Perusahaan publik asal Jepang, Remixpoint, mengubah strategi investasi aset digitalnya dengan menjual seluruh altcoin yang dimiliki. Langkah tersebut membuat Bitcoin menjadi satu-satunya aset kripto yang tersisa dalam treasury perusahaan.
Remixpoint melepas sejumlah aset kripto, mulai dari Ethereum (ETH), Solana (SOL), XRP hingga Dogecoin (DOGE). Seluruh altcoin tersebut dijual pada 1 September 2026 dengan nilai transaksi mencapai sekitar ¥878,8 juta atau setara Rp98,7 miliar.
Dari aksi penjualan tersebut, Remixpoint berhasil membukukan keuntungan sekitar ¥117,77 juta atau Rp13,24 miliar.
Keputusan ini menunjukkan semakin kuatnya tren perusahaan publik yang memilih Bitcoin sebagai aset utama dalam strategi treasury kripto mereka.
Remixpoint Jual Ethereum, Solana, XRP dan Dogecoin
Sebelum melakukan penjualan, Remixpoint memiliki portofolio yang terdiri dari beberapa aset kripto utama selain Bitcoin.
Perusahaan kemudian memutuskan untuk melepas seluruh kepemilikan altcoin setelah mempertimbangkan kondisi pasar, risiko, potensi imbal hasil masing-masing aset, serta strategi pengelolaan keuangan perusahaan.
Nilai buku seluruh altcoin yang dijual sebelumnya mencapai sekitar ¥761 juta atau Rp85,5 miliar. Dengan nilai penjualan sekitar ¥878,8 juta, Remixpoint memperoleh selisih keuntungan sekitar ¥117,77 juta.
Keuntungan tersebut akan dicatat sebagai pendapatan bisnis pada kuartal kedua tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2027.
Ethereum Memberikan Keuntungan Terbesar
Dari empat altcoin yang dilepas, Ethereum menjadi aset dengan kontribusi keuntungan terbesar.
Penjualan ETH menghasilkan keuntungan sekitar ¥60,2 juta atau Rp6,77 miliar.
Solana berada di posisi berikutnya dengan keuntungan sekitar ¥49,3 juta atau Rp5,54 miliar. Sementara itu, XRP menghasilkan keuntungan sekitar ¥11,5 juta atau Rp1,30 miliar.
Berbeda dengan ketiga aset tersebut, Dogecoin justru mengalami kerugian. Remixpoint mencatat kerugian sekitar ¥3,26 juta atau Rp366 juta dari penjualan DOGE.
Meski demikian, secara keseluruhan transaksi tersebut tetap menghasilkan keuntungan lebih dari ¥117 juta bagi perusahaan.
- Harga Bitcoin Tembus US$80.000, Kinerja Nvidia Jadi Katalis Reli Kripto
- Bitcoin Sentuh US$80.000, INDODAX Ingatkan Investor Tetap Perhatikan Dinamika Pasar
- Harga Bitcoin Sempat Tembus US$80.000, Sinyal Reli Masih Berlanjut?
- Beda Bitcoin dengan Saham: Pengertian, Perbedaan, dan Mana yang Lebih Cocok?
- Bedanya Trading Bitcoin dengan Forex
- Harga Bitcoin Kembali Menguat ke US$75,000, Katalis Ini Jadi Pendorong Reli Kripto
Remixpoint Juga Raup Pendapatan dari Staking
Sebelum seluruh altcoin dijual, Remixpoint juga memperoleh pendapatan dari aktivitas staking Ethereum dan Solana.
Total imbal hasil staking dari kedua aset tersebut mencapai sekitar ¥29,87 juta atau Rp3,36 miliar.
Pendapatan tersebut menjadi tambahan bagi perusahaan di luar keuntungan yang diperoleh dari penjualan portofolio altcoin.
Langkah Remixpoint menunjukkan bahwa strategi treasury kripto perusahaan tidak hanya mempertimbangkan potensi kenaikan harga aset, tetapi juga potensi pendapatan yang bisa diperoleh selama aset tersebut disimpan.
Kini Remixpoint Hanya Menyimpan Bitcoin
Setelah menjual seluruh altcoin, Remixpoint kini mengarahkan strategi aset digitalnya pada Bitcoin.
Perusahaan melaporkan memiliki sekitar 1.506 BTC dalam treasury kriptonya.
Dengan perubahan tersebut, Remixpoint menjadi salah satu perusahaan publik yang cukup agresif menjadikan Bitcoin sebagai bagian dari strategi pengelolaan aset perusahaan.
Remixpoint menyatakan bahwa konsentrasi pada Bitcoin diharapkan dapat membuat pengelolaan aset digital menjadi lebih sederhana sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan modal.
Bitcoin Juga Dimanfaatkan untuk Lending
Strategi Remixpoint terhadap Bitcoin tidak berhenti pada kepemilikan aset.
Perusahaan juga memanfaatkan Bitcoin yang dimilikinya melalui aktivitas lending untuk menghasilkan pendapatan tambahan.
Dalam periode 24 Februari hingga 31 Agustus 2026, aktivitas Bitcoin lending Remixpoint menghasilkan pendapatan sebesar 14,92 BTC.
Jika dikonversikan berdasarkan nilai yang dilaporkan perusahaan, pendapatan tersebut mencapai sekitar ¥164,2 juta atau Rp18,46 miliar.
Strategi ini membuat Bitcoin tidak hanya berfungsi sebagai aset cadangan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan bagi perusahaan.
Tidak Semua Dana Penjualan Altcoin Dipakai Beli Bitcoin
Menariknya, Remixpoint tidak berencana menggunakan seluruh dana hasil penjualan altcoin untuk membeli Bitcoin tambahan.
Perusahaan dapat mengalokasikan dana tersebut untuk berbagai kebutuhan strategis, termasuk pengembangan bisnis sistem penyimpanan energi berbasis baterai.
Dana hasil penjualan juga dapat digunakan untuk memperkuat kondisi keuangan perusahaan dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham.
Artinya, keputusan menjual altcoin tidak semata-mata merupakan langkah untuk meningkatkan jumlah Bitcoin dalam treasury.
Remixpoint juga ingin membuat struktur keuangan perusahaan menjadi lebih fleksibel dengan mengurangi jumlah jenis aset kripto yang dimiliki.
Strategi Bitcoin Treasury Semakin Populer
Perubahan strategi Remixpoint terjadi di tengah meningkatnya tren perusahaan publik yang menjadikan Bitcoin sebagai aset treasury.
Strategi ini sebelumnya dikenal luas melalui perusahaan seperti Strategy di Amerika Serikat, yang secara konsisten mengakumulasi Bitcoin sebagai aset utama dalam neraca perusahaan.
Di Jepang, Metaplanet juga dikenal sebagai salah satu perusahaan yang mengadopsi strategi serupa dengan fokus pada Bitcoin.
Langkah Remixpoint sedikit berbeda karena perusahaan sebelumnya memiliki portofolio yang mencakup beberapa altcoin. Kini, seluruh portofolio tersebut dikonsolidasikan dengan Bitcoin sebagai aset kripto utama.
Apa Alasan Perusahaan Memilih Bitcoin?
Keputusan Remixpoint mencerminkan pertimbangan antara risiko, likuiditas dan kesederhanaan pengelolaan aset.
Altcoin umumnya memiliki volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan Bitcoin. Dengan mengurangi jumlah aset yang dimiliki, perusahaan dapat menyederhanakan strategi treasury dan lebih mudah mengelola eksposur terhadap aset kripto.
Namun, strategi tersebut juga memiliki konsekuensi.
Dengan hanya mengandalkan Bitcoin, Remixpoint menjadi lebih sensitif terhadap pergerakan harga BTC. Jika Bitcoin mengalami koreksi besar, tidak ada lagi altcoin dalam portofolio yang berpotensi memberikan kinerja berbeda dan membantu mengurangi dampak penurunan.
Karena itu, keputusan tersebut lebih tepat dilihat sebagai strategi konsentrasi aset daripada sekadar upaya mengurangi risiko.
Remixpoint Perkuat Posisi sebagai Bitcoin Treasury Company
Dengan kepemilikan sekitar 1.506 BTC, Remixpoint kini semakin identik dengan strategi Bitcoin treasury.
Perusahaan juga memiliki sumber pendapatan tambahan melalui Bitcoin lending, sementara dana dari penjualan altcoin dapat digunakan untuk pengembangan bisnis inti.
Langkah tersebut menunjukkan bagaimana perusahaan publik mulai memperlakukan Bitcoin bukan hanya sebagai aset spekulatif, tetapi sebagai bagian dari strategi pengelolaan neraca dan modal.
Bagi pasar kripto, keputusan Remixpoint juga menjadi sinyal menarik. Ketika perusahaan sebelumnya memegang beberapa altcoin kemudian memilih untuk mengonsolidasikan aset digitalnya pada Bitcoin, hal tersebut menunjukkan semakin kuatnya posisi BTC sebagai aset kripto pilihan bagi strategi treasury korporasi.
Meski demikian, efektivitas strategi tersebut baru akan terlihat dalam jangka panjang, terutama ketika Bitcoin menghadapi siklus kenaikan maupun koreksi pasar berikutnya.









