Arbitrum (ARB) menjadi salah satu aset kripto yang mendapat perhatian setelah Standard Chartered mulai memberikan proyeksi khusus terhadap token tersebut.
Bank asal Inggris itu memperkirakan harga ARB dapat mencapai US$10 pada akhir 2030. Jika dibandingkan dengan harga ARB sekitar US$0,13–US$0,15 ketika laporan tersebut diterbitkan, target tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 70 kali lipat.
Standard Chartered juga memproyeksikan pertumbuhan persentase ARB hingga 2030 dapat melampaui Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Namun, proyeksi tersebut merupakan estimasi analis dan bukan jaminan bahwa harga akan mencapai target tersebut.
Lantas, apa yang membuat Standard Chartered begitu optimistis terhadap Arbitrum?
Standard Chartered Mulai Memberikan Proyeksi ARB
Standard Chartered melalui analis Geoffrey Kendrick, Global Head of Digital Assets Research, mulai memberikan cakupan khusus terhadap Arbitrum.
Dalam proyeksinya, Standard Chartered memperkirakan harga ARB dapat bergerak bertahap menuju US$10 pada akhir 2030.
Target yang diberikan adalah:
- Akhir 2026: US$0,50
- Akhir 2027: US$1,50
- Akhir 2028: US$3,50
- Akhir 2029: US$6,50
- Akhir 2030: US$10
Pada saat laporan tersebut diterbitkan, ARB berada di sekitar US$0,13. Dengan demikian, target US$10 mencerminkan kenaikan sekitar 70 kali lipat dari level tersebut.
Sebagai perbandingan, Standard Chartered memproyeksikan Bitcoin mencapai US$500.000 dan Ethereum US$40.000 pada akhir 2030.
Artinya, bank tersebut tidak mengatakan Bitcoin atau Ethereum akan mengalami penurunan. Proyeksinya justru menunjukkan bahwa persentase pertumbuhan ARB diperkirakan lebih besar dalam periode tersebut.
Mengapa Standard Chartered Optimistis terhadap Arbitrum?

Salah satu alasan utama adalah perubahan fungsi Arbitrum dari sekadar jaringan untuk aktivitas kripto menjadi infrastruktur yang dapat digunakan perusahaan keuangan tradisional.
Arbitrum merupakan jaringan layer-2 Ethereum yang dirancang untuk membantu meningkatkan skalabilitas Ethereum.
Standard Chartered melihat peluang yang lebih besar ketika perusahaan keuangan tradisional mulai membawa aset dan aktivitas ke blockchain atau on-chain.
Dalam skenario tersebut, Arbitrum dapat memperoleh pendapatan dari jaringan-jaringan yang dibangun menggunakan infrastrukturnya.
Geoff Kendrick menyebut perkembangan Robinhood Chain sebagai salah satu contoh penting yang menunjukkan potensi model tersebut.
Robinhood Chain Mengubah Ekonomi Arbitrum
Robinhood Chain menjadi salah satu faktor penting dalam analisis Standard Chartered.
Jaringan tersebut dibangun menggunakan teknologi Arbitrum dan mulai diluncurkan pada Juli 2026.
Menurut perhitungan Standard Chartered, kehadiran Robinhood Chain membuat estimasi pendapatan Arbitrum meningkat secara signifikan.
Kendrick memperkirakan Arbitrum dapat memperoleh sekitar US$5 juta dalam bentuk biaya ekspansi pada September 2026 berdasarkan aktivitas Robinhood Chain.
Standard Chartered juga memperkirakan pendapatan bulanan Arbitrum telah meningkat lebih dari lima kali lipat dibandingkan sebelum Robinhood Chain diluncurkan.
Perkembangan tersebut menjadi penting karena menunjukkan bagaimana Arbitrum dapat menghasilkan pendapatan ketika perusahaan lain menggunakan teknologinya untuk membangun jaringan blockchain sendiri.
Dengan kata lain, tesis Standard Chartered tidak hanya bergantung pada aktivitas perdagangan token ARB.
Bank tersebut melihat potensi Arbitrum sebagai infrastruktur blockchain untuk perusahaan keuangan tradisional.
Arbitrum dan Tren Tokenisasi Aset
Faktor berikutnya adalah pertumbuhan tokenisasi aset dunia nyata atau Real World Assets (RWA).
Tokenisasi memungkinkan aset tradisional seperti saham, obligasi, surat utang, properti, dan instrumen keuangan lainnya direpresentasikan dalam bentuk token digital di jaringan blockchain.
Perkembangan ini berpotensi menciptakan kebutuhan besar terhadap infrastruktur blockchain.
Standard Chartered memperkirakan nilai aset yang ditokenisasi dapat mencapai sekitar US$4 triliun pada akhir 2028.
Untuk tokenisasi saham, bank tersebut memperkirakan nilainya dapat mencapai sekitar US$750 miliar dalam periode yang sama.
Jika perusahaan keuangan semakin banyak membawa aktivitas ke blockchain, jaringan yang menyediakan infrastruktur untuk kebutuhan tersebut berpotensi memperoleh sumber pendapatan baru.
Inilah salah satu alasan Arbitrum menjadi perhatian Standard Chartered.
Model Bisnis Arbitrum Menjadi Perhatian
Salah satu hal yang membedakan tesis Standard Chartered terhadap Arbitrum adalah model ekonominya.
Melalui Arbitrum Expansion Program, jaringan dapat memperoleh bagian dari pendapatan bersih protokol yang menggunakan teknologi Arbitrum.
Menurut laporan yang mengutip riset Standard Chartered, mekanisme tersebut memberikan Arbitrum peluang mendapatkan sekitar 10% dari pendapatan bersih protokol tertentu yang menggunakan infrastrukturnya.
Jika semakin banyak perusahaan membangun jaringan menggunakan teknologi Arbitrum, pendapatan dari mekanisme tersebut berpotensi meningkat.
Robinhood Chain menjadi contoh awal yang digunakan Standard Chartered untuk mendukung tesis tersebut.
Namun, penting dicatat bahwa pertumbuhan pendapatan jaringan tidak otomatis berarti harga token ARB akan naik dengan besaran yang sama.
Hubungan antara pendapatan protokol, treasury DAO, tokenomics, dan nilai token ARB tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Proyeksi Bitcoin dan Ethereum Juga Tetap Positif
Menariknya, Standard Chartered tetap memiliki proyeksi jangka panjang yang tinggi untuk Bitcoin dan Ethereum.
Bank tersebut memperkirakan:
Bitcoin
- US$100.000 pada akhir 2026
- US$500.000 pada akhir 2030
Ethereum
- US$4.000 pada akhir 2026
- US$40.000 pada akhir 2030
Arbitrum
- US$0,50 pada akhir 2026
- US$10 pada akhir 2030
Dengan demikian, istilah “mengalahkan Bitcoin dan Ethereum” dalam konteks laporan tersebut lebih tepat dipahami sebagai pertumbuhan persentase harga yang diproyeksikan, bukan berarti Standard Chartered memperkirakan kapitalisasi pasar Arbitrum akan lebih besar daripada Bitcoin atau Ethereum.
Apa Risiko dari Proyeksi Arbitrum?
Meskipun Standard Chartered memberikan proyeksi yang agresif, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan.
Salah satunya adalah perkembangan tokenisasi aset yang ternyata lebih lambat dibandingkan perkiraan.
Jika bank, perusahaan investasi, dan institusi keuangan tidak membawa aset mereka ke blockchain dalam skala besar, potensi pendapatan Arbitrum dapat lebih rendah dari ekspektasi.
Persaingan antarjaringan blockchain juga menjadi faktor lain.
Arbitrum bukan satu-satunya jaringan yang ingin menjadi infrastruktur bagi perusahaan tradisional. Ethereum, Solana, Base dan berbagai blockchain lainnya juga terus mengembangkan infrastruktur untuk aplikasi keuangan dan tokenisasi aset.
Karena itu, adopsi institusional menjadi faktor penting bagi tesis jangka panjang Arbitrum.
Harga ARB Masih Sangat Berbeda dari Target US$10
Pada saat Standard Chartered menerbitkan proyeksinya, ARB berada di sekitar US$0,13–US$0,15. Data pasar yang tersedia pada 15–16 September menunjukkan ARB bergerak di kisaran tersebut dan mengalami kenaikan setelah laporan Standard Chartered dipublikasikan.
Namun, jarak antara harga pasar dan target US$10 sangat besar.
Untuk mencapai target tersebut, ARB harus mengalami perubahan fundamental yang signifikan selama beberapa tahun ke depan.
Pertumbuhan pendapatan jaringan, penggunaan Arbitrum oleh perusahaan keuangan, perkembangan tokenisasi, kondisi pasar kripto dan tokenomics ARB semuanya akan berperan.
Karena itu, target harga Standard Chartered sebaiknya dipahami sebagai skenario jangka panjang berdasarkan asumsi tertentu, bukan sebagai kepastian.
Baca juga :
- Apakah Bitcoin Bisa Dibeli dengan Uang Rp50 Ribu? Ini Caranya
- Cara Kirim Bitcoin dari Indodax ke Wallet Lain dengan Aman
- Arus Dana ETF Bitcoin Tembus US$3,8 Miliar, INDODAX Nilai Pasar Tetap Perlu Cermati Faktor Makro
- Lihat Berita Bitcoin →
Arbitrum Bisa Menjadi Bagian dari Tren Institusional
Hal menarik dari laporan Standard Chartered adalah perubahan cara melihat nilai blockchain.
Selama beberapa tahun, perhatian pasar banyak tertuju pada jumlah pengguna, transaksi, DeFi, NFT dan aktivitas perdagangan aset kripto.
Kini, salah satu peluang besar justru berasal dari perusahaan keuangan tradisional yang membawa aktivitas mereka ke blockchain.
Jika tren tersebut berkembang, blockchain tidak hanya menjadi infrastruktur untuk aset kripto.
Blockchain juga dapat menjadi infrastruktur untuk pasar modal, pembayaran, saham, obligasi dan aset keuangan lainnya.
Dalam skenario tersebut, jaringan seperti Arbitrum dapat memiliki fungsi yang lebih luas dibandingkan sekadar ekosistem DeFi.
Kesimpulan
Standard Chartered memproyeksikan harga Arbitrum (ARB) dapat mencapai US$10 pada akhir 2030. Dari level sekitar US$0,13–US$0,15 ketika laporan tersebut diterbitkan, target itu setara dengan kenaikan sekitar 70 kali lipat.
Proyeksi tersebut didasarkan pada beberapa faktor, terutama perkembangan tokenisasi aset, adopsi blockchain oleh perusahaan keuangan tradisional dan pertumbuhan pendapatan Arbitrum melalui jaringan seperti Robinhood Chain.
Standard Chartered juga memproyeksikan Bitcoin mencapai US$500.000 dan Ethereum US$40.000 pada 2030. Namun, berdasarkan persentase pertumbuhan dari level yang digunakan dalam analisis, Standard Chartered memperkirakan ARB dapat mencatat pertumbuhan yang lebih besar.
Meski demikian, target US$10 tetap merupakan proyeksi, bukan jaminan harga. Perkembangannya akan bergantung pada pertumbuhan tokenisasi, jumlah perusahaan yang menggunakan teknologi Arbitrum, persaingan dengan blockchain lain, kondisi pasar kripto, serta mekanisme ekonomi token ARB.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Proyeksi harga merupakan estimasi analis dan tidak menjamin harga aset akan mencapai target tersebut. Aset kripto memiliki risiko tinggi sehingga investor perlu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.