Site icon Dunia Fintech

Mengejutkan! Triliunan Uang di Binance Dituding Hasil Jual Narkoba & Senjata

Binance Digugat

JAKARTA, duniafintech.com – Mengejutkan, triliunan uang beredar di platform kripto Binance dalam empat tahun, dituding berasal dari tindak kejahatan. 

Reuters melaporkan ada US$2,35 miliar atau setara Rp 33,9 triliun transaksi yang berasal dari peretasan, penipuan investasi, dan penjualan obat-obatan terlarang dari tahun 2017-2021.

Laporan Reuters ini berasal dari pemeriksaan catatan kejahatan pengadilan, pernyataan penegak hukum dan data blockchain yang disusun oleh dua perusahaan analis blockchain.

Pihak Binance sendiri menolak permintaan Reuters untuk mewawancarai CEO Changpeng Zhao. 

Sementara itu, dalam pernyataan tertulis, Chief Communications Officer Patrick Hillmann mengatakan bahwa pihaknya tak menganggap akurat perhitungan dari Reuters, dikutip pada Selasa (7/6/2022).

Pada Januari lalu, Reuters melaporkan Binance sengaja menerapkan sistem anti-pencucian uang yang lemah pada pengguna hingga pertengahan 2021. 

Ada juga kekhawatiran oleh pegawai senior perusahan, ini telah dimulai setidaknya tiga tahun lalu.

Melansir dari CNBC Indonesia, Rabu (8/6/2022), Reuters menuliskan dana triliunan rupiah itu mewakili sebagian kecil dari keseluruhan volume perdagangan di bursa Binance. 

Baca juga: Harus Lebih Teliti Lagi, Warga AS Kehilangan Rp 14,3 Triliun Gara-gara Penipuan Kripto

Data terperinci soal transaksi Binance pada situs pasar darknet untuk narkotika, senjata dan barang ilegal lain, sebagian besar data berasal dari perusahaan analisis berbasis di Amsterdam, Crystal Blockchain.

Di dalam data tersebut tertulis periode 2017-2022, pembeli dan penjual di Hydra menggunakan Binance untuk menerima pembayaran kripto senilai US$780 juta (Rp 11,2 triliun). Hydra sendiri merupakan pasar di darkweb yang situsnya berbahasa Rusia.

Pada April lalu, Departemen hukum AS dan Jerman telah menyita server Hydra. AS mendakwa para administrator server karena berkonspirasi melakukan pencucian uang dan mendistribusikan obat-obatan terlarang.

Baca jugaDavid Beckham Jajaki NFT dan Metaverse, Kini Sedang Daftarkan Merek Dagang

Selain itu, peneliti Chainalysis dalam laporan 2020 menyatakan Binance menerima uang kriminal sebesar US$220 juta (Rp 3,1 triliun) pada 2019 saja. Ini tercatat lebih banyak dari bursa kripto yang ada.

Untuk laporan Chainalysis itu, Zhao mengomentarinya sebagai ‘etika bisnis yang buruk’ dalam unggahannya di Twitter.

Baca jugaSiapkan 8.888 Avatar, Lesti Kejora dan Rizky Billar Mulai Jual NFT Lewat Leslar Metaverse

Penulis: Kontributor/Panji A Syuhada

Exit mobile version