25.8 C
Jakarta
Kamis, 6 Oktober, 2022

Harga BBM Pertalite Akan Naik, Dampaknya Mengerikan!

JAKARTA, duniafintech.com – Harga BBM Pertalite dan solar yang merupakan bahan bakar subsidi pemerintah akan dinaikkan pada minggu depan.

Hal itu dilakukan karena subsidi yang besar mencapai Rp502 triliun tidak bisa lagi menahan harga BBM. Lantas, bagaimana dampaknya dan apakah masyarakat sudah siap dengan kenaikan harga BBM ini?

Baca juga: Luhut: Presiden Akan Umumkan Kenaikan Harga BBM Subsidi

Menanggapi hal itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, meminta pemerintah untuk mencermati dampak kenaikan harga BBM jenis Pertalite bagi masyarakat, utamanya masyarakat miskin.

“Apa kondisi masyarakat miskin saat ini siap hadapi kenaikan harga BBM, setelah inflasi bahan pangan (volatile food) hampir sentuh 11% secara tahunan per Juli 2022?” tanya Bima, dikutip dari Okezone.com, Sabtu (20/8/2022).

Bukan hanya masyarakat miskin, sambungnya, kelas menengah pun akan rentan terdampak kenaikan harga BBM jenis Pertalite dan solar ini.

“Mungkin sebelumnya mereka kuat beli Pertamax, tapi sekarang mereka migrasi ke Pertalite dan kalau harga Pertalite juga ikut naik maka kelas menengah akan korbankan belanja lain,” papar Bhima.

“Yang tadinya bisa belanja baju, mau beli rumah lewat KPR, hingga sisihkan uang untuk memulai usaha baru, akhirnya tergerus untuk beli bensin,” sebutnya lagi.

Bhima menambahkan, dampak lainnya dari penurunan daya beli ini juga imbas kenaikan harga BBM membuat permintaan industri manufaktur bisa terpukul sehingga serapan tenaga kerja bisa terganggu.

“Dan target-target pemulihan ekonomi pemerintah bisa buyar,” jelasnya.

Bhima menerangkan, terkait inflasi jika harga BBM naik, kalau inflasi menembus angka yang terlalu tinggi dan serapan tenaga kerja terganggu maka Indonesia bisa menyusul negara lain yang masuk fase stagflasi.

“Imbasnya bisa 3—5 tahun recovery terganggu akibat daya beli turun tajam,” bebernya.

Baca juga: Soal Harga BBM Subsidi, Jokowi Minta Sri Mulyani Hitung Ulang Beban APBN

Adapun sepanjang Januari ke Juli 2022, serapan subsidi energi baru mencapai Rp88,7 triliun berdasarkan data APBN. Sementara itu, APBN sedang surplus Rp106,1 triliun atau 0,57% dari PDB di periode Juli. Itu artinya, pemerintah pun menikmati kenaikan harga minyak mentah untuk mendorong penerimaan negara.

“Kenapa surplus tadi tidak diprioritaskan untuk tambal subsidi energi? Jangan ada indikasi, pemerintah tidak mau pangkas secara signifikan anggaran yang tidak urgen dan korbankan subsidi energi,” tegasnya.

Lebih jauh, ia pun menyarankan kepada pemerintah untuk melakukan revisi aturan untuk hentikan kebocoran solar subsidi yang dinikmati oleh industri skala besar, pertambangan, dan perkebunan besar. Hal itu sebagai win-win solution.

“Dengan tutup kebocoran solar, bisa hemat pengeluaran subsidi karena 93% konsumsi solar adalah jenis subsidi. Atur dulu kebocoran solar subsidi di truk yang angkut hasil tambang dan sawit, daripada melakukan kenaikan harga dan pembatasan untuk jenis pertalite,” tutupnya.

Di lain sisi, menurut Ekonom Senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah Redjalam, rencana kenaikan BBM ini terlalu berisiko untuk kondisi saat ini karena akan berdampak terhadap lonjakan inflasi.

“Terlalu besar risiko dari kenaikan harga BBM subsidi. Kenaikan bbm subsidi berapa pun besarnya akan memicu lonjakan inflasi,” sebutnya kepada MNC Portal.

Ia memandang, kenaikan inflasi tersebut akan menggerus daya beli masyarakat yang telah mulai membaik dan hal tersebut akan mengganggu proses pemulihan ekonomi Indonesia. Ditambahkannya, kenaikan BBM ini bukan merupakan solusi yang tepat meskipun anggaran subsidi melonjak.

Namun, di sisi lain, pemerintah juga mendapatkan tambahan penerimaan dari kenaikan harga komoditas. Disampaikannya juga, pemerintah hanya perlu membatasi konsumsi BBM bersubsidi dengan memperbaiki mekanisme distribusi agar lebih tepat sasaran.

“Untuk mengurangi beban anggaran subsidi pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM subsidi. Pemerintah bisa membatasi konsumsi BBM subsidi dengan memperbaiki mekanisme distribusinya agar lebih tepat sasaran. Itu alternatif solusinya,” tutupnya.

Baca juga: Menteri Bahlil: Siap-Siap Untuk Kenaikan Harga BBM Subsidi

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Asuransi Online Terbaik – Tips Jaga Diri Kala Pancaroba Datang

JAKARTA, duniafintech.com - Asuransi online terbaik menjadi salah satu solusi memproteksi diri kala musim pancaroba datang kerap membawa penyakit. Perubahan cuaca dan suhu udara di...

Masyarakat Digital Perempuan, Pemuda dan UMKM jadi Fokus Pemerintah

JAKARTA, duniafintech.com - Masyarakat Digital Perempuan, Pemuda dan UMKM, jadi fokus pemerintah untuk memacu peningkatan produktivitasnya. Bank Indonesia menyampaikan dalam acara perhelatan internasional Presidensi G20,...

Kurs Dollar ke Rupiah Hari Ini di BCA dan BRI, Cek di Sini

JAKARTA, duniafintech.com – Dollar ke rupiah hari ini, Rabu (5/10/2022), menurut kurs yang tersedia, menguat pada level Rp 15.248 di perdagangan pasar spot. Adapun rupiah...

Pertumbuhan Investor Pasar Modal Asal Sumatera Utara Meningkat 30,41 Persen

JAKARTA, duniafintech.com - Pertumbuhan investor pasar modal Provinsi Sumatera Utara, menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai  memiliki potensi. Terbukti, investor pasar modal Provinsi Sumatera Utara...

Berita Bitcoin Hari Ini: Wuih, Bitcoin Kembali ke US$20.000!

JAKARTA, duniafintech.com – Berita Bitcoin hari ini datang dengan kabar menggembirakan. Pasalnya, Bitcoin kembali menyentuh level US$20.000. Sebagai informasi, harga mayoritas kripto utama kembali pada...
LANGUAGE