28.2 C
Jakarta
Senin, 15 April, 2024

Ini Tantangan Wanita untuk Akses Ekonomi Digital

JAKARTA, duniafintech.com – Perempuan mempunyai potensi untuk mengembangkan perekonomian melalui digitalisasi. Namun, untuk mengoptimalisasi masih ditemukan berbagai tantangan wanita untuk akses ekonomi digital. 

Direktur Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi Bappenas Ahmad Dading Gunadi mengungkapkan tantangan wanita untuk akses ekonomi digital adalah dari sisi ekosistem, dimana akses pasar dan akses keuangan yang masih terbatas bagi perempuan. 

Baca juga: Miliki 2.400 Perusahaan Startup, Airlangga Optimistis Indonesia Kuasai Ekonomi Digital di ASEAN

“Pada sebuah studi tentang keuangan digital, masih ada gap yang cukup besar antara perempuan yang hanya bisa mengakses sekitar 29 persen layanan keuangan sedangkan pada laki-laki sebesar 33 persen,” kata Dading

Senior Economist Bank Dunia Ririn Salwa menjelaskan baik pelaku usaha atau orang-orang dalam pekerjaan, sebetulnya memiliki akses terhadap teknologi. Namun, secara umum ternyata laki-laki memiliki kemungkinan lebih tinggi menggunakan platform digital dibandingkan dengan perempuan. 

Tetapi, dia menambahkan jika perempuan mempunyai kesempatan untuk mengakses teknologi digital, perempuan memiliki kemungkinan lebih besar untuk menggunakan e-commerce. Artinya, dalam hal ini yang ingin ditekankan adalah akses terhadap digital baik perempuan maupun laki-laki. 

“Pada saat akses itu diberikan, maka kemudian perempuan biasanya bisa menggunakan lebih baik. Salah satunya adalah dengan menggunakan untuk e-commerce,” kata Ririn.

Sementara itu, Wakil Direktur Kebijakan Asia Tenggara Women’s World Banking Vitasari Anggraeni menilai untuk tantangan bagi perempuan berbeda-beda. Menurutnya jika tantangan tersebut dikaitkan dengan akses maka pemahaman layanan digital yang dibutuhkan akan menjadi pekerjaan rumah bagi perempuan pengusaha mikro untuk belajar dan penyedia jasa layanan keuangan atau jasa teknologi.

Baca juga: Pemerintah Optimistis Potensi Ekonomi Digital Bisa Pulihkan Ekonomi Indonesia

“Agar lebih sesuai dan adaptif untuk dapat diakses oleh perempuan pengusaha mikro itu sendiri, seperti acces to capital atau keuangan itu sendiri,” kata Vita. 

Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Friderica Widyasari mengungkapkan berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2019, indeks literasi dan inklusi keuangan Indonesia mencapai 38,03 dan 76,19 persen. Secara rinci, untuk indeks literasi dan inklusi keuangan perempuan mencapai 36,13 persen dan 75,15 persen, lebih rendah daripada laki-laki. Sedangkan laki-laki mencapai 39,94 persen dan 77,24 persen. 

Dia mengharapkan perusahaan finansial berbasis teknologi (fintech) dapat memperkecil jarak tersebut antara laki-laki dan perempuan. Dia meyakini dengan adanya keuangan berbasis teknologi menjadi solusi untuk memperkecil jarak tingkat literasi keuangan maupun inklusi keuangan.

“Fakta ini menunjukkan bahwa perempuan membutuhkan perhatian khusus,” kata Friderica. 

Untuk itu, dia menambahkan akan memperkuat perlindungan konsumen di era digital untuk meningkatkan kepercayaan perempuan dalam sistem keuangan formal. Tentunya OJK akan memberdayakan Satuan Tugas Percepatan Akses Keuangan untuk mengedukasi skema kredit melawan rentenir bagi perempuan di pedesaan. 

“OJK akan terus memperkuat perlindungan konsumen untuk menjaga kepercayaan perempuan,” kata Friderica. 

Baca juga: Bangun Investasi Ekonomi Digital, Pemerintah Dorong Talenta Digital

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Iklan

ARTIKEL TERBARU

LANGUAGE