Dunia Fintech

Strive Borong 6.182 Bitcoin Senilai Rp9 Triliun, Strategy Milik Michael Saylor Justru Fokus Buyback Saham

Persaingan perusahaan publik dalam mengakumulasi Bitcoin (BTC) semakin menarik perhatian pasar. Strive, perusahaan pengelola aset yang dipimpin Matt Cole, kembali melakukan pembelian besar dengan menambah 6.182 BTC senilai US$511,4 juta, sementara Strategy memilih menghentikan sementara pembelian Bitcoin dan mengalokasikan dana untuk membeli kembali saham preferennya.

Pembelian Strive berlangsung pada 17–23 Oktober 2026 dengan harga rata-rata sekitar US$82.732 per Bitcoin, termasuk biaya dan pengeluaran terkait transaksi.

Dengan menggunakan ilustrasi kurs Rp17.600 per dolar AS, nilai pembelian tersebut setara sekitar Rp9 triliun.

Transaksi ini meningkatkan total kepemilikan Bitcoin Strive menjadi 43.000 BTC, memperkuat posisinya sebagai salah satu perusahaan publik dengan cadangan Bitcoin terbesar di dunia.

Di sisi lain, Strategy, perusahaan yang dipimpin Executive Chairman Michael Saylor, tidak mencatat pembelian BTC baru selama 19–25 Oktober 2026.

Perusahaan justru mengalokasikan US$204,9 juta untuk membeli kembali saham preferen STRC sebagai bagian dari pengelolaan struktur permodalannya.

Perbedaan keputusan kedua perusahaan tersebut menunjukkan bahwa strategi treasury Bitcoin tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak aset yang dibeli, tetapi juga bagaimana perusahaan memperoleh, mengalokasikan, dan mengelola modal.

cara sukses investasi Bitcoin

Strive Beli 6.182 Bitcoin Senilai US$511,4 Juta

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat, Strive mengakuisisi 6.182 BTC selama periode 17–23 Oktober 2026.

Nilai transaksi mencapai sekitar US$511,4 juta dengan harga pembelian rata-rata US$82.732 per koin.

Pembelian tersebut merupakan salah satu transaksi akumulasi Bitcoin terbesar yang dilakukan perusahaan dalam beberapa pekan terakhir.

Sebelum transaksi terbaru, Strive memiliki sekitar 36.818 BTC.

Setelah pembelian, total cadangan perusahaan meningkat menjadi 43.000 BTC.

Dengan demikian, jumlah Bitcoin yang dimiliki Strive bertambah sekitar 16,8% hanya dalam satu periode pembelian.

Kenaikan tersebut memperlihatkan pendekatan agresif perusahaan dalam memperbesar eksposur terhadap Bitcoin sebagai aset treasury.

Total Kepemilikan Strive Tembus 43.000 BTC

Dengan cadangan 43.000 BTC, Strive semakin mendekati perusahaan-perusahaan publik lain yang memiliki kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar.

Sebagai perbandingan, perusahaan Jepang Metaplanet dilaporkan memiliki sekitar 44.000 BTC.

Artinya, Strive hanya membutuhkan tambahan sekitar 1.000 BTC untuk menyamai jumlah kepemilikan Metaplanet, apabila cadangan kedua perusahaan tidak berubah.

Sementara itu, Twenty One Capital dilaporkan memiliki sekitar 43.514 BTC.

Dengan demikian, selisih kepemilikan Strive terhadap Twenty One Capital hanya sekitar 514 BTC.

Perbedaan yang semakin kecil tersebut memperlihatkan meningkatnya persaingan dalam kelompok perusahaan publik pemegang Bitcoin terbesar.

Namun, peringkat perusahaan dapat berubah seiring pembelian, penjualan, atau pembaruan keterbukaan informasi masing-masing emiten.

Strive Siapkan Program Pendanaan US$1 Miliar

Untuk mendukung strategi pertumbuhan, Strive juga mengumumkan program penerbitan saham preferen SATS dengan nilai penjualan potensial hingga US$1 miliar.

Program tersebut menggunakan mekanisme at-the-market atau ATM, yang memungkinkan perusahaan menjual efek secara bertahap melalui pasar sesuai ketentuan yang berlaku.

Strive bekerja sama dengan sejumlah lembaga keuangan untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, termasuk Cantor Fitzgerald dan Barclays.

Dana yang diperoleh dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan perusahaan.

Salah satu penggunaan yang direncanakan adalah penambahan kepemilikan Bitcoin.

Namun, dana hasil penerbitan juga dapat dialokasikan untuk modal kerja, pembelian kembali saham tertentu, dan pembayaran dividen saham preferen.

Karena itu, nilai program US$1 miliar tidak boleh langsung dianggap sebagai dana yang pasti seluruhnya akan digunakan membeli Bitcoin.

Realisasi penerbitan dan penggunaan dananya akan bergantung pada keputusan manajemen serta kondisi pasar.

Strive Terbitkan Saham Preferen dengan Dividen 15%

Sebelum mengumumkan program pendanaan terbaru, Strive telah menyelesaikan penerbitan saham preferen SATS.

Perusahaan menjual sekitar 7 juta saham preferen dengan harga US$90 per saham.

Transaksi tersebut menghasilkan dana kotor sekitar US$630 juta sebelum memperhitungkan biaya penerbitan.

Instrumen SATS memiliki tingkat dividen tahunan sebesar 15% berdasarkan nilai nominal yang ditentukan.

Struktur pendanaan ini memungkinkan Strive memperoleh modal tanpa sepenuhnya bergantung pada penerbitan saham biasa.

Namun, penerbitan saham preferen juga menghadirkan kewajiban ekonomi bagi perusahaan, terutama berkaitan dengan pembayaran dividen.

Karena itu, pertumbuhan cadangan Bitcoin perlu dinilai bersama biaya pendanaan yang digunakan untuk membiayai akumulasi tersebut.

Jika harga Bitcoin meningkat, perusahaan berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan nilai aset.

Sebaliknya, apabila harga BTC turun tajam, perusahaan tetap perlu mengelola kewajiban pendanaan sesuai ketentuan instrumen yang diterbitkan.

Strategy Tidak Membeli Bitcoin pada 19–25 Oktober

Berbeda dengan Strive, Strategy tidak menambah cadangan Bitcoin selama periode 19–25 Oktober 2026.

Perusahaan juga tidak melakukan penjualan saham baru melalui program ATM dalam periode tersebut.

Akibatnya, total kepemilikan Bitcoin Strategy tetap berada pada 848.517 BTC.

Jumlah tersebut setara sekitar 4,04% dari batas maksimum pasokan Bitcoin sebanyak 21 juta BTC.

Strategy sebelumnya mengakumulasi Bitcoin dengan total biaya pembelian sekitar US$64,02 miliar.

Harga perolehan rata-rata perusahaan tercatat sekitar US$75.446 per BTC.

Keputusan untuk tidak melakukan pembelian baru dalam satu pekan tidak otomatis berarti Strategy telah mengubah pandangan jangka panjangnya terhadap Bitcoin.

Perusahaan masih mempertahankan seluruh cadangan BTC yang dilaporkan.

Namun, keputusan tersebut menunjukkan adanya perubahan prioritas alokasi modal dalam periode tertentu.

Strategy Alokasikan US$204,9 Juta untuk Buyback STRC

Ketika Strive menambah cadangan Bitcoin, Strategy justru memperbesar pembelian kembali saham preferen STRC.

Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan, Strategy membeli kembali sekitar 2,07 juta saham STRC dengan nilai US$204,9 juta selama 19–25 Oktober 2026.

Jumlah tersebut merupakan salah satu aktivitas pembelian kembali terbesar dalam program pengelolaan saham preferen perusahaan.

STRC merupakan instrumen saham preferen yang diterbitkan Strategy sebagai bagian dari struktur pendanaannya.

Pembelian kembali saham preferen dapat mengurangi jumlah saham yang beredar dan memengaruhi kewajiban pembayaran dividen pada masa mendatang.

Namun, manfaat finansial aktualnya bergantung pada harga pembelian, ketentuan dividen, serta kondisi permodalan perusahaan.

Strategi tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan tidak selalu menggunakan seluruh dana yang tersedia untuk membeli Bitcoin.

Sebagian modal juga dapat dialokasikan untuk mengelola instrumen pendanaan yang telah diterbitkan.

Mengapa Strategy Lebih Memilih Buyback daripada Membeli BTC?

Keputusan Strategy membeli kembali STRC dapat dipahami dalam konteks pengelolaan struktur modal.

Sebagai perusahaan dengan kepemilikan Bitcoin sangat besar, Strategy menghadapi kebutuhan untuk menyeimbangkan pertumbuhan aset dan kewajiban pendanaan.

Pembelian kembali saham preferen dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi jumlah instrumen yang beredar.

Langkah tersebut juga dapat membantu perusahaan mengelola biaya modal dan struktur kewajiban dividen.

Namun, tidak dapat dipastikan bahwa seluruh pembelian kembali STRC dilakukan semata-mata untuk menekan beban dividen tanpa penjelasan rinci dari manajemen.

Dalam praktiknya, keputusan buyback dapat mempertimbangkan harga pasar saham preferen, kebutuhan likuiditas, dan peluang penggunaan modal lainnya.

Dengan demikian, keputusan Strategy tidak membeli Bitcoin pada pekan tersebut lebih tepat dilihat sebagai pilihan alokasi modal, bukan bukti bahwa perusahaan kehilangan keyakinan terhadap prospek BTC.

Total Buyback STRC Strategy Lampaui US$2 Miliar

Aktivitas pembelian kembali STRC bukan langkah yang baru dilakukan Strategy.

Berdasarkan laporan CryptoSlate, total nilai buyback STRC yang dilakukan perusahaan sejak Juli 2026 telah melampaui US$2 miliar.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan saham preferen menjadi bagian penting dari aktivitas keuangan Strategy.

Dalam beberapa pekan terakhir, nilai dana yang dialokasikan untuk buyback bahkan lebih besar dibandingkan pembelian Bitcoin.

Kondisi ini memperlihatkan perubahan komposisi penggunaan modal perusahaan.

Namun, investor perlu membedakan antara strategi jangka pendek dan kebijakan treasury jangka panjang.

Strategy masih menjadi perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar, meskipun aktivitas pembelian BTC dapat berubah dari pekan ke pekan.

Perbedaan Strategi Strive dan Strategy

Strive dan Strategy sama-sama memiliki eksposur besar terhadap Bitcoin, tetapi keputusan penggunaan modal terbaru keduanya berbeda.

Strive berfokus memperbesar cadangan BTC melalui pembelian langsung.

Sementara itu, Strategy memilih mempertahankan kepemilikan Bitcoin dan menggunakan dana untuk membeli kembali saham preferen.

Perbedaan tersebut dapat mencerminkan posisi perusahaan dalam tahap perkembangan bisnis yang berbeda.

Strive masih berupaya memperbesar cadangan Bitcoin untuk mendekati kelompok pemegang BTC korporasi terbesar.

Strategy sudah memiliki ratusan ribu Bitcoin sehingga pengelolaan struktur pendanaan menjadi semakin relevan.

Namun, kedua pendekatan memiliki risiko masing-masing.

Akumulasi agresif meningkatkan eksposur terhadap volatilitas harga BTC.

Sementara itu, pengelolaan saham preferen membutuhkan perhitungan mengenai biaya modal, likuiditas, dan kewajiban dividen.

Perusahaan Treasury Bitcoin Semakin Bergantung pada Pasar Modal

Perkembangan Strive dan Strategy memperlihatkan hubungan yang semakin erat antara pasar Bitcoin dan pasar modal.

Perusahaan treasury Bitcoin dapat memperoleh pendanaan melalui penerbitan saham biasa, saham preferen, atau instrumen lainnya.

Dana tersebut kemudian dapat digunakan untuk membeli Bitcoin atau memenuhi kebutuhan keuangan perusahaan.

Model ini memungkinkan perusahaan memperbesar kepemilikan BTC tanpa hanya mengandalkan arus kas operasional.

Namun, strategi tersebut juga memiliki konsekuensi.

Penerbitan saham biasa dapat menyebabkan dilusi kepemilikan pemegang saham lama.

Sementara itu, penerbitan saham preferen dapat menimbulkan kewajiban dividen yang perlu diperhitungkan.

Karena itu, keberhasilan strategi treasury Bitcoin tidak hanya diukur dari jumlah BTC yang dimiliki.

Investor juga perlu memperhatikan jumlah saham beredar, kewajiban pendanaan, dan jumlah Bitcoin yang secara ekonomi terkait dengan setiap saham.

Apakah Akumulasi Strive Bisa Mendorong Harga Bitcoin?

Pembelian 6.182 BTC oleh Strive merupakan transaksi besar yang dapat menjadi perhatian pasar.

Dalam kondisi tertentu, permintaan Bitcoin oleh perusahaan publik dapat memberikan dukungan terhadap pasar spot.

Namun, dampak pembelian tersebut terhadap harga BTC bergantung pada cara transaksi dilaksanakan.

Pembelian dapat dilakukan melalui berbagai mekanisme, termasuk perdagangan langsung atau transaksi dengan penyedia likuiditas.

Karena itu, nilai transaksi yang besar tidak selalu menghasilkan kenaikan harga secara langsung.

Selain itu, pasar Bitcoin dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan global, arus dana ETF, kondisi makroekonomi, serta posisi investor derivatif.

Dengan demikian, pembelian Strive dapat menjadi salah satu indikator permintaan korporasi, tetapi bukan jaminan bahwa harga Bitcoin akan meningkat.

 

Apakah Strategy Berhenti Mengakumulasi Bitcoin?

Keputusan Strategy tidak membeli BTC selama satu pekan perlu dibedakan dari penghentian strategi akumulasi secara permanen.

Perusahaan masih memiliki 848.517 BTC dan tidak melaporkan penjualan Bitcoin dalam periode tersebut.

Strategy juga tetap memiliki akses terhadap sejumlah mekanisme pendanaan yang dapat digunakan sesuai keputusan manajemen.

Karena itu, aktivitas pembelian pada pekan berikutnya akan menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan investor.

Jika perusahaan kembali menerbitkan saham dan menambah cadangan Bitcoin, hal tersebut dapat menunjukkan kelanjutan pola akumulasi sebelumnya.

Sebaliknya, apabila buyback saham preferen terus menjadi prioritas, pasar dapat menilai bahwa perusahaan sedang memberikan perhatian lebih besar terhadap pengelolaan struktur modal.

Namun, kedua aktivitas tersebut tidak selalu saling meniadakan.

Perusahaan dapat membeli Bitcoin sekaligus melakukan buyback saham preferen pada periode yang sama apabila kondisi keuangannya memungkinkan.

Risiko Pendanaan Saham Preferen bagi Perusahaan Bitcoin

Penggunaan saham preferen untuk membiayai pembelian Bitcoin memiliki karakteristik yang berbeda dari pendanaan menggunakan kas internal.

Perusahaan memperoleh modal dari investor, tetapi harus memenuhi ketentuan yang melekat pada instrumen tersebut.

Dalam kasus Strive, saham preferen SATS memiliki tingkat dividen tahunan yang tinggi.

Jika harga Bitcoin meningkat secara signifikan, pertumbuhan nilai cadangan dapat mendukung strategi perusahaan.

Namun, apabila harga Bitcoin mengalami penurunan berkepanjangan, perusahaan dapat menghadapi tekanan terhadap nilai aset sekaligus kebutuhan pembayaran dividen.

Selain itu, kemampuan menerbitkan saham baru bergantung pada permintaan investor dan kondisi pasar modal.

Karena itu, keberlanjutan strategi akumulasi perlu dianalisis melalui kualitas pendanaan, bukan hanya jumlah Bitcoin yang dibeli.

Persaingan Strive dan Metaplanet Semakin Ketat

Setelah mencapai 43.000 BTC, Strive semakin mendekati Metaplanet yang dilaporkan memiliki sekitar 44.000 BTC.

Selisih sekitar 1.000 BTC tersebut relatif kecil dibandingkan pembelian terbaru Strive sebanyak 6.182 BTC.

Jika Strive kembali melakukan pembelian besar sementara Metaplanet tidak menambah cadangannya, posisi kedua perusahaan dapat berubah.

Namun, perkembangan tersebut masih bergantung pada keputusan masing-masing manajemen.

Selain Metaplanet, Strive juga bersaing dengan Twenty One Capital yang memiliki sekitar 43.514 BTC.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan publik semakin aktif menjadikan Bitcoin sebagai bagian dari strategi keuangan.

Meski demikian, jumlah kepemilikan BTC tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya ukuran kualitas investasi pada saham perusahaan terkait.

Investor tetap perlu memperhatikan valuasi, struktur modal, dan risiko bisnis.

Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?

Perkembangan terbaru Strive dan Strategy menghadirkan beberapa faktor penting untuk diperhatikan.

Pertama, realisasi program pendanaan SATS Strive senilai hingga US$1 miliar.

Investor perlu melihat seberapa besar dana yang benar-benar berhasil dihimpun dan bagaimana perusahaan menggunakannya.

Kedua, perubahan jumlah kepemilikan Bitcoin Strive dalam keterbukaan informasi berikutnya.

Ketiga, keputusan Strategy mengenai pembelian BTC dan kelanjutan program buyback STRC.

Keempat, perubahan jumlah saham beredar serta biaya pendanaan masing-masing perusahaan.

Selain itu, harga Bitcoin tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi nilai cadangan aset digital keduanya.

Kesimpulan

Strive kembali melakukan akumulasi besar dengan membeli 6.182 Bitcoin senilai US$511,4 juta pada 17–23 Oktober 2026.

Transaksi tersebut meningkatkan total kepemilikan perusahaan menjadi 43.000 BTC, mendekati Metaplanet dan Twenty One Capital.

Untuk mendukung ekspansi, Strive juga menyiapkan program penerbitan saham preferen SATS hingga US$1 miliar.

Sementara itu, Strategy tidak membeli Bitcoin selama 19–25 Oktober dan mempertahankan cadangan sebesar 848.517 BTC.

Perusahaan justru mengalokasikan US$204,9 juta untuk membeli kembali sekitar 2,07 juta saham preferen STRC.

Perbedaan keputusan tersebut menunjukkan dua pendekatan dalam pengelolaan treasury Bitcoin.

Strive berfokus memperbesar jumlah BTC, sedangkan Strategy pada periode terbaru memprioritaskan pengelolaan struktur modal dan saham preferen.

Ke depan, kemampuan kedua perusahaan mengelola pendanaan, kewajiban dividen, dan volatilitas harga Bitcoin akan menjadi faktor penting dalam menilai keberlanjutan strategi masing-masing.

Kata kunci SEO: Strive beli Bitcoin, Strive 6.182 BTC, Strategy Bitcoin, Michael Saylor, Strive 43.000 Bitcoin, buyback saham Strategy, STRC Strategy, saham preferen SATS, Matt Cole Strive, perusahaan pemegang Bitcoin terbesar, Bitcoin treasury, Metaplanet Bitcoin, harga Bitcoin Oktober 2026, investasi Bitcoin institusional.

Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi. Bitcoin dan saham perusahaan treasury aset digital memiliki risiko volatilitas serta risiko pendanaan yang perlu diperhatikan investor.

CEK SELENGKAPNYA ARTIKEL BERITA KRIPTO TERBARU DI SINI >>

Exit mobile version