Dunia Fintech

Harga Bitcoin Tertahan di US$64.000, Kenaikan Yield dan Harga Minyak Tekan Pasar

Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak terbatas di sekitar US$64.000 pada Selasa, 18 Agustus 2026. Setelah sempat menguat dari sekitar US$62.600 pada awal pekan, Bitcoin kini menghadapi tekanan dari memburuknya sentimen di pasar aset berisiko.

Kenaikan imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat serta kembali melonjaknya harga minyak mentah Brent menjadi dua faktor yang membebani pasar. Kondisi tersebut turut menekan kontrak berjangka Nasdaq 100 yang mengalami penurunan sekitar 1,1 persen.

Bitcoin sendiri turun sekitar 0,6 persen sejak tengah malam UTC, sementara Ethereum terkoreksi sekitar 1 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar kripto masih sensitif terhadap perubahan kondisi makroekonomi global.

Bitcoin Koreksi Setelah Reli dari US$62.600

Harga Bitcoin sebelumnya berhasil mengalami pemulihan dari kisaran US$62.600 pada Senin hingga mencapai sekitar US$64.600.

Namun, kenaikan tersebut belum mampu berkembang menjadi reli yang lebih besar. BTC kembali terkoreksi dan bertahan di sekitar US$64.000 seiring meningkatnya tekanan terhadap aset berisiko.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi. Pasar membutuhkan katalis baru untuk menentukan apakah BTC dapat kembali melanjutkan penguatan atau justru menghadapi koreksi lebih dalam.

Kondisi pasar saham juga menjadi perhatian karena Bitcoin dalam beberapa periode terakhir menunjukkan korelasi dengan aset berisiko, terutama ketika perubahan ekspektasi suku bunga memengaruhi sentimen investor.

Kenaikan Yield Treasury Jadi Beban bagi Bitcoin

Salah satu faktor yang menekan Bitcoin adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Meningkatnya yield mencerminkan kehati-hatian investor menjelang sejumlah agenda penting Federal Reserve. Pasar kini menantikan publikasi notulen rapat FOMC Juli yang dijadwalkan pada Rabu.

Kenaikan yield dapat memberikan tekanan terhadap aset berisiko karena investor memperoleh imbal hasil yang lebih menarik dari instrumen pendapatan tetap.

Situasi tersebut dapat membuat sebagian pelaku pasar mengurangi eksposur terhadap aset dengan volatilitas tinggi, termasuk Bitcoin.

Harga Minyak Brent Kembali Mendekati US$94

prediksi harga Bitcoin Juni 2026

Tekanan terhadap pasar juga datang dari komoditas energi.

Harga minyak mentah Brent kembali mendekati US$94 per barel setelah gencatan senjata selama 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa tercapainya kesepakatan baru.

Kenaikan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran mengenai tekanan inflasi. Jika harga energi terus meningkat, pasar dapat kembali memperhitungkan kemungkinan bahwa bank sentral akan lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter.

Situasi tersebut menjadi kurang menguntungkan bagi aset berisiko seperti Bitcoin karena ekspektasi suku bunga dan likuiditas global memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan harga.

Pasar Menunggu Notulen The Fed

Perhatian investor kini tertuju pada notulen rapat FOMC 28-29 Juli yang akan dirilis pada Rabu.

Dokumen tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai pandangan para pejabat The Fed terhadap kondisi inflasi, pasar tenaga kerja, dan arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Pasar akan mencermati apakah terdapat indikasi bahwa bank sentral masih mempertahankan sikap ketat atau mulai membuka ruang untuk kebijakan yang lebih longgar.

Bagi Bitcoin, perubahan ekspektasi tersebut berpotensi menjadi katalis penting. Sikap yang lebih dovish dapat meningkatkan daya tarik aset berisiko, sementara pandangan yang lebih hawkish berpotensi memberikan tekanan tambahan.

Pertemuan Trump dengan Eksekutif Kripto Ikut Dinanti

Selain agenda Federal Reserve, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan kebijakan aset digital di Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump diperkirakan menghadiri pertemuan dengan sejumlah CEO industri kripto di Gedung Putih pada Rabu.

Kebijakan pemerintah Amerika Serikat terhadap industri aset digital belakangan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar kripto.

Pertemuan tersebut berpotensi menjadi sumber katalis baru bagi Bitcoin apabila menghasilkan pernyataan atau kebijakan yang dianggap positif bagi industri.

Dengan demikian, pasar menghadapi dua agenda penting dalam waktu yang berdekatan, yakni publikasi notulen The Fed dan pertemuan pemerintah AS dengan pelaku industri kripto.

Sentimen Bullish Mulai Terlihat di Pasar Derivatif

Meskipun harga Bitcoin masih bergerak terbatas, sejumlah indikator pasar derivatif justru menunjukkan meningkatnya minat terhadap posisi bullish.

Rasio taker pada futures Bitcoin disebut berbalik dari kondisi netral menjadi bullish, dengan posisi long menyumbang lebih dari 51 persen dari aliran perdagangan.

Tingkat funding rate perpetual Bitcoin juga mengalami peningkatan hingga mencapai level tertinggi dalam sekitar 20 bulan, menurut data CryptoQuant. Funding rate positif menunjukkan bahwa kontrak futures diperdagangkan dengan premi terhadap harga spot dan mencerminkan kecenderungan trader mengambil posisi long.

Sementara itu, open interest Bitcoin masih berada di sekitar 750.000 BTC, relatif stabil dalam beberapa pekan terakhir.

Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun harga belum mengalami breakout, sebagian trader masih mempertahankan ekspektasi terhadap kenaikan Bitcoin.

Minat terhadap Opsi Call Masih Tinggi

Pasar opsi juga memberikan gambaran mengenai ekspektasi sebagian trader.

Di Deribit, opsi call dengan strike di atas harga spot Bitcoin masih mendominasi volume perdagangan 24 jam.

Salah satu kontrak yang paling aktif diperdagangkan adalah opsi call Bitcoin dengan strike US$70.000 yang memiliki tanggal kedaluwarsa 25 September.

Tingginya aktivitas pada opsi call menunjukkan adanya minat terhadap skenario kenaikan Bitcoin dalam beberapa pekan mendatang.

Namun, aktivitas opsi tidak dapat diartikan sebagai jaminan bahwa Bitcoin pasti mencapai level tersebut. Posisi tersebut lebih mencerminkan ekspektasi dan strategi perdagangan pelaku pasar terhadap kemungkinan pergerakan harga.

Volatilitas Bitcoin Masih Rendah

Menariknya, meskipun kondisi makroekonomi mulai menekan aset berisiko, volatilitas tersirat Bitcoin dan Ethereum untuk periode 30 hari masih berada di antara level terendah sepanjang tahun.

Lingkungan volatilitas rendah dapat mendorong trader untuk membangun posisi taktis, termasuk melalui pasar opsi.

Kondisi tersebut juga dapat menjadi pertanda bahwa pasar sedang menunggu katalis besar sebelum terjadi pergerakan harga yang lebih agresif.

Jika notulen The Fed atau perkembangan kebijakan kripto AS memberikan kejutan, volatilitas Bitcoin berpotensi meningkat dengan cepat.

Sentimen Bullish Belum Merata di Pasar Kripto

Bitcoin tampak menjadi salah satu aset kripto yang masih relatif lebih kuat dibandingkan sejumlah altcoin.

Data volume kumulatif menunjukkan CVD Bitcoin dalam 24 jam berada di wilayah positif, yang menandakan aktivitas pembelian relatif lebih agresif.

Sebaliknya, sejumlah aset kripto besar seperti Ethereum, Solana, Litecoin, Chainlink, dan Dogecoin menunjukkan CVD negatif.

Artinya, sentimen bullish saat ini belum menyebar secara luas ke seluruh pasar kripto. Minat beli tampaknya masih lebih terkonsentrasi pada Bitcoin.

Level US$64.000 Jadi Area Penting

Dengan Bitcoin kembali berada di sekitar US$64.000, area tersebut menjadi salah satu level yang perlu diperhatikan investor.

Jika BTC mampu mempertahankan harga di atas level tersebut dan kembali mendapatkan momentum beli, peluang untuk menguji resistance yang lebih tinggi masih terbuka.

Sebaliknya, apabila tekanan makro semakin kuat dan Bitcoin kehilangan support penting, koreksi dari reli sebelumnya dapat berlanjut.

Untuk saat ini, pasar tampaknya masih menunggu katalis yang dapat menentukan arah pergerakan berikutnya.

Kesimpulan

Bitcoin kini bergerak di sekitar US$64.000 setelah sebelumnya naik dari US$62.600. Penguatan BTC tertahan oleh kenaikan imbal hasil Treasury AS serta harga minyak Brent yang kembali mendekati US$94 per barel.

Pasar juga menunggu notulen FOMC Juli dan pertemuan Presiden Donald Trump dengan eksekutif industri kripto di Gedung Putih. Kedua agenda tersebut berpotensi menjadi katalis penting bagi pasar dalam jangka pendek.

Di sisi lain, pasar derivatif menunjukkan sejumlah sinyal bullish. Rasio taker berbalik positif, funding rate perpetual mencapai level tertinggi sekitar 20 bulan, sementara open interest Bitcoin masih stabil di sekitar 750.000 BTC.

Aktivitas opsi juga menunjukkan minat terhadap skenario kenaikan, dengan kontrak call Bitcoin strike US$70.000menjadi salah satu yang paling aktif diperdagangkan.

Dengan demikian, Bitcoin saat ini berada dalam fase menunggu katalis. Selama BTC mampu bertahan di sekitar US$64.000, peluang untuk melanjutkan pemulihan masih terbuka. Namun, kenaikan yield, harga minyak, serta ketidakpastian kebijakan moneter tetap menjadi risiko yang dapat membatasi pergerakan Bitcoin.

Exit mobile version