33.8 C
Jakarta
Minggu, 21 Juli, 2024

Duh, Ada 4 Hingga 5 Bank Perkreditan Rakyat yang Tumbang Tiap Tahun!

JAKARTA, duniafintech.com – Sekitar 4 hingga 5 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tumbang atau mengalami likuidasi tiap tahunnya. Di lain sisi, sejauh ini bank-bank berskala besar diketahui masih dalam kondisi yang kuat.

Kondisi itu sebagaimana diungkap oleh Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa.

“Bank besar sih enggak ada ya selama ini, selama Covid, tapi setiap tahun selalu ada BPR-BPR,” ucapnya, dikutip pada Rabu (13/4).

“Jadi, setiap tahun pasti ada BPR-BPR kecil. Jangan bilang bank ya, BPR, saya pernah dimarahin tuh. Mungkin tiap tahun itu 4 sampai 5 atau naik sedikit, itu yang akan terjadi,” imbuh Purbaya.

Adapun pandemi, sambungnya, menjadi salah satu hal yang membuat Bank Perkreditan Rakyat, BPR-BPR bertumbangan. Akan tetapi, itu bukan satu-satunya penyebab. Pasalnya, terdapat faktor lain, misalnya mismanajemen dan lain sebagainya.

“Bukan karena Covid saja, utamanya karena mismanajemen dan fraud,” paparnya.

Meski demikian, kata dia lagi, kondisi yang ada itu tidak lantas berarti membuat perbankan terganggu. Ia menilai, BPR yang mengalami likuidasi adalah bentuk dari kompetisi di sektor perbankan.

“Itu memang laju masuk dan kematian biasa dari suatu sistem perbankan yang kompetitif,” tandasnya.

Digitalisasi layanan

Di luar bertumbangannya sejumlah BPR, sejumlah bank sejenis justru bersiap untuk melakukan ekspansi lebih agresif. Beberapa BPR pun diketahui terus melakukan pengembangan digitalisasi layanan atau upaya transformasi digital.

Misalnya yang dilakukan oleh BPR Supra Artapersada, yang berhasil mencapai target kinerja yang ditetapkan pada tahun lalu kendati masih dihadapkan oleh tantangan pandemi Covid-19.  Kredit bank ini tumbuh 2,56% secara year on year (YoY) menjadi Rp563,9 miliar.

Di lain sisi, labanya tumbuh 25,6% YoY dari Rp7,8 miliar menjadi Rp9,8 miliar. Direktur Utama BPR Supra Artapersada, Andi Gunawan, mengatakan bahwa prospek bisnis pada tahun ini akan lebih baik karena peluang untuk penyaluran kredit lebih besar, mengingat vaksinasi telah berjalan kian baik.

“Kredit tahun ini ditargetkan tumbuh 11%, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 5% dan laba naik 5%,” katanya pada awal Februari lalu.

Namun, ia memandang bahwa persaingan dengan lembaga keuangan juga akan semakin ketat. Oleh sebab itu, pihaknya juga sudah mulai menerapkan digitalisasi lewat layanan mobile banking dan internet banking.

Sementara itu, BPR Hasamitra juga diketahui telah mencatatkan performa positif sepanjang tahun lalu, dengan angka kredit yang tumbuh 6,6% YoY, yaitu dari Rp1,98 triliun menjadi Rp2,1 triliun. Laba BPR ini pun tumbuh 15,8% YoY menjadi Rp54,7 triliun.

Kemudian, juga ada Bank Hijra yang sedang fokus mempersiapkan transformasi digital. Bank yang sebelumnya bernama  BPRS Cempaka Al Amin itu tengah melakukan persiapan pengembangan layanan dan penyempurnaan teknologinya.

 

Penulis: Kontributor/Boy Riza Utama

Editor: Rahmat Fitranto

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU