Site icon Dunia Fintech

IDEC SELENGGARAKAN SEMINAR MASA DEPAN FINTECH

IDEC SELENGGARAKAN SEMINAR MASA DEPAN FINTECH

duniafintech.com – Indonesia Entrepreneur Center (IDEC) menyelenggarakan seminar bertajuk “How to Disrupt the Future of Finance” di Centennial Tower, Jakarta, Sabtu (2/12/2017). Seminar ini membahas tren financial technology (fintech) yang bisa memperkaya layanan keuangan kepada masyarakat.

Seminar ini menghadirkan tiga pembicara dari kalangan pelaku fintech di tanah air. Ketiganya adalah Co-Founder & VP of Partnership Taralite Victor Timothy; Deputy CEO Uang Teman Rio Quiserto; dan Digital Marketing Director Modalku Alexander Christian.

Victor Timothy bertindak sebagai pembicara pertama dalam kesempatan ini. Dalam paparannya, Victor menyatakan, perusahaan fintech yang bisa ‘mengganggu’ industri keuangan harus memenuhi tiga kriteria. Pertama adalah platform based. Maksudnya, perusahaan fintech tersebut bukan provider, melainkan perantara.

Victor menyampaikan sebuah studi kasus. Ada sebuah bank lokal yang ingin berkompetisi dengan bank dengan skala nasional. Bank lokal tersebut memiliki dua pilihan, yakni membuka kantor cabang sebanyak kantor cabang berskala nasional tersebut atau menjadi semacam online bank.

Pilihan pertama jelas costly. Pilihan kedua lebih rasional,” tambahnya.

Kriteria kedua, Victor meneruskan, adalah automation. Perusahaan fintech, katanya, harus serba otomatis agar bisa diskalisasi. Untuk bisa mewujudkannya, maka bisa menggunakan artificial intelligence (AI) berupa machine learning.

Machine learning ini bisa mengenali atau memprediksi data, menyeimbangkan akurasi dan prediksi sekaligus mencegah tindak kejahatan, seperti penipuan,” ungkap Victor.

Kriteria ketiga adalah bersinergi dengan ‘juara bertahan’. Maksudnya, perusahaan fintech harus menjalin kerjasama dengan pemimpin pasar, seperti bank atau institusi keuangan lainnya.

Sementara itu, Rio Quiserto menyampaikan, perusahaan fintech bisa memberi layanan lain yang belum bisa disanggupi oleh perbankan, misalnya jangka waktu pencairan pinjaman yang lebih cepat. Selain itu, perusahaan fintech juga umumnya paperless dan tanpa BI checking.

Inilah yang disebut unique product offering, misalnya perbankan hanya bisa menawarkan tenor pinjaman paling sedikit enam bulan, namun fintech bisa di bawah enam bulan,” jelasnya.

Sebagai pembicara terakhir, Alexander berujar, produk-produk perbankan memang diperuntukkan untuk segmen tertentu. Umumnya, perusahaan fintech melihat potensi pasar di segmen berbeda yang tidak tersentuh perbankan atau lembaga keuangan lainnya.

Dalam sebuah penelitian oleh Harvard University, ia bercerita, ditemukan the missing middle pada struktur lapisan masyarakat di negara-negara berkembang. Dalam konteks ini, the missing middle itu adalah pelaku UKM yang belum tersentuh oleh layanan bank.

Mereka inilah yang disasar kami. Mereka tetap credit worthy. Namun, bila kami kurang cepat, maka bisa diambil oleh rentenir,” ungkapnya.

Seminar “How to Disrupt the Future of Finance” juga menyajikan sesi tanya-jawab kepada peserta yang hadir. duniafintech.com yang turut hadir dalam acara tersebut menanyakan kepada pembicara tentang isu kekhawatiran perusahaan fintech menggerus fungsi perbankan di kemudian hari.

Mengenai hal ini, Rio menjabarkan, bila dikaitkan dengan P2P lending, maka total pinjaman dari perusahaan fintech masih jauh di bawah dari total pinjaman yang dikucurkan oleh perbankan di tanah air.

Hal senada juga diungkapkan oleh Alexander. Ia mengutarakan, kehadiran perusahaan fintech bukan mengancam eksistensi perbankan, tapi saling melengkapi. Ia merujuk data di Cina yang membuktikan pertumbuhan perusahaan fintech juga diiringi dengan kenaikan total pinjaman di bank.

Kami menggarap pasar yang tidak tergarap oleh bank,” Victor menekankan.

Terkait sejumlah posisi di perbankan yang sudah tidak dibutuhkan, Rio menjelaskan, itu lebih karena perkembangan teknologi. Jadi, bukan karena kehadiran perusahaan fintech sebagai sebuah entitas bisnis.

Written by: Sebastian Atmodjo

Exit mobile version