Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak menguat di tengah tekanan yang masih terjadi di pasar saham Amerika Serikat. Pergerakan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz telah kembali terbuka dan beroperasi, meskipun blokade laut terhadap Iran disebut masih berlaku.
Bitcoin menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik dibandingkan sejumlah aset tradisional. Pada Rabu, 19 Agustus 2026, BTC berada di kisaran US$64.281, atau menguat sekitar 0,33 persen dalam 24 jam.
Di sisi lain, pasar saham AS masih menghadapi tekanan. Indeks S&P 500 sebelumnya sempat menyentuh level 7.696, yang menjadi posisi terendah sejak 4 Agustus 2026.
Perhatian investor kini tidak hanya tertuju pada perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, tetapi juga pada pergerakan yield obligasi AS dan kemampuan Bitcoin mempertahankan momentum pemulihannya.
Trump Sebut Selat Hormuz Kembali Terbuka
Sentimen pasar berubah setelah Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz telah terbuka dan kembali beroperasi.
Trump sebelumnya mengunggah peta jalur minyak di kawasan tersebut melalui platform Truth Social. Dalam unggahannya, wilayah Selat Hormuz bahkan diberi label sebagai “new US territory”.
Trump juga menyatakan bahwa belum terdapat pembicaraan maupun jadwal perundingan baru dengan Iran. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa Selat Hormuz telah dibuka dan ranjau laut di kawasan tersebut telah disingkirkan atau dihancurkan.
Perkembangan ini menjadi perhatian besar pasar global karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting dalam perdagangan minyak dunia.
Harga Minyak Justru Relatif Terkendali

Meskipun ketegangan geopolitik di sekitar Selat Hormuz masih menjadi perhatian, harga minyak belum menunjukkan lonjakan besar.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun sekitar 1 persen menjadi sekitar US$84 per barel.
Pergerakan tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu meredam kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan gangguan pasokan energi global.
Namun, situasi di Timur Tengah masih menjadi risiko yang perlu diperhatikan. Perubahan kondisi geopolitik dapat dengan cepat memengaruhi harga minyak, inflasi, serta ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral.
Bagi Bitcoin, perkembangan tersebut penting karena perubahan harga energi dan inflasi dapat memengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko.
Yield Obligasi AS Naik ke Level Tinggi
Tekanan yang lebih besar justru terlihat di pasar obligasi Amerika Serikat.
Imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 30 tahun mencapai 5,34 persen, level tertinggi sejak Januari 2007.
Kenaikan yield menunjukkan investor meminta kompensasi yang lebih besar untuk memegang surat utang jangka panjang. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan kekhawatiran mengenai inflasi serta kebutuhan pemerintah AS melakukan pembiayaan melalui penerbitan utang.
Menurut analis BNY Mellon Geoff Yu, pergerakan pasar obligasi menjadi salah satu sinyal yang perlu diperhatikan investor.
Jika yield terus meningkat, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin, karena investor memiliki alternatif imbal hasil yang lebih menarik dari instrumen berpendapatan tetap.
Bitcoin Berada di Titik Penting
Terlepas dari tekanan pasar global, Bitcoin masih mampu mempertahankan penguatannya.
Analis dan trader Aksel Kibar menilai BTC sedang berada pada area penting yang dapat menentukan keberlanjutan pemulihan harga.
Kibar melihat adanya potensi pembentukan pola reverse head and shoulders pada grafik BTC/USD. Dalam analisis tersebut, area US$62.300 menjadi level penting yang harus dipertahankan.
Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, struktur pemulihan masih memiliki peluang untuk berkembang menjadi tren kenaikan yang lebih kuat.
Sebaliknya, apabila US$62.300 gagal dipertahankan, risiko koreksi yang lebih dalam akan meningkat.
Bitcoin Berpotensi Menuju US$76.000
Apabila pola reverse head and shoulders berhasil terbentuk dan dikonfirmasi, Bitcoin berpeluang mengalami kenaikan lebih lanjut.
Dalam skenario bullish tersebut, Kibar memperkirakan BTC dapat bergerak menuju area US$76.000.
Target tersebut tentu bergantung pada kemampuan Bitcoin mempertahankan struktur rebound sekaligus menembus sejumlah resistance di atas harga saat ini.
Kenaikan menuju US$76.000 juga membutuhkan dukungan dari sentimen pasar yang lebih positif. Jika tekanan dari yield obligasi dan kondisi geopolitik mereda, peluang Bitcoin untuk melanjutkan pemulihan dapat menjadi lebih besar.
Risiko Koreksi ke US$53.000 Tetap Ada
Di sisi lain, skenario bearish belum sepenuhnya hilang.
Jika Bitcoin gagal mempertahankan level US$62.300 dan struktur reverse head and shoulders tidak berhasil dikonfirmasi, BTC berpotensi mengalami tekanan jual lebih besar.
Dalam skenario tersebut, Kibar melihat kemungkinan Bitcoin bergerak menuju US$53.000.
Level ini menunjukkan betapa pentingnya area US$62.300 bagi struktur harga Bitcoin saat ini. Selama support tersebut bertahan, peluang pemulihan tetap terbuka. Namun, penembusan ke bawah dapat mengubah gambaran teknikal secara signifikan.
Harga Bitcoin Masih Tertahan di Bawah Resistance
Bitcoin sebelumnya sempat menguat hingga sekitar US$64.500. Namun, kenaikan tersebut masih belum mampu menembus garis tren atas dan 50-month exponential moving average (EMA).
Indikator EMA tersebut saat ini berada di sekitar US$65.827.
Artinya, Bitcoin masih menghadapi resistance yang cukup kuat di atas harga sekarang. Kemampuan BTC menembus US$65.827 akan menjadi perkembangan penting karena dapat memberikan konfirmasi tambahan terhadap momentum bullish.
Sebaliknya, kegagalan melewati area tersebut dapat membuat Bitcoin kembali bergerak sideways atau bahkan menguji support yang lebih rendah.
Bitcoin Bergerak Berbeda dari Pasar Saham
Salah satu hal yang menarik dari pergerakan terbaru adalah kemampuan Bitcoin bertahan ketika pasar saham AS mengalami tekanan.
S&P 500 sebelumnya turun hingga level 7.696 sebelum mengalami rebound. Sementara itu, Bitcoin justru melanjutkan pemulihannya dan bertahan di atas US$64.000.
Perbedaan arah tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara Bitcoin dan aset tradisional dapat berubah mengikuti kondisi pasar.
Bitcoin memang masih sensitif terhadap faktor makro seperti suku bunga, inflasi, dan likuiditas global. Namun, perkembangan internal pasar kripto serta ekspektasi investor juga dapat menjadi faktor yang membuat pergerakan BTC berbeda dari saham.
Apa yang Harus Diperhatikan Investor?
Untuk jangka pendek, terdapat beberapa level penting yang dapat menjadi perhatian pelaku pasar.
US$62.300 menjadi support utama yang perlu dipertahankan agar struktur pemulihan tetap terjaga.
Sementara itu, US$65.827 menjadi area resistance penting karena berdekatan dengan 50-month EMA.
Jika Bitcoin mampu menembus resistance tersebut dengan momentum kuat, peluang menuju target yang lebih tinggi akan semakin terbuka.
Sebaliknya, apabila BTC kehilangan US$62.300, risiko koreksi menuju US$53.000 perlu diperhitungkan.
Dengan demikian, pergerakan Bitcoin saat ini masih berada di antara dua skenario: melanjutkan rebound menuju US$76.000 atau kembali mengalami koreksi apabila support utama gagal dipertahankan.
Kesimpulan
Bitcoin kembali menunjukkan penguatan dan bertahan di atas US$64.000 ketika pasar saham Amerika Serikat masih menghadapi tekanan.
Pergerakan BTC terjadi setelah Donald Trump menyatakan Selat Hormuz telah terbuka dan beroperasi, meskipun blokade laut terhadap Iran masih disebut berlaku. Harga WTI juga relatif terkendali di sekitar US$84 per barel.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan kenaikan yield obligasi AS. Imbal hasil Treasury 30 tahun telah mencapai 5,34 persen, level tertinggi sejak Januari 2007, yang berpotensi menjadi tekanan bagi aset berisiko.
Dari sisi teknikal, US$62.300 menjadi support penting bagi Bitcoin. Jika level tersebut bertahan dan pola reverse head and shoulders berhasil dikonfirmasi, BTC berpotensi menuju US$76.000.
Sebaliknya, kegagalan mempertahankan US$62.300 dapat membuka ruang koreksi menuju US$53.000.
Untuk saat ini, Bitcoin masih berada di persimpangan penting. Kemampuan BTC menembus US$65.827 sekaligus mempertahankan support US$62.300 akan menjadi kunci untuk menentukan apakah pemulihan saat ini dapat berkembang menjadi reli yang lebih besar.







