34 C
Jakarta
Kamis, 22 Februari, 2024

CEO Indodax Ungkap Fenomena Kripto 2022 dan Pandangan untuk Tahun 2023

JAKARTA, duniafintech.com – Chief Executive Officer (CEO) Indodax, Oscar Darmawan, mengungkap fenomena di dunia aset kripto yang terjadi sepanjang tahun 2022 ini.

Bukan itu saja, Oscar pun membagikan pandangan untuk sektor aset digital ini pada tahun 2023 yang akan datang.

Mengutip akun resminya di @oscardarmawan, bos platform jual beli aset kripto ternama di Indonesia ini menyatakan bahwa fenomena yang terjadi sepanjang tahun 2022 cukup memukul pasar kripto.

Baca juga: Tingkatkan Inklusi Keuangan, CEO Indodax Dukung Bank Indonesia Terbitkan Rupiah Digital

” Di sisi lain, peraturan  mengenai kripto dan adopsi blockchain kian masif hingga akhir tahun ini. Seperti NFT, web3, metaverse, gamefi, DeFi, aplikasi smart contract dsb. Hal ini tentu menjadi peluang pada 2023,” tulis Oscar sebagai caption unggahannya itu pada Rabu, 28 Desember 2022.

Ia menambahkan, untuk investasi kripto akan lebih baik jika melakukan DCA pada aset yang dipercaya sehingga saat nanti harganya naik bisa dijual untuk mendapatkan profit.

Dalam postingan gambar bertajuk “2022 Crypto Recap, What’s Next 2023” di akun CEO Indodax itu, tertulis bahwa 2022 menjadi tahun yang sangat berat untuk para investor maupun pelaku industri kripto.

“Sepanjang tahun 2022 Bitcoin mengalami koreksi hingga 62% dan sejak ATH mengalami penurunan hingga 73,11%,” demikian isi postingan gambar berikutnya.

Adapun fenomena yang terjadi selama 2022, masih mengacu pada postingan gambar di akun Oscar Darmawan, dirangkum sebagai berikut.

  1. 2022: Tekanan Makroekonomi Global

Sejak Maret-Desember 2022, The Fed menaikkan suku bunga sebanyak 7 kali dengan total kenaikan 425 bps.

  1. Mei 2022: Jatuhnya Terra Luna dan Terra USD

Saat UST gagal menjaga kestabilannya, token LUNA pun ikut jatuh. Akibatnya marketcap LUNA menguap dari $41 miliar menjadi $500 juta hanya dalam 24 jam.

  1. Juni 2022: Three Arrows Capital

Mengalami krisis likuiditas karena gagal membayar pinjaman senilai lebih dari US$600 juta dari Voyager Digital.

  1. Juli 2022: Kasus Celcius Network

Krisis likuiditas karena memiliki kewajiban utang sebesar US$1,2 miliar dari pengurangan total utang sebesar US$5,5 miliar dengan total aset yang hanya sebesar US$4,3 miliar.

  1. Juli 2022: Voyager Digital

Krisis likuiditas diperkirakan memiliki lebih dari 100.000 kreditur dan berkisar antara $1 miliar dan $10 miliar dengan aset dan kewajiban dengan nilai yang sama.

Baca juga: OJK Awasi Kripto, CEO Indodax Imbau Ciptakan Perlindungan Konsumen Kripto

  1. September 2022: Ethereum Merge

Ethereum berhasil migrasi dari konsensus Proof-of-Work (PoW) ke Proof-of-Stake (PoS).

  1. Oktober 2022: Elon Musk akuisisi Twitter

Mengakibatkan DOGECOIN terbang setelah Elon Musk resmi mengakuisisi Twitter.

  1. November 2022: Kejatuhan FTX

Menggunakan kas perusahaan dan deposit member (FTT) untuk menjalankan operasional perusahaan. Ketika harga FTT ambruk, uang member menguap dan jatuhnya sejumlah perusahaan yang terafiliasi dengan Alameda Research.

Sementara itu, prediksi 2023 dari Oscar Darmawan adalah 2023 menjadi tahun seleksi alam untuk industri kripto.

“Karena belum ada indikasi suku bunga yang melunak, makroekonomi yang belum membaik, tingginya inflasi, hingga risiko resesi,” tulis Oscar.

Di samping itu, sambungnya, efek domino dari sejumlah kejadian sepanjang tahun 2022. Ia menambahkan, momentum akhir tahun 2023 diharapkan menjadi titik balik pasar kripto sebelum terjadinya halving.

“Di samping itu, peraturan baru mengenai kripto di bawah OJK menjadi hal yang patut ditunggu,” tutup Oscar.

Baca juga: Kripto Masuk Pembahasan RUU P2SK, Ini Respon CEO Indodax

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Iklan

ARTIKEL TERBARU

LANGUAGE