Site icon Dunia Fintech

Kisah Kebangkrutan Zimbabwe, Hingga Rela Ganti Mata Uang Tiongkok

Kisah Kebangkrutan Zimbabwe

JAKARTA, duniafintech.com – Tahun 2008 silam menjadi kisah kelam bagi Zimbabwe yang mengalami kebangkrutan. Kisah kebangkrutan Zimbabwe seakan menjadi pelajaran bagi banyak negara-negara di dunia.

Tak ada negara yang tidak membangun infrastruktur dalam prosesnya untuk berkembang. Dalam proses bertumbuh, sebuah negara memang memerlukan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur sebuah negara kerap kali membutuhkan dana segar atau pinjaman dari asing, salah satu yang sering dilakukan adalah dengan skema pinjaman utang luar negeri.

Akan tetapi pembiayaan infrastruktur melalui utang luar negeri tak selalu berjalan mulus, ada beberapa negara yang gagal bayar atau bangkrut, yakni Zimbabwe salah satu contohnya.

Zimbabwe adalah salah satu negara di selatan Afrika. Negara ini terkenal dengan pariwisata aneka satwa liarnya. Zimbabwe menelan pil pahit karena gagal membayar utang sebesar 40 juta dollar AS kepada Tiongkok. Dalam kasus tersebut, Zimbabwe tak mampu membayarkan utangnya kepada Tiongkok, hingga akhirnya harus mengganti mata uangnya menjadi mata uang Tiongkok atau Yuan sebagai imbalan penghapusan utang.Penggantian mata uang itu berlaku setelah Zimbabwe tidak mampu membayar utang yang sudah jatuh tempo.

14 tahun yang lalu, Zimbabwe mengalami kebangkrutan karena terlilit utang sekitar Rp65,1 Triliun

Kala itu pemerintahan Zimbabwe wajib berjuang menyelamatkan negaranya, harus bergerak cepat mengatasi kondisi perekonomian yang teramat buruk dan tingkat pengangguran yang sangat tinggi yakni mencapai 80%. Bak jatuh tertimpa tangga, pada tahun 2005 Zimbabwe sempat dinobatkan sebagai negara dengan tingkat penurunan ekonomi tercepat dan terparah di dunia.

Lalu, apa sebab yang menjadikan Zimbabwe mengalami kebangkrutan, dan sanggup bangkit dari keterpurukan?

Kisah Kebangkrutan Zimbabwe

1. Awal Mula Permasalahan


Tingkat ekspor dari Zimbabwe sangat bergantung pada pertanian dan peternakan. Namun, pada tahun 2000, Pemerintah Zimbabwe mulai menggoncang sektor pertanian komersial domestik demi sejumlah kepentingan politik.

Akhirnya, sejumlah kerusakan sistem terjadi di sektor pertanian dan membuat produk domestik bruto Zimbabwe mengalami penurunan yang sangat cepat, yakni dari USD6,8 Miliar pada tahun 2000, menjadi USD4,42 Miliar di tahun 2008. Hal ini tentu saja berdampak pada volume ekspor Zimbabwe yang merosot tajam.

Sejak tahun 2000, setiap tahunnya, Zimbabwe selalu mengalami defisit perdagangan karena sejumlah masalah perdagangan yang memengaruhi pendapatan dari masyarakat Zimbabwe.

2. Jatuhnya Perekonomian

Di tahun 2008, Pemerintah Zimbabwe sedang berjuang untuk melawan penyakit kolera serta beberapa masalah lainnya, seperti kelangkaan pangan, inflasi, dan konflik domestik. Saat itu, masyarakat juga meminta agar Presiden yang tengah menjabat saat itu, yaitu Robert Mugabe, untuk turun dari jabatannya.

Karena ketidakstabilan ekonomi dan kondisi negara yang kacau, terjadi hiperinflasi yang mengakibatkan harga barang naik secara tidak terkendali. Pemerintah dengan terpaksa harus meminjam uang dengan jumlah yang besar dari pasar obligasi.

Namun, Pemerintah Zimbabwe sepertinya meminjam terlalu banyak uang hingga jumlahnya mencapai 131% dari PDB. Saat itu, utang dari Zimbabwe membengkak hingga USD4,5 Miliar atau sekitar Rp65,1 Triliun dan jumlah pengangguran mencapai 80%. Kondisi tersebut diperparah dengan wabah kekeringan di berbagai wilayah selama hampir setahun.

3. Kebangkrutan Zimbabwe


Pada 2008, Zimbabwe akhirnya mengalami kejatuhan perekonomian yang berdampak sangat luas bagi seluruh masyarakat. Bahkan, masyarakat Zimbabwe mulai berhenti untuk menggunakan bank.

Selain itu, masyarakat Zimbabwe juga berhenti membayar pajak dan tidak lagi memakai mata uang nasional sebagai alat tukar dalam transaksi jual beli. Dengan kondisi tersebut, Zimbabwe akhirnya mendeklarasikan kebangkrutannya pada 2009.

Beruntung, sejumlah reformasi dan kebijakan ekonomi dari pemerintah akhirnya mampu menyokong perekonomian Zimbabwe dan bangkit secara perlahan.

Exit mobile version