Dunia Fintech

Harga Bitcoin Tembus US$79.000, Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga The Fed

Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat dan menembus level US$79.000 pada Senin, 14 September 2026. Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar kripto bersiap menghadapi pertemuan Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat yang menjadi salah satu agenda ekonomi paling penting pekan ini.

Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$79.480, naik sekitar 2,1% dalam 24 jam ketika laporan tersebut ditulis.

Kenaikan Bitcoin terjadi setelah pasar sebelumnya mengalami tekanan akibat data inflasi Amerika Serikat.

Kini, perhatian investor mulai beralih dari pertanyaan apakah The Fed akan menaikkan suku bunga menuju bagaimana bank sentral AS tersebut memberikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.

Pasar Kripto Fokus pada Keputusan The Fed

Analis QCP melihat pasar saat ini sudah cukup banyak memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin.

Dengan ekspektasi tersebut mulai tercermin dalam harga aset, perhatian investor tidak lagi hanya tertuju pada keputusan suku bunga itu sendiri.

Pasar justru menunggu bagaimana para pejabat The Fed menjelaskan prospek suku bunga setelah keputusan tersebut.

Artinya, apabila kenaikan suku bunga sudah diantisipasi sebelumnya, reaksi Bitcoin dan aset berisiko lainnya dapat lebih banyak ditentukan oleh pernyataan dan proyeksi kebijakan bank sentral AS.

QCP menyebut bahwa fokus pasar kini bergeser pada bagaimana kebijakan tersebut akan dibingkai dan apa indikasinya terhadap jalur suku bunga berikutnya.

Data Inflasi AS Jadi Perhatian Investor Bitcoin

Salah satu faktor yang memengaruhi ekspektasi pasar adalah data inflasi Amerika Serikat untuk Agustus 2026.

Indeks Harga Konsumen (IHK) utama AS tercatat meningkat 0,4% secara month on month (MoM) pada Agustus. Sementara itu, inflasi tahunan berada di level 3,4%.

Untuk inflasi inti, kenaikannya mencapai 0,3% MoM, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi konsensus sebesar 0,2%. Namun, secara tahunan inflasi inti justru melandai menjadi 2,4%.

Setelah data tersebut dirilis, Bitcoin sempat mengalami tekanan dan turun menuju sekitar US$76.700.

Namun, menurut QCP, reaksi tersebut menunjukkan bahwa pasar sebenarnya sudah cukup memperhitungkan ekspektasi kenaikan suku bunga.

Bitcoin kemudian mampu kembali menguat dan bergerak menuju level US$79.000.

cara beli bitcoin Rp10,000 4

Bitcoin Hadapi Resistance US$80.000-US$82.000

Meskipun Bitcoin berhasil rebound, perjalanan menuju level yang lebih tinggi masih menghadapi sejumlah tantangan teknikal.

QCP melihat area US$75.000-US$76.000 sebagai support penting bagi Bitcoin.

Di sisi lain, zona US$80.000-US$82.000 menjadi resistance utama yang perlu ditembus apabila Bitcoin ingin melanjutkan momentum kenaikannya.

Dengan posisi Bitcoin yang sudah mendekati area resistance tersebut, investor akan mencermati apakah pembelian mampu membawa BTC melewati US$82.000 atau justru memicu aksi ambil untung.

Jika Bitcoin gagal mempertahankan momentum, area US$75.000-US$76.000 dapat kembali menjadi perhatian pasar.

Sebaliknya, jika mampu menembus resistance secara meyakinkan, sentimen bullish berpotensi semakin kuat.

ETF Bitcoin Spot Masih Mengalami Arus Keluar

Selain kebijakan The Fed, investor juga mencermati arus dana Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat.

ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar bersih US$462,7 juta sepanjang pekan sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permintaan institusional terhadap Bitcoin sempat mengalami pelemahan setelah sebelumnya ETF mencatat tren arus masuk selama beberapa pekan.

Meski demikian, terdapat tanda bahwa tekanan tersebut mulai mereda.

Pada Jumat, arus keluar bersih ETF Bitcoin spot hanya sekitar US$13,3 juta, jauh lebih kecil dibandingkan arus keluar US$282,5 juta pada Kamis.

Perubahan tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor untuk melihat apakah permintaan institusional terhadap Bitcoin mulai kembali stabil.

Strategy Tidak Membeli Bitcoin Baru

Di tengah pergerakan harga Bitcoin, perusahaan pemegang Bitcoin terbesar, Strategy, juga menjadi perhatian pasar.

Berbeda dengan kebiasaannya melakukan akumulasi Bitcoin, Strategy tidak membeli BTC baru pada pekan sebelumnya.

Berdasarkan pengajuan Form 8-K perusahaan, kepemilikan Bitcoin Strategy tetap berada di sekitar 845.050 BTC.

Perusahaan juga tidak menjual saham melalui program at-the-market (ATM) selama periode tersebut.

Namun, Strategy tetap melakukan aktivitas di pasar modal.

Alih-alih membeli Bitcoin, perusahaan menggunakan sekitar US$139,3 juta dana tunai untuk membeli kembali sekitar 1,4 juta saham preferen STRC.

Strategy menyebut memiliki saldo USD Cash sekitar US$1,3 miliar, sementara USD Reserve terpisah mencapai sekitar US$5,1 miliar.

Strategy Masih Mempertahankan Posisi Bitcoin

Tidak adanya pembelian Bitcoin baru oleh Strategy tidak serta-merta berarti perusahaan meninggalkan strategi akumulasi BTC.

Perusahaan masih mempertahankan kepemilikan Bitcoin dalam jumlah sangat besar.

Dengan kepemilikan sekitar 845.050 BTC, setiap perubahan strategi perusahaan tetap menjadi perhatian investor karena Strategy merupakan salah satu perusahaan publik dengan eksposur Bitcoin terbesar di dunia.

Keputusan untuk melakukan buyback saham preferen STRC juga menunjukkan bahwa perusahaan memiliki alternatif penggunaan likuiditas selain membeli Bitcoin pada saat kondisi pasar tertentu.

Dengan kata lain, Strategy tetap memiliki eksposur besar terhadap Bitcoin, tetapi untuk periode tersebut memilih menggunakan sebagian dana untuk aktivitas pasar modal.

Baca juga :

Apa yang Selanjutnya Terjadi pada Bitcoin?

Pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari ke depan kemungkinan besar akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan The Fed, arus dana ETF dan respons investor terhadap level teknikal BTC.

Jika pasar menilai kebijakan The Fed tidak seketat yang dikhawatirkan, aset berisiko seperti Bitcoin berpotensi mendapatkan dukungan.

Sebaliknya, apabila komunikasi The Fed memberikan sinyal bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama, tekanan terhadap aset berisiko dapat kembali meningkat.

Karena itu, level US$80.000-US$82.000 menjadi area penting yang perlu diperhatikan.

Bitcoin saat ini berada di dekat resistance tersebut setelah berhasil bangkit dari tekanan menuju US$76.700.

Kemampuan BTC mempertahankan momentum di atas US$79.000 sekaligus menembus resistance akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat arah pergerakan berikutnya.

Kesimpulan

Bitcoin kembali menunjukkan kekuatan dengan menembus US$79.000 ketika pasar bersiap menghadapi pertemuan The Fed.

Pasar telah memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sehingga perhatian investor kini beralih pada komunikasi dan panduan kebijakan The Fed mengenai arah suku bunga berikutnya.

Di sisi lain, ETF Bitcoin spot masih mencatat arus keluar bersih US$462,7 juta pada pekan sebelumnya. Namun, tekanan tersebut mulai mereda pada Jumat dengan arus keluar hanya US$13,3 juta.

Sementara itu, Strategy mempertahankan kepemilikan sekitar 845.050 BTC dan tidak melakukan pembelian Bitcoin baru pada pekan sebelumnya. Perusahaan justru menggunakan US$139,3 juta untuk membeli kembali saham preferen STRC.

Dengan Bitcoin berada di sekitar US$79.480, area US$80.000-US$82.000 menjadi resistance penting, sementara US$75.000-US$76.000 menjadi area support yang perlu diperhatikan investor.

Pergerakan Bitcoin selanjutnya akan sangat bergantung pada bagaimana pasar menerjemahkan keputusan dan komunikasi The Fed serta perkembangan arus dana ETF Bitcoin.

Kata kunci SEO: Bitcoin hari ini, harga Bitcoin, Bitcoin US$79.000, Bitcoin terbaru, harga BTC, Bitcoin dan The Fed, ETF Bitcoin, Strategy Bitcoin, investasi Bitcoin, pasar kripto, cryptocurrency Indonesia.

Exit mobile version