33 C
Jakarta
Rabu, 8 Juli, 2020

Korea Selatan Perangi Penipuan Makanan Halal dengan Blockchain

duniafintech.com – Sebagai negara dengan penduduk muslim minoritas, Korea Selatan masih mengalami banyak kesulitan terkait penyediaan makanan halal. Semakin banyaknya pemeluk Islam dan ramainya wisatawan muslim yang datang membuat pemerintah perlu melakukan langkah khusus untuk menjamin produk halal yang beredar memang benar-benar sudah sesuai standar.

Namun kini, penduduk muslim boleh mulai berlega diri. Pasalnya, perusahaan telekomunikasi terbesar di Korea Selatan, KT  hari ini mengumumkan pada Rabu (9/10) bahwa mereka berencana akan mengembangkan platform Blockchain yang nantinya akan memastikan semua produk makanan halal memang sudah sesuai standar halal hukum Islam.

Sistem Blockchain ini dibuat kemitraan dengan perusahaan Blockchain B-Square Lab dan Federasi Muslim Korea, akan mendaftarkan sertifikat untuk makanan halal di Blockchain. (“Square Ledger” dari B-Square Lab adalah platform Blockchain peningkatan aset digital berbasis Hyperledger, menurut situs webnya.) Setiap produk juga akan dipindai dengan kode QR yang mengonfirmasi bahwa produk makanan memang sudah terbukti halal di setiap langkah pasokan rantainya.

Sertifikasi halal secara konvensional telah dilakukan dengan dokumentasi kertas atau dengan bekerja dengan pemasok tepercaya, tetapi sistem ini terbuka dan rentan menimbulkan penipuan. Peternak mungkin memalsukan dokumen atau memompa hewan yang penuh air dan obat penenang sebelum penymbelihan. Praktik ini akan menjadi jauh lebih sulit ketika Blockchain terdesentralisasi
buku besar diperkenalkan.

Sistem baru ini dalam waktu dekat akan memasuki pasar makanan halal di negara tersebut. Federasi Muslim Korea memperkirakan ada 1,9 miliar orang yang mengonsumsi makanan halal dan secara global, pasar itu bernilai sangat besar yakni $3,64 triliun.

Baca juga:

Bukan yang Pertama

KT bukan yang pertama menerapkan sistem Blockchain untuk mencegah penipuan makanan halal. Tahun lalu, perusahaan rantai suplai Blockchain TE-Food bermitra dengan Halal Trail yang berbasis di Inggris untuk fokus membawa makanan halal ke meja umat Muslim di Inggris. TE-Food sudah menggunakan Blockchain untuk memproses lebih dari 18.000 ekor babi dan 200.000 ekor ayam setiap hari.

Dan di luar pasar halal, banyak perusahaan lain menggunakan teknologi ini untuk memilah-milah sistem rantai pasokan makanan mereka sendiri. Platform seperti FoodLogiQ, IBM Food Trust, dan ripe.io semuanya bereksperimen dengan mendaftarkan makanan di Blockchain. Tidak mengherankan, mengingat bahwa rantai pasokan peternakan dan pasar rantai pasokan makanan halal akan mencapai $430 juta pada tahun 2023, menurut laporan dari ResearchandMarkets.com.

-Dita Safitri-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Strategi Bisnis Cepat Kaya ala Bob Sadino, Modal Kecil Untung Besar

DuniaFintech.com - Tak sedikit orang yang membatalkan niat membuka usaha karena mengaku tak punya dana. Padahal modal uang bukanlah satu-satunya faktor keberhasilan bisnis yang...

Permudah Transaksi, Paper.id Sediakan Pembayaran via Tokopedia

DuniaFintech.com - Permudah pelaku usaha, Paper.id jadi software invoice pertama yang menyediakan pembayaran via Tokopedia. Dengan mengusung komitmen untuk membantu kemajuan para...

Naik 27% Selama 2020, Bitcoin Kalahkan Emas dan Perak

DuniaFintech.com – Di tengah pandemi yang sedang berlangsung, bitcoin kalahkan emas dan perak dengan berhasil naik 27% selama 2020. Perhatian investor di berbagai...

Pemerintah Afghanistan Manfaatkan Blockchain Deteksi Obat Palsu

DuniaFintech.com - Kementerian Kesehatan Afghanistan mengajak beberapa perusahaan farmasi lokal menggunakan blockchain untuk memerangi peredaran obat-obatan palsu. Pengembang blockchain yang terlibat dalam proyek...

Sejumlah Perusahaan Pinjaman Online Tetap Jaga TKB90 Meski Pandemi

DuniaFintech.com - Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan AFPI, Tumbur Pardede mengatakan, bahwa mayoritas perusahaan pinjaman online tetap jaga TKB90. Tidak dapat dipungkiri, pandemic...
LANGUAGE