Dunia Fintech

Harga Bitcoin Rebound ke US$83.500, tetapi Dana ETF Justru Keluar: Akankah BTC Naik Lagi?

Harga Bitcoin kembali menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026. Aset kripto terbesar di dunia tersebut menguat lebih dari 2% dan berhasil bergerak di atas US$83.500 setelah mengalami tekanan jual pada perdagangan sebelumnya.

Namun, kenaikan Bitcoin belum sepenuhnya didukung oleh permintaan investor institusional.

Exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat justru mencatat arus keluar bersih sebesar US$65,4 juta pada perdagangan Senin.

Di tengah kondisi tersebut, perusahaan investasi Bitcoin milik Michael Saylor, Strategy, kembali melakukan pembelian BTC.

Perbedaan arah antara arus dana ETF dan pembelian korporasi menunjukkan bahwa sentimen pasar masih bercampur.

Analis memperingatkan bahwa pemulihan Bitcoin dapat menghadapi hambatan apabila permintaan baru tidak meningkat.

Harga Bitcoin Hari Ini Naik Lebih dari 2%

Berdasarkan laporan FXStreet pada 13 Oktober 2026, Bitcoin diperdagangkan sekitar US$83.515, menguat lebih dari 2% setelah penurunan pada sesi sebelumnya.

Kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa pembeli mulai kembali masuk ke pasar.

Namun, rebound ini belum cukup untuk memastikan dimulainya tren bullish baru.

Bitcoin masih menghadapi resistance penting di sekitar US$85.000.

Jika BTC berhasil menembus dan mempertahankan harga di atas level tersebut, peluang pemulihan menuju area yang lebih tinggi dapat meningkat.

Sebaliknya, kegagalan melewati US$85.000 dapat membuat Bitcoin kembali bergerak dalam fase konsolidasi.

harga bitcoin rebound 2

ETF Bitcoin AS Catat Arus Keluar US$65,4 Juta

Salah satu faktor yang membatasi optimisme pasar adalah melemahnya permintaan melalui ETF Bitcoin spot.

Menurut data SoSoValue yang dikutip FXStreet, ETF Bitcoin spot AS mencatat net outflow US$65,4 juta pada Senin, 12 Oktober 2026.

Arus keluar tersebut melanjutkan tekanan dari pekan sebelumnya.

Sepanjang pekan lalu, ETF Bitcoin spot mengalami penarikan dana bersih sekitar US$681,1 juta.

Angka tersebut mengakhiri tren arus masuk yang sebelumnya berlangsung selama tiga pekan berturut-turut.

Kondisi ini menunjukkan sebagian investor mengurangi eksposur terhadap Bitcoin di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

ETF Bitcoin merupakan salah satu jalur investasi yang banyak digunakan investor institusional untuk memperoleh eksposur terhadap BTC.

Karena itu, perubahan arus dana ETF sering diperhatikan sebagai indikator permintaan pasar.

Jika outflow berlanjut, tekanan jual terhadap Bitcoin berpotensi meningkat.

Namun, arus keluar ETF tidak selalu berarti harga Bitcoin akan turun karena permintaan dari investor lain masih dapat mengimbangi tekanan tersebut.

Michael Saylor Kembali Borong Bitcoin

Di tengah pelemahan arus ETF, Strategy justru kembali menambah cadangan Bitcoin.

Perusahaan yang dipimpin Executive Chairman Michael Saylor tersebut mengumumkan pembelian tambahan sebanyak 250 BTC.

Pembelian terbaru dilakukan setelah perusahaan sebelumnya mengakuisisi 1.665 BTC.

Dengan tambahan tersebut, Strategy dilaporkan memiliki sekitar 848.250 BTC.

Strategi akumulasi ini menunjukkan perusahaan masih mempertahankan pendekatan investasi jangka panjang terhadap Bitcoin.

Strategy dikenal sebagai salah satu perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar.

Perusahaan tersebut menggunakan Bitcoin sebagai aset utama dalam strategi pengelolaan treasury korporasinya.

Namun, pembelian oleh satu perusahaan tidak otomatis menjamin harga Bitcoin akan meningkat.

Dampaknya tetap bergantung pada keseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar secara keseluruhan.

Mengapa Bitcoin Naik meskipun ETF Mengalami Outflow?

Pergerakan Bitcoin tidak hanya ditentukan oleh ETF.

Pasar BTC terdiri dari berbagai kelompok pelaku, termasuk investor ritel, perusahaan, institusi, trader derivatif, dan pemegang jangka panjang.

Ketika ETF mencatat outflow, Bitcoin masih dapat naik apabila permintaan dari kelompok investor lain lebih besar daripada tekanan jual.

Selain itu, penutupan posisi short juga dapat mendorong kenaikan harga.

Trader yang sebelumnya memperkirakan Bitcoin akan turun dapat membeli kembali BTC untuk menutup posisi mereka.

Aktivitas tersebut berpotensi mempercepat pemulihan harga.

Namun, kenaikan yang terutama didorong oleh penutupan posisi short belum tentu mencerminkan permintaan investasi baru yang berkelanjutan.

Karena itu, analis biasanya memperhatikan volume perdagangan spot dan arus modal untuk menilai kekuatan rebound.

Analis Bitfinex: Bitcoin Masih Kekurangan Pembeli Baru

Analis Bitfinex menilai bahwa Bitcoin telah melewati tekanan jual tajam pada pekan sebelumnya.

Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan adanya permintaan baru.

Dalam laporan Bitfinex Alpha, analis menyoroti bahwa likuidasi posisi perdagangan berleverage telah membantu mengurangi tekanan jual langsung.

Meski demikian, permintaan institusional masih terlihat lemah.

Situasi tersebut menciptakan risiko bagi pemulihan Bitcoin.

Investor yang sebelumnya membeli BTC pada harga lebih tinggi dapat memanfaatkan rebound untuk menjual aset mereka ketika harga kembali mendekati modal awal.

Fenomena tersebut dikenal sebagai tekanan jual dari investor yang ingin keluar pada titik impas atau break-even.

Jika jumlah penjual meningkat ketika Bitcoin naik, pemulihan harga dapat tertahan.

Karena itu, Bitcoin membutuhkan permintaan baru yang cukup kuat untuk menyerap tekanan jual tersebut.

Ketegangan Timur Tengah Membayangi Pasar Kripto

Faktor geopolitik juga menjadi perhatian.

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah laporan mengenai serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.

Situasi tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan potensi gangguan pasokan energi.

Perkembangan geopolitik dapat memengaruhi harga minyak dunia, inflasi, serta sentimen investor global.

Ketika ketidakpastian meningkat, sebagian investor cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko.

Bitcoin termasuk aset yang dapat mengalami tekanan ketika pasar global memasuki kondisi risk-off.

Namun, hubungan antara konflik geopolitik dan harga Bitcoin tidak selalu sama.

Dalam kondisi tertentu, Bitcoin dapat mengalami kenaikan apabila investor melihatnya sebagai alternatif penyimpanan nilai.

Karena itu, dampak konflik terhadap BTC tetap perlu dinilai bersama faktor makroekonomi lainnya.

Data Inflasi AS Bisa Menentukan Arah Bitcoin

Perhatian investor kini beralih ke laporan inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Data tersebut menjadi penting karena dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Jika inflasi lebih tinggi daripada perkiraan, pasar dapat memperkirakan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi pemerintah.

Kedua faktor tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.

Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi dapat memperbaiki sentimen pasar.

Dalam kondisi tersebut, permintaan terhadap Bitcoin berpotensi meningkat.

Namun, respons harga tetap bergantung pada besarnya perbedaan antara data aktual dan ekspektasi pasar.

Prediksi Bitcoin: US$84.500 Jadi Level Penting

Analis Bitfinex memperkirakan Bitcoin dapat bergerak dalam rentang US$81.300 hingga US$84.500 menjelang rilis data inflasi AS.

Area US$84.500 menjadi salah satu batas penting untuk mengukur kekuatan pemulihan.

Jika inflasi lebih rendah dari perkiraan dan arus ETF kembali positif, Bitcoin berpeluang menembus US$84.500.

Dalam skenario tersebut, BTC dapat kembali menguji level pembukaan tahunan sekitar US$87.722.

Namun, jika inflasi tetap tinggi dan outflow ETF berlanjut, Bitcoin berisiko mengalami koreksi menuju US$77.400.

Seluruh angka tersebut merupakan proyeksi analis, bukan kepastian pergerakan harga.

Analisis Teknikal Bitcoin Masih Menunjukkan Tren Positif

Meskipun sentimen pasar berhati-hati, indikator teknikal Bitcoin masih menunjukkan beberapa sinyal positif.

Berdasarkan analisis FXStreet, BTC berada di atas tiga Exponential Moving Average (EMA) utama.

EMA merupakan indikator yang menghitung rata-rata harga dengan memberikan bobot lebih besar pada data terbaru.

Indikator ini sering digunakan untuk membaca arah tren.

Berikut level EMA Bitcoin berdasarkan data dalam laporan 13 Oktober 2026:

Indikator Level
EMA 50 hari US$80.256
EMA 100 hari US$76.510
EMA 200 hari US$75.599
Harga BTC saat analisis US$83.515

Posisi harga di atas ketiga EMA tersebut menunjukkan tren menengah Bitcoin masih memiliki dukungan teknikal.

Namun, indikator moving average bersifat tertinggal karena dihitung berdasarkan harga historis.

Karena itu, EMA tidak dapat digunakan sebagai jaminan bahwa harga akan terus naik.

RSI Bitcoin Berada di Area Netral

Relative Strength Index (RSI) Bitcoin berada di sekitar 53.

RSI merupakan indikator momentum yang bergerak pada skala 0 hingga 100.

Secara umum, RSI di atas 70 sering dikaitkan dengan kondisi jenuh beli, sedangkan RSI di bawah 30 sering dikaitkan dengan kondisi jenuh jual.

Nilai sekitar 53 menunjukkan momentum Bitcoin relatif netral dengan kecenderungan positif ringan.

Artinya, Bitcoin belum menunjukkan kondisi jenuh beli yang ekstrem berdasarkan indikator tersebut.

Namun, kondisi netral juga menunjukkan bahwa dorongan bullish belum terlalu kuat.

Investor masih menunggu katalis tambahan untuk menentukan arah pergerakan berikutnya.

MACD Menunjukkan Kenaikan Belum Terlalu Kuat

Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) juga menjadi perhatian.

Dalam laporan FXStreet, histogram MACD Bitcoin masih berada di bawah garis nol.

Kondisi tersebut menunjukkan momentum kenaikan belum sepenuhnya kuat.

Walaupun harga Bitcoin telah mengalami rebound, tekanan bullish belum menunjukkan akselerasi yang meyakinkan.

Kombinasi RSI netral dan MACD yang masih lemah memperlihatkan bahwa pemulihan Bitcoin membutuhkan konfirmasi tambahan.

Salah satunya dapat berasal dari keberhasilan menembus resistance US$85.000.

Support dan Resistance Bitcoin Terbaru

Untuk jangka pendek, terdapat beberapa level teknikal yang perlu diperhatikan.

Level Bitcoin Harga
Resistance terdekat US$85.000
Area pemulihan menurut Bitfinex US$84.500
Support EMA 50 hari US$80.256
Support EMA 100 hari US$76.510
Support EMA 200 hari US$75.599

Resistance US$85.000 menjadi area yang perlu ditembus agar pemulihan Bitcoin memperoleh momentum lebih kuat.

Sementara itu, EMA 50 hari di sekitar US$80.256 menjadi salah satu support dinamis terdekat.

Jika Bitcoin kehilangan area tersebut, investor dapat memperhatikan EMA 100 hari dan EMA 200 hari.

Namun, support dan resistance bukan batas harga yang pasti.

Bitcoin dapat bergerak melewati level tersebut, terutama ketika terjadi volatilitas tinggi setelah publikasi data ekonomi.

Apakah Bitcoin Bisa Kembali ke US$90.000?

Peluang Bitcoin menuju US$90.000 masih terbuka, tetapi memerlukan penguatan momentum.

Untuk mencapai area tersebut, BTC terlebih dahulu perlu mengatasi resistance sekitar US$85.000.

Setelah itu, area US$87.722 menjadi salah satu level yang dapat diperhatikan berdasarkan analisis Bitfinex.

Jika Bitcoin mampu mempertahankan kenaikan dan permintaan institusional kembali meningkat, level US$90.000 dapat menjadi target psikologis berikutnya.

Namun, risiko penurunan tetap ada.

Arus keluar ETF, ketegangan geopolitik, dan data inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat membatasi pemulihan.

Karena itu, investor sebaiknya tidak menganggap rebound harian sebagai konfirmasi bahwa tren bullish baru telah dimulai.

Kesimpulan

Harga Bitcoin rebound lebih dari 2% dan kembali diperdagangkan di atas US$83.500 pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Namun, pemulihan tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan.

ETF Bitcoin spot Amerika Serikat mencatat arus keluar US$65,4 juta pada Senin, setelah mengalami outflow sekitar US$681,1 juta pada pekan sebelumnya.

Di sisi lain, Strategy kembali membeli 250 BTC sehingga total kepemilikannya dilaporkan mencapai 848.250 BTC.

Secara teknikal, Bitcoin masih berada di atas EMA 50 hari, 100 hari, dan 200 hari.

Namun, RSI di sekitar 53 dan histogram MACD yang masih negatif menunjukkan momentum kenaikan belum terlalu kuat.

Untuk jangka pendek, US$85.000 menjadi resistance penting, sedangkan area US$80.256 menjadi support teknikal terdekat.

Analis Bitfinex memperkirakan BTC dapat bergerak antara US$81.300 hingga US$84.500 menjelang rilis inflasi AS.

Jika inflasi lebih rendah dari perkiraan dan arus ETF kembali meningkat, Bitcoin berpeluang menuju US$87.722.

Sebaliknya, tekanan inflasi dan berlanjutnya outflow ETF dapat membuka risiko koreksi menuju US$77.400.

Dengan demikian, pemulihan Bitcoin saat ini masih membutuhkan konfirmasi dari permintaan investor dan perkembangan ekonomi global.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Analisis teknikal dan prediksi harga memiliki ketidakpastian, sementara aset kripto dapat mengalami volatilitas tinggi.

CEK SELENGKAPNYA ARTIKEL BERITA KRIPTO TERBARU DI SINI >>

Exit mobile version