Dunia Fintech

Perusahaan Startup Gulung Tikar Makin Ramai, Kenapa?

JAKARTA, duniafintech.com – Perusahaan startup gulung tikar, kenapa? Merintis sebuah perusahaan startup mungkin sudah menjadi impian bagi banyak pebisnis muda. Terlebih mengingat potensi kesuksesan startup hingga menjadi unicorn dan decacorn.

Perjalanan bisnis sejumlah startup atau perusahaan rintisan bisa dibilang berliku-liku. Ada yang beruntung karena mampu eksis dan mengembangkan bisnis, namun sebagian perusahaan startup justru harus menghentikan operasionalnya, alias gulung tikar.

Kehabisan dana merupakan salah satu alasan utama perusahaan startup gulung tikar. Meskipun sebelumnya perusahaan rintisan ini memperoleh pendanaan dalam jumlah cukup besar, tidak lantas membuat mereka bisa tetap berkibar di dunia bisnis.

Baca juga: Dari Berbagai Bidang, Inilah Daftar Perusahaan Startup di Indonesia

Perusahaan Startup yang Sempat Jaya namun Terpaksa Gulung Tikar

MPL

Perusahaan startup asal India yang fokus pada game mobile dan e-sport, Mobile Premier League (MPL), mengumumkan penutupan kantornya di Indonesia alias gulung tikar 30 Mei 2022.

Sebelumnya, perusahaan Negeri Bollywood ini juga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada sebagian karyawannya.

Hal yang menyebabkan MPL harus gulung tikar dari Indonesia adalah karena tingkat return di Indonesia yang lebih rendah dibandingkan dengan di India dan Amerika Serikat.

MPL adalah startup yang sudah memiliki status unicorn, dengan nilai valuasi mencapai USD2,3 miliar. Berdiri pada tahun 2018, pengguna aplikasi MPL di Android dan iOS telah mencapai jumlah sekitar 90 juta pengguna.

Selain dari India, mayoritas pengguna berasal dari Indonesia, Eropa, dan Amerika Serikat.

Baca juga: Menteri BUMN Tugaskan Perusahaan BUMN Jadi Ekosistem Digital Startup

Airy

Airy resmi mengumumkan untuk memberhentikan layanannya secara permanen Mei 2022. Perusahaan startup ini fokus pada bidang pelayanan perhotelan dan tiket pesawat terbang. Airy mengungkapkan alasan utama memutuskan untuk tutup adalah karena perusahaan terkena imbas dari corona.

Memang terbukti industri pariwisata melemah karena adanya pembatasan masyarakat untuk beraktivitas di luar, kala Covid-19 menyebar. Hal ini mengakibatkan Airy tidak bisa menanggung kerugian yang dialami selama pandemi Covid-19 ini berlangsung. Hingga akhirnya, Airy memutuskan untuk berhenti secara permanen.

Perusahaan yang merupakan mitra bisnis startup pariwisata Traveloka ini sudah berdiri sejak tahun 2015. Selama beroperasi, Airy telah memiliki jaringan sebesar 2.000 serta total kapasitas kamar lebih dari 30.000 kamar.

perusahaan startup gulung tikar

OneWeb

Bukan hanya Airy yang terdampak kerasnya hantaman pandemi Covid-19. OneWeb juga ikut tumbang. Perusahaan startup yang menjadi salah satu ahli dalam layanan provider internet satelit, terpaksa gulung tikar pada Maret 2020, dengan alasan tak bisa bertahan di tengah badai corona.

Padahal beberapa lama sebelum gulung tikar, perusahaan startup ini sempat mendapat suntikan Rp54 triliun. Bantuan tersebut didapat dari berbagai investor besar, seperti SoftBank, Airbus SE, Qualcomm Inc.

Pada Desember 2020, OneWeb mampu bangkit setelah keluar dari status perlindungan kebangkrutan. Perusahaan ini bahkan kembali meluncurkan satelit internet ke luar angkasa. Setelah melakukan restrukturisasi, OneWeb dimiliki oleh konsorsium yang terdiri dari pemerintah Inggris dan Bharti Global yang menggelontorkan dana USD1 miliar.

NiceTuan

Perusahaan startup yang bergerak di bidang e-commerce ini terpaksa gulung tikar kendati sudah menerima kucuran biaya besar dari berbagai inverstor terkenal.

Tak tanggung-tanggung, Nice Tuan menerima dana sekitar USD1,2 miliar dari DST Global, Alibaba Group dan GGV Capital.

Berbeda dari dua perusahaan rintis sebelumnya, NiceTuan bukan gulung tikar karena tercekik biaya saat pandemi corona berlangsung. NiceTuan mulai mengakhiri runway ketika berkembang di kota-kota kecil di China.

Untuk menarik pelanggan, Nice Tuan menjual barang dengan harga di bawah biaya sehingga terjadi kenaikan biaya kelola perusahaan secara tidak proporsional. Bahkan untuk memenuhi target penjualan, pembeli palsu juga mulai bermunculan dan membuat regulator khawatir.

Tidak hanya itu, NiceTuan semakin terpuruk karena didenda pada bulan Maret sebesar 1,5 juta yuan atau sekitar Rp3,2 miliar atas penipuan dan pembuangan. Dua bulan setelahnya yaitu pada bulan Mei, Nice Tuan kembali didenda karena iklan yang menyesatkan.

Jawbone

Jawbone sebagai perusahaan rintis perangkat keras telah mendapat suntikan dana sebesar USD929,9 juta dari investor seperti Khosla Ventures, Sequoia Capital, hingga Kleiner Perkins Caufield & Byers. Sayangnya, Jawbone gulung tikar dan menjual asetnya pada tahun 2017.

Alasan utama perusahaan startup ini gulung tikar adalah kegagalan mempertahankan pangsa pasar yang signifikan untuk lini pasar headset, speaker nirkabel dan pelacak kebugaran.

KupiVIP

KupiVIP merupakan perusahaan rintis ritel online yang bergerak untuk produk busana dan beroperasi di Rusia. Usut punya usut, KupiVIP terpaksa memberhentikan layanannya secara permanen karena tidak mampu bersaing dengan generasi baru ritel online raksasa di Rusia.

Selain itu, dibutuhkan biaya yang besar untuk memasarkan KupiVIP mengingat ukuran pasar Rusia yang luas. Selain itu, tidak semua pemain lokal mampu atau mau berinvestasi di perusahaan yang membuat perusahaan jatuh bangkrut.

Daftar di atas tadi merupakan beberapa perusahaan startup yang akhirnya harus gulung tikar di Indonesia. Semoga saja tidak berlanjut di kemudian hari terhadap perusahaan startup lainnya ya.

Baca juga: Perusahaan Startup Gulung Tikar Buntut PHK Massal Shopee?

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

Exit mobile version