Harga Bitcoin dan Ethereum kompak melemah pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Koreksi terjadi setelah pasar kripto sempat menikmati reli dalam beberapa hari terakhir.
Bitcoin (BTC) masih bertahan di kisaran US$83.000–US$84.000, tetapi gagal mempertahankan momentum setelah sebelumnya sempat menembus US$87.000.
Sementara Ethereum (ETH) kembali berada di kisaran US$2.600.
Pelemahan pasar kripto terjadi bersamaan dengan meningkatnya tekanan dari pasar global. Harga minyak kembali naik, yield obligasi pemerintah Amerika Serikat berada pada level tinggi, dan investor menunggu sejumlah data ekonomi penting AS.
Kondisi tersebut membuat investor kembali berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin dan Ethereum.
Harga Bitcoin dan Ethereum Melemah
Berdasarkan data CoinMarketCap yang dikutip Liputan6, mayoritas aset kripto seperti harga Bitcoin dan Ethereum dan berkapitalisasi besar lainnya berada di zona merah pada perdagangan Selasa.
Bitcoin melemah dalam 24 jam terakhir.
Meski demikian, BTC masih mencatat kenaikan sekitar 3,40% dalam tujuh hari terakhir, dengan kapitalisasi pasar sekitar US$1,67 triliun.
Ethereum juga mengalami koreksi.
Harga ETH turun sekitar 0,33% dalam 24 jam menjadi sekitar US$2.686,10 atau Rp48,41 juta.
Namun, seperti Bitcoin, Ethereum masih mempertahankan performa positif secara mingguan dengan kenaikan sekitar 3,08% dalam tujuh hari terakhir.
Kondisi tersebut menunjukkan koreksi terbaru belum sepenuhnya menghapus kenaikan yang terjadi dalam sepekan terakhir.

Bitcoin Sempat Tembus US$87.000
Pelemahan terbaru terjadi setelah Bitcoin mengalami reli cukup kuat.
BTC sebelumnya berhasil menembus US$80.000 dan melanjutkan kenaikan hingga melewati US$87.000.
Kenaikan tersebut membuat Bitcoin mencapai level tertinggi dalam lebih dari tujuh bulan.
Namun, setelah reli tersebut, tekanan jual mulai muncul.
Bitcoin turun menuju US$83.000 pada awal pekan.
Kondisi ini dapat terjadi ketika sebagian investor memilih melakukan profit taking setelah harga mengalami kenaikan cepat.
Trader yang membeli Bitcoin pada kisaran harga lebih rendah dapat memanfaatkan kenaikan menuju US$85.000–US$87.000 untuk merealisasikan keuntungan.
Tekanan jual tersebut kemudian membuat momentum kenaikan melambat.
Harga Minyak Naik Tekan Bitcoin
Salah satu tekanan terbesar terhadap pasar kripto kali ini datang dari harga energi.
Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan.
Brent bahkan bergerak di atas US$100 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena energi merupakan salah satu komponen penting dalam inflasi.
Ketika harga minyak meningkat, biaya transportasi, logistik dan produksi dapat ikut naik.
Hal tersebut dapat membuat inflasi lebih sulit turun.
Bagi Bitcoin, kondisi ini menjadi penting karena inflasi akan memengaruhi keputusan suku bunga Federal Reserve.
Jika tekanan inflasi tetap tinggi, The Fed memiliki alasan lebih besar untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikkannya.
Kebijakan moneter yang lebih ketat biasanya menjadi tantangan bagi aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto.
Yield Treasury AS Mendekati 5,3%
Tekanan lainnya datang dari pasar obligasi.
Yield Treasury Amerika Serikat tenor 10 tahun bergerak mendekati 5,3%, salah satu level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Yield yang tinggi dapat menjadi pesaing bagi aset berisiko.
Investor dapat memperoleh imbal hasil relatif tinggi dari instrumen obligasi pemerintah AS yang secara umum memiliki profil risiko berbeda dibandingkan Bitcoin.
Akibatnya, sebagian modal dapat memilih instrumen pendapatan tetap dibandingkan aset dengan volatilitas tinggi.
Selain itu, kenaikan yield juga mencerminkan ekspektasi bahwa suku bunga dapat bertahan tinggi lebih lama.
Kombinasi antara harga minyak tinggi dan yield Treasury yang meningkat akhirnya memberikan tekanan terhadap sentimen pasar kripto.
Bitcoin Bertahan di Atas US$80.000
Meski mengalami koreksi, ada satu level yang masih menjadi perhatian: US$80.000.
Bitcoin sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama untuk menembus area tersebut.
Setelah breakout, BTC berhasil bergerak menuju US$87.000.
Karena itu, area US$80.000 kini berpotensi menjadi level psikologis penting.
Dalam analisis teknikal, resistance yang berhasil ditembus sering kali dapat berubah menjadi support.
Artinya, apabila Bitcoin mengalami koreksi tetapi tetap bertahan di atas US$80.000, struktur pemulihan yang terbentuk sebelumnya masih dapat dipertahankan.
Sebaliknya, penurunan berkelanjutan di bawah US$80.000 dapat membuat trader mempertanyakan kekuatan breakout sebelumnya.
Ethereum Turun ke US$2.686
Ethereum juga mengalami tekanan.
ETH berada sekitar US$2.686,10, turun 0,33% dalam 24 jam.
Namun, Ethereum masih naik sekitar 3,08% dalam sepekan.
Pergerakan Ethereum menjadi menarik karena aset kripto terbesar kedua tersebut sebelumnya berhasil menembus sejumlah resistance teknikal.
Setelah reli lebih dari 30% pada akhir Agustus, ETH sempat menjalani fase konsolidasi.
Ethereum kemudian berhasil melewati resistance sekitar US$2.661 pada September.
Kini area tersebut kembali menjadi penting.
Jika Ethereum dapat mempertahankan harga di sekitar US$2.600–US$2.660, pasar dapat melihat koreksi terbaru sebagai bagian dari konsolidasi.
Namun, pelemahan lebih jauh dapat mengurangi momentum bullish yang sebelumnya terbentuk.
Bukan Hanya Bitcoin dan Ethereum yang Turun
Pelemahan juga terjadi pada sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar lainnya.
BNB, XRP, Solana dan beberapa altcoin ikut mengalami tekanan.
Kondisi tersebut menunjukkan koreksi bukan hanya terjadi secara spesifik pada Bitcoin.
Sentimen risk-off memengaruhi pasar kripto secara lebih luas.
Ketika kondisi makroekonomi memburuk, investor biasanya mengurangi eksposur terhadap aset yang dianggap memiliki risiko lebih tinggi.
Altcoin bahkan dapat mengalami volatilitas yang lebih besar dibandingkan Bitcoin.
Karena kapitalisasi dan likuiditasnya lebih kecil, perubahan arus modal dapat menghasilkan pergerakan harga yang lebih tajam.
Pasar Menunggu Data Inflasi PCE AS
Salah satu agenda terpenting yang kini ditunggu pasar adalah data Personal Consumption Expenditures (PCE)Amerika Serikat.
PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang diperhatikan Federal Reserve.
Data tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS.
Jika inflasi lebih tinggi dibandingkan perkiraan, pasar dapat meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Hal tersebut berpotensi meningkatkan yield obligasi dan memberikan tekanan tambahan terhadap Bitcoin.
Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi kekhawatiran mengenai kebijakan moneter yang semakin ketat.
Karena itu, pergerakan Bitcoin menjelang publikasi PCE dapat tetap volatil.
Data Tenaga Kerja AS Juga Jadi Perhatian
PCE bukan satu-satunya data penting pekan ini.
Investor juga menunggu laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat.
Data Nonfarm Payrolls akan menjadi salah satu indikator yang digunakan investor untuk mengukur kekuatan ekonomi AS.
Pasar menghadapi situasi yang cukup unik.
Ekonomi yang terlalu kuat dapat membuat The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi.
Sebaliknya, pelemahan ekonomi yang moderat dapat mengurangi tekanan terhadap suku bunga.
Karena itu, data ekonomi AS saat ini memiliki pengaruh besar terhadap Bitcoin.
BTC semakin diperdagangkan sebagai bagian dari kelompok aset berisiko global yang sensitif terhadap perubahan likuiditas dan kebijakan moneter.
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Meningkat
Pasar kini kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Kenaikan harga minyak membuat tekanan inflasi semakin sulit diabaikan.
Pada saat yang sama, ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan.
Kombinasi tersebut meningkatkan kemungkinan suku bunga bertahan tinggi lebih lama.
Bagi pasar kripto, skenario tersebut bukan kondisi ideal.
Suku bunga tinggi meningkatkan biaya modal dan membuat investor memiliki alternatif investasi dengan imbal hasil lebih menarik tanpa harus mengambil volatilitas sebesar Bitcoin.
Inilah salah satu alasan Bitcoin dan Ethereum mengalami tekanan meskipun keduanya baru saja mencatat reli kuat.
Koreksi Sehat atau Awal Penurunan Baru?
Pertanyaan berikutnya adalah apakah penurunan Bitcoin saat ini hanya merupakan koreksi setelah reli atau awal dari tren bearish baru.
Belum ada jawaban pasti.
Namun, beberapa indikator dapat diperhatikan.
Pertama adalah kemampuan Bitcoin mempertahankan US$80.000.
Kedua adalah pergerakan yield Treasury.
Ketiga adalah harga minyak.
Keempat adalah data inflasi dan ketenagakerjaan AS.
Kelima adalah volume perdagangan Bitcoin ketika harga mengalami koreksi.
Jika Bitcoin turun dengan volume relatif rendah kemudian kembali mendapatkan pembeli di area support, koreksi dapat menjadi bagian normal dari tren naik.
Sebaliknya, penurunan dengan volume besar disertai breakdown di bawah support dapat menjadi sinyal yang berbeda.
Baca juga :
- Prediksi Bitcoin di Bulan Oktober 2026: Akankah “Uptober” Kembali Terjadi?
- Harga Bitcoin Menuju US$100.000? Sinyal Fidelity Muncul Setelah BTC Tembus US$80.000
- Bitget Diretas Rp6,29 Triliun, Hacker Korea Utara Diduga Jadi Dalang
- Mengenal Microsoft dan Peluang Saham Microsoft di Tengah Perkembangan AI
- INDODAX Soroti Penguatan Ekosistem Kripto Nasional di FEKDI x IFSE 2026
- Trump Punya Rencana Stablecoin untuk Bantu Hadapi Utang AS US$40 Triliun
- Tips Penting Investasi Bitcoin untuk Pemula
- Harga Bitcoin Melonjak di Atas US$86.000, Saham Tokenisasi Jadi Katalis Baru Pasar Kripto
- Harga Bitcoin Tembus Rp1,53 Miliar, Tertinggi Sejak Januari 2026
US$80.000 Jadi Level Kunci Bitcoin
Untuk jangka pendek, area US$80.000 menjadi salah satu level paling menarik untuk diperhatikan.
Bitcoin saat ini masih memiliki jarak dari area tersebut.
Jika BTC bertahan di atas US$80.000 dan kembali menembus US$85.000–US$87.000, momentum bullish dapat kembali mendapatkan perhatian.
Level US$90.000 kemudian dapat menjadi area psikologis berikutnya.
Namun, apabila US$80.000 gagal dipertahankan, Bitcoin dapat memasuki fase konsolidasi yang lebih panjang.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat apakah harga Bitcoin naik atau turun dalam satu hari.
Struktur pergerakan selama beberapa hari dan beberapa minggu memberikan gambaran yang lebih lengkap.
Bitcoin Masih Hijau Secara Mingguan
Satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah Bitcoin masih mencatatkan kenaikan dalam tujuh hari.
BTC masih naik sekitar 3,40% secara mingguan meskipun mengalami koreksi harian.
Ethereum juga masih naik sekitar 3,08% dalam periode yang sama.
Artinya, penurunan pada 29 September belum menghapus seluruh kenaikan sebelumnya.
Hal tersebut penting untuk membedakan koreksi jangka pendek dengan perubahan tren yang lebih besar.
Investor perlu melihat apakah pelemahan berlanjut selama beberapa hari atau pembeli kembali masuk ketika harga turun.
Kesimpulan
Harga Bitcoin dan Ethereum kompak melemah pada perdagangan Selasa, 29 September 2026, setelah keduanya menikmati kenaikan dalam beberapa hari sebelumnya.
Ethereum turun sekitar 0,33% menjadi US$2.686,10 atau sekitar Rp48,41 juta, tetapi masih naik 3,08% dalam tujuh hari.
Bitcoin juga mengalami koreksi, meski masih mencatat kenaikan sekitar 3,40% secara mingguan dengan kapitalisasi pasar sekitar US$1,67 triliun.
Tekanan kali ini tidak hanya berasal dari aksi profit taking.
Harga minyak yang kembali meningkat dan yield Treasury AS yang mendekati level tertinggi dalam hampir dua dekade meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan tinggi.
Pasar juga menunggu data PCE dan ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve berikutnya.
Untuk Bitcoin, US$80.000 menjadi salah satu area penting yang perlu diperhatikan.
Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, koreksi terbaru belum otomatis membatalkan struktur pemulihan sebelumnya.
Namun, apabila tekanan makro semakin besar dan Bitcoin kembali turun di bawah US$80.000, volatilitas pasar dapat meningkat.
Karena itu, beberapa hari ke depan akan menjadi periode penting untuk melihat apakah penurunan Bitcoin dan Ethereum kali ini hanya profit taking setelah reli atau awal konsolidasi yang lebih panjang.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Aset kripto memiliki volatilitas dan risiko tinggi. Investor perlu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.