Dunia Fintech

Harga Bitcoin Turun 1,25% ke US$80.841, Whale Borong 9.458 BTC, Sinyal Rebound ke US$84.000?

Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan pada perdagangan akhir pekan. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia tersebut turun 1,25% menjadi US$80.841,9 pada Sabtu, 24 Oktober 2026, di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap kondisi pasar global.

Meski mengalami pelemahan, Bitcoin masih mampu bertahan di atas area psikologis US$80.000 yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Menariknya, tekanan harga tersebut terjadi bersamaan dengan aktivitas perpindahan Bitcoin dalam jumlah besar oleh sejumlah dompet baru serta transaksi yang melibatkan alamat dompet institusional.

Data on-chain memperlihatkan sekitar 9.458 BTC senilai US$771,5 juta ditarik dari perusahaan perdagangan Wintermute sejak awal Oktober.

Perkembangan ini memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan akumulasi oleh investor besar atau whale. Namun, perpindahan aset dari platform perdagangan tidak otomatis membuktikan adanya pembelian baru.

Di sisi lain, sejumlah indikator teknikal mulai memperlihatkan tanda perbaikan, membuka peluang pemulihan Bitcoin menuju area US$84.000 apabila permintaan kembali meningkat.

Harga Bitcoin Turun 1,25%, Masih Bertahan di Atas US$80.000

Berdasarkan laporan pasar yang dikutip Metro TV News dari Investing, Bitcoin diperdagangkan pada US$80.841,9 setelah turun 1,25%.

Penurunan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan jual masih membayangi pasar kripto, meskipun BTC belum kehilangan area support psikologis US$80.000.

Level tersebut menjadi perhatian karena berada dekat dengan zona permintaan yang sebelumnya membantu menahan pelemahan harga.

Dalam analisis teknikal, zona permintaan merupakan area ketika minat beli berpotensi meningkat dan mengimbangi tekanan penjualan.

Namun, zona tersebut tidak selalu mampu mempertahankan harga.

Apabila tekanan jual meningkat dan Bitcoin turun secara berkelanjutan di bawah US$80.000, risiko koreksi lanjutan dapat membesar.

Sebaliknya, apabila pembeli kembali masuk dan mampu mendorong harga naik, area tersebut dapat menjadi dasar bagi pemulihan jangka pendek.

Whale Pindahkan 9.458 Bitcoin Senilai US$771,5 Juta

Salah satu perkembangan yang menarik perhatian pasar adalah aktivitas dompet Bitcoin berukuran besar.

Menurut data yang dilaporkan perusahaan analitik blockchain Lookonchain, sebanyak 40 dompet yang baru dibuat telah menarik sekitar 9.458 BTC dari Wintermute sejak 1 Oktober 2026.

Nilai Bitcoin yang dipindahkan diperkirakan mencapai US$771,5 juta.

Jumlah tersebut cukup signifikan karena melibatkan ribuan BTC dalam periode kurang dari satu bulan.

Aktivitas semacam ini sering menjadi perhatian investor karena dapat memberikan petunjuk mengenai perubahan distribusi kepemilikan Bitcoin.

Namun, penting untuk membedakan antara transfer aset dan transaksi pembelian.

Penarikan Bitcoin dari perusahaan perdagangan dapat berkaitan dengan berbagai tujuan, termasuk perpindahan penyimpanan, pengelolaan likuiditas, transaksi antarentitas, atau aktivitas investasi.

Karena itu, data perpindahan tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh Bitcoin yang ditarik merupakan hasil akumulasi baru oleh whale.

Berhasil Bangkit! Harga Bitcoin Tertinggi Setelah Bearish Tembus US$63.999

Apakah Penarikan Bitcoin dari Bursa Merupakan Sinyal Bullish?

Dalam analisis on-chain, penurunan jumlah Bitcoin yang tersedia pada platform perdagangan sering dipantau sebagai salah satu indikator kondisi pasokan.

Ketika investor memindahkan Bitcoin ke dompet penyimpanan pribadi, aset tersebut mungkin tidak langsung tersedia untuk dijual melalui platform asalnya.

Jika perpindahan tersebut mencerminkan niat menyimpan BTC dalam jangka panjang, tekanan penawaran di pasar dapat berkurang.

Namun, interpretasi tersebut membutuhkan konfirmasi dari indikator lain.

Misalnya, investor dapat memeriksa perubahan cadangan bursa, aktivitas transaksi spot, arus dana ETF, serta pergerakan harga.

Penurunan cadangan bursa yang disertai permintaan meningkat dapat memberikan gambaran pasar yang berbeda dibandingkan penurunan cadangan ketika aktivitas perdagangan melemah.

Dengan demikian, perpindahan Bitcoin ke luar platform perdagangan merupakan informasi penting, tetapi bukan jaminan bahwa harga BTC akan segera naik.

Dompet Fidelity dan BlackRock Terima Ratusan BTC

Selain aktivitas dompet baru, laporan pasar juga menyoroti perpindahan Bitcoin yang melibatkan alamat dompet institusional.

Berdasarkan pemantauan Onchain Lens, dompet yang dikaitkan dengan ETF Bitcoin Fidelity menerima 282,63 BTCsenilai sekitar US$23,08 juta dari Binance.

Sementara itu, dompet yang terafiliasi dengan BlackRock menerima 384,77 BTC senilai sekitar US$31,4 juta.

Secara keseluruhan, kedua transfer tersebut melibatkan sekitar 667,4 BTC dengan nilai lebih dari US$54 juta berdasarkan estimasi saat pelaporan.

Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa transaksi blockchain yang berkaitan dengan dompet institusional masih berlangsung.

Namun, transfer menuju alamat dompet yang terafiliasi dengan penyedia ETF tidak otomatis menunjukkan arus masuk investasi baru.

Perpindahan tersebut dapat berkaitan dengan kebutuhan kustodian, penyelesaian transaksi, atau penataan aset.

Untuk mengetahui arus masuk bersih ETF, investor perlu merujuk pada data resmi produk investasi atau penyedia informasi arus dana yang menghitung penerbitan dan penebusan unit ETF.

Bitcoin Catat Arus Keluar Bersih Bursa US$465,55 Juta

Data lain yang menjadi perhatian adalah perubahan arus Bitcoin pada bursa perdagangan spot.

Pada 22 Oktober 2026, Bitcoin dilaporkan mencatat arus keluar bersih dari bursa spot senilai sekitar US$465,55 juta.

Sementara itu, nilai cadangan Bitcoin di bursa yang dihitung dalam dolar AS turun 1,35% menjadi sekitar US$226,33 miliar.

Arus keluar bersih menunjukkan bahwa nilai aset yang meninggalkan bursa lebih besar dibandingkan nilai aset yang masuk dalam periode pengamatan.

Dalam kondisi tertentu, perkembangan tersebut dapat menunjukkan bahwa sebagian pemegang Bitcoin memilih memindahkan asetnya ke luar bursa.

Namun, penurunan nilai cadangan dalam dolar AS juga dapat dipengaruhi oleh perubahan harga Bitcoin, bukan hanya perubahan jumlah koin.

Karena itu, investor perlu membedakan antara nilai cadangan dalam dolar dan jumlah BTC yang benar-benar tersimpan.

Data tersebut lebih tepat digunakan bersama indikator pasar lainnya untuk menilai kemungkinan perubahan tekanan jual.

Indikator Parabolic SAR Beri Sinyal Perbaikan

Di tengah penurunan harga Bitcoin, sejumlah indikator teknikal mulai menunjukkan perkembangan yang lebih positif.

Salah satunya adalah Parabolic Stop and Reverse atau Parabolic SAR.

Indikator ini digunakan trader untuk mengidentifikasi arah tren serta potensi perubahan momentum harga.

Dalam laporan pasar terbaru, Parabolic SAR disebut telah beralih ke sinyal bullish.

Perubahan tersebut dapat menunjukkan bahwa tekanan penurunan mulai melemah berdasarkan perhitungan indikator.

Namun, Parabolic SAR juga dapat menghasilkan sinyal yang kurang akurat ketika harga bergerak mendatar atau mengalami perubahan arah secara cepat.

Karena itu, trader biasanya menggunakan indikator tersebut bersama analisis support, resistance, volume, dan indikator momentum lainnya.

Sinyal bullish dari satu indikator belum cukup untuk memastikan bahwa Bitcoin telah memasuki tren kenaikan baru.

Money Flow Index Bitcoin Capai 53,74

Selain Parabolic SAR, indikator Money Flow Index atau MFI juga menjadi perhatian.

MFI Bitcoin dilaporkan berada pada level 53,74.

Money Flow Index merupakan indikator teknikal yang menggunakan harga dan volume perdagangan untuk mengukur tekanan pembelian serta penjualan.

Secara umum, MFI bergerak dalam rentang 0 hingga 100.

Nilai di atas 50 dapat mengindikasikan bahwa tekanan aliran dana relatif lebih condong ke sisi pembelian dalam periode perhitungan.

Namun, nilai 53,74 masih berada di sekitar area tengah indikator.

Artinya, angka tersebut belum menunjukkan dominasi pembelian yang sangat kuat.

Investor perlu memperhatikan apakah MFI terus meningkat ketika harga Bitcoin menguat.

Jika indikator momentum dan harga bergerak searah, kondisi tersebut dapat memberikan konfirmasi tambahan terhadap pemulihan.

Sebaliknya, apabila harga naik tetapi momentum melemah, risiko pembalikan arah tetap perlu diperhatikan.

Bitcoin Berpeluang Rebound ke US$84.000

Meskipun Bitcoin masih berada di bawah US$81.000 pada perdagangan yang dilaporkan, area US$84.000 menjadi salah satu target pemulihan yang diperhatikan analis teknikal.

Dari harga US$80.841,9, Bitcoin membutuhkan kenaikan sekitar 3,9% untuk mencapai US$84.000.

Namun, pemulihan tersebut membutuhkan dukungan permintaan yang memadai.

Salah satu area yang perlu diperhatikan adalah US$81.000.

Jika Bitcoin mampu kembali bergerak di atas level tersebut dan mempertahankannya, peluang penguatan menuju area lebih tinggi dapat terbuka.

Sebaliknya, kegagalan mempertahankan momentum dapat membuat BTC kembali menguji zona permintaan di sekitar US$80.000.

Perlu ditekankan bahwa US$84.000 merupakan target teknikal bersyarat, bukan harga yang dipastikan akan tercapai.

Strategy Masih Mengakumulasi Bitcoin

Di tengah volatilitas pasar, perusahaan pemegang Bitcoin terbesar, Strategy, masih menjadi perhatian investor.

Perusahaan yang memiliki Michael Saylor sebagai Executive Chairman tersebut sebelumnya mengumumkan pembelian 267 BTC senilai US$22,1 juta sepanjang periode 12–18 Oktober 2026.

Dengan transaksi tersebut, total kepemilikan Strategy mencapai 848.517 BTC.

Nilai biaya perolehan seluruh Bitcoin perusahaan diperkirakan mencapai US$64,02 miliar.

Strategi akumulasi yang dilakukan perusahaan memperlihatkan bahwa Bitcoin tetap menjadi aset utama dalam kebijakan pengelolaan modalnya.

Namun, keputusan pembelian oleh satu perusahaan tidak dapat dijadikan jaminan bahwa harga Bitcoin akan meningkat.

Harga BTC tetap ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar global.

Strategy Juga Fokus pada Pengelolaan Saham Preferen

Selain pembelian Bitcoin, Strategy melakukan aktivitas pengelolaan modal melalui instrumen saham preferen.

Dalam dua minggu yang dilaporkan, perusahaan menghabiskan sekitar US$385,5 juta untuk membeli kembali saham preferen STRC.

Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan nilai pembelian Bitcoin perusahaan sekitar US$43,6 juta dalam periode yang sama.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas keuangan Strategy tidak hanya berkaitan dengan penambahan cadangan BTC.

Perusahaan juga perlu mengelola struktur permodalan dan berbagai instrumen pendanaannya.

Bagi investor, kondisi tersebut penting karena kemampuan Strategy untuk terus membeli Bitcoin dapat dipengaruhi oleh akses terhadap modal, harga saham, dan kewajiban keuangannya.

Pengembang Bitcoin Core Percepat Penanganan Celah Keamanan

Perkembangan lain datang dari sisi teknologi jaringan Bitcoin.

Para pengembang Bitcoin Core dilaporkan menyetujui prosedur pengungkapan dan penanganan kerentanan keamanan yang lebih cepat.

Perubahan tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki proses penanganan celah keamanan dibandingkan kebijakan sebelumnya yang dapat menerapkan masa penundaan pengungkapan lebih panjang.

Langkah ini menjadi perhatian di tengah meningkatnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan untuk membantu menemukan kerentanan perangkat lunak.

Keamanan perangkat lunak merupakan salah satu komponen penting dalam keberlanjutan ekosistem Bitcoin.

Namun, perubahan prosedur pengungkapan kerentanan tidak dapat langsung dihubungkan dengan kenaikan atau penurunan harga BTC dalam jangka pendek.

Dampaknya lebih relevan terhadap pengelolaan risiko teknologi dan kepercayaan terhadap infrastruktur jaringan.

Siklus Bitcoin 2026 Berpotensi Berbeda dari Pola Historis

Selain indikator teknikal, pelaku pasar juga mencermati pergerakan Bitcoin dalam konteks siklus historis.

Dalam laporan yang dikutip Metro TV News, Bitcoin sempat mencatatkan titik terendah sekitar US$57.850 pada Juli 2026.

Hingga 22 Oktober, BTC dilaporkan telah pulih sekitar 40% dari level tersebut.

Perkembangan ini menarik karena terjadi menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada November 2026.

Dalam sejumlah periode historis, titik terendah pasar bearish Bitcoin terjadi setelah pemilihan paruh waktu AS.

Namun, pergerakan tahun ini menunjukkan pola yang tidak sepenuhnya sama.

Meski demikian, jumlah siklus historis Bitcoin masih terbatas.

Hubungan waktu antara pemilihan umum dan pergerakan harga tidak membuktikan adanya hubungan sebab-akibat.

Investor perlu menghindari asumsi bahwa pola masa lalu pasti akan berulang.

Ethereum, XRP, dan Solana Ikut Melemah

Tekanan terhadap Bitcoin juga terjadi pada sejumlah altcoin utama.

Ethereum (ETH), aset kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, turun 1% menjadi US$2.380,28.

XRP mengalami koreksi lebih besar, yakni 2,71% menjadi US$1,2907.

Sementara itu, Solana (SOL) melemah 2,01% ke US$102,40.

BNB turun 0,42% menjadi US$739,07, sedangkan Cardano (ADA) terkoreksi 2,45% menjadi US$0,2114.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual tidak hanya terjadi pada Bitcoin.

Namun, besarnya koreksi berbeda untuk setiap aset, mencerminkan kondisi permintaan dan aktivitas perdagangan masing-masing.

Dogecoin Turun, Token TRUMP Justru Menguat

Di segmen memecoin, pergerakan harga menunjukkan hasil yang beragam.

Dogecoin (DOGE) turun 1,73%, sementara Shiba Inu (SHIB) melemah 0,79%.

Berbeda dengan keduanya, token TRUMP justru menguat sekitar 4,09%.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa tidak seluruh aset kripto bergerak searah dengan Bitcoin.

Memecoin dapat dipengaruhi oleh faktor tambahan, seperti aktivitas komunitas, sentimen media sosial, serta likuiditas perdagangan.

Karena itu, pergerakannya dapat lebih sulit diperkirakan menggunakan indikator pasar Bitcoin saja.

Apa yang Perlu Diperhatikan Investor Bitcoin?

Dalam jangka pendek, terdapat tiga perkembangan utama yang layak dipantau investor.

Pertama, kemampuan Bitcoin mempertahankan area US$80.000 sebagai zona permintaan.

Kedua, kekuatan momentum ketika harga berusaha kembali melewati US$81.000 dan bergerak menuju US$84.000.

Ketiga, perkembangan data on-chain, termasuk perubahan cadangan bursa, aktivitas whale, serta arus dana institusional yang benar-benar terkonfirmasi.

Investor juga perlu memperhatikan kondisi ekonomi global dan sentimen terhadap aset berisiko.

Apabila tekanan jual kembali meningkat, sinyal teknikal yang sebelumnya positif dapat berubah dengan cepat.

Sebaliknya, jika permintaan spot menguat dan Bitcoin mampu mempertahankan kenaikan, peluang pemulihan dapat meningkat.

Kesimpulan

Harga Bitcoin turun 1,25% menjadi US$80.841,9 pada perdagangan Sabtu, 24 Oktober 2026, tetapi masih bertahan di atas zona permintaan penting dekat US$80.000.

Di tengah tekanan tersebut, data Lookonchain menunjukkan perpindahan 9.458 BTC senilai sekitar US$771,5 juta dari Wintermute menuju 40 dompet baru sejak awal Oktober.

Aktivitas transfer juga terpantau pada alamat dompet yang dikaitkan dengan Fidelity dan BlackRock.

Namun, perpindahan aset tersebut tidak otomatis membuktikan adanya pembelian baru atau arus masuk ETF.

Sementara itu, indikator Parabolic SAR menunjukkan perbaikan momentum, dengan Money Flow Index berada pada level 53,74.

Perkembangan tersebut membuka peluang pemulihan Bitcoin menuju US$84.000 apabila harga mampu kembali menguat dan mempertahankan area penting.

Meski demikian, tekanan terhadap Ethereum, XRP, Solana, dan sejumlah altcoin lainnya memperlihatkan bahwa sentimen pasar kripto masih rentan.

Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi. Harga aset kripto memiliki volatilitas tinggi, dan indikator teknikal maupun data on-chain tidak menjamin arah harga di masa depan.

CEK SELENGKAPNYA ARTIKEL BERITA KRIPTO TERBARU DI SINI >>

Exit mobile version