Site icon Dunia Fintech

Tenang Saja, Metaverse Akan Tetap Bertahan saat Crypto Crash

Metaverse Crypto Crash

JAKARTA, duniafintech.com – Crypto crash yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir menimbulkan keraguan bagi mereka yang berminat berinvestasi dalam pengembangan teknologi blockchain. Tapi tak perlu khawatir, itu merupakan fenomena yang lazim terjadi. 

Selain memanfaatkan naik turun nilai tukar token terhadap mata uang fiat, di dunia blockchain juga kini muncul peluang untuk berinvestasi di berbagai project masa depan, termasuk metaverse. 

“Memang bagi project yang tidak berhati-hati mengelola keuangannya menjadi ancaman besar. Syukurnya sejak awal Realitychain sudah mengantipasi dengan mendiversifikasi keuangan, sebagian harus dalam bentuk stable coin,” jelas Pandu Sastrowardoyo, chief blockchain officer di Realitychain, dikutip dari Investor.id.

Namun, menurutnya, tantangan bagi dunia metaverse bukan hanya survive dari sisi keuangan. Kejadian ini juga membuat developer metaverse belajar untuk tidak terpaku kepada upaya mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya saja, namun juga membangun experience yang fun, yang menjadi value utama dari sebuah metaverse. 

“Saat ini kami belum terdampak langsung oleh crypto crash yang terjadi karena belum launch token sendiri. Tapi pasti akan jauh lebih siap jika hal ini kembali terjadi di masa depan,” terangnya. 

Pengamat dunia metaverse, Tuhu Nugraha, menjelaskan fenomena ini menjadi dorongan bagi para pelaku tidak lagi sekedar menciptakan dan berjual beli token. 

“Memang banyak yang harus dibenahi. Tidak lagi sekedar untuk berspekulasi,” jawabnya.

Tuhu menjelaskan bahwa masih ada aspek regulasi, kedaulatan negara, hingga money laundry yang perlu diatasi. 

“Metaverse sendiri jalannya masih panjang, konsumennya masih belum terlalu siap. Tapi konsep ini sangat bisa diarahkan untuk kepentingan industri yang sudah mapan, misalnya untuk riset dan eksperimen sebelum di-launch ke pasar,” papar dia.

Kelebihan metaverse yang memungkinkan kolaborasi skala dunia, membuatnya ideal untuk kepentingan simulasi dunia nyata. 

Pandu menjelaskan berubahnya fokus metaverse dari awalnya sebuah gamefi menjadi menghasilkan nilai yang nyata.

“Fokusnya harus di real world event. Mulai dari konser, galeri, hingga museum virtual. Jadi walaupun unsur fun tetap ada, nilai yang diciptakan harus yang memang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lebih bagus lagi jika bisa menarik sponsorship dari dunia nyata. Jika tidak, ujungnya hanya jadi skema ponzi baru,” imbuh Pandu.

Menurutnya, tantangan bagi dunia metaverse bukan hanya survive dari sisi keuangan. Kejadian ini juga membuat developer metaverse belajar untuk tidak terpaku kepada upaya mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya saja, namun juga membangun experience yang fun, yang menjadi value utama dari sebuah metaverse. 

“Fokus kita adalah sustainable business, dengan membangun value dan memenuhi kebutuhan user,” tambah Adam Ardisasmita CEO Realitychain. Ia menjelaskan bahwa berbeda dengan yang lain, Realitychain tidak sekedar membuat metaverse. Lebih jauh, mereka memfasilitasi siapapun untuk membuat metaverse sendiri dengan menyediakan enginenya. 

Baca juga: Melek Teknologi, NFT Jadi Metode Lain untuk Populerkan Karya Musisi Tanah Air

“Saat ini kami belum terdampak langsung oleh crypto crash yang terjadi karena belum launch token sendiri. Tapi pasti akan jauh lebih siap jika hal ini kembali terjadi di masa depan,” terangnya. 

“Memang banyak yang harus dibenahi. Tidak lagi sekedar untuk berspekulasi,” jawabnya.

Tuhu menjelaskan bahwa masih ada aspek regulasi, kedaulatan negara, hingga money laundry yang perlu diatasi. 

Baca juga: Masyarakat Shanghai Gunakan NFT Buat Rekam Masa Lockdown Covid-19

Sementara itu, Pandu menjelaskan berubahnya fokus metaverse dari awalnya sebuah gamefi menjadi menghasilkan nilai yang nyata.

“Fokusnya harus di real world event. Mulai dari konser, galeri, hingga museum virtual. Jadi walaupun unsur fun tetap ada, nilai yang diciptakan harus yang memang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lebih bagus lagi jika bisa menarik sponsorship dari dunia nyata. Jika tidak, ujungnya hanya jadi skema ponzi baru,” imbuh dia.

Baca jugaMenuju Go Global, UMKM Sektor Kuliner dan Teknologi Jadi Produk Unggulan 

Exit mobile version