28.2 C
Jakarta
Minggu, 21 Juli, 2024

Momentum Tren Kenaikan Bitcoin Diprediksi Analis Tak Bertahan Lama

JAKARTA, duniafintech.com – Pasar kripto sempat anjlok beberapa hari terakhir, bahkan harga Bitcoin sempat terjun bebas di bawah USD 40.000 atau sekitar Rp 574,9 juta terendah sejak pertengahan Maret 2022. 

Namun, pada Kamis (14/4/2022) berdasarkan data dari Coinmarketcap, Bitcoin rebound dan harganya kembali naik di kisaran USD 41.000. Apakah momen kenaikan ini akan bertahan lama untuk pasar kripto? 

Dilansir dari Liputan6.com, menurut Chief Executive Officer sekaligus analis Litedex Protocol, Andrew Suhalim mengatakan momentum bullish tak bertahan lama setelah harganya kembali ke level USD 40.000.

“Hal ini disebabkan oleh beberapa sentimen negatif, seperti kebijakan bank sentral Amerika atau The Fed yang akan agresif menjual aset dan menaikan lagi suku bunga acuannya, demi mengatasi inflasi AS yg tidak terkendali, sehingga membuat nilai dollar menguat, sebaliknya Bitcoin tersungkur,” ujar Andrew, Kamis (14/4/2022).

“Kondisi ini diperparah oleh aksi TP atau take profit para investor Bitcoin,” lanjut dia.

Sedangkan secara teknikal, menurut Andrew tingkat kekhawatiran investor terhadap Bitcoin memang meningkat, hal ini terlihat dari indeks kripto fear and greed pada 13 april 2022, berada di level 0-25 atau Extreme fear.

“Dari data on chain, menunjukan indikator arus keluar melonjak, yang mengukur jumlah total Bitcoin yang dijual dari wallet penambang. Tren ini menunjukan sinyal bearish pasar kripto dalam waktu dekat. Artinya, penambang Bitcoin punya peran besar dalam dumping price Bitcoin,” ujar Andrew.

Adapun Andrew mengatakan untuk menjaga momentum bullish, Bitcoin harus bisa kembali ke level USD 43.000

“Sentimen positif yang harusnya bisa mendongkrak harga Bitcoin adalah event Bitcoin Conference yang berlangsung di Miami AS bulan ini, namun ternyata tak cukup kuat memberikan dampak signifikan terhadap Bitcoin,” pungkasnya. 

Pasar Kripto Lebih Bergairah Datangkan Cuan

Sementara itu, belum lama ini, Perencana Keuangan Senior Aidil Akbar Madjid mengatakan, aset kripto masih potensial mendatangkan cuan yang lebih besar bagi investor dibandingkan dengan saham.

Selain itu, kripto menurutnya secara pasar juga jauh lebih bergairah dan potensial, dibandingkan dengan saham. Namun, risikonya juga jauh lebih besar.

Dia menjelaskan, jika berinvestasi di saham, orang membeli kepemilikan di perusahaan lewat saham-saham yang dilepas ke publik dan kinerjanya dapat dipantau dan diawasi melalui laporan keuangan perusahaan.

Sedangkan, di kripto yang dilihat adalah projek dari masing-masing koin dan buku putih atau white paper pengembangan koin tersebut di dalam ekosistem digital. Apalagi berbagai perusahaan tengah mendorong lahirnya dunia virtual seperti Metaverse dan produk-produk Non Fungible Token (NFT).

“Jadi kalau bicara potensi ya besar, tapi disaat bersamaan risikonya sama besarnya dengan potensinya. Cuma ini gain momentum buat kripto karena milenial mulai masuk, mereka punya profil risiko yang lebih agresif,” ucapnya.

 

Penulis: Kontributor/Panji A Syuhada 

 

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU