Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan strategi baru untuk memperluas penggunaan stablecoin berbasis dolar AS di berbagai negara.
Strategi tersebut bukan sekadar upaya memperbesar penggunaan aset kripto. Di baliknya terdapat kepentingan ekonomi yang jauh lebih besar, yakni meningkatkan permintaan global terhadap surat utang pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury.
Langkah tersebut muncul ketika utang nasional AS telah menembus sekitar US$40 triliun.
Apabila penggunaan stablecoin seperti USDC dan USDT semakin luas secara global, penerbit stablecoin membutuhkan semakin banyak aset cadangan untuk menopang token yang beredar.
Salah satu aset yang banyak digunakan sebagai cadangan adalah surat utang pemerintah AS.
Dengan demikian, semakin besar pasar stablecoin berbasis dolar, semakin besar pula potensi permintaan terhadap US Treasury.

Trump Ingin Stablecoin Dolar Semakin Mendunia
Pemerintahan Trump sedang membahas kemungkinan kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta untuk memperluas stablecoin berbasis dolar ke luar Amerika Serikat.
Sejumlah lembaga pemerintah berpotensi terlibat dalam strategi tersebut, termasuk Departemen Keuangan AS, Departemen Luar Negeri, dan US International Development Finance Corporation.
Namun, rencana tersebut masih berada pada tahap pembahasan. Belum ada negara mitra, perusahaan, maupun komitmen pendanaan tertentu yang diumumkan.
Gagasan besarnya sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.
Pada 2025, Trump telah memerintahkan pemerintahannya untuk mendukung pertumbuhan stablecoin berbasis dolar yang legal secara global.
Tujuannya adalah mempertahankan sekaligus memperluas peranan dolar AS dalam sistem keuangan internasional melalui teknologi aset digital.
Bagaimana Stablecoin Bisa Membantu Utang AS?
Hubungan antara stablecoin dan utang pemerintah AS sebenarnya cukup sederhana.
Misalnya, seseorang di luar Amerika Serikat membeli stablecoin berbasis dolar senilai US$1.000.
Penerbit stablecoin kemudian perlu menyediakan aset cadangan untuk mendukung nilai token tersebut.
Stablecoin besar seperti USDC dan USDT menggunakan kombinasi uang tunai, surat utang pemerintah AS jangka pendek dan berbagai aset terkait dolar sebagai bagian dari cadangannya.
Artinya, apabila permintaan stablecoin meningkat secara signifikan, kebutuhan terhadap aset yang menjadi cadangannya juga dapat meningkat.
Di sinilah US Treasury mendapatkan keuntungan.
Pertumbuhan stablecoin berpotensi menciptakan kelompok pembeli baru surat utang pemerintah AS yang berasal secara tidak langsung dari jutaan pengguna stablecoin di seluruh dunia.
Bukan Berarti Stablecoin Bisa Melunasi Utang US$40 Triliun
Rencana tersebut tentu tidak berarti stablecoin dapat menghapus utang nasional Amerika Serikat sebesar US$40 triliun.
Dampaknya lebih berkaitan dengan permintaan terhadap surat utang dan biaya pembiayaan pemerintah.
Jika permintaan terhadap US Treasury meningkat, pemerintah AS berpotensi mendapatkan kondisi pembiayaan yang lebih menguntungkan.
Riset Federal Reserve Bank of Richmond yang dikutip dalam laporan tersebut menemukan bahwa adopsi stablecoin berbasis cadangan secara lebih luas dapat meningkatkan permintaan terhadap surat utang pemerintah AS dan memberikan tekanan turun terhadap tingkat imbal hasilnya.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya juga menyampaikan bahwa pertumbuhan stablecoin berpotensi menciptakan permintaan tambahan dalam jumlah besar terhadap surat utang pemerintah.
Dalam kondisi utang pemerintah mencapai puluhan triliun dolar, perubahan kecil pada biaya pembiayaan dapat memiliki konsekuensi fiskal yang besar.
Namun, manfaat tersebut tidak otomatis berarti masyarakat AS akan secara langsung mendapatkan penghematan. Dampaknya akan bergantung pada bagaimana pemerintah mengelola anggaran dan biaya utangnya.
USDT dan USDC Bisa Semakin Penting
Jika rencana pemerintahan Trump benar-benar dijalankan, dua stablecoin terbesar berbasis dolar seperti USDT dan USDC berpotensi memperoleh manfaat dari semakin luasnya infrastruktur stablecoin.
Salah satu dampak terbesar bagi pengguna adalah akses.
Pemerintah AS dapat membantu mendorong terbentuknya infrastruktur stablecoin yang teregulasi di berbagai negara.
Kondisi tersebut berpotensi membuka lebih banyak hubungan antara stablecoin dengan sistem perbankan, layanan pembayaran, merchant dan jalur konversi mata uang fiat.
Stablecoin kemudian tidak hanya digunakan sebagai instrumen perdagangan aset kripto.
Penggunaannya dapat semakin berkembang untuk transfer uang internasional, remitansi, pembayaran lintas negara, perdagangan hingga penyimpanan nilai berbasis dolar.
Hal tersebut terutama berpotensi menarik bagi masyarakat di negara yang akses langsung terhadap dolar AS masih terbatas.
Stablecoin Bisa Menjadi Cara Baru AS Mengekspor Dolar
Strategi tersebut juga dapat dilihat sebagai evolusi dari dominasi dolar dalam sistem keuangan internasional.
Selama beberapa dekade, Amerika Serikat memperoleh keuntungan dari posisi dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia.
Permintaan terhadap dolar dari luar negeri pada akhirnya juga menciptakan permintaan terhadap berbagai aset keuangan AS.
Stablecoin berpotensi membawa mekanisme tersebut ke dunia digital.
Seseorang tidak lagi harus memiliki rekening bank di Amerika Serikat untuk memiliki aset yang nilainya mengikuti dolar.
Dengan smartphone dan akses ke jaringan blockchain, pengguna di berbagai negara dapat menyimpan USDT atau USDC.
Jika adopsinya semakin besar, stablecoin secara tidak langsung dapat memperluas penggunaan dolar ke wilayah yang sebelumnya memiliki akses terbatas terhadap sistem perbankan berbasis dolar.
Mirip Strategi Petrodollar Era 1970-an?
Ada preseden historis yang menarik untuk memahami strategi tersebut.
Pada 1970-an, Amerika Serikat membangun hubungan keuangan dengan Arab Saudi yang membantu mengarahkan sebagian surplus pendapatan minyak negara tersebut ke aset pemerintah AS.
Dalam laporan BeInCrypto, catatan resmi AS menunjukkan institusi Saudi pada akhirnya menempatkan lebih dari US$8 miliar pada utang pemerintah Amerika Serikat.
Stablecoin berpotensi menciptakan mekanisme modern yang memiliki beberapa kemiripan dalam hal aliran modal.
Perbedaannya sangat besar.
Alih-alih bergantung pada surplus modal dari sejumlah negara atau institusi besar, permintaan terhadap Treasury dapat berasal secara tidak langsung dari jutaan pengguna stablecoin di seluruh dunia.
Setiap kali stablecoin berbasis dolar diterbitkan, penerbit membutuhkan aset cadangan.
Jika sebagian cadangan tersebut ditempatkan pada Treasury, pertumbuhan stablecoin secara tidak langsung dapat memperluas basis pembeli utang pemerintah AS.
Baca juga :
- Harga Bitcoin Ngegas, Trump Bikin Pasar Kripto Kembali Girang
- The Fed Naikkan Suku Bunga, Bitcoin Masih Berpeluang Bersinar? Ini yang Dipertaruhkan Kevin Warsh
- Outflow ETF Bitcoin dan Ethereum September 2026, Investor Mulai Tarik Dana?
- Standard Chartered Prediksi Arbitrum Bisa Tembus US$10 pada 2030, Lampaui Pertumbuhan Bitcoin dan Ethereum
- Lihat Berita Bitcoin →
Stablecoin Jadi Instrumen Strategis Amerika Serikat
Perkembangan ini menunjukkan perubahan besar dalam cara pemerintah melihat stablecoin.
Beberapa tahun lalu, stablecoin lebih banyak dibicarakan sebagai produk industri kripto yang membutuhkan regulasi.
Kini, stablecoin mulai memiliki dimensi geopolitik dan moneter.
Bagi Amerika Serikat, stablecoin berbasis dolar dapat membantu mempertahankan relevansi dolar di tengah berkembangnya sistem pembayaran digital dan teknologi blockchain.
Jika masyarakat dunia semakin banyak menggunakan uang digital, pemerintah AS memiliki kepentingan agar uang digital tersebut tetap menggunakan dolar sebagai unit nilai utama.
Dengan pendekatan tersebut, perkembangan teknologi blockchain tidak harus mengurangi dominasi dolar.
Sebaliknya, teknologi blockchain justru dapat menjadi infrastruktur baru untuk memperluas penggunaannya.
Persaingan Stablecoin Global Semakin Menarik
Rencana pemerintahan Trump juga muncul ketika industri stablecoin berkembang semakin cepat.
Bank-bank besar mulai mengembangkan stablecoin sendiri, sementara pemain lama seperti USDT dan USDC telah memiliki jaringan pengguna global yang luas.
Persaingan ke depan kemungkinan tidak hanya terjadi antara perusahaan kripto.
Bank, perusahaan pembayaran, pemerintah dan institusi keuangan tradisional juga mulai masuk ke sektor yang sama.
Stablecoin akhirnya dapat berkembang dari instrumen yang awalnya banyak digunakan trader kripto menjadi bagian dari infrastruktur pembayaran dan keuangan internasional.
Bagi AS, perkembangan tersebut memberikan peluang untuk memastikan bahwa dolar tetap berada di pusat sistem keuangan digital.
Apa Dampaknya bagi Pemegang USDT dan USDC?
Bagi pengguna stablecoin, dampak paling nyata dari kebijakan tersebut kemungkinan bukan berasal dari harga.
USDT dan USDC memang dirancang untuk mempertahankan nilai sekitar US$1.
Manfaat yang lebih besar justru dapat datang dari meningkatnya utilitas.
Jika lebih banyak bank, penyedia pembayaran dan merchant menerima stablecoin, pengguna dapat memiliki lebih banyak pilihan untuk menggunakan aset tersebut.
Pengiriman uang lintas negara dapat menjadi salah satu penggunaan terbesar.
Stablecoin memungkinkan nilai berbasis dolar dikirim melalui jaringan blockchain tanpa harus selalu melalui infrastruktur transfer internasional tradisional.
Namun, perluasan penggunaan stablecoin juga akan meningkatkan perhatian regulator terhadap cadangan penerbit, perlindungan pengguna, pencucian uang, kepatuhan dan risiko sistem keuangan.
Trump Bisa Mengubah Stablecoin Menjadi Alat Ekonomi AS
Jika strategi tersebut terealisasi, stablecoin dapat memiliki posisi yang jauh lebih strategis bagi Amerika Serikat.
Pertama, stablecoin dapat membantu memperluas penggunaan dolar secara global.
Kedua, pertumbuhan stablecoin berpotensi menciptakan permintaan tambahan terhadap US Treasury.
Ketiga, infrastruktur stablecoin dapat membantu mempertahankan posisi Amerika Serikat dalam perkembangan sistem pembayaran digital global.
Namun, rencana ini masih berada dalam tahap pembahasan.
Belum ada kepastian mengenai negara mana yang akan menjadi mitra, perusahaan yang akan terlibat, skema pendanaan maupun seberapa besar implementasinya.
Karena itu, potensi dampaknya terhadap permintaan Treasury dan biaya pembiayaan utang AS masih harus dilihat dari implementasi kebijakan sebenarnya.
Kesimpulan
Pemerintahan Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan strategi untuk memperluas penggunaan stablecoin berbasis dolar AS secara global.
Di balik strategi tersebut terdapat kepentingan ekonomi yang lebih besar.
Semakin banyak USDT, USDC dan stablecoin berbasis dolar digunakan, semakin besar kebutuhan penerbit terhadap aset cadangan. Salah satu instrumen yang banyak digunakan sebagai cadangan adalah surat utang pemerintah AS.
Dengan utang nasional Amerika Serikat telah mencapai sekitar US$40 triliun, peningkatan permintaan terhadap Treasury berpotensi membantu pemerintah membiayai utangnya dengan kondisi yang lebih menguntungkan.
Strategi tersebut tidak akan menghapus utang AS. Namun, stablecoin berpotensi menjadi salah satu sumber tambahan permintaan terhadap surat utang pemerintah sekaligus memperluas penggunaan dolar di dunia digital.
Bagi pengguna USDT dan USDC, dampak terbesar kemungkinan terletak pada semakin luasnya penggunaan stablecoin untuk pembayaran, remitansi, penyimpanan nilai dan transaksi internasional.
Jika rencana tersebut benar-benar terealisasi, stablecoin tidak lagi hanya menjadi bagian dari industri kripto. Stablecoin dapat berkembang menjadi salah satu instrumen strategis Amerika Serikat untuk mempertahankan dominasi dolar dalam sistem keuangan global.