Site icon Dunia Fintech

Hati-hati Jebakan Arisan Online Bodong, Ada 17 Laporan ke OJK Tahun Lalu

jebakan arisan online

JAKARTA, duniafintech.com – Masyarakat di tanah air saat ini harus waspada dan berhati-hati terhadap jebakan arisan online. Pasalnya, pada tahun lalu atau 2021, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada 17 laporan yang diterima terkait bentuk investasi bodong yang satu ini.

Dilangsir dari CNNIndonesia.com, Senin (10/1), sebelumnya sudah ada banyak cara untuk menjerat masyarakat dalam investasi bodong atau abal-abal ini. Usai adanya iming-iming berinvestasi lewat kebun kurma, klik menonton video atau iklan, kripto, dan lain sebagainya, sekarang ini sedang marak arisan online yang juga menjadi modus untuk “menipu” masyarakat.

Bahkan, bukan hanya terjadi di kota besar, sejumlah laporan pun terkuak di sejumlah daerah, antara lain, Makassar, Salatiga, dan Palembang. Secara umum, masyarakat pun tergiur pada bentuk investasi ini lantaran mereka ditawari keuntungan yang besar dalam jangka waktu tertentu setelah menyetorkan sejumlah dana.

Namun, ironisnya, untuk meyakinkan korban incarannya, pelaku memakai jasa influencer atau selebgram untuk mempromosikan arisan bodong ini. Menurut catatan Satgas Waspada Investasi (SWI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ada 17 laporan/informasi yang masuk terkait investasi ilegal berkedok arisan pada tahun 2021.

Disampaikan Ketua SWI OJK, Tongam Tobing, tujuan utama arisan sejatinya sebagai ajang berkumpul bagi komunitas. Nantinya, uang yang dikumpulkan dari tiap peserta pada tiap periode tertentu itu akan diundi dan dalam rangka untuk bersenang-senang semata.

“Sehingga arisan bukanlah investasi. Jika ada kegiatan investasi, sudah pasti hanyalah investasi ilegal,” ucapnya.

Ada sejumlah modus yang digunakan oleh pelaku, imbuhnya, di antaranya peserta cukup bayar sekali dan kalau sudah mendapatkan “uang arisan”, ke depannya tidak perlu bayar lagi. Berikutnya adalah peserta dijanjikan imbal hasil menggiurkan dengan jangka waktu tertentu. Selanjutnya, layaknya skema piramida, peserta juga diminta untuk mencari member baru.

Dalam hal ini, peserta lama yang berhasil mengajak peserta baru bakal memperoleh “bonus” yang biasanya berupa uang. Kemudian, modus lainnya adalah arisan bodong ini ditawarkan lewat media sosial, seperti Facebook atau Instagram, atau grup media komunikasi, seperti grup WhatsApp atau Telegram.

Masyarakat harus curiga

Menurut Perencana Keuangan OneShildt Consulting, Agustina Fitria, saat ini masyarakat harus mencurigai tawaran arisan online yang menawarkan keuntungan lebih dari dana yang dikumpulkan.

Hal itu karena, pada dasarnya, dalam arisan komunitas, dana yang diperoleh akan diberikan sesuai dengan dana terkumpul sejumlah member. Sebagai contoh, pada arisan itu ada 10 anggota dan setiap member beriur Rp1 juta per bulan.

Maka dari itu, setiap anggota bakal memperoleh Rp10 juta secara bergilir. Dikatakan Agustina, jika masyarakat ditawarkan uang lebih, boleh jadi arisan itu adalah penipuan. Selain itu, perlu juga untuk mencurigai kalau ternyata setiap anggota hanya perlu membayar sekali.

Pasalnya, kalau uang yang dihimpun tidak sebesar uang yang akan didapatkan, peserta sebaiknya menanyakan dari mana uang itu akan diperoleh.

“Misal setor Rp1 juta, nanti dapat bisa 2 kali lipat dari yang disetorkan, itu kan perlipatan dapat dari mana?” tuturnya.

Membenarkan pandangan Tongam tadi, Agustina juga menyatakan bahwa menyebut arisan bodong sering kali berbentuk skema piramida. Dalam hal ini, peserta akan diminta untuk mencari anggota. Kian banyak anggota yang didapat maka makin besar pula bonus yang didapat.

Ia menambahkan, banyak penipuan menggunakan nama arisan online yang pada awalnya menyetorkan dana sesuai dengan janji. Hal itu dilakukan agar anggota tergiur dan ikut lagi dengan jumlah uang lebih besar. Akan tetapi, saat uang yang dihimpun besar, tersangka akan menghilang dengan membawa uang anggotanya.

Lebih jauh, ia pun menyebut bahwa arisan online ini sering kali menggunakan testimoni bodong untuk meyakinkan anggota baru untuk bergabung. Tangkapan layar atau video testimoni itu, kata dia lagi, tidak bisa dijadikan bukti apa yang ditawarkan dapat dipercaya.

“Ada yang menawarkan beberapa paket. Di awal lancar, saat penyetoran kecil. Nah, setelah anggota pikir ‘lancar nih’ dan menyetor dalam jumlah besar, biasanya mulai tersendat-sendat dan menghilang,” tuntasnya.

 

Penulis: Kontributor / Boy Riza Utama

Editor: Anju Mahendra

Exit mobile version