatan pembelian kembali obligasi pemerintah tenor 20 tahun dan 30 tahun.
Aktivitas perdagangan IBIT juga melonjak hingga lebih dari 4,5 kali rata-rata 30 hari, sementara volatilitas Bitcoin meningkat dengan BVIV Index menembus 43,5.
Di pasar kripto, Ether mencatat kenaikan sekitar 19 persen dalam tujuh hari menjadi US$2.251, sedangkan token Hyperliquid melonjak sekitar 20 persen dalam 24 jam.
Bitcoin sendiri sebelumnya terjebak dalam rentang US$62.000–US$66.000 selama enam minggu. Jika BTC mampu menembus resistance US$66.000, peluang terjadinya breakout semakin terbuka.
Sementara itu, analis Standard Chartered Geoffrey Kendrick bahkan melihat kemungkinan Bitcoin bergerak menuju US$100.000 pada akhir 2026.
Meski prospek bullish semakin menarik, investor tetap perlu mewaspadai volatilitas yang meningkat karena pergerakan pasar kripto dalam beberapa hari terakhir telah memicu salah satu likuidasi posisi short terbesar dalam sejarah.