Site icon Dunia Fintech

ini Rahasia Rusia Tetap Untung Rp293 T/Bulan Meski Kerap Kena Sanksi

Rusia Untung

JAKARTA, duniafintech.com – Meski kerap kena sanksi, menurut laporan pasar bulanan Badan Energi Internasional (IEA), Rusia telah memperoleh sekitar 20 miliar dollar AS (Rp293 triliun) per bulan.

Melalui ekspor minyak mentah dan produk terkait minyak mentah, sejak awal tahun ini.

Menurut Bloomberg, mengutip data dari IEA, pendapatan ekspor minyak Rusia meningkat sekitar 50% dalam empat bulan pertama tahun 2022 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Laporan pasar bulanan IEA menunjukkan bahwa Moskow telah memperoleh 20 miliar dollar AS (Rp293 triliun) per bulan dari mengekspor minyak mentah dan produk terkait minyak mentah sejak awal tahun ini.

Baca juga: Penurunan Drastis Harga Kripto Disorot Analis: Imbas Tekanan Ekonomi dan Perang Rusia-Ukraina

Pendapatan minyak mentah negara berjuluk Beruang Merah tersebut masih tumbuh, meskipun ada sanksi Barat.

Sebagai bagian dari sanksi ini, AS melarang semua impor minyak Rusia.

Sementara Inggris dan UE mengumumkan rencana untuk membatalkan semua pembelian minyak mentah Rusia pada akhir tahun.

Raksasa minyak internasional seperti Shell dan TotalEnergies juga telah mengumumkan bahwa mereka akan berhenti membeli minyak dari Moskow.

Namun, menurut IEA, pengiriman minyak mentah negara pimpinan Vladimir Putin ini, pada April meningkat 620.000 barel per hari dari Maret menjadi 8,1 juta barel per hari kembali ke rata-rata pra-Ukraina.

Selain itu, UE sejauh ini merupakan pasar terbesar untuk impor bahan bakar Rusia, dengan 43 persen ekspor minyak Moskow ke UE pada April, menurut IEA.

Baca juga: Perluas Sanksi Ekonomi, Amerika Serikat Incar Penambang Bitcoin Rusia

Selain itu sanksi yang diberikan Uni Eropa justru membuat Rusia, makin untung.

Uni Eropa (UE) berencana untuk menghentikan semua impor minyak mentah dan minyak sulingan dari Rusia pada akhir tahun ini.

Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa dana dari minyak ini digunakan Moskow untuk serangan militernya d Ukraina.

Meski begitu, rencana ini dianggap tidak cukup ampuh dalam waktu dekat.

Bahkan, dalam laporan Quartz pekan lalu, embargo minyak ini justru akan membuat Rusia untuk dalam jangka pendek.

Keputusan UE ini membuat harga minyak global melambung tinggi.

Tercatat, harga minyak melonjak hampir 4% sebagai tanggapan dan bisa mencapai jauh lebih tinggi karena pemotongan Eropa.

Dengan kenaikan ini, Rusia dapat diuntungkan bila mendapatkan pembeli selain Eropa seperti India dan China.

Keuntungan ini dapat menjadi semakin banyak bila Arab Saudi tidak menaikan produksinya.

Baca juga: Begini Cara Elon Musk Kirim Bantuan ke Ukraina kala Diserang Rusia

Exit mobile version