Site icon Dunia Fintech

MENELISIK TREN E-COMMERCE, FINTECH & IOT DI TAHUN 2018      

MENELISIK TREN E-COMMERCE, FINTECH & IOT DI TAHUN 2018      

duniafintech.com – Kini, kita berada di awal tahun 2018. Seperti apa tren bisnis di tahun ini? Bila dipersempit lagi, tren digital apa yang akan ‘naik daun’ di tahun 2018?

Tema besar ini menjadi pembahasan dalam event GSJ Meetup 4 bertajuk What to Expect in 2018: E-Commerce, Fintech and IoT. Acara ini yang digagas oleh Ev Hive ini berlangsung di Plaza Kuningan, Jakarta, Kamis (25/1/2018). Acara tersebut menghadirkan tiga pembicara, yakni CEO Local Brand Asia Sayed Muhammad, CEO Warung Pintar Agung Bezharie, dan Founder Julo Adrianus Hitijahubessy. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta.

Baca juga: menggali-potensi-investasi-melalui-platform-pertanian/

Di awal pembahasannya, Sayed bercerita, ia mulai membangun Local Brand Asia di tahun 2011. Saat itu, masih sedikit platform e-commerce di masyarakat. Pertumbuhan e-commerce di tanah air pun terbilang sangat cepat semenjak itu. Pada tahun 2015, Sayed mengaku, pasar e-commerce sudah ‘hectic’. E-commerce yang bertahan lebih dikarenakan faktor modal yang kuat.

Kini, e-commerce sudah mengarah ke marketplace. Banyaknya marketplace menimbulkan permasalahan tersendiri. Salah satunya adalah manajemen stok barang.

Seorang penjual (seller), misalnya, menjajakan barangnya di lebih dari satu marketplace. Ada kemungkinan, barang yang dijualnya terjual di salah satu marketplace. Sementara itu, status barang dagangannya di marketplace lain masih ‘stok tersedia’,” papar Sayed.

“Ketika ditanya, ‘Kenapa tidak di-update statusnya di marketplace lain?’ Bisa saja si seller tadi menjawabnya, ‘Ah, malas’. Itulah persoalan manajemen stok,” lanjutnya.

Baca juga: startup-fintech-masih-memikat-para-investor-di-tahun-2018/

Sementara itu, Agung mengisahkan, idenya saat mendirikan Warung Pintar diawali oleh data tutupnya sekitar 10 ribu warung tradisional di Jakarta. Dari informasi yang banyak beredar di masyarakat, keberadaan warung tradisional tergerus oleh menjamurnya mini market modern. Namun, Agung tak sepenuhnya meyakini klaim ini. Menurutnya, faktor penyebabnya bersumber dari berbagai variabel, termasuk teknologi. Maka, ia pun tergerak membuat Warung Pintar.

Warung Pintar memadukan kios kecil/tradisional dan pengelolaan yang berbasis teknologi dengan mengedepankan tiga pilar, yaitu Internet of Things (IoT), big data analytics, dan Blockchain.

Masing-masing memiliki tujuan sendiri, seperti IoT yang digunakan untuk meningkatkan akurasi pemasukan data ritel. Sementara big data analytics bertujuan untuk memahami perilaku para pelanggan serta blockchain yang digunakan untuk menciptakan transparansi dan kepercayaan kepada pemilik warung.

“Saya memang mencoba berbagai teknologi, tidak terfokus pada teknologi tertentu,” ujar Agung.

Dari sisi financial technology (fintech) sendiri, Adrianus menyampaikan, masih ada kelompok masyarakat yang belum memiliki akses terhadap institusi keuangan, seperti bank. Kelompok masyarakat inilah yang coba disasar oleh aplikasi Julo yang dikembangkan oleh Adrianus dan timnya. Julo merupakan layanan peminjaman online yang bisa memberikan dana cepat tanpa agunan atau mudahnya KTA online.

Baca juga: neos-raih-kemenangan-untuk-kategori-iot-award-2017/

Perkembangan tren startup di tahun 2018, kata Sayed, bisa mengerucut kepada antara lain Artificial Intelligence (AI), scalling, dan mendapat pendanaan (fundraising).

Pendanaan ini lebih kepada startup yang baru berdiri,” tekannya.

Sayed meneruskan, penyedia platform e-commerce kini sebaiknya harus menentukan diferensiasi atau sesuatu yang membedakan dari platform e-commerce lainnya.

Local Brand Asia kini merupakan platform e-commerce dan multichannel. Penjual, misalnya, bisa menjual barangnya di lebih dari satu pletform melalui kami. Selain itu, Local Brand Asia juga bisa untuk online payment. Local Brand Asia juga mulai mengarah ke penjualan offline dan online,” Sayed mencontohkan.

Senada dengan Sayed, Agung mengutarakan, tantangan ke depan adalah bagaimana jeli hingga detil terhadap kebutuhan masyarakat.

Selain itu, kata Adrianus, big data juga memainkan peran penting ke depan. Data ini, contohnya, dapat digunakan untuk pengambilan keputusan bisnis.

“Tentu data yang terkumpul harus reliable,” katanya.

Written by: Sebastian Atmodjo

Exit mobile version