Pasar kripto kembali bergejolak setelah harga Bitcoin (BTC) turun ke kisaran US$68.000 pada Senin (23/3/2026). Penurunan ini memicu likuidasi besar di pasar sekaligus memperkuat sinyal bearish yang masih membayangi pergerakan harga Bitcoin (BTC) dalam jangka pendek.
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 06.10 WIB, kapitalisasi pasar kripto global turun 2,69% menjadi US$2,35 triliun. Sementara itu, harga Bitcoin (BTC) hari ini anjlok 2,66% ke level US$68.363 per koin atau sekitar Rp1,15 miliar.
Tekanan Pasar Picu Likuidasi Besar
Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan pergerakan 20 aset kripto terbesar juga ikut melemah 2,85%. Sejumlah altcoin utama seperti:
- Ethereum turun 3,88%
- BNB melemah 1,89%
- Solana terkoreksi 3,91%
- Dogecoin turun 4%
- XRP melemah 3,34%
Data dari CoinGlass menunjukkan sekitar US$300 juta posisi long terlikuidasi, sementara posisi short mencapai hampir US$100 juta.
Kondisi ini menandakan tekanan kuat di pasar setelah momentum bearish mulai terbentuk, yang turut menyeret harga Bitcoin (BTC) ke area support penting.
Uji Level Kritis, Support Mulai Melemah
Berdasarkan data TradingView, pergerakan harga Bitcoin (BTC) saat ini mengarah pada pengujian level krusial, yaitu 200-week exponential moving average (EMA) di sekitar US$68.300.
Level ini sebelumnya dikenal sebagai support kuat dalam siklus jangka panjang Bitcoin. Namun dalam beberapa bulan terakhir, kekuatan indikator ini mulai diragukan karena tidak lagi konsisten menahan penurunan harga.
Analis kripto Rekt Capital menyebut bahwa idealnya Bitcoin perlu menguji ulang level ini sebagai support untuk membuka peluang kenaikan.
Namun ia juga memperingatkan bahwa harga Bitcoin (BTC) bisa saja hanya bergerak sideways di area tersebut sebelum melanjutkan penurunan.
Proyeksi Bearish Masih Dominan
Sejumlah pelaku pasar masih mempertahankan pandangan negatif terhadap arah pasar. Trader kripto Roman bahkan memproyeksikan harga Bitcoin (BTC) berpotensi turun hingga US$50.000 atau lebih rendah.
Menurutnya, belum ada tanda-tanda pelemahan tren bearish dalam timeframe besar, baik dari sisi momentum maupun struktur harga.
“Risiko penurunan masih terbuka karena belum terlihat kelelahan tren turun,” ujarnya.
Sinyal Positif Mulai Muncul
Di tengah tekanan tersebut, terdapat sedikit sentimen positif dari indikator teknikal.
Bitcoin baru saja membentuk pola golden cross, yaitu ketika rata-rata pergerakan 21 hari melintasi ke atas rata-rata 50 hari. Sinyal ini biasanya mengindikasikan potensi penguatan jangka pendek.
Co-founder Material Indicators, Keith Alan, menilai bahwa sinyal ini dapat mendorong kenaikan sementara.
Namun ia menegaskan bahwa kondisi tersebut belum cukup kuat untuk membalikkan tren bearish secara keseluruhan.
Risiko Turun Masih Membayangi
Sebelumnya, pada awal Maret, grafik Bitcoin juga sempat membentuk dua pola death cross, yang umumnya menjadi sinyal lanjutan tren penurunan.
Kondisi tersebut sempat memicu kekhawatiran bahwa harga Bitcoin (BTC) bisa jatuh hingga di bawah US$40.000 jika tekanan jual terus berlanjut.
Kesimpulan
Penurunan terbaru menunjukkan bahwa harga Bitcoin (BTC) masih berada dalam tekanan kuat di tengah dominasi sentimen bearish.
Meski terdapat sinyal teknikal positif seperti golden cross, risiko penurunan masih terbuka lebar, terutama jika level support utama gagal dipertahankan.
Dalam kondisi ini, pasar kemungkinan akan bergerak sideways atau cenderung melemah sebelum menemukan arah tren yang lebih jelas ke depan.







