Bitcoin (BTC) kembali mendapatkan perhatian dari lembaga keuangan global setelah JPMorgan Asset Management memproyeksikan aset kripto terbesar di dunia tersebut mampu memberikan imbal hasil rata-rata sebesar 10% per tahun selama satu dekade mendatang.
Proyeksi tersebut menempatkan Bitcoin di atas sejumlah instrumen investasi tradisional, termasuk saham Amerika Serikat (AS), obligasi pemerintah, dan emas, berdasarkan skenario dasar yang digunakan perusahaan.
Perkiraan tersebut tercantum dalam laporan 2027 Long-Term Capital Market Assumptions yang diterbitkan JPMorgan Asset Management pada Oktober 2026.
Untuk pertama kalinya, perusahaan memasukkan rentang proyeksi imbal hasil Bitcoin ke dalam kajian asumsi pasar modal jangka panjangnya.
Namun, di balik potensi pertumbuhan tersebut, JPMorgan juga mengingatkan bahwa volatilitas tinggi dan hubungan harga Bitcoin yang tidak konsisten dengan aset lain masih menjadi hambatan bagi penggunaannya secara luas dalam portofolio investasi.
JPMorgan Perkirakan Bitcoin Bisa Tumbuh 10% Setiap Tahun
JPMorgan Asset Management memproyeksikan Bitcoin memiliki potensi imbal hasil tahunan majemuk sebesar 10% dalam skenario dasar untuk periode sekitar 10 tahun ke depan.
Imbal hasil tahunan majemuk menggambarkan tingkat pertumbuhan investasi rata-rata setiap tahun dengan memperhitungkan efek penggandaan nilai investasi.
Angka tersebut bukan berarti harga Bitcoin dipastikan naik tepat 10% setiap tahun.
Dalam praktiknya, Bitcoin dapat mengalami kenaikan tajam pada suatu tahun, kemudian mencatatkan penurunan besar pada tahun berikutnya.
Proyeksi jangka panjang mencoba memperkirakan hasil rata-rata dari berbagai kemungkinan pergerakan tersebut.
JPMorgan menggunakan pendekatan ini untuk membandingkan potensi Bitcoin dengan sejumlah kelas aset lain.
Hasilnya, BTC memiliki estimasi imbal hasil lebih tinggi dibandingkan saham AS, obligasi, dan emas dalam skenario dasar perusahaan.
Perbandingan Bitcoin dengan Saham, Emas, dan Obligasi
Dalam laporan tersebut, JPMorgan menyampaikan proyeksi imbal hasil tahunan untuk beberapa kelas aset.
Bitcoin diperkirakan menghasilkan 10% per tahun.
Sementara itu, saham perusahaan berkapitalisasi besar di Amerika Serikat diproyeksikan memberikan imbal hasil 7,5% per tahun.
Saham AS berkapitalisasi kecil diperkirakan menghasilkan 7,7%.
Untuk obligasi AS, proyeksi imbal hasil berada pada kisaran 5,6% hingga 6,6% per tahun, sedangkan emas diperkirakan menghasilkan 5,5%.
Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa Bitcoin memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dalam skenario dasar JPMorgan.
Namun, selisih imbal hasil tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk memilih instrumen investasi.
Investor juga perlu memperhatikan volatilitas, kemungkinan kerugian, kebutuhan likuiditas, dan jangka waktu investasi.

Simulasi Investasi Rp100 Juta Selama 10 Tahun
Untuk memahami dampak proyeksi tersebut, berikut ilustrasi pertumbuhan investasi awal sebesar Rp100 juta selama 10 tahun.
Simulasi menggunakan asumsi imbal hasil majemuk tetap sesuai skenario dasar JPMorgan.
| Instrumen | Asumsi per tahun | Nilai setelah 10 tahun |
|---|---|---|
| Bitcoin | 10% | Rp259,37 juta |
| Saham AS kapitalisasi kecil | 7,7% | Rp209,99 juta |
| Saham AS kapitalisasi besar | 7,5% | Rp206,10 juta |
| Obligasi AS | 5,6%–6,6% | Rp172,44–189,46 juta |
| Emas | 5,5% | Rp170,81 juta |
Dalam simulasi tersebut, investasi Bitcoin senilai Rp100 juta berpotensi berkembang menjadi sekitar Rp259 juta setelah 10 tahun.
Nilainya lebih tinggi dibandingkan simulasi saham AS kapitalisasi besar yang mencapai sekitar Rp206 juta dan emas sekitar Rp171 juta.
Namun, ilustrasi ini menggunakan tingkat imbal hasil tetap untuk mempermudah perbandingan.
Perhitungan belum memasukkan biaya transaksi, pajak, perubahan nilai tukar rupiah, dan fluktuasi harga aktual.
Hasil investasi nyata dapat berbeda secara signifikan.
Skenario Optimistis Bitcoin Bisa Menghasilkan 17% per Tahun
Selain skenario dasar, JPMorgan juga menyusun perkiraan untuk kondisi pasar yang lebih menguntungkan.
Dalam skenario optimistis atau bull case, Bitcoin diproyeksikan memberikan imbal hasil tahunan sebesar 17%.
Jika tingkat pertumbuhan tersebut tercapai secara majemuk selama 10 tahun, investasi awal Rp100 juta secara matematis dapat berkembang menjadi sekitar Rp480,68 juta.
Namun, skenario tersebut bukan prediksi harga pasti.
Untuk mencapai hasil tersebut, Bitcoin memerlukan perkembangan permintaan dan kondisi pasar yang mendukung dalam jangka panjang.
Faktor seperti peningkatan adopsi institusional, kejelasan regulasi, serta perkembangan infrastruktur perdagangan dapat memengaruhi prospek aset digital.
Meski demikian, perubahan kebijakan ekonomi global atau melemahnya permintaan juga dapat menyebabkan hasil aktual jauh di bawah proyeksi optimistis.
Skenario Pesimistis Bitcoin Bisa Rugi 9,7% per Tahun
JPMorgan tidak hanya menyoroti potensi keuntungan.
Dalam skenario pesimistis atau bear case, perusahaan memperkirakan Bitcoin dapat mencatatkan imbal hasil negatif sebesar 9,7% per tahun.
Jika penurunan tersebut berlangsung secara majemuk selama 10 tahun, investasi awal Rp100 juta secara matematis akan tersisa sekitar Rp36 juta.
Perbedaan antara skenario optimistis dan pesimistis menunjukkan besarnya ketidakpastian dalam investasi Bitcoin.
Rentang hasil yang luas tersebut menjadi alasan mengapa potensi keuntungan tinggi harus selalu dipertimbangkan bersama risiko.
Investor tidak dapat hanya menggunakan proyeksi dasar 10% sebagai acuan tunggal.
Kemungkinan terjadinya penurunan harga yang signifikan juga perlu diperhitungkan dalam perencanaan keuangan.
Volatilitas Bitcoin Diperkirakan Mencapai 55%
Salah satu alasan JPMorgan masih berhati-hati terhadap Bitcoin adalah volatilitasnya.
Dalam kajian jangka panjang tersebut, volatilitas tahunan Bitcoin diperkirakan berada di sekitar 55%.
Volatilitas menggambarkan besarnya fluktuasi harga suatu aset selama periode tertentu.
Semakin tinggi volatilitas, semakin besar kemungkinan nilai investasi mengalami perubahan tajam dalam waktu relatif singkat.
Angka volatilitas 55% tidak berarti Bitcoin pasti naik atau turun 55% setiap tahun.
Angka tersebut merupakan ukuran statistik mengenai besarnya variasi imbal hasil.
Bagi investor, volatilitas tinggi dapat menghadirkan peluang keuntungan sekaligus risiko kerugian besar.
Kondisi tersebut menjadi pertimbangan penting terutama bagi investor yang memiliki kebutuhan dana dalam jangka pendek.
Mengapa JPMorgan Belum Menganggap Bitcoin sebagai Diversifikasi Ideal?
Meskipun memberikan proyeksi imbal hasil lebih tinggi, JPMorgan belum menempatkan Bitcoin sebagai instrumen diversifikasi strategis dalam model portofolio utamanya.
Salah satu alasannya adalah korelasi Bitcoin dengan kelas aset lain yang masih berubah-ubah.
Korelasi menunjukkan hubungan pergerakan harga antara dua aset.
Jika dua aset memiliki korelasi positif tinggi, keduanya cenderung bergerak searah.
Sebaliknya, korelasi rendah atau negatif dapat membantu mengurangi ketergantungan portofolio pada satu pola pergerakan pasar.
Dalam kasus Bitcoin, hubungan dengan saham, emas, dan instrumen lainnya tidak selalu konsisten.
Pada periode tertentu, Bitcoin dapat bergerak searah dengan saham teknologi.
Namun, dalam kondisi pasar berbeda, BTC dapat memperlihatkan pola yang tidak sama.
Ketidakstabilan tersebut menyulitkan penyusunan model risiko jangka panjang.
Bitcoin Masih Dipandang sebagai Aset Spekulatif
Manajer portofolio JPMorgan Asset Management, Dr. Sheena Shah, bersama Head of Digital Asset Strategy Dennis Cristallo, menilai Bitcoin masih memiliki karakteristik aset spekulatif.
Menurut keduanya, Bitcoin belum memiliki peran diversifikasi yang cukup konsisten untuk dijadikan komponen strategis dalam portofolio tradisional.
Namun, mereka melihat BTC dapat memiliki karakteristik sebagai instrumen yang sensitif terhadap ekspansi moneter.
Pandangan tersebut berkaitan dengan kemungkinan meningkatnya permintaan terhadap Bitcoin ketika pasokan uang global bertambah.
Meski demikian, sensitivitas terhadap kebijakan moneter bukan berarti Bitcoin selalu menguat ketika bank sentral melonggarkan kebijakan.
Pergerakan harga tetap bergantung pada kondisi likuiditas, permintaan investor, dan berbagai faktor lainnya.
Bitcoin Lebih Mirip Aset Berisiko daripada Emas?
Bitcoin sering disebut sebagai emas digital karena memiliki pasokan terbatas.
Jumlah Bitcoin yang dapat diterbitkan melalui protokol jaringan dibatasi maksimal 21 juta BTC.
Karakteristik tersebut berbeda dengan mata uang fiat yang jumlah beredarnya dapat berubah mengikuti kebijakan moneter.
Namun, JPMorgan menilai perilaku perdagangan Bitcoin dalam banyak kondisi masih lebih menyerupai aset berisiko tinggi.
Ketika likuiditas global meningkat dan investor bersedia mengambil risiko lebih besar, permintaan terhadap Bitcoin dapat menguat.
Sebaliknya, ketika kondisi keuangan mengetat, Bitcoin dapat menghadapi tekanan jual bersama aset berisiko lainnya.
Emas memiliki sejarah panjang sebagai aset penyimpan nilai dan instrumen lindung nilai dalam berbagai kondisi ekonomi.
Bitcoin masih memiliki riwayat perdagangan yang jauh lebih singkat.
Karena itu, kedua aset tidak dapat dianggap memiliki karakteristik risiko yang identik meskipun sama-sama dikaitkan dengan kelangkaan.
Mengapa Sulit Menghitung Nilai Wajar Bitcoin?
JPMorgan juga menyoroti tantangan dalam memperkirakan nilai fundamental Bitcoin.
Pada saham, analis dapat menggunakan pendapatan, laba, arus kas, dan proyeksi pertumbuhan perusahaan untuk menyusun valuasi.
Obligasi memiliki pembayaran bunga dan nilai pokok sesuai ketentuan penerbitannya.
Sementara itu, Bitcoin tidak menghasilkan arus kas kontraktual bagi pemegangnya.
Karena itu, penilaian Bitcoin memerlukan pendekatan yang berbeda.
Faktor yang dapat memengaruhi nilainya mencakup adopsi jaringan, perkembangan regulasi, likuiditas pasar, dan permintaan terhadap aset digital.
Perubahan salah satu faktor tersebut dapat memengaruhi asumsi valuasi.
Hal inilah yang membuat proyeksi imbal hasil Bitcoin memiliki tingkat ketidakpastian yang relatif tinggi.
Adopsi Institusional Bisa Menjadi Faktor Pertumbuhan
Dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin semakin banyak diperhatikan oleh lembaga keuangan dan perusahaan publik.
Perkembangan produk ETF Bitcoin spot, layanan kustodian institusional, pasar derivatif, serta infrastruktur perdagangan telah memperluas pilihan akses terhadap BTC.
Produk-produk tersebut memungkinkan berbagai kelompok investor memperoleh eksposur terhadap Bitcoin melalui mekanisme yang berbeda.
Namun, meningkatnya akses tidak selalu berarti permintaan akan terus tumbuh.
Investor institusional tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi, risiko investasi, serta aturan internal pengelolaan portofolio.
Karena itu, perkembangan infrastruktur dapat mendukung adopsi, tetapi bukan jaminan kenaikan harga.
Regulasi Kripto Menjadi Faktor Penting
Kepastian regulasi juga berpotensi memengaruhi prospek Bitcoin dalam jangka panjang.
Aturan yang jelas dapat membantu perusahaan memahami persyaratan operasional, perlindungan konsumen, dan standar kepatuhan.
Bagi investor institusional, kepastian hukum dapat menjadi salah satu pertimbangan sebelum memperoleh eksposur terhadap aset digital.
Namun, regulasi juga dapat membatasi jenis aktivitas tertentu atau meningkatkan biaya kepatuhan.
Karena itu, dampaknya terhadap harga Bitcoin akan bergantung pada isi aturan dan bagaimana pasar merespons penerapannya.
Dalam konteks Indonesia, perkembangan pengawasan aset keuangan digital oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menjadi bagian dari perubahan struktur industri.
Apa Artinya bagi Investor Bitcoin di Indonesia?
Proyeksi JPMorgan memberikan salah satu gambaran mengenai potensi Bitcoin dalam jangka panjang.
Namun, investor Indonesia perlu mempertimbangkan beberapa faktor tambahan.
Pertama, Bitcoin diperdagangkan secara global dengan harga yang banyak mengacu pada dolar AS.
Artinya, nilai investasi dalam rupiah dapat dipengaruhi oleh perubahan kurs selain perubahan harga BTC.
Kedua, biaya transaksi dan ketentuan perpajakan dapat memengaruhi hasil investasi bersih.
Ketiga, kebutuhan likuiditas dan kemampuan menghadapi penurunan harga menjadi faktor penting.
Investor dengan tujuan keuangan jangka pendek mungkin menghadapi risiko lebih besar apabila membutuhkan dana ketika harga Bitcoin sedang turun.
Karena itu, proyeksi pertumbuhan tahunan sebaiknya digunakan sebagai bahan analisis, bukan sebagai dasar untuk mengharapkan keuntungan tetap.
Kesimpulan
JPMorgan Asset Management memperkirakan Bitcoin berpotensi menghasilkan imbal hasil majemuk sebesar 10% per tahun selama satu dekade mendatang.
Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan saham AS kapitalisasi besar sebesar 7,5%, saham kapitalisasi kecil 7,7%, obligasi AS sebesar 5,6%–6,6%, dan emas sebesar 5,5%.
Dalam skenario optimistis, Bitcoin diperkirakan dapat menghasilkan imbal hasil 17% per tahun.
Sebaliknya, skenario pesimistis memperlihatkan potensi kerugian rata-rata 9,7% per tahun.
JPMorgan juga memperkirakan volatilitas tahunan Bitcoin mencapai sekitar 55%.
Tingkat volatilitas yang tinggi serta korelasi yang belum stabil dengan aset lain menjadi alasan perusahaan belum menempatkan Bitcoin sebagai instrumen diversifikasi strategis dalam model portofolio utamanya.
Dengan demikian, Bitcoin memiliki proyeksi pertumbuhan yang menarik menurut JPMorgan, tetapi potensi imbal hasil tinggi tetap disertai risiko yang signifikan.
Bagi investor, pemahaman terhadap volatilitas, kondisi likuiditas, regulasi, dan tujuan keuangan menjadi bagian penting dalam menilai prospek Bitcoin untuk jangka panjang.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Proyeksi imbal hasil bukan jaminan keuntungan, dan harga Bitcoin dapat mengalami volatilitas tinggi.