34.5 C
Jakarta
Sabtu, 1 Oktober, 2022

Geser Pasar Modal, Investor Kripto Indonesia Tembus 15 Juta

JAKARTA, duniafintech.com – Jumlah investor kripto di Indonesia terus meningkat. Bahkan jumlahnya cukup fantastis, melebihi investor pasar modal. 

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengungkapkan jumlah investor pasar kripto lebih banyak dari pasar modal saat ini. Padahal instrumen tersebut terbilang cukup baru di tanah air. 

Baca juga: Simak! Inilah Tips Memilih Exchange Kripto Terbaik di Indonesia

Data per Juni tahun 2022 menunjukkan jumlah investor kripto tembus 15,1 juta, sedangkan di pasar modal cuma 9,1 juta. 

Kedua instrumen investasi tersebut memang meningkat dari tahun ke tahun, tetapi investor kripto tumbuh lebih pesat dalam waktu yang singkat.

“Kripto yang baru muncul mulai di sekitar tahun 2020 tiba-tiba sekarang investornya sudah 15 juta. Ini jauh lebih tinggi (dibandingkan investor pasar modal),” kata Suahasil dalam rapat kerja dengan Badan Legislasi DPR tentang Harmonisasi RUU tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, dikutip dari Detik.com, Jumat (19/8/2022).

Namun, dalam soal nilai transaksi, pasar kripto masih kalah jika dibandingkan di pasar modal. Transaksi di pasar modal masih lebih besar yaitu Rp 3.302 triliun pada 2021, sedangkan transaksi di aset kripto Rp 854 triliun.

Baca juga: Wajib Waspada, Hacker Curi Aset Kripto Rp 28 Triliun Hingga Juli 2022

“Begitu muncul sesuatu yang sifatnya seperti kripto, semua orang menyerbu. Jadi kita punya sektor keuangan yang berpuluh tahun hanya seperti yang tadi, tapi begitu muncul yang seperti kripto semua orang semangat banget ini,” ujar dia. 

Suahasil mengingatkan bahwa kripto adalah aset yang risikonya tinggi. Di sisi lain, masyarakat sudah menganggap kripto merupakan alternatif tempat melakukan investasi selain saham.

Untuk itu, diperlukan perlindungan yang cukup. “Ini harus kami dalami dengan baik bagaimana risiko dan seterusnya karena mungkin Ibu/Bapak ada yang mengikuti kemarin ketika stablecoin Terra (LUNA) itu crash banyak yang terkena imbasnya, padahal itu termasuk yang stablecoin, artinya sesuatu yang sudah diupayakan agar stabil, ada algoritma untuk stabilnya,” terang Suahasil.

Baca juga: Nasib Bursa Kripto Indonesia, Wamendag Beri Bocoran Kapan Dirilis 

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com.

 

Penulis: Kontributor/Panji A Syuhada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Cara Isi Saldo DANA via ATM BCA hingga Internet Banking

JAKARTA, duniafintech.com – Cara isi saldo DANA via ATM BCA ini tentunya penting diketahui oleh para pengguna layanan keuangan tersebut. Seperti diketahui bersama, dompet digital...

Cara Bayar Akulaku via Mandiri Online serta Persyaratannya

JAKARTA, duniafintech.com – Cara bayar Akulaku via Mandiri Online berikut persyaratannya perlu diketahui oleh para pengguna layanan ini. Seperti diketahui pula, hadirnya aplikasi kredit online...

Asuransi Kecelakaan Kerja: Manfaat hingga Rekomendasi Produk

JAKARTA, duniafintech.com – Asuransi kecelakaan kerja adalah bentuk proteksi yang sangat diperlukan oleh seorang pekerja atau karyawan. Asuransi sendiri adalah bentuk perlindungan yang penting bagi...

AIA Call Center, Email, hingga Alamat Kantornya

JAKARTA, duniafintech.com – AIA Call Center adalah salah satu cara termudah untuk bisa menghubungi atau mencari tahu soal beragam layanan AIA. Adapun layanan yang dimaksud...

Menteri Erick Dorong Perempuan dan Generasi Muda Duduki Jabatan Direksi BUMN

JAKARTA, duniafintech.com - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendorong transformasi perusahaan BUMN dengan mendukung keterwakilan perempuan di jajaran direksi dan pemimpin dari generasi...
LANGUAGE