Harga Bitcoin (BTC) turun ke kisaran US$68.000 pada Rabu 11 Februari 2026 pagi. Ini seiring tekanan pasar global dan sikap wait and see investor menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 05.55 WIB, kapitalisasi pasar kripto global turun 2,54% menjadi US$2,34 triliun. Harga Bitcoin tercatat melemah 2,61% ke level US$68.667 per koin, atau sekitar Rp1,15 miliar dengan asumsi kurs Rp16.779 per dolar AS.
Indeks CoinDesk 20, yang mencerminkan pergerakan 20 aset kripto terbesar, terkoreksi sekitar 3%. Ethereum turun 2,61% ke US$2.016, XRP melemah 3,06% ke US$1,40, Binance Coin (BNB) ambles 3,06% ke US$618, Solana (SOL) tergelincir 5,01% ke US$82,75, dan Dogecoin (DOGE) terpangkas 3,57% ke US$0,09.
Dikutip dari CoinDesk, pasar kripto mengikuti pola yang belakangan kerap terjadi, yakni mengalami penurunan tajam saat perdagangan saham AS dibuka pada Selasa, namun mampu memulihkan sebagian besar pelemahan tersebut dalam waktu relatif singkat.
Menurut data Kaiko, meski penurunan harga Bitcoin kali ini menjadi yang paling signifikan sejak peristiwa halving 2024, volume perdagangan tercatat tetap rendah. Kondisi tersebut mengindikasikan investor ritel cenderung menahan diri dan belum melakukan aksi jual secara agresif.
Analis riset Kaiko, Laurens Fraussen, dalam laporan Selasa menyebut pasar kini mendekati level dukungan teknikal krusial. Level tersebut akan menjadi penentu apakah kerangka siklus empat tahunan Bitcoin masih tetap bertahan.
Sementara itu, perusahaan perdagangan kripto Wintermute memperkirakan harga Bitcoin masih akan bergerak dalam kisaran saat ini. Menurut Wintermute, pasar masih berada dalam fase price discovery.
Wintermute menilai pergerakan Bitcoin belakangan ini lebih banyak dipengaruhi oleh transaksi derivatif berleverage dibandingkan permintaan di pasar spot. Volume spot yang relatif tipis membuat pergerakan harga menjadi lebih rentan terhadap posisi yang terlalu padat di pasar derivatif.
Perusahaan tersebut juga mencatat bahwa rebound yang terjadi pada Jumat lalu dipicu oleh short squeeze di kontrak futures perpetual. Kembalinya volatilitas secara tiba-tiba pun mengejutkan investor setelah periode pasar yang relatif tenang.
Fokus pasar kini tertuju pada rilis laporan ketenagakerjaan AS Nonfarm Payrolls (NFP) Januari, yang semula dijadwalkan diumumkan Jumat lalu, namun tertunda hingga Rabu pagi akibat penutupan singkat pemerintahan federal bulan lalu.
Proyeksi ekonom memperkirakan penambahan sekitar 70.000 lapangan kerja, meningkat dari 50.000 pada Desember. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di level 4,4%.
Baca juga :Â
Kapan Bitcoin Akan Habis? Ini Penjelasan Lengkap Soal Batas Maksimalnya
Namun, penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro mengatakan dalam wawancara dengan Fox bahwa ekspektasi tersebut perlu direvisi jauh lebih rendah. Pernyataan itu sejalan dengan komentar penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett yang meminta pasar tidak panik apabila data ketenagakerjaan menunjukkan pelemahan.
Komentar tersebut tampaknya diperhatikan pasar obligasi, tercermin dari turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 5 basis poin menjadi 4,14%.
Secara teori, suku bunga yang lebih rendah dan kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih longgar biasanya menguntungkan aset berisiko seperti Bitcoin. Namun, pada siklus kali ini hubungan tersebut belum sepenuhnya berlaku, dengan harga Bitcoin justru melemah meski The Fed telah memangkas suku bunga hingga 75 basis poin dalam beberapa bulan terakhir.






