Cara menghitung keuntungan Bitcoin untuk pemula dengan rumus sederhana. Simak contoh profit, persentase keuntungan, biaya transaksi, dan pajak Bitcoin.
Bagi orang yang baru membeli Bitcoin, salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: bagaimana cara menghitung keuntungan Bitcoin?
Misalnya Anda membeli Bitcoin senilai Rp1 juta, kemudian beberapa hari atau bulan kemudian nilainya menjadi Rp1,2 juta. Apakah berarti keuntungan Anda otomatis Rp200 ribu?
Secara sederhana, ya. Namun, untuk menghitung keuntungan Bitcoin dengan lebih akurat, Anda juga perlu memperhatikan harga beli, harga jual, jumlah Bitcoin yang dimiliki, biaya transaksi, dan pajak yang berlaku.
Konsep dasarnya sebenarnya cukup sederhana:
Keuntungan = Nilai Jual – Modal Beli
Direktorat Jenderal Pajak juga menjelaskan bahwa kenaikan harga cryptocurrency yang dimiliki investor merupakan capital gain, yaitu keuntungan dari selisih harga beli dan harga jual.
Rumus Menghitung Keuntungan Bitcoin
Rumus paling sederhana untuk menghitung keuntungan Bitcoin adalah:
Keuntungan = Harga Jual – Harga Beli
Namun, jika Anda membeli Bitcoin dalam jumlah tertentu, rumusnya menjadi:
Keuntungan = (Harga Jual – Harga Beli) × Jumlah Bitcoin
Misalnya Anda membeli:
0,01 BTC di harga Rp1 miliar per BTC.
Modal yang dikeluarkan:
0,01 × Rp1 miliar = Rp10 juta
Kemudian Bitcoin naik menjadi Rp1,2 miliar.
Nilai Bitcoin Anda:
0,01 × Rp1,2 miliar = Rp12 juta
Maka keuntungan secara sederhana:
Rp12 juta – Rp10 juta = Rp2 juta
Jadi, keuntungan Bitcoin Anda adalah Rp2 juta, sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan komponen pajak yang berlaku.
Cara Menghitung Persentase Keuntungan Bitcoin
Selain menghitung keuntungan dalam rupiah, investor biasanya ingin mengetahui berapa persen Bitcoin naik.
Rumusnya:
Persentase keuntungan = (Harga Jual – Harga Beli) ÷ Harga Beli × 100%
Contohnya:
Harga beli Bitcoin = Rp1 miliar
Harga jual Bitcoin = Rp1,2 miliar
Maka:
(Rp1,2 miliar – Rp1 miliar) ÷ Rp1 miliar × 100% = 20%
Artinya, harga Bitcoin mengalami kenaikan 20 persen.
Jika Anda membeli Bitcoin senilai Rp10 juta dan Bitcoin naik 20 persen, nilai investasi secara sederhana menjadi sekitar Rp12 juta.
Kalau Bitcoin Naik 10 Persen, Untung Berapa?
Ini pertanyaan yang sering muncul dari pemula.
Jawabannya tergantung berapa besar modal yang Anda investasikan.
Misalnya Anda membeli Bitcoin senilai:
Rp100.000
Jika Bitcoin naik 10 persen, keuntungan secara sederhana adalah:
10% × Rp100.000 = Rp10.000
Nilai investasi menjadi sekitar:
Rp110.000
Kalau modal Anda Rp1 juta:
10% × Rp1 juta = Rp100.000
Nilainya menjadi sekitar:
Rp1,1 juta
Sedangkan jika modal Rp10 juta:
10% × Rp10 juta = Rp1 juta
Jadi, persentase kenaikan Bitcoin sama, tetapi keuntungan dalam rupiah berbeda karena modal awal berbeda.
Contoh Menghitung Keuntungan Bitcoin Rp50 Ribu
Misalnya Anda baru mulai membeli Bitcoin dengan modal Rp50 ribu.
Anggap harga Bitcoin ketika membeli adalah Rp1,5 miliar per BTC.
Secara ilustrasi, Anda memperoleh:
Rp50.000 ÷ Rp1.500.000.000 = 0,00003333 BTC
Kemudian harga Bitcoin naik 20 persen menjadi Rp1,8 miliar.
Nilai Bitcoin yang Anda miliki menjadi sekitar:
0,00003333 × Rp1,8 miliar = Rp60.000
Keuntungan:
Rp60.000 – Rp50.000 = Rp10.000
Jadi, kenaikan Bitcoin sebesar 20 persen menghasilkan keuntungan sekitar Rp10 ribu dari modal Rp50 ribu, sebelum biaya dan pajak.
Ini menunjukkan satu hal penting: persentase keuntungan tidak sama dengan nominal keuntungan.
Bagaimana Kalau Bitcoin Turun?
Rumusnya sama.
Misalnya Anda membeli Bitcoin senilai Rp1 juta.
Kemudian harga Bitcoin turun 15 persen.
Secara sederhana:
15% × Rp1 juta = Rp150.000
Nilai investasi menjadi sekitar:
Rp850.000
Artinya Anda mengalami kerugian yang belum direalisasikan sebesar sekitar Rp150 ribu.
Karena itu, ketika menghitung investasi Bitcoin, jangan hanya menghitung potensi keuntungan. Potensi kerugian juga harus dihitung.
Apa Itu Unrealized Profit dan Realized Profit?
Ini merupakan istilah yang penting dipahami pemula.
Unrealized Profit
Unrealized profit adalah keuntungan yang masih berupa kenaikan nilai aset dan belum direalisasikan melalui penjualan.
Contohnya:
Anda membeli Bitcoin Rp10 juta.
Kemudian nilai Bitcoin Anda naik menjadi Rp12 juta.
Anda melihat keuntungan Rp2 juta, tetapi belum menjual Bitcoin tersebut.
Maka Rp2 juta tersebut masih merupakan unrealized profit.
Harga Bitcoin masih bisa berubah.
Realized Profit
Sementara realized profit adalah keuntungan yang sudah direalisasikan karena Bitcoin telah dijual.
Contohnya:
Modal = Rp10 juta
Bitcoin dijual = Rp12 juta
Maka keuntungan kotor = Rp2 juta.
Setelah Bitcoin dijual, keuntungan tersebut sudah direalisasikan.
- INDODAX Soroti Keseimbangan Regulasi dan Inovasi dalam Perkembangan Kripto
- WinX dan Reku Jajaki Pemanfaatan Teknologi AI Robo Advisor untuk Perdagangan Aset Keuangan Digital di Indonesia
- MAKS Dukung Inovasi Ekosistem Aset Kripto melalui Kolaborasi Bersama Amanode dan IDRX di Coinfest Asia 2026
- INDODAX dan Bank INA Berkolaborasi Perkuat Akses Finansial Digital melalui Kartu Co-Brand
- INDODAX Perkenalkan DAX Rewards, Hadirkan Pengalaman Trading yang Lebih Interaktif
Lihat Berita Industri Kripto Indonesia →
Cara Menghitung Keuntungan Bitcoin di Indodax
Jika Anda menggunakan Indodax, jangan hanya melihat selisih harga Bitcoin.
Anda juga perlu memperhatikan biaya transaksi dan pajak yang berlaku.
Indodax menjelaskan bahwa transaksi memiliki biaya trading sesuai mekanisme yang berlaku. Indodax juga mencatat bahwa berdasarkan PMK No. 50 Tahun 2025, pembelian aset kripto tidak lagi dikenakan PPN, sedangkan penjualan aset kripto dikenakan PPh sebesar 0,21% dari nilai transaksi untuk transaksi melalui penyelenggara perdagangan yang memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam regulasi tersebut.
Karena biaya dapat memengaruhi hasil akhir, keuntungan bersih tidak selalu sama dengan sekadar selisih harga beli dan harga jual.
Secara sederhana:
Keuntungan bersih = Harga jual – Modal beli – biaya transaksi – pajak yang berlaku
Untuk angka biaya yang spesifik, sebaiknya cek langsung rincian biaya pada platform saat transaksi dilakukan karena ketentuannya dapat berubah.
Contoh Menghitung Profit Bitcoin Setelah Dijual
Misalnya:
Modal pembelian: Rp10.000.000
Nilai Bitcoin saat dijual: Rp12.000.000
Keuntungan kotor:
Rp12.000.000 – Rp10.000.000 = Rp2.000.000
Kemudian terdapat biaya dan pajak yang dikenakan sesuai transaksi.
Maka:
Keuntungan bersih = Rp2.000.000 – biaya transaksi – pajak
Jadi, jangan langsung menyebut seluruh Rp2 juta sebagai keuntungan bersih sebelum semua komponen biaya diperhitungkan.
Bagaimana Menghitung ROI Bitcoin?
Selain profit dalam rupiah, Anda juga bisa menghitung ROI atau Return on Investment.
Rumusnya:
ROI = Keuntungan ÷ Modal × 100%
Contohnya:
Modal = Rp10 juta
Keuntungan = Rp2 juta
Maka:
ROI = Rp2 juta ÷ Rp10 juta × 100% = 20%
Artinya, investasi tersebut menghasilkan ROI sebesar 20 persen sebelum memperhitungkan biaya dan pajak.
ROI berguna ketika ingin membandingkan hasil investasi berdasarkan persentase, bukan hanya berdasarkan nominal keuntungan.
Bagaimana Menghitung Keuntungan Jika Beli Bitcoin Berkali-kali?
Ini sedikit lebih rumit.
Misalnya Anda membeli Bitcoin tiga kali:
- Rp2 juta ketika harga BTC Rp1 miliar
- Rp2 juta ketika harga BTC Rp1,2 miliar
- Rp2 juta ketika harga BTC Rp1,1 miliar
Karena harga pembeliannya berbeda, Anda tidak bisa hanya menggunakan satu harga beli.
Anda perlu menghitung total Bitcoin yang diperoleh dan total modal yang dikeluarkan.
Kemudian:
Harga beli rata-rata = Total modal ÷ Total BTC yang dimiliki
Setelah mendapatkan harga beli rata-rata, Anda dapat membandingkannya dengan harga Bitcoin saat ini.
Contohnya, jika harga beli rata-rata Anda Rp1,1 miliar dan harga Bitcoin sekarang Rp1,3 miliar, berarti posisi Anda secara sederhana sudah berada di atas harga rata-rata pembelian.
Cara ini sangat berguna bagi investor yang melakukan pembelian Bitcoin secara berkala atau menggunakan strategi DCA.
Apakah Harga Bitcoin Naik Berarti Pasti Untung?
Belum tentu.
Jika Anda pernah membeli Bitcoin pada beberapa harga berbeda, kenaikan harga Bitcoin harus dibandingkan dengan harga beli rata-rata Anda.
Contohnya:
Harga Bitcoin sekarang = Rp1,2 miliar
Tetapi harga beli rata-rata Anda = Rp1,3 miliar.
Walaupun Bitcoin naik dibandingkan harga sebelumnya, posisi investasi Anda masih berada di bawah modal rata-rata.
Karena itu, yang lebih penting bukan hanya melihat apakah Bitcoin sedang naik atau turun, tetapi berapa harga rata-rata yang Anda bayarkan ketika membeli.
Cara Sederhana Menghitung Untung Rugi Bitcoin
Untuk pemula, cukup gunakan empat langkah:
1. Catat total modal
Misalnya Rp10 juta.
2. Hitung jumlah BTC yang dimiliki
Misalnya 0,01 BTC.
3. Kalikan jumlah BTC dengan harga Bitcoin saat ini atau harga jual
0,01 × Rp1,2 miliar = Rp12 juta.
4. Kurangi dengan modal dan biaya
Rp12 juta – Rp10 juta = Rp2 juta keuntungan kotor.
Jika ingin mendapatkan angka yang lebih akurat, kurangi lagi biaya transaksi dan pajak yang berlaku.
Kesimpulan
Cara menghitung keuntungan Bitcoin untuk pemula sebenarnya cukup sederhana.
Rumus dasarnya adalah:
Keuntungan = Nilai jual – Modal beli
Sedangkan untuk mengetahui persentasenya:
Persentase keuntungan = Keuntungan ÷ Modal × 100%
Namun, perhitungan yang lebih akurat perlu mempertimbangkan harga beli rata-rata, jumlah Bitcoin yang dimiliki, biaya transaksi, dan pajak.
Hal yang tidak kalah penting adalah membedakan unrealized profit dan realized profit. Bitcoin yang naik nilainya tetapi belum dijual masih menghasilkan keuntungan yang belum direalisasikan.
Dengan memahami cara menghitung profit, pemula tidak hanya bisa melihat angka hijau di aplikasi, tetapi juga memahami berapa sebenarnya keuntungan atau kerugian dari investasi Bitcoin yang dimiliki.
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan memberikan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi investasi. Harga Bitcoin sangat volatil dan keuntungan masa lalu tidak menjamin keuntungan di masa depan. Perhitungan biaya dan pajak dapat berubah mengikuti ketentuan yang berlaku.





