Pergerakan harga Bitcoin kembali menjadi sorotan di tengah kondisi pasar kripto yang melemah sepanjang 2026. Banyak investor mulai mempertanyakan arah selanjutnya, terutama setelah harga sempat menyentuh ATH pada Oktober 2025.
Menanggapi hal tersebut, Oscar Darmawan menilai bahwa penurunan harga Bitcoin bukanlah sesuatu yang aneh, melainkan bagian dari siklus yang telah berulang selama bertahun-tahun.
Dalam video podcast di kanal YouTube Therese Learns pada Sabtu (21/03/2026), ia menjelaskan bahwa pola pergerakan Bitcoin cenderung konsisten dan dapat diamati dari waktu ke waktu.
Prediksi Penurunan Harga Bitcoin dan Siklus 4 Tahunan
Menurut Oscar Darmawan, pergerakan harga Bitcoin sejauh ini mengikuti pola siklus empat tahunan yang berkaitan dengan mekanisme pasar, terutama yang berhubungan dengan momen pasca-halving.
“Kalau dari pengalaman saya selama hampir 12 tahun ya, saya melihat ini seperti film yang berulang setiap 4 tahun sekali,” jelasnya.
Ia juga menyinggung bahwa siklus ini telah terjadi sejak awal kemunculan kripto Bitcoin dan terus berulang. Dalam konteks sekarang, tahun 2026 dinilai sebagai fase setelah puncak, di mana pasar mulai mengalami koreksi.
Dalam skenario terburuk (worst case), ia menyebut harga Bitcoin bisa turun hingga kisaran US$45.000–US$50.000. Meski demikian, ia menilai level tersebut bukan titik yang mudah ditembus.
Salah satu alasannya adalah adanya faktor biaya produksi (mining cost) yang menjadi batas psikologis pasar.
“Menembus US$50.000 itu tidak gampang, karena ada nilai intrinsik dari biaya Bitcoin mining,” tutur Oscar.
Artinya, ketika harga BTC mendekati level tersebut, biasanya akan muncul tekanan beli dari pasar yang menganggap harganya sudah terlalu murah.
Likuiditas Jadi Penentu Arah Pasar
Selain faktor siklus empat tahunan, Oscar Darmawan juga menyoroti pentingnya likuiditas dalam menentukan arah pasar kripto.
Menurutnya, saat ini kripto masih sangat bergantung pada aliran dana, terutama dari institusi besar. Sayangnya, arus likuiditas tersebut belum sepenuhnya stabil.
Ia menilai bahwa kondisi global, termasuk ketidakpastian ekonomi dan dinamika geopolitik, turut memengaruhi masuknya dana ke pasar crypto.
“Kripto itu sangat bergantung pada likuiditas. Kalau likuiditasnya seret, market juga ikut tertekan,” ungkapnya.
Hal ini menjelaskan mengapa meskipun fundamental Bitcoin tetap kuat, pergerakan harganya tetap bisa mengalami tekanan dalam jangka pendek.
Potensi Kenaikan Harga BTC pada 2028
“Saya tetap percaya bahwa tahun 2028 nanti Bitcoin berpotensi buat naik kembali,” tegasnya.
Menurutnya, pola ini telah terjadi berulang kali sejak awal kemunculan Bitcoin pada 2009 silam dan kemungkinan besar masih akan berlanjut.
Dengan kata lain, fase penurunan saat ini justru menjadi bagian dari dinamika alami, bukan tanda berakhirnya tren. Hal ini sejalan dengan pola historis Bitcoin yang cenderung mengalami kenaikan setelah fase koreksi.
Penutup
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula.