26.2 C
Jakarta
Sabtu, 2 Maret, 2024

Indonesia Dinilai Perlu Kerja Sama Perdagangan dengan Negara-negara Ini untuk Dongkrak Ekonomi

JAKARTA, duniafintech.com – Indonesia perlu memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi dengan India. Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Bank Indonesia (BI).

Dalam hal ini, BI melihat prospek ekonomi India menarik di tengah prospek perekonomian global yang kurang cerah. Di samping itu, konflik geopolitik menimbulkan kecenderungan negara-negara di dunia untuk berseberangan (terpolarisasi) karena memiliki isu, kebijakan, juga ideologi yang berbeda. 

Menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, Indonesia memang perlu untuk melakukan diversifikasi kerja sama ekonomi dengan negara lain. Hal itu agar Indonesia tidak bergantung pada negara tradisional, seperti Amerika Serikat (AS), China, maupun Uni Eropa. 

“Perlu diversifikasi perdagangan dan investasi. Banyak, kok negara yang sesuai dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas aktif,” ucapnya, dikutip dari Kontan.co.id, Senin (4/12/2023). 

Baca juga: BRICS adalah: Fungsi, Tujuan, dan Perbedaannya dengan G20

Ia pun melihat bahwa ekonomi Indonesia memiliki prospek bagus yang didorong dengan pasar yang besar sehingga hal itu akan melancarkan proses perdagangan India. Bukan itu saja, kerja sama di sektor teknologi dan informasi dengan India pun dapat ditingkatkan untuk mendukung investasi dan pertumbuhan Indonesia yang makin kokoh. 

Di samping dengan India, David pun menangkap sinyal baik dari beberapa negara dengan potensi besar untuk digandeng kerja sama, di antaranya negara-negara di Amerika Latin, Afrika, dan juga negara-negara di Timur Tengah. 

“Kerja sama perdagangan dan juga investasi yang bisa didorong dengan mereka antara lain barang konsumsi, komoditas, juga energi baru terbarukan (EBT),” tuturnya.

BI Sebut Penguatan Kerja Sama RI–India Penting di Tengah Ketidakpastian Global

Sebelumnya, BI memandang perlunya Indonesia untuk memperkuat kerja sama baik perdagangan maupun investasi dengan India. Pasalnya, Gubernur BI Perry Warjiyo melihat prospek ekonomi India yang cerah, di tengah prospek perekonomian global yang temaram. 

Selain itu, konflik geopolitik menimbulkan kecenderungan negara-negara di dunia untuk terpisah karena memiliki isu, kebijakan, juga ideologi yang berbeda. 

“Karena global makin terpolarisasi. Jadi, koordinasi kerja sama perdagangan dan investasi yang biasanya dengan Amerika Serikat (AS), China, dan Eropa, kini perlu juga menggalang dengan India karena ini bright spot,” kata Perry dalam konferensi pers Pertemuan Tahunan BI, baru-baru ini.

Dalam Pertemuan Tahunan BI 2023, BI menyebut bahwa India telah menjadi mitra strategis Indonesia, yaitu sebagai negara tujuan ekspor terbesar ke-4 dan sumber investasi asing terbesar ke-21. 

India dan Indonesia juga memiliki struktur ekonomi yang mirip, didukung pertumbuhan sektor manufaktur  dan perkembangan teknologi serta inovasi yang signifikan. Indonesia dan negara kawasan Anak Benua ini juga telah menelurkan berbagai inisiatif untuk memperkuat kerja sama bilateral. 

Baca juga: Prediksi Harga Bitcoin 2024 Tembus Rp 1 Miliar, Ini Penyebabnya Kata CEO Galaxy Digital

Kerja Sama Perdagangan

Contohnya di bidang perdagangan, ada pengukuhan kerja sama antar kedua negara maupun berdasarkan perjanjian dagang regional ASEAN-India Free Trade Agreement (FTA). Peningkatan perdagangan bilateral keduanya, mencakup sejumlah isu yang selama ini menjadi tantangan, seperti soal ekspor produk ban dan fiber dari Indonesia ke Indonesia juga impor daging kerbau, otomotif, gula, dan beras dari India ke Indonesia. 

Di bidang fiskal, kerja sama Kementerian Keuangan keduanya hangat dan mencakup perdagangan juga investasi, serta upaya mengatasi isu pembangunan secara bersama. Termasuk, isu perubahan iklim dan kesehatan masyarakat.  Di bidang kebanksentralan, BI dan Bank Sentral India atau Reserve Bank of India (RBI) telah meneken nota kesepahaman pada 16 Juli 2022 untuk memperdalam hubungan kerja sama. 

Ini terkait pertukaran informasi serta kerja sama dalam sistem pembayaran, inovasi keuangan digital, dan kerangka peraturan dan pengawasan dalam kerangka Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU-PPT).

Baca juga: Wow! Pinjaman Fintech OJK dari Empat Fintech P2P Lending Ini Lebih dari Rp 1 Triliun

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Iklan

ARTIKEL TERBARU

LANGUAGE