26.2 C
Jakarta
Sabtu, 2 Maret, 2024

Penuh Tantangan! Begini Pandangan Pemerintah Terkait Ekonomi RI 5 Tahun ke Depan

JAKARTA, duniafintech.com – Ekonomi RI 5 tahun ke depan dinilai akan dipenuhi tantangan besar. Demikian terungkap saat Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025—2029.

RPJMN 2025—2029 tersebut berisi target makroekonomi beserta risiko dan tantangan ekonomi ke depannya. Dari rancangan ini, ekonomi RI 5 tahun ke depan tampaknya akan menghadapi tantangan besar, baik terkait iklim, maupun pertumbuhan produktivitas masyarakat.

Menurut Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik Bappenas, Eka Chandra Buana, dari sisi risiko ekonomi global dalam lima tahun mendatang yang telah dipetakan Bappenas, setidaknya ada sembilan risiko global yang berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi, termasuk di domestik.

Di antaranya dari yang risiko tinggi sampai terendah, yaitu risiko kegagalan climate action, cuaca ekstrem seiring perubahan iklim, deglobalisasi, krisis lapangan kerja, krisis utang, konfrontasi geoekonomi, risiko kegagalan cybersecurity, biodiversity loss, hingga asset bubble burst atau peningkatan harga aset secara cepat.

Baca juga: Penting! Inilah 5 Tantangan Ekonomi Indonesia Tahun 2024

“Kami melihat ada terkait kegagalan climate action, cuaca ekstrem, adanya krisis lapangan pekerjaan, pangan dan sebagainya,” kata Chandra dalam agenda Konsultasi Publik 2023 dalam Rangka Penyusunan RPJMN 2025—2029 dan RKP 2025, dikutip dari CNBCIndonesia.com, Selasa (2/1/2024).

Diungkapkannya, ada berbagai isu jangka menengah yang harus diantisipasi pemerintah mendatang, mulai dari dampak hilirisasi yang mulai terasa bagi perekonomian, serta aging population atau menuanya populasi di negara-negara maju hingga usia produktif di negara maju turun.

Lantas, ia mengatakan bahwa terkait dengan penerapan standar keberlanjutan atau sustainability yang tinggi di level global, produk Indonesia harus mulai berorientasi ramah lingkungan supaya bisa bersaing di tingkat global, serta tantangan transisi energi.

“Tantangan transisi energi kita melihat bahwa ini cukup berat karena kalau kita lihat net zero emission 2060 sementara 70% listrik kita dari batu bara dan satu lagi terkait over supply di wilayah Jawa,” jelasnya.

Terkait ekonomi RI 5 tahun ke depan, hal yang tidak kalah penting adalah isu pembangunan jangka panjang. Hal itu terkait dengan masalah dari produktivitas ekonomi domestik. 

Isu tersebut tercermin dari total factor productivity (TFP) Indonesia yang tertinggal jauh dari negara Asia lainnya, dan trennya terus menurun sejak 1998 ke arah 0,30.

Padahal, negara Asia lain seperti China, India, baru merosot ke level 1,30 pada 2018, bersamaan dengan Jepang, dan Thailand. Sementara itu, Vietnam, Turki, dan Korea Selatan masih konsisten naik TFP hingga 2020 ke arah 1,30.

Terus merosotnya TFP Indonesia menurut Bappenas disebabkan berbagai hal, seperti porsi anggaran riset dan pengembangan atau R&D Indonesia hanya 0,24% per PDB, sedangkan negara maju sampai 4%. 

Indonesia juga masih di peringkat 61 dalam Global Innovation Index 2023 di bawah Thailand peringkat 43, Vietnam 46, dan Malaysia 36, serta jumlah paten yang hanya 84.540 pada 2022 jauh di bawah China 4,21 juta.

“Kalau kami lihat TFP dibanding negara kawasan terendah ini salah satu PR kami, apalagi kalau kami lihat pertumbuhannya dibanding 1998 masih negatif,” paparnya.

Dengan berbagai permasalahan yang dihadapi itu, maka RPJMN 2024—2029 menurutnya menjadi penting untuk membangun fondasi transformasi di Indonesia. 

Baca juga: Ramalan Ekonomi Indonesia Akhir Tahun 2023, Simak Bocoran dari Orang Dalam!

Karena itu, kerangka ekonomi makro yang didesain untuk mengakomodir permasalahan itu, seperti pertumbuhan ekonomi yang ditarget sekitar 5,6%—6,1%.

“Kami susun growth-nya 5,6—6,1%, ini kita sudah perhitungkan bagaimana meningkatkan produktivitas kita. Dalam growth model kita targetkan 5 tahun ke depan 50% peningkatan produktivitas di dalamnya ada capital dan labor di situ,” ulasnya.

Demi mencapai target itu, ia mengatakan bahwa kunci yang telah didesain Bappenas ialah investasi langsung atau foreign direct investment yang masuk ke Indonesia harus berorientasi ekspor, skema insentif yang tepat, belanja R&D yang meningkat, belanja SDM meningkat, serta iklim usaha yang kondusif dengan transformasi tata kelola, kelembagaan, dan regulasi.

Lewat strategi tersebut, ia menilai pertumbuhan dari sisi lapangan usaha akan didominasi oleh perbaikan di sektor pertanian dengan modernisasi pertanian yang pertumbuhannya 3,5—4%. 

Kemudian, hilirisasi di sektor manufaktur dengan pertumbuhan 5,8—7,5%, dan akomodasi, makanan, serta minuman tumbuh 6,9—7,5%. Dari sisi sumber pertumbuhan pengeluaran, targetnya untuk konsumsi rumah tangga masih tumbuh 5,4—5,6% pada 2024—2029, lalu konsumsi pemerintah 5—5,7%, ekspor 7,2—7,9%, dan investasi 7,2—7,9%.

“Tidak bisa dimungkiri konsumsi kami 58% masih jadi tetap penopang utama pertumbuhan, tapi kami juga harus tetap meningkatkan investasi,” ujarnya.

Dengan laju pertumbuhan ekonomi RI 5 tahun ke depan tersebut, Bappenas pun menargetkan rasio pajak terhadap PDB akan naik menjadi 14% dari yang saat ini di level kisaran 10%. Lalu nilai ICOR turun menjadi 5% dari di atas 6% saat ini.

Baca juga: Hingga 2030, Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Ternyata Bukan 7%, Segini Angkanya

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Iklan

ARTIKEL TERBARU

LANGUAGE