Dunia Fintech

Michael Saylor Borong Bitcoin Lagi, Strategy Kini Kuasai 4,04% Total Pasokan BTC Dunia

Perusahaan investasi asal Amerika Serikat milik Michael Saylor Strategy, kembali memperbesar kepemilikan aset kriptonya. Perusahaan yang dipimpin Executive Chairman Michael Saylor tersebut kini menguasai lebih dari 848 ribu Bitcoin (BTC), atau sekitar 4,04% dari batas maksimum pasokan Bitcoin di seluruh dunia.

Berdasarkan laporan kepada Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat pada Senin, 19 Oktober 2026, Strategy membeli tambahan 267 BTC senilai US$22,1 juta sepanjang periode 12–18 Oktober 2026.

Pembelian dilakukan dengan harga rata-rata sekitar US$82.900 per Bitcoin.

Dengan transaksi tersebut, total cadangan Bitcoin perusahaan meningkat menjadi 848.517 BTC, memperkuat posisinya sebagai perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia.

Langkah terbaru ini memperlihatkan bahwa Strategy masih mempertahankan strategi akumulasi Bitcoin meskipun pasar kripto menghadapi volatilitas dan perusahaan harus mengelola berbagai kewajiban pendanaannya.

Strategy Kini Menguasai 4,04% Pasokan Bitcoin Dunia

Bitcoin memiliki karakteristik yang membedakannya dari sebagian besar aset keuangan tradisional, yaitu jumlah pasokannya dibatasi maksimal 21 juta BTC.

Batas tersebut merupakan bagian dari aturan protokol Bitcoin dan menjadi salah satu alasan aset kripto ini sering dikaitkan dengan konsep kelangkaan digital.

Dengan total kepemilikan 848.517 BTC, Strategy menguasai sekitar 4,04% dari seluruh Bitcoin yang secara maksimal dapat diterbitkan.

Artinya, jika dibandingkan dengan batas pasokan 21 juta BTC, perusahaan tersebut memiliki setara lebih dari empat BTC untuk setiap 100 BTC dalam total pasokan maksimum.

Namun, persentase tersebut tidak berarti Strategy menguasai 4,04% dari seluruh Bitcoin yang saat ini aktif diperdagangkan.

Sebagian Bitcoin belum ditambang, sementara sejumlah BTC lainnya diperkirakan tidak lagi dapat diakses karena kehilangan kunci pribadi.

Meski demikian, besarnya kepemilikan Strategy memperlihatkan tingkat konsentrasi Bitcoin yang cukup signifikan pada satu perusahaan publik.

harga bitcoin michael saylor 2

Total Investasi Bitcoin Strategy Mencapai US$64 Miliar

Akumulasi Bitcoin yang dilakukan Strategy telah berlangsung selama beberapa tahun.

Perusahaan kini mencatat total biaya perolehan Bitcoin sekitar US$64 miliar.

Sementara itu, rata-rata harga pembelian seluruh BTC yang dimiliki perusahaan berada pada level US$75.446 per koin.

Angka tersebut penting karena menjadi salah satu indikator untuk mengukur posisi keuntungan atau kerugian investasi perusahaan.

Jika harga pasar Bitcoin berada di atas rata-rata biaya pembelian, nilai pasar kepemilikan perusahaan secara agregat akan lebih tinggi daripada biaya perolehannya.

Sebaliknya, apabila Bitcoin diperdagangkan di bawah harga rata-rata tersebut, Strategy berpotensi mencatat kerugian nilai yang belum direalisasikan.

Namun, nilai pasar Bitcoin dapat berubah setiap saat, sehingga keuntungan atau kerugian perusahaan juga dapat berfluktuasi mengikuti pergerakan harga BTC.

Besarnya investasi tersebut memperlihatkan bahwa Bitcoin telah menjadi aset utama dalam strategi keuangan Strategy, bukan sekadar investasi tambahan.

Michael Saylor Kembali Beri Sinyal Pembelian Bitcoin

Sebelum pembelian terbaru diumumkan, Michael Saylor kembali menarik perhatian komunitas kripto melalui aktivitasnya di media sosial.

Pada Minggu, 18 Oktober 2026, Saylor mengunggah grafik yang memperlihatkan riwayat akumulasi Bitcoin perusahaan.

Unggahan tersebut disertai pesan yang mengisyaratkan adanya ruang untuk menambah kepemilikan aset digital yang identik dengan warna oranye tersebut.

Bagi investor yang mengikuti aktivitas Strategy, unggahan seperti ini bukan sesuatu yang baru.

Saylor beberapa kali memberikan petunjuk mengenai aktivitas perusahaan sebelum laporan pembelian Bitcoin diumumkan.

Namun, unggahan media sosial tetap perlu dibedakan dari konfirmasi transaksi.

Dalam pembelian terbaru ini, realisasi transaksi kemudian dapat diketahui melalui laporan perusahaan kepada regulator pasar modal AS.

Strategy Jauh Ungguli Metaplanet dan Twenty One

Kepemilikan Bitcoin Strategy berada jauh di atas perusahaan publik lainnya yang juga mengadopsi strategi cadangan Bitcoin.

Sebagai perbandingan, berdasarkan data Bitcoin Treasuries yang dikutip dalam laporan Coinvestasi, perusahaan Jepang Metaplanet memiliki sekitar 44.000 BTC.

Sementara itu, Twenty One tercatat menguasai 43.514 BTC.

Jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan cadangan Strategy yang mencapai 848.517 BTC.

Secara perbandingan, kepemilikan Strategy sekitar 19 kali lebih besar daripada Metaplanet.

Perbedaan tersebut menunjukkan besarnya skala akumulasi yang telah dilakukan Strategy dibandingkan perusahaan lain.

Meski demikian, masing-masing perusahaan memiliki strategi pendanaan, struktur modal, dan toleransi risiko yang berbeda.

Besarnya kepemilikan Bitcoin tidak otomatis menunjukkan bahwa suatu perusahaan memiliki kinerja keuangan lebih baik.

Dari Mana Strategy Mendapatkan Dana untuk Membeli Bitcoin?

Salah satu aspek penting dari strategi akumulasi Bitcoin adalah sumber pendanaannya.

Strategy tidak hanya menggunakan kas operasional untuk membeli BTC.

Perusahaan juga memanfaatkan pasar modal dengan menerbitkan dan menjual saham kepada investor.

Dalam transaksi terbaru, Strategy menjual 140.872 saham biasa kelas A dengan kode MSTR.

Penjualan saham tersebut menghasilkan dana sekitar US$22 juta.

Dana tersebut kemudian digunakan untuk membiayai sebagian besar pembelian 267 BTC senilai US$22,1 juta.

Sementara itu, sekitar US$100 ribu sisanya berasal dari kas perusahaan.

Mekanisme tersebut memperlihatkan bagaimana Strategy mengubah dana yang diperoleh melalui pasar saham menjadi kepemilikan Bitcoin.

Mengenal Program At-the-Market Strategy

Penjualan saham yang dilakukan Strategy menggunakan mekanisme at-the-market atau ATM.

Melalui program ini, perusahaan dapat menawarkan saham secara bertahap di pasar sesuai ketentuan yang berlaku.

Mekanisme tersebut memberikan fleksibilitas dalam menghimpun dana tanpa harus melakukan satu penawaran besar sekaligus.

Bagi Strategy, ATM menjadi salah satu instrumen penting untuk membiayai pembelian Bitcoin dan mengelola kebutuhan modal.

Namun, penerbitan saham baru juga memiliki konsekuensi bagi pemegang saham lama.

Apabila jumlah saham beredar bertambah, persentase kepemilikan investor yang tidak membeli saham tambahan dapat terdilusi.

Karena itu, efektivitas strategi ATM perlu dinilai berdasarkan kemampuan perusahaan menggunakan dana yang dihimpun dan dampaknya terhadap nilai per saham.

Strategy Masih Punya Kapasitas Pendanaan US$18,79 Miliar

Hingga 18 Oktober 2026, Strategy masih memiliki kapasitas penjualan saham sekitar US$18,79 miliar melalui program ATM.

Jumlah tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan masih memiliki ruang untuk menghimpun dana melalui mekanisme penjualan saham yang telah disiapkan.

Namun, kapasitas tersebut tidak berarti seluruh dana sudah tersedia dalam bentuk kas.

Strategy tetap harus melakukan penjualan saham untuk memperoleh dana tambahan.

Keberhasilan penghimpunan dana juga bergantung pada kondisi pasar, permintaan investor, harga saham, serta berbagai ketentuan yang berlaku.

Apabila kondisi pasar modal mendukung, kapasitas tersebut dapat memberikan fleksibilitas bagi Strategy untuk menjalankan strategi pembelian Bitcoin berikutnya.

Sebaliknya, apabila harga saham melemah atau permintaan investor menurun, penghimpunan dana dapat menjadi lebih menantang.

Mengapa Strategy Terus Membeli Bitcoin?

Strategi investasi Strategy didasarkan pada pandangan bahwa Bitcoin dapat berfungsi sebagai aset cadangan jangka panjang.

Salah satu karakteristik yang mendukung pandangan tersebut adalah pasokan maksimum Bitcoin yang dibatasi 21 juta BTC.

Berbeda dengan mata uang fiat yang jumlah beredarnya dapat berubah mengikuti kebijakan moneter, penerbitan Bitcoin baru mengikuti mekanisme yang telah ditentukan dalam protokol jaringan.

Strategy memanfaatkan karakteristik tersebut sebagai bagian dari kebijakan pengelolaan aset perusahaan.

Namun, kelangkaan pasokan tidak menjamin kenaikan harga.

Nilai Bitcoin tetap ditentukan oleh keseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar.

Apabila permintaan melemah, harga Bitcoin dapat turun meskipun jumlah pasokannya terbatas.

Karena itu, strategi akumulasi Bitcoin dalam jumlah besar tetap memiliki risiko yang perlu dikelola.

Analis K33 Ingatkan Risiko Keuangan Strategy

Di balik besarnya cadangan Bitcoin, strategi pendanaan perusahaan juga menjadi perhatian analis.

Perusahaan riset K33 memperingatkan bahwa kewajiban pembayaran dividen kepada pemegang saham preferen berpotensi meningkatkan beban keuangan Strategy.

Saham preferen merupakan instrumen ekuitas yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan saham biasa.

Dalam struktur tertentu, pemegang saham preferen memiliki hak atas pembayaran dividen sesuai ketentuan instrumen yang diterbitkan.

Bagi Strategy, kewajiban tersebut perlu dikelola bersamaan dengan kebutuhan operasional, pendanaan, dan strategi investasi Bitcoin.

Apabila beban pembayaran meningkat sementara akses pendanaan melemah, fleksibilitas keuangan perusahaan dapat berkurang.

Namun, peringatan mengenai risiko tersebut bukan berarti Strategy dipastikan akan menjual Bitcoin.

Risiko keuangan perlu dinilai berdasarkan keseluruhan kondisi neraca, ketersediaan likuiditas, serta kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya.

Aturan MSCI Bisa Menjadi Tantangan Baru

Selain persoalan pendanaan, Strategy juga menghadapi ketidakpastian terkait kebijakan penyedia indeks saham global MSCI.

Menurut laporan Coinvestasi, perubahan aturan MSCI berpotensi memengaruhi kelayakan Strategy untuk masuk dalam indeks tertentu.

Keanggotaan indeks saham penting karena sejumlah dana investasi mengikuti komposisi indeks sebagai acuan portofolio.

Apabila sebuah perusahaan dikeluarkan dari indeks tertentu, dana yang mengikuti indeks tersebut mungkin perlu menyesuaikan kepemilikannya.

Penyesuaian tersebut dapat memengaruhi permintaan terhadap saham perusahaan.

Namun, dampaknya akan bergantung pada aturan final, indeks yang terdampak, serta besarnya dana yang mengikuti indeks tersebut.

Karena itu, risiko perubahan keanggotaan indeks perlu dipandang sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi akses perusahaan terhadap pasar modal.

Apakah Strategy Menguasai Harga Bitcoin?

Kepemilikan lebih dari 848 ribu BTC menempatkan Strategy sebagai salah satu pemegang Bitcoin paling signifikan di dunia.

Namun, besarnya cadangan tersebut tidak berarti perusahaan dapat menentukan harga Bitcoin secara sepihak.

Harga BTC terbentuk melalui aktivitas pembelian dan penjualan di berbagai bursa global.

Selain Strategy, terdapat banyak kelompok pelaku pasar lain, termasuk investor individu, perusahaan, pengelola ETF, penambang, dan investor institusional.

Meski demikian, keputusan perusahaan besar dapat memengaruhi sentimen pasar.

Pembelian Bitcoin oleh Strategy dapat dipandang sebagai indikasi permintaan korporasi yang berkelanjutan.

Sebaliknya, apabila perusahaan melakukan penjualan dalam jumlah besar, pasar dapat memperhatikan potensi dampaknya terhadap likuiditas dan psikologi investor.

Karena itu, perkembangan cadangan Bitcoin Strategy menjadi salah satu indikator yang banyak dipantau pelaku pasar.

Apa Dampaknya bagi Investor Bitcoin?

Akumulasi Bitcoin oleh Strategy dapat memberikan gambaran mengenai minat perusahaan publik terhadap aset digital.

Namun, investor perlu membedakan antara strategi keuangan perusahaan dan keputusan investasi pribadi.

Strategy memiliki akses terhadap berbagai instrumen pendanaan, termasuk penerbitan saham, yang tidak selalu tersedia bagi investor individu.

Selain itu, perusahaan memiliki struktur pengelolaan risiko dan kewajiban keuangan yang berbeda.

Bagi investor ritel, mengikuti aktivitas pembelian perusahaan besar tanpa mempertimbangkan harga masuk dan toleransi risiko dapat menimbulkan kerugian.

Investor sebaiknya tetap memperhatikan kondisi pasar, tujuan investasi, likuiditas pribadi, serta risiko volatilitas Bitcoin.

Apakah Akumulasi Strategy Bisa Membuat Bitcoin Naik?

Pembelian Bitcoin secara berkelanjutan oleh perusahaan besar dapat menjadi salah satu sumber permintaan pasar.

Ketika BTC dibeli untuk disimpan dalam jangka panjang, jumlah aset yang tersedia untuk diperdagangkan dapat berkurang apabila pemegangnya tidak menjual kembali.

Dalam kondisi permintaan meningkat, berkurangnya pasokan yang siap dijual dapat memberikan dukungan terhadap harga.

Namun, hubungan tersebut tidak bersifat otomatis.

Harga Bitcoin tetap dapat turun apabila tekanan jual dari pelaku pasar lain lebih besar daripada permintaan baru.

Selain itu, kondisi makroekonomi, kebijakan suku bunga, dan perubahan selera risiko global juga dapat memengaruhi pergerakan BTC.

Karena itu, pembelian Strategy lebih tepat dipandang sebagai salah satu faktor fundamental pasar, bukan jaminan bahwa harga Bitcoin akan terus naik.

Kesimpulan

Strategy kembali menambah cadangan Bitcoin dengan membeli 267 BTC senilai US$22,1 juta pada periode 12–18 Oktober 2026.

Transaksi tersebut meningkatkan total kepemilikan perusahaan menjadi 848.517 BTC, setara sekitar 4,04% dari batas maksimum pasokan Bitcoin sebesar 21 juta BTC.

Total biaya akumulasi Strategy kini mencapai sekitar US$64 miliar, dengan harga pembelian rata-rata US$75.446 per BTC.

Pembelian terbaru dibiayai terutama melalui penjualan 140.872 saham MSTR senilai sekitar US$22 juta, sementara sisanya menggunakan kas perusahaan.

Strategy juga masih memiliki kapasitas penjualan saham sekitar US$18,79 miliar melalui program ATM.

Meski demikian, strategi tersebut menghadapi tantangan berupa kewajiban pembayaran dividen saham preferen dan potensi perubahan aturan indeks MSCI.

Bagi pasar kripto, langkah Strategy menunjukkan bahwa Bitcoin tetap menjadi bagian penting dari strategi keuangan sejumlah perusahaan publik.

Namun, kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar tidak menjamin keuntungan maupun kenaikan harga BTC secara berkelanjutan.

Ke depan, investor perlu memperhatikan bukan hanya jumlah Bitcoin yang dibeli Strategy, tetapi juga kondisi keuangan perusahaan, akses pendanaan, serta perkembangan pasar kripto secara keseluruhan.

Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi. Aset kripto memiliki risiko volatilitas tinggi, sementara strategi pembelian Bitcoin menggunakan pendanaan pasar modal memiliki risiko tersendiri.

CEK SELENGKAPNYA ARTIKEL BERITA KRIPTO TERBARU DI SINI >>

Exit mobile version