Cyprus Krisis, Bitcoin Mulai Masuk Indonesia

1

Mata uang digital Bitcoin mulai masuk ke Indonesia sejak terjadinya krisis Cyprus pada Januari hingga April 2013. Chief Executive Officer Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan mengatakan saat terjadi krisis Cyprus, warga negara itu tidak lagi percaya mata uang negaranya sendiri. Sehingga mereka membeli Bitcoin. Mereka takut akan terjadi kondisi seperti di Zimbabwe dimana mata uang sudah tidak bernilai sama sekali.

“Kami berterimakasih dengan terjadinya krisis Cyprus. Karena itu kan yang mendongkrak harga Bitcoin,” ujarnya ketika berkunjung ke kantor Tempo, beberapa waktu lalu. (Baca juga : AS Dakwa Pemilik Silk Road dengan Banyak Pasal)

Oscar menjelaskan mata uang Bitcoin sendiri berasal dari usulan hacker dengan nama samaran Satoshi Nakamoto. Sampai saat ini belum jelas identitas mengenai Satoshi Nakamoto. Namun menurut spekulasi para pengguna Bitcoin, kata Oscar, Satoshi Nakamoto merupakan suatu kelompok. Sebab, akun tersebut selalu menggunakan dialek yang berganti-ganti dalam mailing list-nya. Satoshi Nakamoto mengusulkan adanya mata uang yang tidak terikat dengan bank central pada 2009.

Bitcoin pertama kali diluncurkan pada 2009 hingga awal 2013 beredar sebanyak 50 BTC (BTC=satuan Bitcoin) per 10 menit. Namun saat ini hanya beredar 25 BTC per 10 menit. Hal ini karena seiring berjalannya waktu, semakin bertambah juga pengguna Bitcoin. (Lihat juga : Ditangkap, Petinggi Bitcoin Didakwa Pencucian Uang)

Bitcoin Indonesia pertama kali membeli Bitcoin pada Juli 2012. Saat itu Bitcoin dibanderol hanya seharga US$6 sampai US$10 per 1 Bitcoin. Kemudian sejak terjadi krisis Cyprus, harga per 1 Bitcoin melonjak dari US$10 hingga US$40 bahkan sampai seminggu berikutnya total kenaikan mencapai US$200.

Pada akhir November 2013 lalu kenaikan nilai Bitcoin meroket hingga 10.000 persen. Mata uang onlineitu dibanderol seharga Rp 7 juta sampai Rp 8 juta per 1 BTC. Total penjualan Bitcoin di seluruh dunia mencapai Rp 70 triliun per Desember 2013. Nilai Bitcoin sangat fluktuatif karena pada dasarnya Bicoin menggunakan konsep penawaran dan permintaan. (Berita terkait : BI: Penggunaan Bitcoin Melanggar Undang-undang)

Bitcoin ditransaksikan dalam bentuk digital dan tidak pernah ada dalam bentuk fisik. Gambar Bitcoin berbentuk koin yang beredar di internet hanyalah fantasi dari para pengguna Bitcoin. Cara jual beli bitcoin hanya dengan mengirimkan antar wallet (dompet) digital sesuai jumlah yang diinginkan melalui exchanger Bitcoin.

Bitcoin MarketPlace Dimana Where Buyers Meet Sellers

1

Bitcoin Indonesia (Bitcoin.co.id) sebagai Bitcoin Exchanger atau  Bitcoin MarketPlace terbesar di Indonesia saat ini menjadi salah satu kunci perkembangan Bitcoin di Indonesia. Bersamaan dengan perkembangan dan sirkulasi Bitcoin di Indonesia yang makin tinggi maka Bitcoin Indonesia mengadakan acara jumpa pers terkait dengan peluncuran sistem perdagangan Bitcoin yang lebih dinamis di Indonesia.

Selama ini Bitcoin Indonesia – bitcoin.co.id merupakan perusahaan terbesar di Indonesia yang melayani penjualan dan pembelian Bitcoin dengan menerapkan sistem money changer tertutup. Penerapan sistem money changer ini membuat harga Bitcoin di Indonesia cenderung dikendalikan oleh Bitcoin.co.id dan diikuti oleh exchanger lain sebagai patokan sekalipun begitu harga yang ditentukan masih sejalan dengan pergerakan harga Bitcoin di Internasional.

Dengan semakin meningkatnya volume dan jumlah transaksi dari hari ke hari di Indonesia mendorong Bitcoin Indonesia untuk meluncurkan sebuah Bitcoin Marketplace. Dengan adanya marketplace maka harga Bitcoin di Indonesia tidak lagi mengikuti harga demand-supply Bitcoin International tetapi akan memiliki nilai tukar yang lebih “independen” dan murni hanya berdasarkan demand dan supply dari Bitcoin di Indonesia saja (dikenal dengan Open Bitcoin Exhanger). Besar kemungkinan dengan Bitcoin Marketplace ini maka harga Bitcoin di Indonesia akan memiliki pergerakan pasar yang berbeda dengan di US sebagaimana yang terjadi di China. Tidak lagi bergantung kepada perputaran Bitcoin dan US Dollar.

Peluncuran Bitcoin Marketplace ini membuat seluruh pengguna Bitcoin baik penjual maupun pembeli memiliki “kekuatan” untuk ikut menentukan harga sehingga tidak lagi bergantung kepada nilai yang ditetapkan oleh Bitcoin Exchanger. Dampak besar dari lahirnya Bitcoin Marketplace ini adalah mengecilnya spread (selisih harga jual – beli) hingga mendekati 0. Spread yang kecil seperti ini kiranya dapat memancing pengguna Bitcoin di Indonesia untuk bertransaksi di pasar dalam negeri, alih-alih membeli atau menjual Bitcoin di pasar luar negeri. Harapan kami  dengan adanya marketplace Bitcoin di Indonesia dapat meningkatkan pengguna Bitcoin di Indonesia secara signifikan. Kami telah menghilangkan sebuah barrier di mana sebelumnya calon pengguna hanya bisa mendapatkan Bitcoin dari luar negeri.

Selain itu Bitcoin Indonesia – Bitcoin.co.id mengajak para blogger dan internet marketer untuk ikut mempopulerkan Bitcoin Marketplace ini dengan imbalan berupa komisi sebesar 25% dari akumulasi biaya transaksi atas member yang direferensikan.

Dengan keberhasilan peluncuran Bitcoin Marketplace ini kami yakin volume transaksi di Indonesia akan mencapai minimal 100 BTC perharinya” komentar Oscar dengan optimis.

 

Heboh, Bitcoin Nekat Boyong ATM-nya Ke Indonesia!

1

Meski dilarang Bank Indonesia (BI), Bitcoin nekat menghadirkan ATM-nya di Jakarta dan Bali. Pembelian mata uang virtual ini juga sudah bisa dilakukan via pembayaran BCA dan Bank Mandiri.

“Kami akan adakan ATM Bitcoin seperti di Singapura,” ujar Oscar Darmawan, CEO Bitcoin Indonesia, Sabtu (16/2/14).

Menurut Oscar, pengguna Bitcoin saat ini sudah banyak, bahkan sudah menjadi tren. Untuk itu kehadiran ATM (Anjungan Tunai Mandiri) sangat diperlukan.

Akan ada dua lokasi penempatan mesin ATM Bitcoin yaitu di Jakarta dan Bali. Fungsi ATM Bitcoin persis seperti ATM yang selama ini digunakan bank konvensional.

Pembelian Bitcoin bisa dilakukan melalui situs-situs tertentu. Menukar mata uang Bitcoin dengan mata uang lokal via pembayaran dua bank, yaitu BCA dan Bank Mandiri.

Bitcoin juga menyediakan voucher deposit yang dapat dibeli di toko ritel maupun online.

“Untuk proses depositnya hanya bisa menggunakan via BCA, maka nanti voucher akan terintegrasi dengan jaringan Bitcoin dan berjalan otomatis,” ucap Oscar.

Seperti diketahui, baru-baru ini BI menegaskan Bitcoin ataupun mata uang virtual lainnya bukan merupakan mata uang atau alat pembayaran yang sah di Indonesia. Pengguna Bitcoin harus menanggung risiko sendiri jika terjadi kerugian, bahkan bisa diancam pidana.

Penegasan tersebut disampaikan BI merujuk pada Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang serta UU Nomor 23 Tahun 1999 yang telah diubah beberapa kali dan terakhir dengan UU Nomor 6 Tahun 2009.

Saat ini, jumlah peredaran Bitcoin di seluruh dunia hanya sebanyak 12,2 juta. Bila melihat kurs di Bitcoin Indonesia, kurs beli Bitcoin mencapai Rp 10.682.100 dan kurs jual Rp 9.571.000.

Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia tak mengakui Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah, demikian pula dengan Thailand. Tetapi Singapura bersikap lebih terbuka dengan membolehkan transaksi Bitcoin, asalkan pihak-pihak yang terlibat membayar pajak ketika Bitcoin ditukarkan ke mata uang, produk, atau jasa sungguhan.

Di Jerman, Bitcoin diakui sebagai mata uang swasta. Sedangkan di Amerika Serikat dan Kanada, mata uang ini sudah biasa digunakan di kalangan bisnis dan perbankan.

Bitcoin pertama kali ditemukan pada 2009 oleh hacker dengan nama samaran Satoshi Nakamoto. Uang ini menggunakan algoritma rahasia, yang hanya diketahui oleh segelintir hacker.

Dengan Bitcoin dimungkinkan melakukan transaksi anonim alias tanpa mengungkapkan identitas Anda sama sekali. Tidak ada nama pemilik atau informasi apapun yang bisa diketahui oleh merchant ataupun orang lain. Hal ini sangat berbeda dengan transaksi online konvensional seperti transfer bank yang membutuhkan nama lengkap dan identitas pendukung. Karena sifatnya yang sangat rahasia, Bitcoin pernah beberapa kali terbukti digunakan dalam transaksi obat-obatan terlarang.

Komunitas BIitcoin Bahas Perkembangan Bitcoin di Indonesia

1

duniafintech.com – Komunitas Bitcoin mengupas tuntas perkembangan Bitcoin di Indonesia. Tantangan demi tantangan terus menghinggapi perkembangan mata uang virtual tersebut, termasuk pernyataan Bank Indonesia tentang pelanggaran undang-undang jika menggunakan Bitcoin sebagai alat pembayaran.

Komunitas Bitcoin ini berbincang dengan Oscar Darmawan dari Bitcoin Indonesia tentang perkembangan Bitcoin di tanah air sejauh ini.

Menurut Oscar, kurang tepat kalau Bitcoin dikatakan melanggar undang-undang karena menurut mereka Bitcoin bukanlah mata uang sebagaimana yang diatur oleh undang-undang tersebut. Bitcoin lebih bersifat sebagai media transfer pada saat digunakan untuk transaksi. Transaksi terjadi berdasarkan sistem barter dengan nilai sekian rupiah. Oscar mengatakan mungkin “emas internet” adalah sebutan yang paling tepat untuk Bitcoin.

Meskipun demikian, Oscar tidak menampik bahwa pemahaman masyarakat Indonesia tentang Bitcoin masih sangat terbatas. Disebutkan banyak dari mereka menganggap Bitcoin sebagai scam atau sejenis Liberty Reserve yang ditutup oleh FBI atau bahkan penipuan di Internet tanpa berusaha mencari tahu mengenai apa itu Bitcoin sebenarnya.

Oscar menambahkan bahwa Bitcoin adalah suatu “mata uang internet” atau lebih tepatnya komoditas virtual yang memiliki harga tertentu karena murni bersumber dari demand and supply pasar global. Teknologi Bitcoin berdasarkan peer to peer, berarti setiap pengguna dari Bitcoin adalah penggerak dan pemilik jaringan. Tidak ada negara apapun yang mengatur kegiatan Bitcoin. Menutup jaringan Bitcoin adalah hampir tidak mungkin, menurut Oscar, kecuali seluruh pengguna di seluruh dunia meninggalkan Bitcoin. Dengan sirkulasi mencapai 140 triliun Rupiah, Oscar merasa hal itu sangat susah terjadi.

Baca juga

Terkait dengan Bitcoin sebagai alat pembayaran, Oscar menyarankan:

“Sesuai dengan undang-undang kita, pengguna di internet dapat menggunakannya dengan menerapkan Bitcoin sebagai media transfer tetapi tetap menggunakan Rupiah sebagai mata uang transaksi. Saya kira hal itu sesuai dengan undang-undang, sebagaimana banyak online shop besar sekarang mencantumkan harga dengan USD tetapi tetap bertransaksi dengan Rupiah.”

Pada praktek di lapangan yang kami sarankan apabila menggunakan Bitcoin sebagai media transfer di online shop adalah segera menjualnya kepada exchanger seperti bitcoin.co.id, untuk mencegah kerugian maupun keuntungan dari nilai tukar bitcoin yang cenderung naik dan turun. Banyak perusahaan e-commerce yang mempertimbangkan menggunakan Bitcoin sebagai media transfer, sebagaimana yang dilakukan Overstock di Amerika Serikat, tetapi mereka sepertinya masih menunggu keputusan regulasi,” jelas Oscar.

Komunitas Bitcoin ini juga Menyinggung soal virtual currency atau cryptocurrency lain yang mulai marak menjamur, Oscar mengatakan bahwa mereka lebih berfungsi sebagai media trading dan investasi saja. Hingga saat ini mereka belum digunakan untuk transaksi sebagaimana apa yang bitcoin sekarang sudah terjadi. Menurut Oscar, rasanya agak sulit untuk membuat coin lain diterima sebagai media transaksi karena diperlukan perusahaan teknologi yang mau berinvestasi pada sesuatu yang belum memiliki nilai (lebih) dibandingkan Bitcoin sebagai penyedia layanan tambahan.

Meskipun demikian Oscar tak menutup peluang bagi perkembangan cryptocurrency lain di luar Bitcoin. Menurutnya beberapa cryptocurrency menunjukkan prospek yang menarik dan pihaknya sudah berinvestasi di berbagai jenis coin lainnya.

Source: Daily Social

BI Panggil Bos Trader Mata Uang Virtual ke Kantornya. Ada Apa?

3

duniafintech.com – Bank Indonesia (BI) ternyata cukup tertarik untuk terus mengkaji peredaran dan trader mata uang virtual Bitcoin di Indonesia. Hari ini, BI memanggil CEO dari Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan untuk berdiskusi santai.

Oscar yang ditemani oleh salah seorang rekannya berdiskusi selama kurang lebih 3 jam, dari pukul 15.00 WIB bersama direktur bidang sistem pembayaran BI. Pertemuan berlangsung di kantor pusat BI.

Kepada detikFinance, Oscar menuturkan, diskusi berlangsung cukup santai. Pihak BI menurut Oscar tertarik mengkaji lebih lanjut soal Bitcoin.

Kita dipanggil, untuk melakukan diskusi santai. Bukan sesuatu yang serius sekali,” ungkap Oscar di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (21/1/2014)

Oscar selaku trader memaparkan mekanisme dari penggunaan Bitcoin, mulai dari pembelian hingga transaksi. Kemudian ada tanya jawab soal risiko Bitcoin.

BI ingin lebih tahu lebih dalam Bitcoin di Indonesia. Jadi kita berikan sedikit paparan kepada direktur sistem pembayaran. Ini cuma diskusi umum biasalah,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Teknologi Bitcoin Indonesia William Sutanto menambahkan, diskusi juga berlanjut kepada siapa pemain dari Bitcoin. Di samping juga ada diskusi perkembangan dari Bitcoin ke depannya di Indonesia.

Kalau sama kita itu ditanyakan implementasi di Indonesia seperti apa. Perkembangannnya bagaimana, pemainnya itu siapa saja,” kata Wiliam.

Oscar mengapresiasi langkah BI yang cepat dalam merespons perkembangan dan trader mata uang virtual atau Bitcoin. Bila nanti ada peraturan khusus untuk Bitcoin, menurutnya itu akan lebih baik. Para trader ini pun akan mendukung apapun keputusannya.

Kita apresiasi ya ternyata BI cukup cepat dalam merespons finansial dari Bitcoin. Biasanya Indonesia kan agak lambat, tapi ternyata BI responsnya luar biasa dan kita sangat menghargai. Kalau memang ada aturan yang luar biasa tentunya akan sangat baik untuk pemain Bitcoin di Indonesia,” paparnya.

Source: Detik Finance

Bitcoin Aman Atau Berisiko Dalam Investasi?

2

duniafintech.com – Diakui atau tidak, demam Bitcoin sedang melanda dunia. Cryptocurrency yang bersifat terdesentralisasi dan tidak diatur atau dijamin oleh otoritas pusat ini ramai digunakan untuk bertransaksi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Apakah investasi Bitcoin aman atau berisiko?

Meski memiliki sejumlah kelebihan dibanding mata uang “konvensional”, Bitcoin bukannya tidak memiliki risiko. Ada beberapa ancaman yang mengintai para pengguna uang virtual ini. Salah satunya berkaitan dengan persoalan penyimpanan Bitcoin.

Ini jawaban untuk pertanyaan Bitcoin aman atau berisiko?

Untuk bisa membelanjakan Bitcoin, pemilik membutuhkan baris kode khusus bernama “private key”. Baris kode ini disimpan di dalam “wallet” atau dompet digital. Ketika akan dipakai, barulah pemilik mengakses kode tersebut dan menggunakannya untuk transaksi.

Baca juga

Private key bisa disimpan secara lokal di komputer maupun dicetak dengan printer. Persoalan muncul karena baris kode ini bisa dicuri atau hilang. Apabila itu terjadi, maka semua Bitcoin yang terasosiasi dengan private key bersangkutan akan raib selamanya dari tangan pemilik.

Kasus seperti ini beberapa terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Misalnya peristiwa yang menimpa Inputs.io. Penyedia wallet online tersebut November lalu dibobol hacker sehingga mengakibatkan para “nasabah” kehilangan Bitcoin senilai 1,2 juta dollar AS.

Private key yang disimpan dalam “Cold Storage” (komputer atau media penyimpanan yang tak terkoneksi ke internet) pun memiliki kerentanan tersendiri. Seorang pria bernama James Howells menyimpan 7.500 Bitcoin dalam wallet di dalam hard disk komputernya. Ketika hard disk tersebut hilang, Howells terpaksa merelakan uang virtual senilai jutaan dollar tersebut.

Untuk mengurangi risiko itu, CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan sedikit berbagi tips.

Pengelola salah satu bursa Bitcoin terbesar di Indonesia ini mengungkapkan bahwa dia membikin print-out dompet Bitcoin dalam bentuk tercetak. “Lalu, agar aman, cetakan tersebut kami simpan dalam safety deposit box,” kata Oscar ketika ditemui usai acara gathering Indonesia Bitcoin Community di Jakarta, Sabtu (18/1/2014) kemarin.

Untuk melindungi wallet online, password yang kuat bisa digunakan. Dapat pula ditambahi layanan otentikasi dua-faktor macam Google Authenticator yang seringkali ditawarkan oleh dompet berbasis web. Backup wallet juga diperlukan untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan server bermasalah atau komputer/hard disk rusak.

Risiko Finansial

Risiko lain terkait Bitcoin adalah nilai mata uang ini sendiri yang terkenal sangat fluktuatif. Pada awal Januari 2013, misalnya, Bitcoin dihargai 13 dollar AS per keping (1 BTC). Angka itu meroket ke lebih dari 1.100 dollar AS per keping pada Desember tahun yang sama, lalu terpangkas menjadi hanya setengahnya (sekitar 500 dollar AS), hanya dalam beberapa jam setelah pelarangan transaksi Bitcoin di China.

Ini membuat nilai Bitcoin yang dimiliki menjadi tidak stabil dan menjadi masalah sendiri bagi pelaku bisnis yang memakai mata uang virtual tersebut. Harga barang dan nilai uang yang dibayarkan bisa naik atau turun dengan tajam dalam waktu sangat singkat sehingga berpotensi merugikan salah satu pihak yang terlibat dalam jual beli.

Tiyo Triyanto dari IBC mengatakan bahwa salah satu cara mengatasi fluktuasi harga tersebut adalah dengan memakai penyedia jasa layanan finansial Bitcoin semacam Artabit:

Pembeli, misalnya, membayar harga barang yang telah ditentukan dalam bentuk Bitcoin kepada Artabit, sisanya ditangani oleh mereka sehingga resiko bukan berada di tangan pengguna.”

Dengan asumsi tidak terjadi fluktuasi berlebihan, Bitcoin menawarkan keuntungan tersendiri untuk bisnis yang memasarkan produk secara online karena hampir tak ada biaya transaksi untuk pembeli dan penjual. Begitupun untuk keperluan transfer uang yang dibuat mudah dan murah dibandingkan mata uang konvensional.

Seperti mata uang atau komoditas lain, perilaku hoarding atau penimbunan juga terjadi dengan Bitcoin. Di India dan China, misalnya, angka permintaan Bitcoin terbesar disinyalir berasal dari spekulan yang mencari untung. Tak menutup kemungkinan bahwa harga Bitcoin bisa crash apabila sejumlah besar koin virtual tersebut dilepas dalam satu waktu, terlebih dengan kondisi Bitcoin saat ini yang banyak disebut sedang mengalami bubble.

Kurang Paham

Risiko lain yang tak kalah penting datang dari kalangan pengguna Bitcoin sendiri, yaitu kurangnya pemahaman mengenai sifat dan cara kerja cryptocurrency ini.

Oscar mengatakan bahwa dia menangkap gejala adanya orang yang nekat berinvestasi di Bitcoin tanpa didukung pengetahuan yang memadai.

“Kami mendapat permintaan beli sejumlah Bitcoin, tapi setelah itu pembelinya mengontak dan baru bertanya apa itu Bitcoin,” jelas Oscar. Dalam kasus tersebut, dia menerangkan bahwa pihaknya biasanya menolak transaksi agar tak disebut “menawarkan jalan pintas menjadi kaya”.

Banyak yang mengalami kerugian karena menanam modal di Bitcoin walau sebenarnya tak memahami mata uang tersebut.

Mereka tak tahu kapan harus beli, jual, dan sebagainya. Sebelum investasi, memang mutlak mengetahui seluk-beluk investasi tersebut,” kata Oscar lagi.

Bitcoin memang bisa diperoleh melalui “penambangan” atau mining. Tapi cara tersebut terbilang sangat lamban menghasilkan Bitcoin bagi kebanyakan pengguna biasa. Mereka yang ingin cepat memperoleh Bitcoin bisa langsung membeli lewat exchange sesuai kurs yang berlaku, namun ini berisiko tinggi mengingat fluktuasi nilai yang bisa sangat ekstrim.

Agar lebih aman, Oscar menyarankan investor pemula Bitcoin agar memakai uang yang memang sudah disiapkan agar expendable.

Jangan pakai uang untuk belanja, nanti pusing,” katanya.

Bitcoin sendiri bukan satu-satunya cryptocurrency yang beredar di dunia. Saat ini tersedia puluhan mata uang digital sejenis yang popularitas dan nilai masing-masingnya bervariasi. Beberapa nama yang sering disebut antara lain Litecoin, Ripple, Dogecoin, dan Coinye West yang dituntut atas pelanggaran merek dagang oleh artis Hip-hop Kanye West.

Source: Kompas

Komunitas Bitcoin Indonesia Berkumpul, Bahas Apa?

6

duniafintech.com – Hari Sabtu, 18 Januari 2014, sebuah pertemuan komunitas Bitcoin  Indonesia digelar di kampus JWC Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Acara gathering yang diprakarsai oleh Indonesain Bitcoin Community (IBC) itu disebut merupakan yang pertama kali diadakan di Indonesia.

Peran Acara Komunitas Bitcoin Indonesia

IBC berharap acara tersebut bisa berperan sebagai sarana sosialisasi Bitcoin kepada publik. Bitcoin, mata uang cryptocurrency yang hangat dibicarakan di seluruh dunia memang masih belum banyak dikenal di Indonesia.

“Dengan mempertemukan kalangan miner dan trader Bitcoin, serta pelaku bisnis di acara ini, kami berharap dapat memudahkan pertukaran informasi di kalangan pihak-pihak yang terlibat di ekosistem Bitcoin,” ujar Jeffry Kurniadi dari IBC, ketika ditemui usai acara.

Acara gathering IBC turut menghadirkan sejumlah pembicara, termasuk CEO The Jakarta Post Budi Putra, CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan, dan penambang Bitcoin terbesar di Indonesia, Tiyo Triyanto.

Klik di sini

Menurut Jeffry, pihaknya melihat perlunya mengkonsolidasikan komunitas Bitcoin di seluruh Indonesia untuk mendorong pemerintah agar mendukung penggunaan Bitcoin sebagai alat transaksi, di samping memperluas pengetahuan masyarakat mengenai mata uang virtual tersebut.

Berangkat dari hal itu, IBC kemudian menggagas diadakannya pertemuan pertama untuk komunitas Bitcoin di Indonesia. Untuk acara perdana ini, IBC baru menghadirkan komunitas yang ada di Jakarta.

Ke depan, IBC berencana mengadakan pertemuan serupa secara rutin tiap bulan, dengan melibatkan komunitas Bitcoin dari daerah lain di Indonesia.

Kami ingin mengadakan di universitas-universitas, karena edukasi dan sosialisasi tentang Bitcoin ini masih kurang,” tutup Jeffry.

-Tribunnews-

Pasar Bitcoin di Indonesia Berpotensi Terbesar Setelah Tiongkok dan AS

1

Pangsa pasar Bitcoin di Indonesia kurang dari 1 persen, namun, melemahnya rupiah dan prospek bitcoin sebagai instrumen investasi bisa mendorong perkembangan mata uang digital tersebut.

Demikian disampaikan Oscar Darmawan, co-founder situs jual beli bitcoin www.bitcoin.co.id, kepada beritasatu.com.

Tiongkok adalah pasar bitcoin terbesar dengan 50 persen peredaran bitcoin, diikuti oleh Amerika Serikat dengan 35 persen. Indonesia dan negara-negara lain hanya 1 persen atau kurang,” ujar Oscar.

Nilai peredaran bitcoin di Indonesia, menurut Oscar, baru mencapai sekitar Rp 2 miliar per bulan. Jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan Tiongkok yang mencapai sekitar 230 juta yuan per hari (Rp 460 miliar). Bahkan di puncaknya, transaksi bitcoin di Tiongkok bisa mencapai Rp 1 triliun per hari.

Kalau AS dan Tiongkok sudah tren, India dan Indonesia bisa menjadi pasar besar berikutnya. Tapi semua itu kembali kepada para ‘merchant’ dan para investor sendiri,” ujar pria berusia 28 tahun tersebut.”Saat ini jumlah investor dan ‘merchant’ yang menerima bitcoin masih sedikit”.

Investasi di bidang bitcoin memang terlihat menggiurkan. Di akhir 2012, 1 btc dijual dengan harga US$13,5 namun di awal Desember tahun ini, harganya naik hingga US$1.200 per 1 bitcoin. Harga 1 btc saat ini adalah US$742, dibandingkan dua hari lalu di kisaran US$500-US$600.

Kemarin harga bitcoin sempat jatuh hingga 50 persen akibat bank sentral Tiongkok melarang perbankan Tiongkok melakukan ‘clearing’ terhadap transaksi bitcoin. Bitcoin sendiri tidak ilegal, namun investor panik sehingga terjadi aksi jual yang membuat harga bitcoin jatuh,” ujar Oscar. “Justru sekarang adalah saat yang tepat untuk berinvestasi di bitcoin karena harganya lagi turun,” tambahnya.

Di www.bitcoin.co.id, per 20 Desember 2013, 1 btc diperdagangkan dengan kurs beli Rp 9,3 juta dan jual Rp 7,7 juta.

Keuntungan bitcoin dibanding mata uang konvensional adalah tidak ada inflasi. Kondisi suatu negara kadang-kadang membuat bank sentral mencetak mata uang lebih banyak sehingga inflasi. Di bitcoin, inflasi tidak mungkin karena jumlahnya tetap,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa investor pasar bitcoin di Indonesia masih sedikit. Jumlahnya diperkirakan sekitar 100-an orang.

Untuk meningkatkan kesadaran akan bitcoin, rencananya kami akan mengadakan seminar-seminar dan meluncurkan buku,” ujarnya.”Target saya adalah menaikkan nilai transaksi bitcoin di Indonesia dari Rp 2 miliar per bulan menjadi Rp 2 miliar per hari”.

Oscar mengingatkan, bagi yang ingin mencoba bitcoin agar menyiapkan investasi minimal Rp 100 juta dan harus siap kehilangan investasinya, karena nilai tukar bitcoin sangat berfluktuasi.

Sisihkan uang percobaan. Jangan uang tabungan ditarik. Resikonya, kalau tiba-tiba demand-nya turun sekali harganya turun,” kata dia.

Namun, menurut penelusuran beritasatu.com, tidak mudah mencari situs yang menerima bitcoin. Situs www.shopify.com dan wordpress adalah contohnya.

Akan tetapi, situs seperti Amazon, iTunes, dan Google Store tidak menerima bitcoin. Begitu pula halnya dengan situs e-commerce local seperti klikbca dan bhinneka.com.

Di Indonesia memang belum banyak yang menerima bitcoin. Di antaranya adalah www.republikhost.com dan www.ads-id.com. Di Tiongkok, www.taobao.com juga sempat menerima bitcoin,” ujar Oscar.

Aset Digital Bitcoin Untuk Bisnis, Raup Rp 45 Juta Per Hari

2

duniafintech.com – Bermula dari iseng, Oscar Darmawan dan kedua temannya William Sutanto dan Ricky Andrian membeli aset digital Bitcoin di harga US$ 8 pada Juli 2012. Keinginannya untuk membeli mata uang fenomenal ini hanya dikarenakan mengikuti tren digital saja.

Namun berselang beberapa bulan, fluktuasi harga aset digital Bitcoin ini mendatangkan rezeki nomplok sendiri kepada tiga orang tersebut. Aset digital ini melambung hingga mencapai US$ 100 per 1 Bitcoin.

Beberapa waktu lalu ada krisis di Siprus, hal ini membuat nilai tukar dolar dan euro pun jatuh. Ternyata banyak yang mengalihkannya ke Bitcoin karena memang harganya bagus di US$ 8 sampai US$ 9 per satu Bitcoin dan stabil,” kata Oscar saat berbincang dengan detikFinance di kawasan Mampang, Jumat (13/12/2013).

Namun karena permintaan Bitcoin yang tinggi akhirnya 1 Bitcoin mencapai US$ 100 sampai US$ 200. “Atas dasar inilah kita mencari peluang untuk membuka bisnis perdagangan atau jual beli Bitcoin di Indonesia,” tambah Oscar.

Akhirnya Oscar menginisiasi pendirian Bitcoin Indonesia. Bitcoin Indonesia ini, sambung Oscar merupakan perusahaan yang pertama dan terpercaya melayani jual beli Bitcoin online (BTC online) melalui situs Bitcoin.co.id.

CEO dari PT Bumi Intermedia ini mengungkapkan, bisnis Bitcoin di Indonesia masih belum seramai di China maupun di Amerika sendiri. Namun seiring dengan fluktuasi Bitcoin yang cukup tinggi akhirnya banyak yang mulai berinvestasi di Bitcoin.

Pekan lalu 1 Bitcoin itu mencapai US$ 1.200 dan sekarang agak stabil di US$ 900-an,” kata Dia.

Dengan jaringan yang luas dan keahlian di dunia marketing internet, Oscar mampu membeli Bitcoin dari beberapa pedagang di luar negeri untuk kemudian dijual kembali di Indonesia.

Ya sekarang ini stok Bitcoin kita sudah mencapai 130 Bitcoin. Dan ini kita akan terus memburu Bitcoin untuk diperdagangkan,” jelasnya.

Pemuda berumur 28 tahun yang juga co-founder dari Ads-Id.com (Komunitas Internet Marketing Terbesar di Indonesia) ini pun mendulang hasil yang cukup tinggi. Transaksi Bitcoin Indonesia yang merupakan perusahaan patungannya dengan kedua temannya mampu mencapai Rp 45 juta per hari.

Itu nilai transaksi per hari itu mencapai Rp 45 juta per hari. Sekitar 5 Bitcoin lah laku per hari, kalau dirupiahkan kan mencapai Rp 45 juta dengan kurs 1 Bitcoin sama dengan Rp 9 jutaan,” paparnya.

Ya kalau kita kan punya stok 130 Bitcoin ya kalau ditukarkan semua bisa Rp 1 miliar lebih. Tapi kan kita jual beli jadi buat modal lagi,” ungkap Oscar.

Seperti pernah dibahas di detikFinance, fenomena Bitcoin ini memang menghebohkan otoritas moneter dan dunia maya. Aset digital ini digunakan untuk membeli berbagai macam jenis barang secara internasional dari ponsel sampai mobil.

Bitcoin merupakan aset digital yang diperkenalkan di dunia pertama kali pada 2009 oleh seorang tak dikenal yang menggunakan nama alias Satoshi Nakamoto.

Dalam transaksi aset digital Bitcoin, tidak menggunakan perantara, atau tanpa bank. Selain itu, tidak ada komisi atau biaya administrasi untuk tiap transaksi. Setiap pembeli juga tidak perlu memberikan nama asli.

Saat ini, sudah banyak merchant yang menerima transaksi Bitcoin. Dengan mata uang digital ini, Anda dapat membeli pizza, biaya memasang website, hingga barang-barang lainnya.

Aset digital Bitcoin juga dinilai sebagai transaksi yang sederhana dan murah, karena pembayaran tidak terikat pada negara tertentu dan tanpa regulasi. Pelaku usaha mikro sangat menyukai transaksi seperti ini karena tidak ada biaya kartu kredit. Sejumlah orang hanya membeli Bitcoin sebagai investasi, dan berharap nilainya bisa meningkat dalam waktu tertentu.

Sayangnya, mata uang virtual menciptakan daya tarik bagi para penjahat cyber, pelaku money laundering dan berbagai jenis kejahatan lainnya.

Maka dari itu beberapa negara, seperti Korea Selatan dan China, sudah melarang penggunaan Bitcoin dalam bertransaksi. Otoritas negara lain seperti Prancis dan Thailand pun sudah was-was mengenai peredaran mata uang baru yang dikenal ‘sakti’ ini. Sampai saat ini Bank Indonesia (BI) masih mencari legalitas dari penggunaan Bitcoin.

Tetapi kita belum bisa mengeluarkan pernyataan lebih jauh. Kita masih dalam tahapan untuk mengkajinya. Bagaimana legalitas dan proses pengawasannya,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Difi Johansyah.

Lebih jauh Difi mengatakan, masyarakat perlu berhati-hati dalam bertransaksi dengan Bitcoin. Karena, sambungnya tidak ada lembaga yang mengawasinya.

“Jika suatu hal terjadi kepada nasabah, BI tidak bisa juga bertanggung jawab. Jadi saat ini imbauan saja agar berhati-hati,” kata Difi.

Jadi apakah Bitcoin ini bisa jadi mata uang dunia di masa depan?

Source: Detikfinance