Dunia Fintech

Uptober 2026 Bitcoin Gagal, Harga BTC Anjlok 7,3% dan Catat Oktober Terburuk Sejak 2014

Uptober 2026 gagal setelah Bitcoin turun 7,3%, terburuk sejak 2014. Peretasan Binance dan arus keluar ETF menekan harga BTC.

Tren kenaikan harga Bitcoin (BTC) yang selama ini identik dengan bulan Oktober atau Uptober gagal terulang pada 2026. Alih-alih mencatatkan penguatan, Bitcoin justru menutup Oktober dengan penurunan sekitar 7,3%, menjadikannya kinerja bulan Oktober terburuk sejak 2014.

Berdasarkan data historis CoinGlass yang dikutip CryptoWave, pelemahan tersebut terjadi ketika pasar kripto menghadapi tekanan besar akibat peretasan Binance senilai US$6,3 miliar pada 29 Oktober 2026.

Insiden keamanan tersebut memperburuk sentimen investor yang sebelumnya telah melemah.

Selain itu, pasar menghadapi gelombang likuidasi perdagangan derivatif dan arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot Amerika Serikat.

Memasuki November, perhatian investor kini tertuju pada kemampuan Bitcoin mempertahankan support US$76.000–US$76.500.

Jika area tersebut gagal bertahan, sejumlah analis melihat kemungkinan BTC kembali menguji level yang lebih rendah.

Harga Bitcoin Turun 7,3% Sepanjang Oktober 2026

Bitcoin mengakhiri Oktober 2026 dengan kinerja negatif setelah mengalami tekanan jual dalam beberapa pekan terakhir.

Berdasarkan data historis yang dikutip CryptoWave, harga BTC turun sekitar 7,3% selama bulan tersebut.

Laporan Investing.com mencatat Bitcoin membuka Oktober di sekitar US$83.554 dan menutup bulan mendekati US$77.558.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin kehilangan hampir US$6.000 per koin sepanjang bulan.

Pelemahan ini menjadi perhatian karena Oktober secara historis sering dikaitkan dengan penguatan harga Bitcoin.

Namun, pergerakan 2026 memperlihatkan bahwa pola musiman tidak selalu dapat digunakan untuk memperkirakan arah pasar.

Kondisi ekonomi global, aktivitas investor institusional, dan peristiwa keamanan dapat memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan kecenderungan historis.

uptober 2026 gagal

Apa Itu Uptober dalam Pasar Bitcoin?

Istilah Uptober berasal dari gabungan kata up dan October.

Istilah tersebut populer di komunitas kripto karena Bitcoin sering mencatatkan kinerja positif pada bulan Oktober.

Berdasarkan rangkuman data historis yang diterbitkan Bitcoin.com News, dari 16 periode Oktober selama 2010–2025, sebanyak 11 periode berakhir dengan kenaikan harga.

Angka tersebut menunjukkan tingkat keberhasilan historis sekitar 69%.

Rata-rata imbal hasil Oktober pada periode tersebut mencapai sekitar 26,1%, sementara median kenaikannya sekitar 12,9%.

Namun, rata-rata historis dapat dipengaruhi oleh kenaikan ekstrem pada tahun tertentu.

Selain itu, data tersebut hanya menggambarkan kinerja masa lalu.

Tidak ada mekanisme pasar yang menjamin Bitcoin harus mengalami kenaikan setiap Oktober.

Oktober 2026 Jadi yang Terburuk dalam 12 Tahun

Penurunan sekitar 7,3% pada Oktober 2026 menjadikannya hasil Oktober terburuk sejak 2014.

Dalam sejarah perdagangan Bitcoin, Oktober 2014 mencatat penurunan yang lebih besar, sekitar 12%–14% berdasarkan seri data yang digunakan.

Kinerja Oktober 2026 juga lebih buruk dibandingkan Oktober 2018, ketika Bitcoin turun sekitar 4,6%.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar pada Oktober tahun ini relatif besar.

Namun, istilah Oktober terburuk sejak 2014 tidak berarti Bitcoin mencatatkan bulan terburuk sepanjang sejarahnya.

Bitcoin pernah mengalami penurunan bulanan yang jauh lebih tajam pada periode lain.

Karena itu, pernyataan tersebut secara khusus merujuk pada perbandingan kinerja bulan Oktober antarperiode.

Bitcoin Catat Dua Oktober Negatif Berturut-turut

Selain menjadi Oktober terburuk sejak 2014, Bitcoin juga mencatatkan dua penurunan pada bulan Oktober secara berturut-turut.

Pada Oktober 2025, Bitcoin dilaporkan melemah sekitar 3,9%.

Sementara itu, Oktober 2026 ditutup dengan penurunan sekitar 7,3%.

Perkembangan ini tergolong jarang terjadi dalam sejarah perdagangan Bitcoin.

Menurut data historis yang dikutip Bitcoin.com News, pola dua Oktober negatif berturut-turut terakhir terjadi pada 2011 dan 2012.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa reputasi Oktober sebagai periode bullish tidak selalu berlaku dalam setiap siklus pasar.

Namun, dua tahun penurunan berturut-turut juga tidak otomatis berarti Bitcoin akan terus melemah pada tahun berikutnya.

Pergerakan harga tetap bergantung pada permintaan, penawaran, dan kondisi pasar yang berkembang.

Peretasan Binance US$6,3 Miliar Perburuk Sentimen

Salah satu peristiwa terbesar yang mengguncang pasar pada akhir Oktober adalah laporan peretasan Binance.

Serangan terhadap infrastruktur penyimpanan aset digital perusahaan pada 29 Oktober 2026 dilaporkan menyebabkan pencurian sekitar US$6,3 miliar.

Nilai tersebut menjadikannya salah satu insiden keamanan terbesar yang pernah dilaporkan di industri aset kripto.

Peristiwa ini meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan bursa dan perlindungan aset pelanggan.

Kepanikan juga dapat memengaruhi perilaku investor yang sebelumnya sudah menghadapi tekanan harga.

Namun, penting untuk membedakan antara peretasan sebagai pemicu sentimen dan penyebab keseluruhan kinerja bulanan Bitcoin.

Harga BTC telah mengalami pelemahan sebelum insiden Binance terjadi.

Karena itu, penurunan sepanjang Oktober tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan peretasan pada akhir bulan.

Bitcoin Sempat Bergerak di US$76.337–US$81.840

Pada pekan terakhir Oktober, Bitcoin mengalami fluktuasi yang cukup besar.

Berdasarkan laporan Bitcoin.com News, BTC diperdagangkan dalam rentang sekitar US$76.337 hingga US$81.840.

Selisih kedua titik harga tersebut mencapai sekitar US$5.503.

Jika dibandingkan dengan harga tertinggi dalam rentang tersebut, perubahan mencapai sekitar 6,7%.

Volatilitas tersebut memperlihatkan meningkatnya ketidakpastian pasar.

Dalam kondisi seperti ini, trader yang menggunakan leverage tinggi menghadapi risiko likuidasi lebih besar.

Namun, pergerakan dalam rentang tersebut tidak berarti seluruh investor mengalami kerugian dengan persentase yang sama.

Hasil investasi bergantung pada harga pembelian, waktu transaksi, dan strategi masing-masing investor.

Likuidasi Pasar Kripto Tembus US$1,5 Miliar

Tekanan pasar juga terlihat pada perdagangan derivatif.

CryptoWave melaporkan bahwa gelombang likuidasi posisi perdagangan mencapai lebih dari US$1,5 miliar dalam sehari setelah peretasan Binance.

Likuidasi terjadi ketika posisi perdagangan menggunakan leverage tidak lagi memiliki jaminan yang cukup untuk mempertahankan posisi.

Dalam kondisi volatilitas tinggi, perubahan harga dapat menyebabkan posisi trader ditutup secara otomatis.

Ketika likuidasi terjadi secara bersamaan, tekanan terhadap pasar dapat meningkat.

Namun, angka likuidasi tersebut tidak boleh disamakan dengan jumlah Bitcoin yang benar-benar dijual oleh investor jangka panjang.

Likuidasi derivatif mencerminkan penutupan posisi perdagangan berdasarkan mekanisme kontrak dan margin.

Karena itu, data tersebut lebih tepat digunakan untuk menilai tekanan leverage dan kondisi pasar jangka pendek.

ETF Bitcoin Spot AS Catat Arus Keluar US$643 Juta

Selain pasar derivatif, ETF Bitcoin spot Amerika Serikat juga mengalami tekanan.

Berdasarkan data yang dikutip CryptoWave, arus keluar bersih ETF Bitcoin mencapai sekitar US$643 juta pada akhir Oktober.

Penarikan dana tersebut memperlihatkan berkurangnya eksposur investor melalui produk ETF.

Arus keluar dapat menjadi indikator melemahnya permintaan melalui saluran investasi institusional.

Namun, tidak semua transaksi ETF dilakukan oleh investor institusi besar.

Investor ritel dan berbagai jenis pengelola dana juga dapat berpartisipasi dalam produk tersebut.

Selain itu, arus keluar ETF tidak selalu disebabkan oleh satu peristiwa.

Keputusan investasi dapat dipengaruhi oleh perubahan harga Bitcoin, kondisi makroekonomi, kebutuhan likuiditas, dan penyesuaian portofolio.

Mengapa Bitcoin Gagal Mengikuti Pola Uptober?

Kegagalan Uptober 2026 memperlihatkan bahwa pola musiman memiliki keterbatasan.

Dalam analisis pasar, musim atau kalender sering digunakan sebagai salah satu referensi untuk memahami kecenderungan historis.

Namun, harga Bitcoin terbentuk dari interaksi permintaan dan penawaran secara berkelanjutan.

Ketika terjadi perubahan besar pada sentimen investor, pola musiman dapat kehilangan relevansinya.

Pada Oktober 2026, pasar menghadapi kombinasi tekanan harga, kekhawatiran keamanan, likuidasi derivatif, dan arus keluar ETF.

Faktor-faktor tersebut memberikan tekanan yang lebih nyata terhadap pasar dibandingkan harapan kenaikan berdasarkan sejarah Oktober.

Karena itu, investor sebaiknya tidak menggunakan istilah Uptober sebagai dasar tunggal untuk membeli Bitcoin.

Bitcoin Hadapi Support US$76.000–US$76.500

Memasuki November, CryptoWave menyoroti area US$76.000 hingga US$76.500 sebagai zona support penting.

Support merupakan area harga ketika permintaan berpotensi meningkat dan membantu menahan penurunan.

Zona tersebut menjadi perhatian karena Bitcoin sempat bergerak mendekati US$76.300 pada akhir Oktober.

Apabila BTC kembali menguji area tersebut, investor akan memperhatikan apakah pembeli mampu mempertahankan harga.

Jika permintaan cukup kuat, Bitcoin berpotensi mengalami pemulihan.

Sebaliknya, apabila tekanan jual terus meningkat dan support ditembus, risiko penurunan lanjutan dapat membesar.

Namun, support bukan batas harga yang pasti bertahan.

Dalam kondisi pasar yang sangat volatil, harga dapat menembus area teknikal dalam waktu singkat.

Risiko Bitcoin Turun ke US$73.000

CryptoWave juga menyoroti kemungkinan Bitcoin bergerak menuju US$73.000 apabila support US$76.000 gagal dipertahankan.

Dari US$76.000 menuju US$73.000, potensi penurunan tambahan mencapai sekitar 3,95%.

Namun, angka US$73.000 merupakan skenario teknikal, bukan kepastian harga berikutnya.

Pergerakan aktual dapat berbeda karena dipengaruhi perubahan permintaan spot, aktivitas derivatif, dan sentimen pasar.

Investor juga perlu memperhatikan apakah penembusan support berlangsung sementara atau berkelanjutan.

Dalam analisis teknikal, penurunan singkat di bawah support yang kemudian diikuti pemulihan dapat memberikan interpretasi berbeda dibandingkan penurunan yang terus berlanjut.

Karena itu, konfirmasi pergerakan harga tetap penting sebelum mengambil kesimpulan.

Apakah November Bisa Menjadi Bulan Pemulihan Bitcoin?

Secara historis, November juga memiliki reputasi sebagai salah satu bulan dengan kinerja positif bagi Bitcoin.

Menurut data yang dirangkum Bitcoin.com News, rata-rata imbal hasil Bitcoin pada November secara historis mencapai sekitar 34,9%.

Namun, angka tersebut sangat dipengaruhi kenaikan ekstrem pada November 2013 yang mencapai sekitar 454%.

Median kenaikan historis November lebih rendah, yakni sekitar 10,3%.

Perbedaan besar antara rata-rata dan median menunjukkan bahwa sejumlah peristiwa ekstrem dapat mengubah gambaran statistik.

Karena itu, rata-rata historis tidak boleh digunakan sebagai target kenaikan harga.

Kinerja November 2026 akan ditentukan oleh kondisi pasar aktual, termasuk pemulihan kepercayaan investor setelah peretasan Binance.

Investor Perlu Perhatikan Pemulihan Binance

Perkembangan penanganan insiden Binance dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pada awal November.

Binance menyatakan akan menanggung kerugian pelanggan dan melakukan pemulihan layanan secara bertahap.

Selain itu, sejumlah aset hasil pencurian dilaporkan telah dibekukan melalui koordinasi dengan mitra.

Namun, pasar masih perlu memperhatikan bagaimana proses pemulihan tersebut berlangsung.

Kejelasan mengenai aset yang berhasil diamankan, layanan penarikan, dan perlindungan pelanggan dapat memengaruhi kepercayaan investor.

Meskipun demikian, pemulihan operasional Binance tidak otomatis menjamin pemulihan harga Bitcoin.

Kondisi pasar global dan permintaan investasi tetap memiliki pengaruh besar.

Tiga Skenario Bitcoin pada November 2026

Skenario bullish: Bitcoin mampu mempertahankan area US$76.000–US$76.500, kemudian mencatatkan pemulihan yang didukung peningkatan permintaan dan membaiknya arus ETF.

Skenario konsolidasi: Bitcoin bergerak dalam rentang harga yang relatif terbatas karena investor menunggu kepastian mengenai kondisi pasar dan perkembangan insiden Binance.

Skenario bearish: Bitcoin menembus support US$76.000 secara berkelanjutan dan membuka risiko pengujian area US$73.000.

Ketiga skenario tersebut merupakan kemungkinan berdasarkan data dan analisis teknikal yang tersedia, bukan proyeksi harga yang pasti terjadi.

Kesimpulan

Bitcoin menutup Oktober 2026 dengan penurunan sekitar 7,3%, menjadikannya kinerja Oktober terburuk sejak 2014.

Hasil tersebut sekaligus menggagalkan harapan kenaikan musiman yang dikenal sebagai Uptober.

Tekanan pasar semakin besar setelah muncul laporan peretasan Binance senilai US$6,3 miliar pada 29 Oktober.

Insiden tersebut terjadi bersamaan dengan likuidasi derivatif lebih dari US$1,5 miliar dan arus keluar ETF Bitcoin spot AS sekitar US$643 juta.

Memasuki November, area US$76.000–US$76.500 menjadi support penting, sementara US$73.000 merupakan salah satu skenario penurunan apabila tekanan jual berlanjut.

Kegagalan Uptober 2026 menunjukkan bahwa pola historis tidak dapat menggantikan analisis kondisi pasar, likuiditas, dan risiko aktual yang dihadapi investor.

CEK SELENGKAPNYA ARTIKEL BERITA KRIPTO TERBARU DI SINI >>

 

Exit mobile version