PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mulai menunjukkan hasil dari transformasi bisnis yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Pada kuartal I 2026, perusahaan berhasil mencatatkan laba bersih untuk pertama kalinya sejak berdiri.
GoTo membukukan laba bersih sebesar Rp171 miliar pada tiga bulan pertama 2026. Pencapaian tersebut berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika perusahaan masih membukukan rugi bersih sebesar Rp367 miliar.
Kinerja positif ini menjadi salah satu tonggak penting bagi perusahaan yang menaungi sejumlah layanan digital besar di Indonesia, termasuk Gojek, GoPay, dan bisnis terkait ekosistem e-commerce.
Fintech Menjadi Salah Satu Penopang Utama
Salah satu segmen yang mencatatkan perkembangan signifikan adalah bisnis fintech yang dijalankan melalui GoTo Financial. Pertumbuhan ini didukung oleh meningkatnya aktivitas pengguna pada layanan pembayaran dan pembiayaan digital.
Pada kuartal I 2026, EBITDA yang disesuaikan dari segmen fintech tercatat tumbuh 674% secara tahunan menjadi Rp364 miliar. Pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan peningkatan jumlah pengguna bertransaksi bulanan sebesar 33%.
Nilai buku pinjaman juga mengalami peningkatan hingga 59% menjadi Rp9,9 triliun. Kondisi ini menunjukkan semakin besarnya kontribusi layanan finansial digital terhadap ekosistem bisnis GoTo.
Pertumbuhan Pendapatan dan Aktivitas Pengguna
Selain kinerja fintech, GoTo juga mencatat pertumbuhan pada sejumlah indikator utama bisnisnya.
Pendapatan bersih perusahaan pada kuartal I 2026 mencapai sekitar Rp5,3 triliun, atau meningkat 26% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah pengguna bertransaksi tahunan atau annual transacting users (ATU) tumbuh 22% menjadi 69 juta pengguna.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem GoTo masih memiliki basis pengguna yang besar dan terus mengalami peningkatan aktivitas transaksi.
Bisnis On-Demand Services Juga Tumbuh
Tidak hanya fintech, bisnis layanan berdasarkan permintaan atau on-demand services juga memberikan kontribusi terhadap perbaikan kinerja perusahaan.
EBITDA yang disesuaikan dari segmen ini meningkat 40% secara tahunan menjadi Rp439 miliar. Pertumbuhan tersebut antara lain didorong oleh meningkatnya penggunaan produk premium oleh kelompok pengguna dengan daya beli lebih tinggi.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa perbaikan kinerja GoTo tidak hanya bertumpu pada satu lini bisnis. Fintech dan layanan on-demand sama-sama berperan dalam memperkuat fundamental perusahaan.
Pendapatan GoTo Tumbuh di Tengah Efisiensi
Perubahan kinerja GoTo juga tidak terlepas dari upaya perusahaan menjaga pertumbuhan pendapatan sekaligus melakukan pengelolaan biaya secara lebih disiplin.
Pada kuartal pertama 2026, EBITDA yang disesuaikan secara grup meningkat 131% secara tahunan menjadi Rp907 miliar. Perusahaan juga mencatatkan arus kas bebas yang disesuaikan sebesar Rp1,3 triliun.
Kombinasi antara pertumbuhan bisnis dan pengendalian biaya menjadi faktor penting yang membantu GoTo berbalik mencatatkan laba bersih setelah sebelumnya mengalami kerugian.
Transformasi Bisnis Mulai Menunjukkan Hasil
Capaian laba bersih perdana ini menjadi sinyal bahwa strategi transformasi yang dilakukan GoTo mulai memberikan hasil nyata. Perusahaan kini berupaya mempertahankan pertumbuhan di berbagai segmen dengan tetap menjaga disiplin keuangan.
Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, menyebut pencapaian tersebut sebagai momentum penting dalam perjalanan perusahaan. Menurutnya, hasil tersebut mencerminkan upaya perusahaan dalam meningkatkan pendapatan, mengendalikan biaya, dan menciptakan nilai bagi pelanggan serta mitra.
Ke depan, perkembangan bisnis fintech akan menjadi salah satu faktor yang menarik untuk diperhatikan. Pertumbuhan GoPay dan layanan keuangan digital berpotensi semakin memperkuat posisi segmen fintech sebagai salah satu mesin pertumbuhan utama dalam ekosistem GoTo.
Catatan: Saya sengaja menggunakan data kuartal I 2026 dari laporan resmi GoTo karena itu yang dapat saya verifikasi. Judul sumber yang Anda kirim menyebut Rp607 miliar pada semester I, tetapi angka tersebut belum dapat saya cocokkan dengan laporan resmi yang tersedia dalam hasil pencarian.