Di tengah ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, dua aset yang sering disebut sebagai safe haven—emas dan Bitcoin—menunjukkan performa yang berbeda.
Per April 2026:
- Emas berada di sekitar US$4.809/ounce, naik lebih dari 40% YoY
- Bitcoin berada di kisaran US$74.572, masih -41% dari ATH
Situasi ini memunculkan pertanyaan penting: mana yang sebenarnya lebih menguntungkan saat krisis?
Emas Unggul Saat Ketidakpastian Tinggi
Kenaikan emas saat ini didorong oleh beberapa faktor utama:
- Ketegangan geopolitik (konflik Iran–AS)
- Kekhawatiran inflasi global
- Pembelian besar oleh bank sentral
Sebagai aset yang sudah teruji selama ratusan tahun, emas menjadi pilihan pertama investor institusional ketika risiko meningkat.
Bahkan saat sempat terkoreksi, emas tetap bertahan kuat di atas level psikologis US$4.800.
Bitcoin Tertinggal, Tapi Bukan Lemah
- Likuiditas global
- Sentimen risiko jangka pendek
- Arus modal institusional
Saat krisis meningkat, investor biasanya:
- Masuk ke emas terlebih dahulu
- Baru kemudian beralih ke Bitcoin
Namun, data historis menunjukkan pola menarik:
Setelah emas outperform dalam waktu tertentu, BTC sering menyusul dalam 1–2 bulan dengan reli lebih agresif (rata-rata hingga +56%).
Data Likuiditas: Sinyal Positif untuk BTC
Data dari MRS Blockcircle menunjukkan kondisi yang mendukung:
- M2 Money Supply: US$22,67 triliun (tren naik)
- Neraca The Fed: US$6,71 triliun (stabil)
Likuiditas yang longgar secara historis menjadi bahan bakar utama kenaikan aset kripto.
Selain itu:
- NFCI (Chicago Fed): -0,5 → kondisi longgar
- High-Yield Spread: normal (2,83%)
Artinya, tekanan finansial belum cukup besar untuk memicu pelarian dari aset berisiko.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
Meski prospek BTC cukup positif, ada beberapa faktor risiko:
- Momentum industri melemah (-0,64%)
- Suku bunga riil negatif (-6,74%)
- Tekanan pada kredit konsumen meningkat
Ini menunjukkan ekonomi global masih dalam fase transisi yang rapuh.