25.6 C
Jakarta
Minggu, 3 Maret, 2024

Harga Properti Alami Peningkatan, Ini Besarannya!

JAKARTA, duniafintech.com – Bank Indonesia mencatat berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) mengindikasikan bahwa harga properti residensial di pasar primer secara tahunan mengalami peningkatan hingga triwulan IV tahun 2022. 

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Erwin Haryono mengungkapkan Indeks Harga Residensial (IHR) triwulan IV 2022 tercatat meningkat sebesar 2 persen (yoy), lebih tinggi jika dibandingkan dengan 1,4 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya. Menurutnya dari sisi penjualan, hasil survey mengindikasikan penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan IV 2022 tumbuh melambat. 

Baca juga: Berita Ekonomi Hari Ini: BI Proyeksikan Ekonomi Indonesia 2023 Melesat 5,3 Persen

“Penjualan properti residensial tumbuh sebesar 4,54 persen (yoy) pada triwulan IV 2022 lebih rendah dari 13,58 persen (yoy) pada triwulan III 2022,” kata Erwin. 

Erwin mengungkapkan hasil survei juga menunjukkan bahwa pembiayaan non perbankan masih menjadi sumber pembiayaan utama untuk pembangunan properti residensial. Dia mencatat pada triwulan IV 2022, sebesar 72,15 persen dari total kebutuhan modal pembangunan proyek perumahan berasal dari dana internal. 

“Sementara itu dari sisi konsumen fasilitas KPR masih menjadi pilihan utama dalam pembelian properti residensial dengan pangsa sebesar 75,03 persen dari total pembiayaan,” kata Erwin. 

Kepala Ekonom Asia S&P Global Louis Kuijs menilai saat ini pertumbuhan ekonomi khususnya sektor properti mengalami perlambatan, hal itu dinilai melemahnya aktivitas real estate dan sentimen negatif di sektor perumahan. Bahkan sektor properti hanya menyumbang sepertiga dari Produk Domestik Bruto (PDB) Cina.

Bahkan baik pengembang investor hanya mengandalkan utang untuk menggerakan sektor properti. Upaya pemerintah untuk mengatasi gelembung (buble) properti menyebabkan perusahaan-perusahaan sektor properti kelimpungan. Seperti developer papan atas seperti Evergrande, Fantasia dan Modern Land mengalami gagal bayar. 

Baca juga: Antisipasi Ekonomi Global, Pemerintah Ciptakan Kebijakan Undang Investor

Pelemahan ekonomi China pun menyebabkan pembeli enggan bayar cicilan kredit perumahan. Hal itulah yang membuat kondisi menjadi parah dan para developer mengalami tekanan untuk melanjutkan proyek dan membayar utang perusahaan yang semakin meningkat. 

Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Herry Trisaputra menjelaskan bunga untuk KPR bersubsidi akan tetap stabil di angka 5 persen meskipun BI menaikan suku bunga acuan. Sebab bunga kredit perumahan subsidi termasuk ringan jauh lebih kecil jika dibandingkan suku bunga KPR non subsidi yang bisa menyentuh 11 persen sampai 12 persen. 

Oleh sebab itu, pemerintah membuat skema KPR agar tetap terjangkau oleh masyarakat. Pemerintah juga akan merancang program bantuan pembiayaan perumahan berbasis tabungan (BP2BT) untuk memberikan cicilan yang lebih rendah dan terjangkau. 

“Pemerintah akan sebisa mungkin melakukan intervensi terhadap kebijakan suku bunga sehingga tidak memberi pengaruh terlampau besar bagi pembelian rumah bersubsidi,” kata Herry. 

Baca juga: Ini Alasan Pemerintah Terbitkan Perppu Cipta Kerja

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Iklan

ARTIKEL TERBARU

LANGUAGE