Dunia Fintech

Strategy Beli Lagi Bitcoin Rp 26,63 Triliun, Kepemilikan Tembus 761.000 BTC

Perusahaan teknologi dan investasi aset digital Strategy kembali melakukan aksi besar dengan membeli Bitcoin senilai US$1,57 miliar atau sekitar Rp 26,63 triliun.

Pembelian ini menjadi salah satu aksi terbesar perusahaan sepanjang tahun 2026, dengan total akumulasi mencapai 22.337 BTC dalam satu pekan. Langkah ini mempertegas strategi agresif perusahaan dalam menjadikan raja kripto BTC sebagai aset utama cadangan mereka.

bitcoin strategy

Strategy Kumpulkan Dana dari Saham Preferen

Untuk mendanai pembelian tersebut, Strategy memanfaatkan pasar modal, khususnya melalui penerbitan saham preferen STRC.

Dalam sepekan terakhir, perusahaan berhasil menghimpun hampir US$1,2 miliar dari produk investasi tersebut—melonjak tajam dibandingkan pekan sebelumnya yang hanya mencatat sekitar US$377 juta.

Produk STRC sendiri menawarkan imbal hasil sekitar 11,5%, dengan pembayaran dividen bulanan kepada investor. Skema ini menjadi sumber pendanaan alternatif selain penerbitan saham biasa.

Kepemilikan Bitcoin Strategy Capai 761.000 BTC

Dengan pembelian terbaru, total kepemilikan Bitcoin Strategy kini mencapai sekitar 761.000 BTC.

Dengan asumsi harga Bitcoin di kisaran US$73.340, nilai total aset kripto perusahaan tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$55,8 miliar atau setara Rp 946 triliun.

Meski harga Bitcoin sempat mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir, posisi Strategy kini mulai membaik seiring harga BTC mendekati rata-rata harga beli perusahaan di sekitar US$76.700.

Kerugian yang sebelumnya cukup besar kini menyusut menjadi sekitar US$1,7 miliar, menunjukkan pemulihan bertahap dari posisi sebelumnya.

Saham Strategy Ikut Menguat

Aksi pembelian besar ini juga berdampak pada pergerakan saham perusahaan.

Harga saham Strategy sempat menyentuh level tertinggi dalam 45 hari di kisaran US$148, sebelum diperdagangkan di sekitar US$145,40, naik sekitar 4% dalam satu hari.

Namun secara jangka menengah, saham perusahaan masih mengalami tekanan, dengan penurunan lebih dari 56% dalam enam bulan terakhir.

STRC Jadi Sumber Pendanaan Utama

Sejak diluncurkan pada Juli, STRC telah menjadi instrumen penting bagi Strategy dalam mengumpulkan dana.

Saat ini, kapitalisasi pasar produk tersebut telah mencapai sekitar US$5 miliar, meningkat sekitar 30% dalam satu bulan terakhir.

Salah satu tokoh kunci di balik strategi ini, Michael Saylor, bahkan menyebut STRC sebagai “momen iPhone” bagi perusahaan—menggambarkan pentingnya inovasi ini dalam strategi bisnis mereka.

Beban Dividen dan Risiko Keuangan

Di balik ekspansi agresif ini, terdapat konsekuensi finansial yang cukup besar.

Dengan penerbitan STRC terbaru, beban dividen Strategy kini mencapai lebih dari US$1 miliar per bulan. Hal ini sempat memicu kekhawatiran investor terkait keberlanjutan model pendanaan tersebut.

Sebagai langkah antisipasi, perusahaan telah memperkuat cadangan kasnya hingga sekitar US$2,25 miliar untuk menjaga likuiditas.

Meski demikian, data dari pasar prediksi menunjukkan peluang Strategy menjual Bitcoin pada tahun ini hanya sekitar 17%, turun dari 27% pada bulan sebelumnya. Ini menandakan kepercayaan pasar terhadap komitmen jangka panjang perusahaan masih cukup tinggi.

Strategy Catat Pembelian ke-100 di 2026

Sebelumnya, Strategy juga sempat mencatat pembelian Bitcoin yang lebih kecil pada Februari 2026, dengan akuisisi sekitar 591 BTC senilai US$40 juta.

Langkah tersebut menjadi bagian dari akumulasi berkelanjutan yang kini telah mencapai 100 kali pembelian sejak perusahaan mulai mengadopsi strategi Bitcoin pada 2020.

Secara total, Strategy telah menginvestasikan lebih dari US$54 miliar ke Bitcoin, meskipun sempat menghadapi kerugian belum terealisasi hingga US$6,8 miliar.

Namun dengan rata-rata harga pembelian yang kini turun ke sekitar US$76.020, posisi perusahaan mulai menunjukkan perbaikan seiring pemulihan harga pasar.

Kesimpulan

Langkah Strategy membeli Bitcoin hingga puluhan triliun rupiah kembali menegaskan posisinya sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia.

Pendekatan agresif melalui pendanaan pasar modal, khususnya saham preferen STRC, menunjukkan bagaimana perusahaan memanfaatkan berbagai instrumen keuangan untuk memperbesar eksposur terhadap aset kripto.

Meski diiringi risiko, termasuk beban dividen besar dan volatilitas harga Bitcoin, strategi ini tetap mencerminkan keyakinan kuat bahwa Bitcoin akan terus menjadi aset penting dalam sistem keuangan global di masa depan.

Exit mobile version