32.1 C
Jakarta
Sabtu, 20 Juli, 2024

DISTRIBUSI TEKNOLOGI BISA BANTU SESAMA?

duniafintech.com – Ada banyak cara untuk membantu sesama. Kopernik memiliki yang sedikit berbeda, yakni dengan distribusi teknologi. Hebatnya, cara ini telah mengglobal.

Kopernik menghubungkan teknologi sederhana tepat guna dengan masyarakat di daerah terpencil untuk mengurangi kemiskinan. Sampai saat ini, telah 26 negara terjangkau dengan bantuan melalui Kopernik. Jumlah teknologi yang telah terdidistribusikan adalah 107.643. Lalu, ada 479.556 orang terjangkau.

Baca juga

Para pendiri Kopernik, Toshi Nakamura dan Ewa Wojkowska, menyadari bahwa keberadaan teknologi-teknologi sederhana tersebut belum menjangkau masyarakat terpencil yang sangat membutuhkannya. Mereka ingin menjembatani celah ini. Oleh sebab itu, mereka meninggalkan karier yang sudah dijalani selama bertahun-tahun di PBB untuk kemudian mendirikan Kopernik pada tahun 2010.

Kopernik diambil dari nama Nicolaus Copernicus, tokoh yang berhasil mengubah cara pandang orang terhadap dunia. Seperti Copernicus, Kopernik ingin menjadi katalisator perubahan. Di Indonesia, Kopernik terdaftar sebagai yayasan sosial di Kementerian Hukum dan HAM Indonesia sejak tahun 2012.

Grup Kopernik memiliki empat entitas legal. Tiap entitas berperan dalam mewujudkan misi Kopernik untuk mengurangi kemiskinan melalui distribusi teknologi tepat guna ke masyarakat terpencil.

Kopernik melakukan distribusi teknologi dengan memadukan pendekatan filantropis dan bisnis yang seimbang. Donasi masyarakat digunakan untuk membiayai pengiriman teknologi ke masyarakat terpencil yang harus dibayarkan di muka. Ketika produk sudah terjual, Kopernik melakukan investasi ulang untuk mendistribusikan lebih banyak teknologi.

Teknologi tepat guna yang sederhana dan inovatif ini dapat mengubah kehidupan masyarakat terpencil. Kompor yang ramah lingkungan dan hemat bahan bakar dapat mengurangi polusi udara dalam ruangan serta penggundulan hutan. Sementara itu, lampu tenaga surya bisa menggantikan kebutuhan akan lampu minyak tanah yang kotor dan berbahaya. Teknologi-teknologi tersebut juga memberi dampak positif dalam bidang ekonomi, misalnya menghemat biaya bahan bakar atau menciptakan peluang mendapatkan penghasilan lebih.

Baca juga

Kopernik mengatasi masalah rantai pengadaan dengan melibatkan mitra lokal, secara berkelanjutan mendorong mitra lokal menentukan harga dan mekanisme pembayaran yang mampu dijangkau oleh masyarakat setempat. Caranya dapat berupa:

  • Menjual produk dengan harga dan skema pembayaran yang pantas, sesuai dengan kemampuan masyarakat di wilayah tersebut.
  • Penyewaan produk.
  • Mengembangkan sistem kontrak untuk pembelian.
  • Pada kasus-kasus tertentu, Kopernik juga mendistribusikan teknologi secara gratis, misalnya untuk proyek tanggap darurat dalam situasi bencana atau ketika membantu klinik dan sekolah umum.

Sumber dana Kopernik beragam dan berasal dari:

  • Donasi oleh individu yang langsung diberikan untuk proyek-proyek Kopernik.
  • Dana yang didonasikan oleh mitra pendanaan, seperti perusahaan atau yayasan.
  • Pendapatan dari jasa Last Mile Consulting.
  • Pendapatan dari penjualan teknologi kepada orang-orang yang mendukung Kopernik melalui K-Store online kami (segera) dan Tech Kiosk utama Kopernik di Ubud, Bali.

Baca juga

Melalui program Kopernik Fellows dan kemitraan dengan lembaga-lembaga riset terkemuka (termasuk Columbia University, Massachusetts Institute of Technology, Thunderbird School of Management, Keio University, dan IDE-JETRO), Kopernik telah mengumpulkan dan menganalisa sejumlah besar data proyek yang menunjukkan bahwa teknologi tersebut bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Hasil-hasil spesifik meliputi peningkatan penghasilan, penghematan biaya bahan bakar untuk penerangan dan memasak, penghematan waktu (misalnya untuk mengumpulkan air atau kayu bakar), dan peningkatan taraf kesehatan karena masyarakat tidak perlu lagi terkena paparan asap dari tungku dan lampu minyak tanah yang boros bahan bakar.

Program Kopernik juga mencakup berbagai kampanye yang terbuka umum. Salah satunya adalah Tanggap Darurat Gunung Agung Fase Empat. Proyek ini merupakan upaya bersama untuk menyediakan kebutuhan darurat bagi para pengungsi Gunung Agung. Kebutuhan darurat yang dimaksud adalah menyediakan kebutuhan umum dan masker respirator N95 kepada warga yang terkena dampak aktivitas vulkanik Gunung Agung.

Source: kopernik.info

Written by: Sebastian Atmodjo

1 KOMENTAR

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU