Dunia Fintech

Harga Bitcoin Sempat Tembus US$80.000, Sinyal Reli Masih Berlanjut?

Harga Bitcoin (BTC) kembali mencuri perhatian pasar setelah sempat menembus US$80.000 dalam perdagangan terbaru. Namun, kenaikan tersebut tidak bertahan lama karena BTC kembali terkoreksi ke area US$78.000-an.

Pergerakan ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan investor: apakah lonjakan Bitcoin merupakan awal dari reli baru, atau hanya rebound sementara setelah periode tekanan panjang?

Pada Rabu, 26 Agustus 2026, Bitcoin berada di sekitar US$78.929, melemah 2,1% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kapitalisasi pasar Bitcoin berada di kisaran US$1,58 triliun.

Meski terkoreksi dari level US$80.000, performa Bitcoin dalam beberapa hari terakhir tetap cukup kuat. Dalam sepekan hingga Minggu sebelumnya, BTC melonjak sekitar 23%, menjadi kenaikan mingguan terbesar dalam kurang lebih tiga tahun.

Bitcoin Dekati Resistance US$81.000

harga bitcoin

Salah satu level yang kini menjadi perhatian pasar adalah US$81.000.

Level tersebut berdekatan dengan rata-rata pergerakan 50 minggu atau 50-week moving average (WMA) Bitcoin.

Indikator ini penting karena dapat digunakan untuk melihat kecenderungan tren jangka menengah hingga panjang.

Bitcoin sebelumnya relatif lama bergerak di bawah level tersebut. Karena itu, kemampuan BTC menembus dan bertahan di atas US$81.000 dapat menjadi sinyal teknikal yang cukup kuat bagi kelanjutan tren bullish.

Rajiv Sawhney, kepala manajemen portofolio internasional di Wave Digital Assets, menilai penutupan Bitcoin di atas level 50-week WMA akan semakin memperkuat prospek reli.

Artinya, US$81.000 kini menjadi salah satu level kunci yang harus diperhatikan investor.

Reli Bitcoin Sudah Naik 23% dalam Sepekan

Baca juga : Indodax Soroti Keseimbangan Regulasi dan Inovasi dalam Perkembangan Kripto

INDODAX Soroti Keseimbangan Regulasi dan Inovasi dalam Perkembangan Kripto

Lonjakan Bitcoin menuju US$80.000 bukan merupakan pergerakan kecil.

Dalam periode sekitar satu pekan, Bitcoin mencatat kenaikan hingga 23%. Bloomberg Technoz menyebut performa tersebut sebagai kenaikan mingguan terbesar Bitcoin dalam sekitar tiga tahun.

Kenaikan tajam tersebut menunjukkan adanya perubahan signifikan pada sentimen pasar.

Setelah sebelumnya investor cenderung berhati-hati, muncul kembali minat beli terhadap Bitcoin. Kenaikan harga juga dapat memicu trader yang sebelumnya mengambil posisi short untuk menutup posisi mereka.

Situasi tersebut berpotensi memperkuat momentum kenaikan melalui mekanisme short squeeze.

Namun, kenaikan yang terlalu cepat juga dapat meningkatkan risiko aksi ambil untung.

ETF Bitcoin Catat Arus Dana Besar

Salah satu faktor yang mendukung penguatan Bitcoin berasal dari meningkatnya permintaan melalui produk spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat.

Pada pekan sebelumnya, 13 produk ETF Bitcoin yang diperdagangkan di bursa Wall Street mencatat arus dana masuk bersih US$1,92 miliar.

Angka tersebut menjadi arus masuk mingguan terbesar dalam sekitar 10 bulan terakhir dan merupakan yang tertinggi sejak awal Oktober 2025.

Arus dana tersebut kemudian masih berlanjut pada Senin waktu AS dengan tambahan net inflow sekitar US$337 juta.

Kondisi ini menunjukkan bahwa minat investor terhadap Bitcoin melalui instrumen pasar keuangan tradisional kembali meningkat.

Jika arus dana ETF terus bertahan positif, hal tersebut dapat menjadi salah satu fondasi bagi kenaikan Bitcoin berikutnya.

Apa Hubungannya dengan Kebijakan Bond Buyback AS?

Salah satu katalis yang menjadi perhatian pasar adalah kebijakan bond buyback yang dikaitkan dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

Pembelian kembali obligasi pemerintah AS berpotensi memengaruhi struktur imbal hasil surat utang, terutama pada tenor jangka panjang.

Kebijakan tersebut kemudian melahirkan apa yang dikenal sebagai “debasement trade”.

Sederhananya, investor mulai memperhitungkan kemungkinan melemahnya nilai mata uang fiat apabila kebijakan pemerintah dan bank sentral berujung pada meningkatnya likuiditas serta tekanan terhadap nilai dolar.

Situasi seperti ini dapat membuat Bitcoin kembali menarik perhatian sebagai aset alternatif.

Debasement Trade Jadi Narasi Baru Bitcoin

Istilah debasement trade semakin sering muncul dalam pembahasan pasar Bitcoin.

Konsep tersebut berkaitan dengan kekhawatiran investor terhadap penurunan nilai mata uang fiat akibat kebijakan fiskal dan moneter yang berpotensi meningkatkan jumlah uang beredar.

Bitcoin sejak awal memang kerap diposisikan oleh pendukungnya sebagai aset dengan suplai terbatas yang dapat menjadi alternatif terhadap sistem moneter berbasis fiat.

Karena itu, ketika kekhawatiran terhadap pelemahan mata uang kembali muncul, Bitcoin dapat memperoleh sentimen positif.

Namun, narasi tersebut tidak berarti harga Bitcoin akan otomatis naik. Faktor likuiditas, suku bunga, permintaan ETF, dan kondisi ekonomi global tetap memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan BTC.

Bitcoin Masih Jauh dari Rekor Tertingginya

Meskipun Bitcoin telah kembali menembus US$80.000, harga tersebut masih cukup jauh dari rekor tertinggi sepanjang masa.

Bitcoin sebelumnya mencapai ATH sekitar US$126.000 pada Oktober 2025.

Dengan harga yang masih berada di kisaran US$79.000, BTC masih membutuhkan kenaikan cukup besar untuk kembali mendekati rekor tersebut.

Namun, dari perspektif tren, kenaikan lebih dari 20% dalam sepekan menunjukkan adanya pemulihan yang cukup kuat.

Jika momentum bullish berlanjut dan resistance penting berhasil ditembus, Bitcoin dapat mulai memasuki fase pemulihan yang lebih panjang.

US$81.000 Jadi Penentu Berikutnya

Bagi investor dan trader, level US$81.000 menjadi area yang layak diperhatikan.

Jika Bitcoin mampu menutup perdagangan di atas 50-week WMA tersebut, sinyal bullish akan menjadi semakin kuat.

Breakout yang berhasil dikonfirmasi juga berpotensi mendorong trader untuk meningkatkan posisi long.

Sebaliknya, apabila Bitcoin kembali gagal menembus US$81.000 dan terus mengalami tekanan jual, ada kemungkinan BTC kembali bergerak dalam fase konsolidasi.

Dengan kata lain, kenaikan ke US$80.000 belum sepenuhnya memberikan konfirmasi bahwa Bitcoin telah memasuki tren bullish jangka panjang.

Risiko Koreksi Tetap Mengintai

Kenaikan sebesar 23% dalam sepekan tentu membuat sebagian investor mulai mempertimbangkan aksi ambil untung.

Kondisi ini berpotensi menciptakan koreksi jangka pendek.

Bitcoin bahkan telah menunjukkan gejala tersebut dengan turun sekitar 2,1% dari posisi sebelumnya dan kembali berada di bawah US$80.000 pada perdagangan Rabu.

Koreksi tidak selalu berarti tren bullish telah berakhir.

Dalam tren naik yang sehat, penurunan sementara justru dapat menjadi bagian dari proses pembentukan support baru sebelum harga kembali mencoba menembus resistance.

Yang perlu diperhatikan adalah kedalaman koreksi dan kemampuan BTC mempertahankan level support penting.

Arus ETF Akan Jadi Indikator Penting

Arus dana ETF menjadi salah satu indikator fundamental yang perlu dipantau dalam beberapa hari ke depan.

Jika net inflow tetap tinggi, permintaan institusional terhadap Bitcoin dapat memberikan dukungan terhadap harga.

Sebaliknya, apabila investor mulai menarik dana dari ETF secara besar-besaran, tekanan jual dapat meningkat.

Dengan demikian, performa ETF Bitcoin kini menjadi semakin penting karena instrumen tersebut menjadi salah satu jalur utama bagi investor tradisional untuk mendapatkan eksposur terhadap BTC.

Bitcoin Masih Memiliki Ruang untuk Naik

Secara mingguan dan bulanan, Bitcoin saat ini berada dalam kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan beberapa waktu sebelumnya.

Namun, harga masih belum kembali ke ATH sekitar US$126.000.

Artinya, secara matematis masih terdapat ruang kenaikan yang cukup besar apabila Bitcoin mampu mengembalikan momentum bullish jangka panjang.

Pertanyaannya adalah apakah reli menuju US$80.000 dapat berkembang menjadi tren kenaikan baru.

Jawabannya akan sangat bergantung pada beberapa faktor, terutama kemampuan BTC melewati US$81.000, arus dana ETF, kondisi likuiditas, serta perkembangan kebijakan fiskal dan moneter AS.

Apa Arti Tembus US$80.000 bagi Bitcoin?

Kenaikan ke US$80.000 memiliki arti penting secara psikologis.

Level tersebut merupakan angka bulat yang dapat menjadi perhatian besar trader dan investor.

Namun, menembus US$80.000 secara intraday belum cukup untuk menyatakan Bitcoin telah melakukan breakout yang kuat.

Pasar membutuhkan konfirmasi, terutama melalui penutupan harga di atas resistance dan kemampuan mempertahankan level tersebut.

Karena itu, US$81.000 menjadi lebih penting dibandingkan sekadar sentuhan US$80.000.

Jika BTC mampu bertahan di atas area tersebut, peluang terbentuknya tren bullish lanjutan akan semakin besar.

Kesimpulan

Bitcoin sempat menembus US$80.000 sebelum kembali terkoreksi ke kisaran US$78.000-an. Pada 26 Agustus 2026, BTC berada sekitar US$78.929, turun 2,1% dibandingkan perdagangan sebelumnya, dengan kapitalisasi pasar sekitar US$1,58 triliun.

Dalam sepekan, Bitcoin telah melonjak sekitar 23%, menjadi kenaikan mingguan terbesar dalam sekitar tiga tahun. Reli tersebut juga didukung oleh meningkatnya permintaan terhadap spot Bitcoin ETF yang mencatat arus masuk bersih US$1,92 miliar dalam sepekan.

Selain ETF, kebijakan bond buyback AS dan munculnya narasi debasement trade turut menjadi katalis yang memperkuat sentimen terhadap Bitcoin.

Namun, Bitcoin masih menghadapi resistance penting di sekitar US$81.000, yang berdekatan dengan 50-week moving average.

Jika BTC mampu menutup perdagangan di atas level tersebut, peluang kelanjutan reli bullish akan semakin terbuka. Sebaliknya, kegagalan melewati resistance tersebut dapat membuat Bitcoin kembali berkonsolidasi atau mengalami koreksi.

Untuk saat ini, US$80.000 bukan akhir dari perjalanan Bitcoin, melainkan ujian menuju resistance US$81.000. Kemampuan BTC menembus dan bertahan di atas area tersebut akan menjadi salah satu indikator penting untuk menentukan apakah reli terbaru benar-benar berubah menjadi tren bullish yang lebih panjang.

Kata kunci SEO: harga Bitcoin, harga Bitcoin hari ini, Bitcoin US$80.000, Bitcoin naik, Bitcoin 2026, harga BTC, Bitcoin breakout, Bitcoin bullish, ETF Bitcoin, Bitcoin ETF inflow, prediksi Bitcoin, Bitcoin US$81.000.

Exit mobile version